Beranda blog Halaman 793

Komisi II DPRD PPU Tuntut Pemerintah Urai Masalah Distribusi Pupuk Subsidi

PPU – Legislator Penajam Paser Utara (PPU) kembali menyoroti kondisi pendistribusian pupuk bersubsidi untuk para petani. Dinas terkait ditegaskan untuk dapat mendata ulang warga tani yang benar-benar berhak menerima pupuk dengan harga lebih murah ini.

Keberadaan pupuk bersubsidi hingga kini masih menjadi kebutuhan pokok petani di PPU. Khusunya bagi petani padi yang terkonsentrasi di Kecamatan Babulu dan sebagian wilayah lainnya.

Sekretaris Komisi II DPRD PPU, Sujiati menyebutkan Pemkab PPU harus turun tangan memperketat pengawasan pendistribusiannya. Agar penyaluran pupuk bersubsidi bisa tepat sasaran kepada petani yang membutuhkan.

“Ini mendesak kita lakukan. Agar tidak muncul indikasi pupuk subsidi yang tidak tepat sasaran. Intinya ada di pengawasan. Penyaluran pupuk subsidi harus diawasi karena selama ini pupuk subsidi tidak tepat sasaran,” tegas dia, Rabu (19/10/2022).

Dia mengatakan pentingnya pengawasan ini terkait kuota pupuk subsidi yang terus menurun. Di mana pada tahun ini Kementerian Pertanian hanya menyetujui 30 persen dari pengajuan pemerintah setempat.

Pemkab PPU juha diminta untuk membuat skema penyaluran agar pupuk subsidi terdistribusi ke petani yang berhak. Kemudian menuntut implementasi aturan batasan kepemilikan dua hektar ke bawah bagi petani yang bisa mendapatkan pupuk subsidi.

Sehingga kepemilikan di atas dua hektar jelas tidak berhak mendapatkan pupuk subsidi. Bahkan tahun ini pemerintah pusat berencana menghapus pupuk subsidi untuk tanaman non pangan.

“Dalam satu kepala keluarga petani itu hanya boleh mendapatkan pupuk subsidi untuk lahan maksimal dua hektar,” ujar Sujiati.

Lebih lanjut, pihaknya juga meminta peran aktif Dinas Pertanian (Distan) PPU untuk dapat mengawasi sekaligus menyosialisasi terkait hal itu ke masyarakat. Agar permasalahan lama ini tidak terus berulang dan menjadi masalah yang lebih besar.

“Makanya pemerintah terus perbaiki data petani yang mendapatkan pupuk subsidi. Itu perlu dilakukan agar pupuk subsidi lebih tepat sasaran lagi,” pungkas dia. (ADV/SBK)

Festival Nondoi PPU 2022, Tampilkan Berbagai Seni Budaya Selama 4 Hari

0

PENAJAM – Pagelaran Festival Belian Adat Paser Nondoi kembali digelar di Penajam Paser Utara (PPU) tahun ini. Acara ritual kali ini masih diadakan secara terbatas dan mengangkat tema persatuan.

Acara akbar kebanggaan masyarakat PPU ini digelar selama empat hari pada 24 – 27 Oktober 2022, di Rumah Adat Kuta Penajam. Gelaran kali ini mengangkat tema khusus yang serupa dengan pengertian Bhinneka Tunggal Ika dengan bahasa Suku Paser, yaitu Mayang Aso Erai Tumpa, Kelapa Aso Erai Langgar (Walaupun Berbeda-Beda, Tetapi Tetap Bersatu).

“Alhamdulillah tahun ini kita bisa kembali menggelar acara adat Nondoi,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) PPU, Andi Israwati Latief, Rabu (19/10/2022).

Pada tahun 2020, Festival Nondoi tidak diselenggarakan karena  Covid-19 melanda Tanah Air. Setahun berselang atau  tahun 2021, pagelaran ini digelar kembali namun agak berbeda dari sebelumnya karena pandemi masih berlangsung.

Begitupun kali ini, kegiatan digelar dengan beberapa rangkaian yang terbatas. Namun tetap tidak mengurangi makna ritual atau upacara adat bersih-bersih kampung yang dikemas dalam bentuk festival.

Salah satu atraksi dalam Gelaran Festival Nondoi 2021.

“Ya belum bisa dibilang seperti acara normal, karena aslinya gelaran Nondoi ini 7 hari,” tutur dia.

Meskipun terbatas, berbagai kegiatan akan tetap hadir menyemarakkan festival. Mulai dari parade seni dan budaya yang diisi Tari Massal Mayang Aso Erai Tumpa, Kelapa Aso Erai Langgar, Tampilan Arang Juwata, Tepung Tawar, Larung Jakit dan bazzar UMKM.

Selain itu, ada juga berbagai lomba sepertu lomba Tari Kreasi Ronggeng untuk usia PAUD, lomba puisi Bahasa Paser untuk tingkat SD dan SMP, lomba Senam Ronggeng untuk SD, lomba pidato Bahasa Paser untuk SMP serta lomba cerdas cermat Paser untuk SMA.

Dalam penyelenggaraannya, Dinas Budpar PPU bekerja sama dengan Lembaga Adat Paser (LAP) dan segenap panitia penyelenggara Festival Belian Adat. Mereka yang selama ini terus konsisten dan aktif menyelenggarakan pagelaran pentas seni budaya Paser dalam rangka mempromosikan eksistensi seni budaya Adat Paser di kalangan masyarakat.

“Fstival ini merupakan aset yang sangat luar biasa, dan memiliki arti penting bagi masyarakat, khususnya masyarakat suku asli Paser di PPU. Festival ini suatu acara yang dapat mengundang dan membuat ketertarikan, baik bagi masyarakat lokal maupun masyarakat di luar PPU untuk datang dan mengenal daerah kita. Terlebih saat ini daerah kita menjadi IKN (Ibu Kota Nusantara),” tutup Israwati. (Sbk)

Permudah Deteksi Stunting, Pemkab PPU Berniat Bentuk Command Center

0

PENAJAM – Pemkab Penajam Paser Utara (PPU) mulai serius  menurunkan kasus stunting di wilayahnya. Satu hal yang sedang difokuskan ialah dengan membentuk ruang kendali pemantau terpusat atau Command Center Stunting.

Angka stunting di Penajam Paser Utara (PPU) saat ini mencapai 27,67 persen. Berbagai upaya terus dilakukan untuk menekan penurunan stunting di daerah yang sebagian wilayahnya menjadi Ibu Kota Nusantara (IKN) ini.

Diketahui pula, stunting telah menjadi agenda pembangunan nasional, dan PPU menjadi salah satu kabupaten prioritas, dari 100 kabupaten/kota di Indonesia. Sementara target yang harus dicapai PPU pada 2024, yakni 14 persen.

Plt Bupati PPU Hamdam Pongrewa mengatakan, pihaknya saat ini memprioritaskan pendirian satu gerakan terpadu. Tujuannya untuk mempercepat penurunan angka stunting atau gangguan pertumbuhan anak.

“Kabupaten akan memiliki Command Center Stunting untuk menyukseskan program Pemkab PPU dalam mempercepat penurunan stunting,” ujar Hamdam, Selasa (18/10/2022).

Kerja utama pusat kendali ini, lanjut dia, untuk mengidentifikasi dan mendata berbasis digital terhadap kasus stunting. Sehingga dapat memudahkan dalam penanganan sunting di daerah.

“Di sinilah pusat informasi untuk mengetahui perkembangan kasus stunting pada empat kecamatan se-Kabupaten PPU. Karena kebanyakan kita sulit menekan kasus stunting, karena kita sulit mendeteksinya,” jelasnya.

Keberadaan pusat kendali,  diharapkan memudahkan daerah dalam melakukan monitoring dan  aksi untuk mengintervensi penanganannya. Kemudian untuk memudahkan, akan dilengkapi dengan alat-alat digital beserta aplikasi yang terbaru agar mempermudah masyarakat mencari tahu masalah stunting.

“Jadi sekarang kita baru mengidentifikasi polanya, apakah itu karena pola asuh atau karena sanitasi yang tidak tepat itu yang akan identifikasi dan termasuk meng-update data,” tambahnya.

Hamdam mengungkapkan, pembentukan Command Center Stunting bersumber dari dana hibah dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), melalui skema matching fund bersama dengan Universitas Gunadarma.

Adapun lokasi Command Center Stunting direncanakan di Kantor sekretariat Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK), di Kelurahan Nipah-nipah, Kecamatan Penajam, PPU.

“Akan kerja sama dengan kader-kader posyandu di PPU yang telah diberi pelatihan dan telah mendapatkan aplikasi untuk melakukan pendataan stunting,” pungkas Hamdam. (sbk)

Komunitas Vespa PPU Dirikan Rest Area PSB Ke-17

0

PENAJAM – Komunitas pecinta Vespa di Penajam Paser Utara (PPU) membuka rest area Parade Scooter Borneo (PSB) ke-17. Hal ini untuk mengakomodasi rider yang menuju ke tempat pelaksanaan di Tanah Grogot, Paser.

Ribuan pengendara skuter klasik di daratan Kalimantan akan berkumpul pada 15-16 Oktober ini. Dipastikan beberapa peserta touring dari luar Kalimantan juga akan hadir

“Ini sebagai wujud solidaritas sebagai saudara se-Vespa di seluruh Indonesia. Kebetulan kegiatan PSB ada di daerah tetangga,” ucap Koordinator Rest Area PSB Ke-17 PPU, Achmad Fitriady, Jumat (14/10/2022).

Rest area berlokasi di Kelurahan Lawe-Lawe, Penajam ini telah didirikan sejak sepekan lalu. Inisiatif rest area ini merupakan para pecinta motor klasik dari berbagai komunitas, di antaranya; Penajam Scooter Club (Pesec), Suka Vespa (Save) PPU, Kacau Balau dan Spix Independence serta beberapa lagi.

“Teman-teman secara sukarela mengumpulkan donasi untuk segala keperluan rest area,” sebutnya.

Semenjak didirikan, para rider dari berbagai daerah berhenti di sini untuk beristirahat, khususnya yang melintas dari arah utara Kaltim. Rest area juga digunakan sebagai tempat silaturahmi antara pecinta kendaraan asal Itali itu.

“Ada teman-teman dari Samarinda, Balikpapan dan beberapa daerah lagi. Ada juga yang dari Kaltara dan beberapa daerah di luar Kalimantan seperti Sulawesi dan Jawa yang masuk ke Kaltim dari arah PPU. Mereka beristirahat sementara, agar tidak kelelahan dalam perjalan menuju ke Tanah Grogot,” jelas Adi.

Lebih lanjut, ia menjelaskan rest area ini akan terus diadakan  hingga sepekan setelah gelaran PSB Ke-17 berakhir. Selain digunakan untuk rest area touring keberangkatan, juga difungsikan sebagai rest area rider yang hendak kembali ke daerah masing-masing.

“Semoga semua teman yang masuk ke acara PSB Ke-17 bisa selamat sampai tujuan. Begitupun sampai kembali ke rumah masing-masing,” pungkas Adi. (sbk)

Bayar Pajak di PPU Sudah Bisa Non-Tunai

0

PENAJAM – Pemkab Penajam Paser Utara (PPU) meluncurkan pembayaran pajak dan retribusi daerah melalui Qris dan VA (Virtual Account). Untuk pelayanan digital baru ini, Pemkab PPU melalui Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) menggandeng Bank Kaltimtara.

Layanan non-tunai ini diharapkan semakin mendukung upaya pemerintah dalam akuntabilitas pengelolaan sektor pajak dan retribusi daerah. Termasuk mencegah adanya kebocoran dalam pengelolaan keuangan daerah di sektor pajak dalam sistem non-tunai.

“Hadirnya Qris ini semakin membantu para wajib pajak di Kabupaten PPU dengan lebih cepat, lebih mudah dan efisien. Sehingga tidak memerlukan proses yang panjang dan meminimalisasi pengeluaran bagi para wajib pajak yang berdomisili jauh dari kantror Bapenda dengan cukup dilakukan melalui handphone, semuanya dapat diselesaikan,” ungkap Plt Bupati PPU Hamdam Pongrewa, Senin (17/10/2022).

Hamdam juga mengapresiasi perubahan transformasi pelayanan publik di sektor pajak dan retribusi daerah yang telah menggunakan cara digital. Dalam hal ini pula pihaknya telah melaksanakan 3 perintah secara langsung, yakni Peraturan Pemerintah (PP), Keputusan Presiden (Kepres) dan Surat Mendagri terkait pajak dan retribusi secara non-tunai.

“Aplikasi pembayaran non-tunai ini diharapkan semakin disosialisasikan secara luas dan menyeluruh kepada publik agar dapat memanfaatkan layanan ini. Khususnya kapada kita semua sebagai warga negara yang baik dan taat membayar pajak,” kata Hamdam.

Sementara itu, Plt Kepala Bapenda Tohar menerangkan, peluncuran sesungguhnya menindaklanjuti PP Nomor 12 2019, Kepres Nomor 3 2021 serta Surat Mendagri Nomor 910/ 1867/ SJ. Yang pada poinnya meminta kepada pemerintah daerah untuk melakukan percepatan transaksi non-tunai pada pendapatan dan belanja daerah.

“Sehingga kita sediakan fasilitas kanal untuk bisa mengefektifkan daya guna ini serta dapat mengurangi beban masyarakat untuk melakukan transaksi dengan lebih cepat, mudah dan efisien secara waktu,” tutupnya. (sbk)

Majelis Adat Dayak Nasional dan Polri Bersinergi Kawal Pembangunan IKN

0

NUSANTARA – Polri dan Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) bersinergi terus mendukung dan mengawal pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) di Kaltim. Komitmen untuk menyukseskan pembangunan IKN itu dituangkan dalam pernyataan sikap yang diserukan bersama di lokasi IKN, Titik Nol, Sabtu (15/10/2022).

“Hari ini adalah hari yang membahagiakan bagi kita semua. Hari ini muncul satu komitmen bersama antara masyarakat Adat Dayak Nasional dengan institusi Polri dan tentunya seluruh elemen bangsa yang lain, untuk terus mendukung pembangunan dan mewujudkan IKN dan ibu kota yang betul-betul bisa menjadi kebanggaan bagi Indonesia di mata dunia,” kata Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, usai acara pernyataan sikap.

Sigit menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat Adat Dayak yang ikut mendukung serta menyukseskan kebijakan pemerintah tersebut. Hal yang sama juga disampaikan kepada seluruh elemen masyarakat yang telah mengawal program IKN. “Kami berikan apresiasi setinggi-tingginya kepada masyarakat Adat Dayak Nasional karena mendukung penuh proses pembangunan IKN,” ujarnya.

Mantan Kabareskrim Polri ini memastikan, pihaknya akan terus menjaga serta meningkatkan sinergi dan kolaborasi yang sudah baik ini dengan Majelis Adat Dayak Nasional serta elemen bangsa lainnya. Dengan terjalinnya komitmen bersama seluruh elemen masyarakat, Sigit meyakini hal ini akan meningkatkan optimisme untuk mewujudkan cita-cita Indonesia Emas pada tahun 2045.

Menurut Sigit, pembangunan IKN ini merupakan program dari Presiden Joko Widodo dengan semangat ingin mengurangi kesenjangan dan menjamin pemerataan bagi seluruh rakyat Indonesia. “Kita akan terus bersinergi, berkolaborasi dan mengawal agar proses pembangunan Ibu Kota Negara betul-betul bisa kita wujudkan,” ucapnya.

Selain menyampaikan pernyataan, MADN juga menganugerahkan Sigit sebagai Warga Kehormatan Utama Masyarakat Adat Dayak. “Sekali lagi, terima kasih termasuk juga penganugerahan kepada kami sebagai Warga Kehormatan Utama Masyarakat Dayak. Jadi mulai hari ini saya menjadi bagian keluarga besar masyarakat Dayak,” tutup Sigit disambut teriakan para masyarakat Dayak. (rls)

Myrna Asnawati Safitri, Cucu Pejuang Kemerdekaan yang Jabat Deputi Otorita IKN

0

Namanya Myrna Asnawati Safitri. Pada 13 Oktober 2022, perempuan kelahiran Samarinda itu dilantik bersama empat deputi Otorita Ibu Kota Nusantara. Terpilihnya Myrna ditetapkan melalui Keputusan Presiden RI Nomor 123/TPA Tahun 2022. Jabatannya adalah Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam, Otorita Ibu Kota Nusantara.

Myrna dinilai layak secara kapabilitas dan kompetensi untuk menempati unsur pimpinan tinggi madya di Otorita IKN. Dia seorang doktor ilmu hukum dari Universitas Leiden, Belanda. Dia juga alumnus Magister Antropologi, Universitas Indonesia, dan sarjana hukum dari Universitas Brawijaya.

Kepakaran Myrna bila diukur dari sitasi publikasi ilmiah relatif cukup kredibel. Sebagai dosen Hukum Lingkungan dan Tata Ruang di Fakultas Hukum, Universitas Pancasila, ia memiliki lebih dari lima ratus sitasi.

Portofolio Myrna di bidang hukum dan lingkungan juga mumpuni. Ia adalah Deputi Bidang Edukasi dan Sosialisasi, Partisipasi, dan Kemitraan, Badan Restorasi Gambut dan Mangrove Republik Indonesia sejak 2021. Dia pernah menjadi konsultan beberapa lembaga internasional dan memimpin organisasi masyarakat sipil di bidang lingkungan dan sumber daya alam.

Selain memenuhi kualifikasi kompetensi, masuknya Myrna di Otorita IKN merupakan implementasi Peraturan Presiden 62/2022 tentang Otorita Ibu Kota Nusantara. Pasal 14 menyebutkan bahwa komposisi deputi Otorita IKN mengutamakan unsur masyarakat lokal Kalimantan Timur.

Penelusuran terhadap profil Myrna sebagai representasi masyarakat Kaltim menunjukkan bahwa dia lebih dari sekadar seorang yang berkelahiran di Samarinda. Dari aspek keluarga dan leluhur, Myrna adalah keturunan etnis Banjar Samarinda yang menghidupkan eksistensi Kampung HBS Pasar Pagi di tepian Mahakam. Kampung HBS juga tercatat berpartisipasi dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tempo dulu, pada masa Pergerakan Nasional dan Revolusi Kemerdekaan, Kampung HBS terkenal sebagai permukiman para pejuang.

Kakek Myrna bernama Badroen Arieph. Sejumlah memoar dan testimoni para veteran mengungkap peran Badroen Arieph pada masa Revolusi Kemerdekaan. Bersama Abdoel Moeis Hassan dan pemuda yang lain, Badroen ikut dalam Panitia Persiapan Penyambutan Kemerdekaan Republik Indonesia (P3KRI) di Samarinda pada 1945. Bersama keluarga Barack, Badroen menyediakan logistik dan makanan untuk laskar gerilyawan Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) Samarinda pimpinan Djunaid Sanusie.

Badroen juga menjadi penyandang dana sekaligus bendahara untuk gerakan politik Republiken di Kaltim Gerakan politik Republiken itu adalah sebuah partai lokal bernama Ikatan Nasional Indonesia (INI). Partai tersebut dipimpin Abdoel Moeis Hassan yang kelak menjadi Gubernur Kaltim periode 1962–1966.

Di samping itu, Badroen mendirikan surat kabar Masjarakat Baroe pada Agustus 1946. Badroen merekrut Oemar Dachlan sebagai pemimpin redaksinya.

Koran ini berperan sebagai media perjuangan kaum Republiken di Kaltim. Kiprah Badroen di bidang pers melanjutkan jejak kakak kandungnya, Anang Atjil Arieph. Pada masa pergerakan nasional sebelum Perang Dunia II, tepatnya pada 1935, Anang Atjil Arieph menerbitkan koran harian bernama Pantjaran Berita di Samarinda.

Pengalaman Badroen dan Anang Atjil dalam penerbitan media diikuti putra tunggal Badroen yang bernama Muhammad Fuad Arieph. Pada awal 1970, Fuad Arieph mendirikan koran Suara Kaltim. Ia menjabat Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Kaltim selama dua periode dari 1990 hingga 2000. Pernah pula menjadi Ketua DPRD Samarinda periode 1999–2004. Fuad Arieph tiada lain ayah dari Myrna.

Kembali ke Myrna, ia dilantik sebagai salah satu deputi Otorita Ibu Kota Nusantara. Sebelumnya, pada 26 Agustus 2019, Presiden Joko Widodo mengumumkan bahwa lokasi ibu kota baru negara adalah di Kalimantan Timur. Lalu pada 18 Januari 2022, DPR RI mengesahkan Undang-Undang Ibu Kota Negara. Presiden mengarahkan Kepala Otorita IKN agar rekrutmen deputi ada yang berasal dari masyarakat Kaltim. Hal ini mengakomodasi opini pihak organisasi kemasyarakatan yang meminta komposisi pimpinan Otorita IKN diisi putra daerah Kaltim.

Akhirnya, Kamis, 13 Oktober 2022, di Aula Serbaguna Gedung III Kementerian Sekretariat Negara, Kepala Otorita IKN Bambang Susantono melantik putri sulung Fuad Arieph tersebut. Dialah Myrna Asnawati Safitri binti Fuad Arieph bin Badroen Arieph, urang Banjar Samarinda. (kk)

Petani di PPU Perlu Lakukan Diversifikasi Bahan Pangan

PPU – Petani di Penajam Paser Utara (PPU) diharapkan melakukan diversifikasi bahan pangan. Hal ini sebagai upaya mendorong masyarakat di daerah itu mengonsumsi pangan lokal, khususnya komoditas umbi-umbian dan jagung.

Sekretaris Komisi II DPRD PPU Sujiati menuturkan pangan pokok atau pangan sumber karbohidrat yang banyak dikonsumsi masyarakat Benuo Taka ialah beras. Padahal, di PPU, khususnya di Kecamatan Babulu, memiliki potensi besar memproduksi bahan pangan yang memiliki karbohidrat pengganti beras.

“Diversifikasi pangan, di Kecamatan Babulu sangat berpotensi untuk jenis umbi-umbian, tetapi kalau jagung terkendala lahan karena banyak perkebunan,” kata dia, Jumat (14/10/2022).

Hal ini bukanlah inovasu baru. Karena di Desa Sebakung Jaya, Kecamatan Babulu telah menerapkan diversifikasi bahan pangan ini dengan memanfaatkan lahan untuk menanam tanaman lain selain padi.

Sejumlah kelompok tani di sana, selain memanfaatkan lahan untuk menanam padi, juga difungsikan untuk menanam tanaman lainnya seperti umbi-umbian dan sayur-mayur. Dengan demikian, para petani memiliki hasil panen harian, mingguan dan bulanan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari melalui tanaman yang ditanam di sekitar lahan persawahan.

Dia mengatakan potensi produksi tanaman selain padi dapat dilakukan dengan memaksimalkan potensi yang ada dan sudah ada kelompok tani yang memaksimalkan potensi tersebut.

“Saya sudah pernah melihat langsung. Dan itu benar-benar bisa dilakukan di PPU. Kenapa tidak hal ini juga dilakukan oleh kelompok tani di wilayah lainnya,” Sebut Sujiati.

Pemerintah pusat dan pemerintah provinsi serta kabupaten/kota diharapkan melakukan sosialisasi produk pangan lainnya yang memiliki kandungan karbohidrat cukup tinggi. Jika hal ini bisa diterapkan secara masif, sambung dia, juga dapat mengurai beberapa permasalah sektor pertanian di PPU, khususnya petani padi.

“Melalui diversifikasi pangan ini akan dapat menurunkan konsumsi beras, sehingga memperkokoh ketahanan pangan nasional kita,” tutup Sujiati. (ADV/SBK)

DPRD PPU Optimistis Raperda 2022 Rampung Sebelum Target

0

PENAJAM – Progres pembahasan rancangan peraturan daerah (Raperda) Penajam Paser Utara (PPU) 2022 telah mencapai 70 persen. Diyakini sebelum berakhir masa kerja dua panitia khusus (pansus) DPRD PPU, 6 usulan prioritas tersebut telah rampung.

DPRD PPU tahun ini optimis menyelesaikan 4 raperda usulan Pemkab dan 2 inisiatif legislatif tersebut tepat waktu. Sebab tidak terlalu banyak perbedaan sudut pandang antar-leading sector dan para legislator pansus.

Plt Kepala Bagian Umum dan Keuangan DPRD PPU, Umar Said mengatakan, masa kerja dua pansus Raperda berakhir pada 2 November 2022. Sementara pengesahan 6 raperda menjadi perda diperkirakan pada sekitar masa itu.

“Sebenarnya (pembahasan raperda) ini sudah hampir selesai. Kan pansus jatuh tempo sampai 2 November 2022, setelah itu akan diparipurnakan 6 rancangan itu,” ujarnya, Selasa (11/10/2022).

Umar menambahkan, masing-masing pansus selama dua bulan pertama fokus menggelar rapat dengar pendapat dengan beberapa OPD dalam pembahasan kajian teknis. Sementara di bulan terakhir ini fokus merincikan sudut pandang pasal-pasal.

Adapun 6 raperda tersebut tentang Perlindungan Perempuan dan Raperda tentang Pengarusutamaan Gender Dalam Pembangunan Daerah. Kemudian tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pelayanan Bagi Masyarakat Penyandang Disabilitas, Raperda tentang Fasilitasi Penyelenggaraan Pondok Pesantren, Raperda tentang Keterbukaan Informasi Publik dan Raperda tentang Badan Permusyawaratan Desa (BPD). “Kalau berdasarkan progres, semua sudah hampir rampung, ya sekitar 70 Persen,” sebut Umar.

Ketua Bapemperda PPU, Sudirman.

Ketua Bapemperda PPU Sudirman sebelumnya menargetkan pembahasan ini selesai selambat-lambatnya pada Desember mendatang. Namun melihat proses kini yang berjalan lancar, ia turut optimistis pembahasan bisa selesai tepat waktu.

“Pembahasan raperda sebelumnya Desember ini bisa selesai, mudah-mudahan, karena kan ini pansus sudah berjalan sesuai jadwal,” tutupnya. (adv/sbk)

Libatkan Guru dan Pelajar, Pemkab PPU Koordinasi Pencegahan Tindak Kekerasan Perempuan-Anak

0

PENAJAM – Sekira 60 peserta diberikan sosialisasi lanjutan terkait pencegahan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak. Diharapkan dari kegiatan ini, peserta dari beberapa forum perlindungan anak serta perempuan dapat menjadi agen yang lebih aktif dalam kampanye.

Isu kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kaltim, khususnya PPU sedang hangat. Beberapa kasus seperti asusila pada pelajar oleh oknum guru, bullying berujung pemukulan dan lainnya, baru-baru ini terjadi.

Maka dari itu, lewat kegiatan koordinasi dan sinkronisasi Pencegahan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak (KTPA), Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) PPU berharap tindak itu dapat diminimalisasi.

“Persoalan kekerasan dan perlindungan terhadap perempuan dan anak merupakan salah satu persoalan penting yang tidak dapat dipandang satu hal yang biasa-biasa saja dimanapun itu, termasuk di PPU,” ungkap Sekretaris DP3AP2KB, Siti Aminah, Selasa (11/10/2022).

Adapun tujuan kegiatan ini untuk membantu kewenangan daerah dalam mencapai prioritas pembangunan nasional. Yakni menurunkan kekerasan terhadap perempuan dan anak serta meningkatkan layanan bagi perempuan dan anak korban kekerasan, termasuk TPPO.

“Proses pelayanan pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak belum optimal dikarenakan masih terkendala dalam pelayanan terutama pengalokasiaan dana,” jelas dia

Walau begitu, hal ini tetap menjadi kewajiban sesuai dengan Undang-undang No 33 tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pemerintahan pusat dan pemerintah daerah. Dalam hal meningkatkan cakupan dan kualitas layanan perlindungan perempuan dan upaya perlindungan perempuan dan anak. Serta merupakan bagian dari integral target pembangunan nasional yang sangat penting.

Adapun 60 peserta masing-masing terdiri dari perwakilan OPD, guru dan pelajar di berbagai sekolah menengah atas (SMA) PPU. Secara garis besar, yang disampaikan adalah tentang pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Pematerinya di antaranya Ketua Himpunan Psikologi (Himpsi) Kaltim, Dwita Salverry. Kemudian materi lainnya tentang Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) dan Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA), oleh Anita Megawati.

Lewat kegiatan ini, Plt Bupati PPU Hamdam Pongrewa berharap ke depan tiap stakeholder di PPU dapat bersama-sama membagi ruang. Agar bisa memberikan dukungan terhadap persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak di PPU.

“Sehingga diharapkan persoalan ini dapat dicegah sedini mungkin. Saat ini memang kita akui kegiatan-kegiatan semacam ini masih kurang dilaksanakan khususnya di PPU. Oleh karenanya diharapkan melalui stakeholder terkait agar sering-sering untuk melaksanakan kegiatan semacam ini,” jelasnya.

Berkenaan dengan permasalahan tersebut, lanjutnya, juga dipandang perlu bergandengan tangan bersama-sama dari berbagai pihak. Mulai dari keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, dunia usaha, lembaga masyarakat, dan lembaga pemerintah di tingkat desa, kabupaten/kota, provinsi, dan pusat.

“Terima kasih kepada seluruh narasumber, fasilitator, peserta.
Saya berharap ke seluruh peserta yang mengikuti kegiatan dapat mengikuti dengan sungguh-sungguh hingga akhir kegiatan. Apa yang disampaikan oleh narasumber juga diharapkan dapat dipahami dengan baik,” tutup Hamdam. (sbk)