Beranda blog Halaman 48

Jaga Pesisir dari Abrasi, Polres PPU Tanam Seribu Mangrove di Pantai Nipah-Nipah

0

Penajam Paser Utara – Memperingati Hari Bhayangkara ke-80 Tahun 2026, Polres Penajam Paser Utara (PPU) menggelar aksi peduli lingkungan dengan menanam 1.000 bibit mangrove di kawasan pesisir Pantai Nipah-Nipah, Kecamatan Penajam, Jumat (12/6/2026).

Kegiatan tersebut melibatkan sekitar 200 peserta yang terdiri dari personel Polres PPU, Bhayangkari, pemerintah daerah, serta masyarakat setempat. Penanaman mangrove ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhayangkara sekaligus bentuk kepedulian Polri terhadap kelestarian ekosistem pesisir.

Kapolres PPU AKBP Andreas Alek Danantara, yang memimpin langsung kegiatan tersebut mengatakan, peringatan Hari Bhayangkara tidak hanya dimaknai sebagai momentum penguatan tugas kepolisian, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan.

“Polri hadir bukan hanya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menjaga kelestarian lingkungan. Penanaman mangrove ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan, agar anak cucu kita tetap dapat menikmati lingkungan yang sehat dan pesisir yang terjaga,” ujar Kapolres.

Sejak pagi, suasana Pantai Nipah-Nipah dipenuhi semangat kebersamaan. Setelah pelaksanaan apel dan penyerahan bibit mangrove secara simbolis, seluruh peserta bergerak menuju lokasi penanaman.

Dengan kondisi kawasan pesisir yang berlumpur dan dipengaruhi pasang air laut, para peserta secara bersama-sama menanam bibit mangrove di area yang telah disiapkan. Aktivitas tersebut menjadi gambaran sinergi antara Polri, pemerintah, dan masyarakat dalam menjaga lingkungan pesisir.

Polres PPU berharap kegiatan penghijauan tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kawasan mangrove sebagai bagian dari upaya perlindungan lingkungan hidup.

Penanaman 1.000 bibit mangrove di Pantai Nipah-Nipah juga diharapkan mampu memberikan manfaat ekologis dalam jangka panjang, mulai dari membantu mencegah abrasi, menjaga kualitas ekosistem laut, hingga mendukung keberlangsungan kawasan pesisir di Kabupaten PPU.

Kapolres Penajam Paser Utara AKBP Andreas Alek Danantara bersama personel Polres PPU, Bhayangkari, pemerintah daerah, dan masyarakat saat melakukan penanaman 1.000 bibit mangrove di kawasan Pantai Nipah-Nipah, Kecamatan Penajam, Jumat (12/6/2026).

Menurut Andreas, keberadaan mangrove memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem kawasan pesisir. Selain menjadi pelindung alami dari abrasi dan gelombang laut, hutan mangrove juga menjadi habitat berbagai jenis biota laut yang mendukung kehidupan masyarakat pesisir.

Ia berharap bibit mangrove yang telah ditanam dapat terus dirawat bersama sehingga memberikan manfaat berkelanjutan bagi lingkungan sekitar.

Melalui kegiatan tersebut, Polres PPU menegaskan komitmennya untuk terus hadir tidak hanya dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga melalui aksi sosial dan lingkungan yang memberikan dampak positif bagi masyarakat. Seluruh rangkaian kegiatan penanaman mangrove berlangsung aman, tertib, dan lancar.

“Menanam adalah langkah awal, namun menjaga dan merawatnya adalah tanggung jawab bersama. Semoga apa yang kita lakukan hari ini menjadi amal kebaikan sekaligus warisan hijau yang bermanfaat bagi generasi mendatang,” tutupnya.

Penyunting: Robbi Lalat

TPST IKN Dirancang Olah Sampah Modern, Namun Pasokan Masih Minim

NUSANTARA – Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN), Basuki Hadimuljono, mengungkapkan bahwa saat ini Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) 1 di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) masih kekurangan stok sampah untuk diolah.

Sampai saat ini, jelas Pak Bas—sapaan akrabnya, sampah KIPP yang disetor ke TPST baru sekitar 7 ton per hari. Sementara kapasitas TPST mampu mengolah 74 ton per hari.

“Sekarang ini, TPST itu, ya, itu kapasitasnya 74 ton. Tapi produksi sampah kami, kita ini di KIPP baru 7 ton per hari,” sebut Pak Bas di pelataran Masjid Negara, akhir pekan lalu.

Oleh sebab itu, lanjut dia, Otorita mengajak daerah penyangga jika punya kesulitan penanganan sampah, dapat dikolaborasi ke TPST IKN. “Misalnya Kutai Kartanegara, ya, kalau mereka punya kesulitan penanganan sampah. Buang kesini supaya kita bisa olah,” tegas Basuki.

Sekadar diketahui, TPST IKN ini mampu mengolah 74 ton sampah per hari dan 15 ton lumpur per hari. Sistem pengolahannya memisahkan sampah organik dan anorganik untuk didaur ulang menjadi produk bernilai guna.

Sampah organik diubah menjadi kompos berkualitas, sementara sampah anorganik didaur ulang untuk digunakan kembali. Pengolahan sampahnya dirancang dengan prinsip Net Zero Emission (NZE), memastikan emisi berada di bawah standar yang ditetapkan dan residu minimum.

TPST IKN dari awal dirancang sebagai fasilitas pengelolaan sampah terpadu yang menggabungkan proses pemilahan, pengurangan kadar air, hingga pengolahan berbasis teknologi termal. Fasilitas ini diproyeksikan menjadi percontohan nasional dalam pengelolaan sampah modern berbasis energi.

Pewarta: Atmaja Riski
Editor: Muhammad Rafi’i

Kementan Periksa Ratusan Perusahaan Sawit, Mudyat Noor Minta Petani Dilindungi

Pembaca Setia Radar Ibukota!

Ingin tahu kabar terkini Koran Digital Radar Ibukota?

Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

https://koran.radaribukota.com

https://digital.radaribukota.com/rik12juni2026/mobile/

Radar Ibukota – Aktual & Terpercaya!

Wanita di Sepaku Jadi Korban Curas, Pelaku Pukul Leher Korban dan Rampas Gelang Emas

Penajam Paser Utara – Seorang perempuan bernama Suratmi, warga RT 2 Desa Bumi Harapan, Kecamatan Sepaku, menjadi korban pencurian dengan kekerasan (curas), Kamis (11/6/2026) pagi. Dalam peristiwa itu, korban mengalami luka setelah dipukul menggunakan balok kayu dan kehilangan gelang emas seberat sekitar 2,2 gram.

Kasus tersebut sempat ramai diperbincangkan di media sosial dan sejumlah grup WhatsApp dengan narasi pembegalan. Namun, kepolisian memastikan kejadian itu bukan begal, melainkan tindak pidana curas yang terjadi di warung milik korban.

Warga Desa Bumi Harapan, Prapto, mengatakan peristiwa terjadi sekitar pukul 08.30 Wita di warung sekaligus kediaman korban.

“Kejadian menurut informasi di warung, kediaman korban. Bukan di jalan seperti yang ramai dibicarakan. Jadi bukan pembegalan,” ujarnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa bermula sekitar pukul 07.30 Wita saat korban membuka warung. Sekitar 20 menit kemudian, seorang pria datang membawa galon kosong untuk mengisi air minum dan meminta sebungkus rokok.

Setelah menanyakan harga rokok, pelaku mengaku tidak membawa uang. Korban kemudian menyarankan agar pelaku mengambil uang terlebih dahulu sebelum melakukan pembayaran.

Sekitar 20 menit berselang, pelaku kembali mendatangi warung. Saat itu korban sedang menutup sebagian pagar warung untuk menghindari tampias hujan dan berada dalam posisi membelakangi pelaku.

Pelaku kemudian diduga langsung memukul bagian belakang leher korban menggunakan balok kayu. Tidak berhenti di situ, pelaku juga menendang pinggang korban hingga masuk ke dalam warung.

Dalam kondisi terluka, korban disebut sempat dipukuli sambil ditanya mengenai tempat penyimpanan uang warung. Namun korban tidak memberikan jawaban.

Pelaku kemudian melihat gelang emas yang dikenakan korban dan langsung merampas perhiasan tersebut sebelum melarikan diri dari lokasi kejadian.

Usai kejadian, korban yang masih dalam kondisi setengah sadar meminta pertolongan kepada kerabatnya sebelum akhirnya tidak sadarkan diri. Korban kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Hermina Nusantara untuk mendapatkan penanganan medis.

Kapolres Penajam Paser Utara AKBP Andreas Alek Danantara melalui Kapolsek Sepaku AKP Syarifuddin membenarkan adanya peristiwa tersebut. Polisi saat ini masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap identitas pelaku.

“Kami berharap pemberitaan ini dapat meluruskan simpang siur informasi yang tersiar di media sosial. Kami tegaskan ini murni tindak pidana curas, bukan pembegalan,” terang AKP Syarifuddin kepada wartawan.

Menurutnya, peristiwa tersebut tidak memenuhi unsur pembegalan karena tidak terjadi di jalan umum. Kejadian berlangsung di area warung milik korban yang berada di lingkungan tempat tinggalnya.

Saat ini polisi masih melakukan serangkaian penyelidikan, termasuk memeriksa saksi-saksi, mengumpulkan barang bukti, serta melakukan olah tempat kejadian perkara untuk mengidentifikasi pelaku. Kasus tersebut kini dalam penanganan Polsek Sepaku dan Polres PPU.

Pewarta: Atmaja Riski
Penyunting: Robbi Lalat

Kementan Periksa Ratusan Perusahaan Sawit, Mudyat Noor Minta Petani Dilindungi

Penajam Paser Utara – Bupati Penajam Paser Utara (PPU) Mudyat Noor yang juga menjabat Ketua Asosiasi Kabupaten Penghasil Sawit Indonesia (AKPSI) menghadiri Rapat Koordinasi Pembahasan Perkembangan dan Upaya Stabilisasi Harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit di Kantor Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Senin (8/6/2026) lalu.

Rapat dipimpin langsung Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman didampingi Wakil Menteri Pertanian Sudaryono. Forum tersebut turut dihadiri perwakilan asosiasi sawit, organisasi petani, eksportir, Satgas Pangan Polri, serta sejumlah pemangku kepentingan sektor perkebunan.

Pembahasan utama dalam rapat itu adalah upaya pemerintah menstabilkan harga TBS sawit yang dalam beberapa waktu terakhir mengalami tekanan di sejumlah daerah penghasil.

Dalam kesempatan tersebut, Mudyat menegaskan pentingnya menjaga stabilitas harga TBS untuk melindungi kesejahteraan petani sawit. Menurutnya, pemerintah pusat dan daerah harus hadir memastikan harga yang diterima petani tetap sesuai dengan kondisi pasar dan ketentuan yang berlaku.

Ia berharap harga TBS dapat kembali stabil dan mengikuti penetapan harga yang telah ditentukan di masing-masing daerah.

“Pemerintah daerah tentu mendukung langkah pengawasan yang dilakukan pemerintah pusat agar kesejahteraan petani tetap terjaga,” ujar Mudyat.

Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan sekitar 300 perusahaan sawit akan diperiksa karena diduga belum menyesuaikan harga pembelian TBS sesuai kondisi pasar.

“Hari ini masih ada kurang lebih 300 dari total 1.900 perusahaan yang bergerak di sektor kelapa sawit. Yang 300 ini akan kita periksa, kita cek kenapa mereka tidak menaikkan harga seperti semula,” tegas Amran.

Menurut Amran, data pemerintah menunjukkan masih terdapat sekitar 270 hingga 300 perusahaan yang mempertahankan harga TBS di bawah kondisi yang seharusnya. Karena itu, Kementan telah menyerahkan data tersebut kepada Satgas Pangan Polri untuk ditindaklanjuti melalui proses pemeriksaan.

“Ini langsung diperiksa. Tidak langsung disanksi, tetapi melalui proses pemeriksaan terlebih dahulu. Suratnya hari ini kita serahkan untuk ditindaklanjuti,” katanya.

Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui penyebab perusahaan belum melakukan penyesuaian harga TBS. Pemerintah menegaskan langkah tersebut bertujuan memastikan petani memperoleh harga yang layak sesuai perkembangan pasar.

Meski demikian, Amran memastikan pemerintah tidak akan terburu-buru menjatuhkan sanksi sebelum seluruh data diverifikasi. Ia membuka kemungkinan sebagian perusahaan sebenarnya telah melakukan penyesuaian harga, namun belum tercatat dalam laporan resmi.

“Tetapi bisa saja data ini ternyata perusahaan sudah menaikkan harga seperti sebelumnya. Karena itu kami minta dilakukan pemeriksaan secara objektif dan berdasarkan data yang terverifikasi,” tambahnya.

Pemerintah berharap seluruh perusahaan sawit segera mengikuti kesepakatan bersama untuk mengembalikan harga TBS sesuai ketetapan di masing-masing wilayah. Penyesuaian harga tersebut tetap harus mengacu pada Peraturan Gubernur (Pergub) yang berlaku di daerah penghasil sawit.

“Kalau Rp3.200 per kilogram harusnya tetap Rp3.200 per kilogram. Ada yang Rp3.600 per kilogram, maka harus kembali ke Rp3.600 per kilogram sesuai wilayah masing-masing. Tetapi tetap harus mengikuti Pergub dan harga yang dikeluarkan gubernur,” pungkas Amran.

Penyunting: Robbi Lalat

Sempat Anjlok ke Rp1.800, Irawan Dukung Pemerintah Daerah Turut Awasi Penentuan Harga TBS

PENAJAM PASER UTARA –  DPRD Penajam Paser Utara (PPU) berencana mengusulkan Rapat Dengar Pendapat (RDP) terkait tata niaga sawit dan perlindungan petani menyusul gejolak harga tandan buah segar (TBS) yang sempat terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Anggota Komisi I DPRD PPU, Irawan Heru Suryanto, mengatakan pemerintah daerah perlu mengambil sikap terhadap dinamika harga sawit. Yang sebelumnya sempat mengalami penurunan cukup tajam dan menimbulkan keresahan di kalangan petani.

Menurutnya, meskipun harga TBS saat ini mulai berangsur membaik, persoalan tata niaga sawit tetap perlu mendapat perhatian karena berdampak langsung terhadap pendapatan petani dan perekonomian daerah.

“Posisi pemerintah harus jelas. Petani perlu dilindungi dan pabrik kelapa sawit yang menentukan harga juga harus diawasi,” katanya, saat diwawancarai baru-baru ini.

Ia mengungkapkan, usulan RDP tersebut muncul setelah DPRD menerima aspirasi dari kalangan petani sawit yang tergabung dalam Jaringan Petani Sawit Nasional (JPSN). Melalui forum tersebut, DPRD PPU berencana mendengarkan pandangan berbagai pihak terkait kondisi harga sawit, termasuk perusahaan kelapa sawit, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya.

“Harapan kita semua pihak bisa dipanggil untuk duduk bersama membahas persoalan ini,” ujarnya.

Irawan menilai sektor perkebunan sawit memiliki kontribusi besar terhadap daerah, termasuk melalui Dana Bagi Hasil (DBH) Sawit yang diterima pemerintah daerah. Karena itu, keberlangsungan usaha petani sawit perlu menjadi perhatian bersama.

Menurutnya, ketika harga TBS turun terlalu rendah, petani berpotensi mengurangi aktivitas panen karena biaya operasional yang harus dikeluarkan hampir tidak sebanding dengan hasil yang diterima.

“Kalau harga sawit turun terlalu jauh, petani bisa saja memilih tidak panen karena biaya operasionalnya tinggi,” katanya.

Sebagai petani sawit, Irawan mengaku memahami beban yang dihadapi pekebun, mulai dari biaya panen hingga harga pupuk yang terus meningkat. Kondisi tersebut, menurutnya, berpengaruh terhadap produktivitas kebun dan pada akhirnya berdampak pada perekonomian daerah.

“Beban petani itu bukan hanya panen, tetapi juga pupuk yang harganya terus naik. Kalau kondisi ini dibiarkan, produktivitas pasti ikut terdampak,” ujarnya.

Ia menambahkan, gejolak harga yang terjadi beberapa waktu lalu muncul setelah adanya wacana kebijakan ekspor komoditas strategis, termasuk sawit, melalui mekanisme baru yang disampaikan pemerintah pusat.

Namun demikian, Irawan menilai penurunan harga yang terjadi saat itu tidak sepenuhnya sejalan dengan kondisi pasar global, mengingat harga CPO dunia masih berada pada level yang relatif baik.

“Yang menjadi pertanyaan, kebijakannya saja belum diterapkan, tetapi harga TBS sudah turun cukup signifikan. Sementara harga CPO dunia saat itu tidak sedang turun,” katanya.

Meski demikian, Irawan mengakui kondisi harga sawit saat ini mulai menunjukkan perbaikan. Di sejumlah daerah sentra sawit, termasuk Kabupaten Paser, harga TBS yang sebelumnya sempat menyentuh kisaran Rp1.800 per kilogram kini berangsur naik kembali ke kisaran Rp3.000 hingga Rp3.200 per kilogram.

Kendati tren pemulihan mulai terlihat, ia menegaskan pemerintah tetap perlu hadir untuk memastikan gejolak serupa tidak kembali merugikan petani.

“Sekarang memang sudah mulai membaik, tetapi perlindungan terhadap petani tetap harus menjadi perhatian. Jangan sampai ketika harga turun, petani selalu menjadi pihak yang paling terdampak,” tegasnya.

Menurut Irawan, pemerintah daerah dapat mengambil berbagai langkah, mulai dari pengawasan terhadap tata niaga sawit hingga pembentukan tim atau satuan tugas yang bertugas memantau kondisi harga dan menyerap aspirasi petani.

Ia juga berharap pemerintah daerah, termasuk Bupati PPU yang memiliki posisi strategis di daerah penghasil sawit, dapat memberikan perhatian lebih terhadap persoalan yang dihadapi petani.

“Petani sawit berkontribusi terhadap ekonomi daerah. Karena itu pemerintah harus hadir ketika ada persoalan yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan mereka,” pungkasnya.

Pewarta: Robbi Lalat

Aksi Hari Bhayangkara ke-80 Diarahkan pada Upaya Menjaga Kawasan Pantai dari Ancaman Abrasi di Babulu Laut

0

Penajam Paser Utara – Jajaran Polres Penajam Paser Utara (PPU) melakukan penanaman mangrove di kawasan pesisir Desa Babulu Laut, Kecamatan Babulu, Kamis (11/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80 sekaligus upaya mendukung pelestarian lingkungan pesisir.

Penanaman mangrove dilaksanakan setelah kegiatan balapan perahu yang digelar di perairan Babulu Laut. Personel Polres PPU, Polsek Babulu, pemerintah desa, dan masyarakat setempat terlibat dalam kegiatan tersebut.

Kawasan pesisir menjadi salah satu wilayah yang rentan terhadap abrasi dan perubahan lingkungan. Karena itu, keberadaan mangrove dinilai penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus melindungi garis pantai dari pengikisan.

Kapolres PPU AKBP Andreas Alek Danantara mengatakan penanaman mangrove merupakan bentuk kepedulian terhadap lingkungan yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

“Melalui kegiatan penanaman mangrove ini, kami ingin mengajak seluruh masyarakat untuk semakin peduli terhadap lingkungan,” ujarnya.

Selain berfungsi menahan abrasi dan meredam gelombang laut, hutan mangrove juga menjadi habitat berbagai biota pesisir yang memiliki nilai ekologis maupun ekonomi bagi masyarakat.

Selama kegiatan berlangsung, peserta menanam bibit mangrove di sejumlah titik pesisir yang telah ditentukan. Personel kepolisian dan warga tampak bergotong royong menyiapkan lahan hingga melakukan penanaman.

Pemerintah desa dan masyarakat setempat menyambut positif kegiatan tersebut. Selain memberi manfaat bagi lingkungan, penanaman mangrove dinilai dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kawasan pesisir yang menjadi sumber penghidupan warga.

Melalui kegiatan ini, Polres PPU berharap upaya pelestarian lingkungan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi dapat mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga ekosistem pesisir secara berkelanjutan.

“Mangrove memiliki manfaat yang sangat besar bagi keberlangsungan ekosistem pesisir. Oleh karena itu, menjaga dan melestarikannya merupakan tanggung jawab kita bersama demi masa depan yang lebih baik,” pungkas Andreas.

Pewarta: Robbi Lalat

Tradisi Pesisir Babulu Laut Balapan Perahu, Meriahkan Hari Bhayangkara ke-80

Penajam Paser Utara – Perairan Desa Babulu Laut, Kecamatan Babulu, dipadati warga yang menyaksikan balapan perahu dalam rangka memeriahkan Hari Bhayangkara ke-80, Kamis (11/6/2026). Perlombaan yang menjadi tradisi masyarakat pesisir itu berlangsung meriah dengan diikuti sejumlah peserta dari wilayah sekitar.

Sejak pagi, kawasan pesisir Babulu Laut ramai dipenuhi penonton yang memadati tepian pantai dan dermaga untuk menyaksikan jalannya perlombaan. Sorak-sorai warga mengiringi setiap perahu yang berlomba menuju garis finis.

Kegiatan tersebut dihadiri Kapolres PPU AKBP Andreas Alek Danantara bersama jajaran pejabat utama Polres PPU, unsur Forkopimcam Babulu, Pemerintah Desa Babulu Laut, tokoh masyarakat, serta ratusan warga.

Sebelum perlombaan dimulai, Kapolres bersama rombongan meninjau Jembatan Merah Putih yang menjadi salah satu ikon Desa Babulu Laut. Selanjutnya rombongan menuju arena balap yang telah dipadati peserta dan masyarakat.

Foto:
Kapolres PPU AKBP Andreas Alek Danantara bersama jajaran dan masyarakat menghadiri pembukaan balapan perahu dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80 di perairan Desa Babulu Laut, Kecamatan Babulu, Kamis (11/6/2026). (Ist)

Kepala Desa Babulu Laut Sahudi mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, balapan perahu merupakan bagian dari budaya masyarakat pesisir yang masih terjaga hingga saat ini.

“Balapan perahu merupakan bagian dari budaya masyarakat pesisir yang perlu terus dilestarikan sebagai warisan daerah dan sarana memperkuat kebersamaan,” ujarnya.

Setelah dibuka secara resmi, perlombaan berlangsung sengit. Para peserta berusaha menjadi yang tercepat menaklukkan lintasan perairan di hadapan ratusan penonton yang terus memberikan dukungan.

Selain menjadi hiburan masyarakat, balapan perahu juga menjadi upaya menjaga tradisi olahraga air yang telah lama berkembang di kawasan pesisir Babulu Laut.

Foto:
Kapolres PPU AKBP Andreas Alek Danantara bersama jajaran dan masyarakat menghadiri pembukaan balapan perahu dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80 di perairan Desa Babulu Laut, Kecamatan Babulu, Kamis (11/6/2026). (Ist)

Kapolres PPU AKBP Andreas Alek Danantara mengatakan balapan perahu menjadi salah satu rangkaian kegiatan Hari Bhayangkara ke-80 yang digelar di tengah masyarakat.

Ia juga mengingatkan peserta untuk menjunjung sportivitas dan mengutamakan keselamatan selama perlombaan berlangsung.

“Melalui kegiatan balapan perahu ini, kami ingin menghadirkan semangat kebersamaan antara Polri dan masyarakat. Selain sebagai ajang hiburan dan olahraga tradisional, kegiatan ini juga menjadi wadah untuk mempererat silaturahmi, menjaga persatuan, serta melestarikan budaya maritim yang menjadi identitas masyarakat pesisir,” ujar Andreas.

Penyunting: Robbi Lalat

Akhir Pekan Turun ke Lokasi, Basuki Pastikan IKN Tetap Tancap Gas

Pembaca Setia Radar Ibukota!

Ingin tahu kabar terkini Koran Digital Radar Ibukota?

Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

https://koran.radaribukota.com

https://digital.radaribukota.com/rik10juni2026/mobile/

Radar Ibukota – Aktual & Terpercaya!

PPU Masuk Calon Lokasi Sekolah Nasional Terintegrasi 2026, Mudyat Noor Nyatakan Siap

Penajam Paser Utara – Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) masuk dalam daftar calon lokasi prioritas Program Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) Tahun 2026. Penetapan tersebut menyusul hasil asesmen dan verifikasi lapangan yang dilakukan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terhadap sejumlah daerah pengusul.

Kepastian itu mengemuka dalam Rapat Koordinasi Penetapan Lokasi Penyelenggaraan SNT Tahun 2026 yang digelar Kemendikdasmen di Atria Hotel Gading Serpong, Tangerang, 10–12 Juni 2026.Turut hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Dr. Eko Susanto, bersama para kepala daerah yang menjadi calon lokasi Program SNT Tahun 2026.

Bupati PPU Mudyat Noor menghadiri langsung forum nasional tersebut bersama 25 kepala daerah lain yang menjadi calon lokasi penyelenggaraan program. Ia mengatakan Pemerintah Kabupaten PPU siap mendukung pelaksanaan Program SNT apabila ditetapkan sebagai lokasi penyelenggaraan.

Menurutnya, program tersebut diharapkan dapat memperluas akses pendidikan berkualitas bagi peserta didik dari seluruh wilayah PPU tanpa membedakan latar belakang ekonomi maupun sosial.

“Kami menyambut baik Program Sekolah Nasional Terintegrasi ini. Kabupaten PPU siap menjadi salah satu daerah percontohan. Sasaran utama kami adalah memastikan anak-anak berprestasi di setiap kecamatan, tanpa memandang latar belakang ekonomi dan sosial, mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar secara gratis,” tegas Mudyat Noor.

Ia menilai program tersebut tidak hanya berfokus pada pembangunan fasilitas pendidikan, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia daerah.

Melalui program itu, pemerintah berharap kesenjangan akses pendidikan antarwilayah dapat ditekan sekaligus membuka peluang lebih besar bagi siswa berprestasi untuk memperoleh layanan pendidikan yang lebih baik.

Foto: Bupati Penajam Paser Utara Mudyat Noor menghadiri Rapat Koordinasi Penetapan Lokasi Penyelenggaraan SNT Tahun 2026 di Tangerang. (Ist)

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal (PAUD, Dikdas, dan PNFI), Gogot Suharwoto, membuka kegiatan yang membahas kesiapan daerah dalam mendukung pelaksanaan program pendidikan terintegrasi tersebut.

Gogot menegaskan Program SNT dirancang sebagai upaya memperkuat layanan pendidikan yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Menurutnya, keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan di sektor pendidikan.

“SNT bukan sekadar program pembangunan infrastruktur fisik, melainkan komitmen bersama lintas waktu dan lintas sektor. Pemerintah daerah berperan sebagai penggerak dan mitra strategis yang menjembatani kolaborasi serta membangun sinergi dalam menjawab tantangan pendidikan di wilayahnya,” jelasnya.

Penyunting: Robbi Lalat