JAKARTA – Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan 1 Zulhijah 1447 Hijriah jatuh pada Senin, 18 Mei 2026. Dengan demikian, Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah diputuskan berlangsung pada Rabu, 27 Mei 2026.
Keputusan tersebut diambil dalam sidang isbat yang digelar di Jakarta Pusat, Minggu (17/5/2026).
Menteri Agama, Nasaruddin Umar, mengatakan penetapan awal Zulhijah dilakukan berdasarkan metode hisab dan rukyatul hilal yang telah memenuhi kriteria penentuan awal bulan Kamariah.
“Berdasarkan hasil hisab serta adanya hasil laporan hilal tersebut dapat terlihat disepakati bahwa tanggal 1 Zulhijah 1447 H jatuh pada hari Senin tanggal 18 Mei 2026 Masehi dan dengan demikian Hari Raya Idul Adha tanggal 10 Zulhijah 1447 H jatuh pada hari Rabu tanggal 27 Mei 2026,” ujar Nasaruddin Umar dalam konferensi pers sidang isbat.
Pemerintah menggunakan kriteria baru MABIMS dalam penentuan awal bulan Hijriah, yakni tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.
Sebelum sidang isbat dimulai, Tim Hisab Rukyat Kemenag terlebih dahulu memaparkan posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia yang dinyatakan telah memenuhi syarat astronomis.
“Di wilayah NKRI telah memenuhi kriteria MABIMS awal bulan Kamariah sehingga tanggal 1 Zulhijah 1447 H jatuh pada hari Senin Kliwon, 18 Mei 2026 M. Ini secara hisab,” kata Cecep Nurwendaya.
Hasil hisab tersebut kemudian diperkuat melalui rukyatul hilal yang dilakukan di 88 titik pemantauan di berbagai daerah Indonesia.
“Di Merauke 8,91°. Di Sabang, 10,62°. Padahal minimal saja 6,4 sudah jauh di atas kriteria MABIMS,” jelas Cecep.
Sidang isbat awal Zulhijah turut dihadiri perwakilan Majelis Ulama Indonesia, Komisi VIII DPR RI, pimpinan pondok pesantren, serta para ahli falak dari berbagai organisasi Islam. (MK)
Sabtu (16/5) siang itu kawasan Gedung Nommensen Balikpapan terlihat cukup ramai.
Parkiran di depan gedung sudah penuh. Banyak tamu akhirnya memarkir kendaraan di area bawah, lalu berjalan menuju lokasi acara yang berada di samping Gereja Sopo Nommensen HKBP Balikpapan, tidak jauh dari Hotel Sagita.
Saya datang bersama rombongan keluarga besar Media Kaltim Network (MKN). Ada Direktur MediaKaltim.com Rini Ernawati, Direktur Radarmedia.id Adhi Abdian, Direktur RadarKukar.com Muhammad Rafii, Direktur RadarBalikpapan.com Andrie Aprianto, para wartawan, tim multimedia, dan beberapa kru redaksi dari berbagai daerah.
Hari itu, Direktur RadarPaser.com, Tontong Bhakti Sihombing resmi menikahi Theresia Anna Fransiska Samosir.
Foto: Saya bersama Direktur RadarPaser.com, Tontong Bhakti Sihombing sebelum prosesi resepsi adat dimulai.
Sesuai undangan, pemberkatan dijadwalkan pukul 10.00 WITA di Gereja Katolik Santo Martinus Lanud Balikpapan. Setelah itu dilanjutkan resepsi adat Batak mulai pukul 11.30 WITA hingga selesai di Gedung Nommensen. Sementara jamuan makan bersama nasional dijadwalkan pukul 13.00 sampai 15.00 WITA.
Saat kami tiba sekitar pukul 13.00 WITA, suasana di lokasi acara masih cukup padat. Tamu undangan resepsi nasional mulai berdatangan dan diarahkan menuju meja prasmanan di luar gedung. Dari dalam aula, musik gondang Batak masih terdengar karena prosesi adat masih berlangsung.
Di tengah suasana itu, kami melihat Bhakti dan istrinya berada di depan pintu masuk gedung sebelum kembali masuk ke dalam aula. Akhirnya kami sempat “menculik” Bhakti untuk foto bersama lebih dulu.
Begitu bertemu, suasananya langsung akrab. Rombongan kami yang tadi sebagian sedang makan dan berbincang kemudian berkumpul menyapa Bhakti. Semua langsung ikut bergabung untuk foto bersama. Bhakti dan istrinya juga terlihat santai melayani satu per satu.
Karena sudah cukup lama mengenal Bhakti, suasana siang itu memang terasa berbeda.
Bhakti menjadi bagian dari perjalanan Media Kaltim sampai tumbuh seperti sekarang. Saya masih ingat saat dia pertama kali bergabung. Waktu itu masih berstatus wartawan biasa, lalu pelan-pelan ikut berkembang bersama perjalanan media ini.
Dia termasuk orang yang lebih banyak bekerja daripada banyak bicara. Pelan-pelan ritme kerjanya mulai terlihat. Dari liputan biasa, ikut memahami ritme redaksi, membangun relasi, sampai akhirnya saya percaya memimpin media RadarPaser.com.
Media itu memang kami siapkan untuk menyasar segmen pembaca di Kabupaten Paser dengan pendekatan media digital yang lebih dekat dengan masyarakat daerah.
Dan Bhakti ikut tumbuh bersama proses itu. Karena itu, saat melihat dia berdiri sebagai pengantin, rasanya memang berbeda.
Foto: Keluarga besar Media Kaltim Network saat menghadiri pernikahan Direktur RadarPaser.com, Tontong Bhakti Sihombing dan Theresia Anna Fransiska Samosir di Balikpapan, Sabtu (16/5/2026). Foto: Istimewa
Begitu masuk ke dalam aula Gedung Nommensen, suasana adat Batak langsung terasa. Musik gondang terus mengiringi jalannya acara. Keluarga besar kedua mempelai dipanggil satu per satu sesuai posisi adat dan marganya.
Ada prosesi mangulosi atau pemberian ulos sebagai simbol restu keluarga. Setelah itu dilanjutkan manortor atau tarian adat Batak yang diikuti keluarga besar secara bergantian.
Bhakti tampil mengenakan jas abu-abu gelap lengkap dengan penutup kepala adat Batak. Sementara Theresia mengenakan kebaya adat bernuansa cokelat keemasan.
Prosesi adat berlangsung cukup panjang, tapi suasananya tetap terasa akrab. Banyak keluarga besar yang saling menyapa dan berbincang di sela-sela acara.
Setelah doa penutup prosesi adat selesai, keluarga besar Media Kaltim mendapat kesempatan pertama naik ke atas panggung untuk memberikan ucapan selamat sekaligus foto bersama pengantin.
Tim redaksi dan direktur media jaringan langsung naik ke atas panggung. Sebagian masih sempat bercanda sambil mengatur posisi foto.
Begitu berkumpul, suasananya terasa seperti reuni kecil. Banyak cerita lama keluar lagi. Ada yang mengenang masa-masa awal Media Kaltim berkembang. Ada juga yang sekadar meledek Bhakti karena akhirnya resmi melepas lajang.
Tontong Bhakti Sihombing bukan sekadar direktur media jaringan. Dia sudah menjadi bagian dari perjalanan panjang Media Kaltim sampai sekarang.
Dari wartawan biasa, kini berdiri sebagai pemimpin media daerah sekaligus kepala keluarga baru. Dan saya senang bisa melihat proses itu dari awal. (*)
Dulu wartawan bisa deg-degan kalau Bambang Janu mulai evaluasi berita sore hari. Sekarang, sosok yang pernah keras di newsroom itu justru lebih sering berdiri di warung “Nasi Pecel Madiun Prasmanan” miliknya di Jalan MT Haryono Balikpapan.
Saya masih ingat bagaimana ritme kerja saat itu. Tahun 2006 sampai 2009, ketika saya masih aktif turun langsung ke lapangan sebagai wartawan, Bambang Janu adalah pemimpin redaksi sekaligus “bos” saya di Kaltim Post.
Orangnya disiplin. Sangat serius urusan produk redaksi. Dan yang paling saya ingat, dia hampir tidak pernah lepas memantau perencanaan berita.
Setiap pagi, ia sudah melihat berita apa saja yang harus ditindaklanjuti. Sore hari dicek lagi satu per satu. Wartawan dapat perkembangan atau tidak. Kalau belum dapat, evaluasinya bisa panjang.
Bambang Janu Isnoto saat melayani pembeli di warung Nasi Pecel Madiun Prasmanan miliknya di Balikpapan. Foto: Agus Susanto/MKN
Saat itu suasana newsroom memang terasa berbeda. Wartawan tidak cukup hanya setor berita. Semua harus dikejar. Kedalaman isu. Sudut pandang. Kelanjutan berita. Judul diperiksa. Angle dipertanyakan. Bahkan cara wartawan melihat persoalan ikut dibentuk.
Dan Jumat (15/5/2026) kemarin, saya kembali bertemu dengannya. Tapi bukan lagi di kantor media.
Saya bersama rombongan Media Kaltim Network Biro Balikpapan menyempatkan singgah ke usaha barunya di Jalan MT Haryono, tepat di belakang bangunan Auto 2000 Balikpapan.
Mantan Pemimpin Redaksi Kaltim Post, Bambang Janu Isnoto, kini menekuni usaha kuliner di Balikpapan. Foto: Agus Susanto/MKN
Di kawasan yang di antaranya terdapat gudang, bengkel, hingga usaha cucian mobil itu, berdiri warung sederhana dengan konsep semi terbuka. Tidak terlalu besar. Meja kursinya masih sedikit. Bagian depannya langsung menghadap jalan. Sementara di sisi dalam terlihat meja prasmanan lengkap dengan penutup stainless yang tertata rapi.
Di situlah Bambang Janu kini menghabiskan waktunya. Warung nasi pecel itu baru dibuka awal Mei 2026 lalu.
Di depan warung masih terlihat karangan bunga dari komunitas IMBI Kaltim. Saya sempat tersenyum melihatnya. Biasanya karangan bunga seperti itu muncul saat ulang tahun media atau acara perusahaan. Kali ini, ucapan selamat itu datang untuk warung nasi pecel milik Bambang Janu. “Coba usaha kecilan-kecilan aja ini ketua,” katanya sambil tertawa.
Ia masih memanggil saya “ketua”. Kebiasaan sejak saya menjabat Ketua Bawaslu Bontang tahun 2017 lalu. Sampai sekarang panggilan itu masih melekat.
Suasana warung Nasi Pecel Madiun Prasmanan milik Bambang Janu Isnoto di Balikpapan. Foto: Agus Susanto/MKN
Penampilannya pun sekarang jauh lebih santai dibanding saat masih aktif memimpin media. Kemeja motif bunga, celana jeans, dan topi hitam yang hampir tidak pernah lepas dari kepalanya.
Bahkan saat saya hendak mengambil fotonya, ia sempat meminta waktu sebentar hanya untuk memakai topinya lebih dulu. “Sebentar dulu ketua, saya pakai topi dulu,” ucapnya sambil tertawa.
Saya jadi ikut tertawa. Karena memang sejak dulu Bambang Janu punya gaya khasnya sendiri. Dan rupanya sekarang topi sudah menjadi bagian dari penampilannya sehari-hari.
Meski suasananya santai, kebiasaannya memastikan semuanya rapi ternyata masih terlihat. Ia beberapa kali mengecek posisi lauk di meja prasmanan. Memastikan penutup makanan tertutup rapat. Sesekali memperhatikan pekerjanya saat melayani pembeli. Tiga pekerja dilibatkannya. Tidak ada hubungan keluarga. Semua profesional.
Bahkan untuk urusan pengelolaan warung, ia memilih turun langsung setiap hari. Ia belum ingin terlalu banyak menyerahkan pengelolaan kepada orang lain, termasuk istrinya sendiri. “Istri di rumah saja,” katanya.
Menurutnya, karena usaha itu masih baru, ia merasa harus terus melihat semuanya sendiri. “Masih baru buka. Saya harus tiap hari lihat,” ujarnya.
Cara berpikirnya rupanya masih sama seperti dulu. Semua ingin dipastikan berjalan rapi. Bahkan untuk sistem pembayaran pun sudah dibuat modern. Pembeli bisa langsung menggunakan pembayaran digital dan sistem online. “Ini mau saya jadikan laboratorium belajar. Siapa tahu nanti bisa berkembang lagi,” ujarnya.
Rombongan Media Kaltim Network Biro Balikpapan saat singgah dan makan bersama Bambang Janu Isnoto di warung Nasi Pecel Madiun Prasmanan miliknya di Jalan MT Haryono Balikpapan. Foto: Istimewa
Saat ini warungnya buka mulai pukul 10 pagi hingga 3 sore. Tapi ia sudah punya rencana lebih jauh. “Ke depan pengennya jadi kafe juga,” katanya.
Konsep pecelnya juga dibuat berbeda. Pengunjung bebas menambah bumbu sendiri sesuai selera. Lauknya lengkap. Ada ayam, paru, ati, telur, hingga peyek. “Biasanya orang makan kadang kurang bumbu atau kurang pedas. Nah di sini bisa nambah sendiri. Jadi saya siapkan dua bumbu, yang pedas dan sedang,” tuturnya. Ia sengaja menggunakan konsep prasmanan tertutup agar lebih higienis.
Saya melihat Bambang Janu memang sedang mencoba menjalani hidup yang benar-benar baru.
Setelah pensiun dari dunia media akhir 2024 lalu, perlahan ia mulai meninggalkan rutinitas yang puluhan tahun melekat dalam hidupnya. Kini ia kembali menekuni profesi lawyernya. Bersamaan dengan itu, ia juga mulai merintis usaha kuliner. “Pengen hal baru. Masa orang lain bisa, kita nggak bisa,” katanya.
Dan dari cara dia bercerita siang itu, saya melihat satu yang tidak berubah dari Bambang Janu. Dia bukan tipe orang yang gampang menyerah.
Ia juga bercerita, sejak tak lagi aktif di dunia media, justru banyak kawan-kawan lamanya kembali berdatangan. Salah satunya dari komunitas motor IMBI Kaltim.
Namanya kembali dimasukkan ke grup komunitas itu. Padahal, sekarang ia sudah tidak memiliki motor lagi. “Saya sudah bilang nggak punya motor,” katanya sambil tertawa.
Tapi rupanya teman-temannya tetap memaksanya ikut touring. “Tinggal ikut aja katanya. Motor disiapkan,” ujarnya lagi.
Obrolan siang itu akhirnya membawa kami kembali ke cerita-cerita lama soal media.
Bambang Janu lalu bercerita bagaimana dirinya dulu ditarik masuk ke jajaran manajemen Jawa Pos Group hingga akhirnya dipercaya menjadi General Manager yang membawahi pengembangan kualitas redaksi media-media daerah jaringan Jawa Pos di Indonesia.
Nama Bambang Janu memang cukup dikenal di lingkungan pers Kaltim dan Jawa Pos Group. Ia termasuk salah satu orang yang ikut membangun kultur newsroom media daerah saat jaringan Jawa Pos berkembang besar di berbagai daerah.
“Saya tiap hari evaluasi wartawan. Judulmu begini, anglemu begitu,” katanya sambil tertawa mengenang masa itu.
Ia bercerita bagaimana awal dirinya diminta pindah ke Surabaya juga terjadi tiba-tiba. Bahkan keputusan itu, menurutnya, muncul setelah rapat di Bali. “Saya juga kaget ditunjuk,” ujarnya.
Saat itu tugasnya tidak ringan. Ia harus berkeliling ke banyak daerah, melatih newsroom, mengevaluasi produk media, sampai mencari calon-calon redaktur dan pimpinan media daerah. Kurang lebih 11 tahun ia menjalani pekerjaan itu.
Tapi dari sekian banyak cerita yang disampaikan, ada satu hal yang paling lama dibahas: perubahan dunia jurnalistik saat ini.
Menurutnya, media sekarang terlalu cepat berubah karena pengaruh media sosial. “Wartawan sekarang banyak terpapar gaya medsos. Itu bahaya,” katanya.
Ia menilai banyak media online sekarang terlalu sibuk mengejar viral dan cepat tayang, tapi mulai meninggalkan kualitas jurnalistik. “Sudah nggak ada power-nya,” ucapnya.
Saya hanya mendengarkan. Karena saya melihat, Bambang Janu sebenarnya tidak banyak berubah. Orangnya masih rapi, masih suka memastikan semuanya berjalan baik, dan tetap senang mencoba hal baru.
Mungkin yang berubah sekarang hanya tempat kerjanya. Dulu sibuk memeriksa halaman koran. Kini lebih sering memastikan bumbu pecelnya pas untuk pembeli. (*)
JAKARTA – Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi memprediksi nilai tukar rupiah masih berpotensi mengalami tekanan dalam waktu dekat.
Bahkan, ia memperkirakan rupiah bisa menyentuh level Rp22.000 per dolar Amerika Serikat apabila pelemahan terus berlanjut hingga akhir Mei 2026.
Menurut Ibrahim, saat ini belum ada sentimen kuat yang mampu menopang penguatan rupiah terhadap dolar AS.
Kondisi geopolitik global yang masih memanas serta penguatan dolar Amerika disebut menjadi faktor utama tekanan terhadap mata uang domestik.
Ia menilai level Rp18.000 per dolar AS berpotensi ditembus lebih dahulu dalam waktu dekat.
“Dalam perdagangan di bulan Mei ini kemungkinan besar Rp18 ribu akan tembus. Saya kalau seandainya Rp18 ribu tembus di bulan Mei ini ada kemungkinan besar rupiah itu akan menembus level Rp22 ribu,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (15/5/2026).
Meski demikian, Ibrahim menilai pelemahan rupiah masih bisa diredam melalui langkah kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia.
Salah satu opsi yang dinilai memungkinkan ialah kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate dalam Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia mendatang.
“Ya bisa saja 25 basis poin sampai 50 basis poin, tujuannya adalah untuk menestabilkan mata uang rupiah,” katanya.
Namun, ia mengingatkan kebijakan kenaikan suku bunga juga memiliki risiko terhadap perlambatan ekonomi dan daya beli masyarakat.
Menurutnya, Bank Indonesia saat ini berada dalam posisi dilematis karena harus menjaga stabilitas rupiah di tengah ancaman perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional.
“Memang ya dalam kondisi saat ini sangat sulit Bank Indonesia apakah tetap mempertahankan suku bunga atau menaikkan suku bunga,” ujarnya.
Meski rupiah terus mengalami tekanan, Ibrahim menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat.
Salah satu indikatornya ialah dominasi investor domestik dalam kepemilikan obligasi pemerintah.
“Walaupun rupiah terus mengalami pelemahan tetapi fundamental ekonomi Indonesia masih cukup bagus, karena 90 persen obligasi yang membeli adalah domestik,” pungkasnya. (MK)
JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sempat melemah hingga menyentuh level Rp17.600 pada perdagangan Jumat (15/5/2026).
Tekanan terhadap mata uang Garuda dipicu meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Selat Hormuz yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.
Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 11.35 WIB, rupiah berada di level Rp17.585 per dolar AS atau melemah sekitar 56 poin dibanding perdagangan sebelumnya.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah terjadi seiring meningkatnya ketidakpastian global selama periode libur panjang di Indonesia.
“Ya kita lihat bahwa tadi pagi di 17.600-an lebih, kemudian sekarang sudah kembali di bawah 17.600,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (15/5/2026).
Menurutnya, kondisi memanas dipicu latihan militer besar-besaran yang dilakukan Iran di kawasan Selat Hormuz.
Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran di sejumlah negara Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab, Oman, dan Arab Saudi.
Selain itu, ketegangan diperburuk oleh laporan intelijen mengenai dugaan kerja sama Israel dengan sejumlah negara di kawasan, meski kabar kunjungan Perdana Menteri Israel ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab telah dibantah.
Insiden tenggelamnya kapal kargo rute Afrika-Uni Emirat Arab di perairan Oman serta penahanan sejumlah kapal oleh Iran juga turut memperbesar tekanan pasar global.
“Ya, kita melihat pada saat libur dua hari ini ada beberapa tensi geopolitik yang terus memanas, terutama adalah di Selat Hormuz antara Amerika dengan Iran,” katanya.
Dari faktor domestik, Ibrahim menilai pelemahan rupiah makin terasa karena pasar keuangan Indonesia tengah libur sehingga ruang intervensi Bank Indonesia menjadi terbatas.
Menurut dia, selama pasar domestik tutup, BI hanya dapat melakukan stabilisasi melalui pasar internasional.
Namun langkah tersebut dinilai belum cukup kuat menahan tekanan akibat tingginya transaksi valuta asing global.
“Nah dari segi internal sendiri, pada saat memasuki musim libur dua hari ini, Bank Indonesia hanya bisa melakukan intervensi di pasar internasional. Intervensi di pasar internasional itu tidak terlalu signifikan,” ucap Ibrahim.
Meski demikian, pelaku pasar masih menunggu langkah lanjutan dari otoritas moneter dan perkembangan situasi geopolitik global dalam beberapa hari ke depan.
Stabilitas rupiah diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif seiring tingginya ketidakpastian eksternal dan sentimen pasar internasional. (MK)
BONTANG – Wacana legalisasi tempat hiburan malam (THM) dan minuman beralkohol di Kota Bontang kembali mencuat usai pelaku usaha menyampaikan aspirasi dalam rapat dengar pendapat bersama DPRD Bontang.
Namun Pemerintah Kota Bontang memastikan belum akan membuka ruang legalisasi sektor tersebut.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, mengatakan pemerintah tetap berhati-hati dalam mengambil kebijakan karena persoalan hiburan malam dan miras dinilai berkaitan langsung dengan dampak sosial di masyarakat.
Ia menegaskan pemerintah tidak ingin kebijakan yang diambil justru bertentangan dengan visi daerah sebagai kota yang aman, tertib, dan agamis.
“Untuk dilegalkan untuk tempat hiburan yang dalam tanda kutip negatif, enggak mungkinlah,” kata Neni, Rabu (13/5/2026).
Menurutnya, meski praktik hiburan malam dan peredaran miras masih ditemukan secara sembunyi-sembunyi, legalisasi bukan berarti menjadi jalan keluar paling tepat.
Ia menilai persoalan tersebut tidak hanya soal tempat usaha, tetapi juga berkaitan dengan perilaku masyarakat.
Sebab, penutupan lokasi hiburan sekalipun belum tentu menghentikan praktik serupa apabila kesadaran masyarakat belum berubah.
“Walaupun ditutup, kalau mentalnya tidak bagus, nanti muncul lagi di tempat lain,” ujarnya.
Di sisi lain, Neni mengakui aturan daerah yang menjadi dasar pelarangan sudah cukup lama karena diterbitkan sejak tahun 2002.
Karena itu, peluang revisi peraturan daerah tetap terbuka untuk dibahas lebih lanjut.
Meski demikian, ia memastikan pembahasan revisi tidak hanya berfokus pada kepentingan usaha, tetapi juga mempertimbangkan tata ruang wilayah, kondisi lingkungan hingga sinkronisasi dengan RTRW Provinsi Kaltim yang saat ini masih berproses.
Termasuk terkait usulan menjadikan kawasan Berbas Pantai sebagai lokasi khusus hiburan malam, menurutnya belum bisa diputuskan dalam waktu dekat.
“Perda itu memang bisa direvisi. Nanti kita lihat lagi seperti apa,” tuturnya.
Neni juga menepis anggapan bahwa legalisasi perlu dilakukan demi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Menurutnya, pemerintah tidak bisa hanya melihat potensi pemasukan tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang bagi masyarakat.
“Semua juga bisa menghasilkan PAD, judi juga bisa. Tapi kan enggak mungkin kita lakukan,” tegasnya. (MK)
BONTANG – Polres Bontang berhasil mengamankan enam terduga pelaku pengeroyokan terhadap seorang pemilik CCTV di Kelurahan Api-Api, Kecamatan Bontang Utara.
Dari enam orang yang diamankan, empat di antaranya diketahui merupakan residivis dengan riwayat kasus kriminal berbeda.
Keenam pelaku masing-masing berinisial R (59), H (43), S (39), MT (23), RD (45), dan RH (22).
Berdasarkan data kepolisian, empat pelaku tercatat sebagai residivis, yakni R dalam kasus senjata tajam, H kasus pencurian dengan pemberatan, S kasus narkotika, dan RD kasus perlindungan anak.
Kasus pengeroyokan tersebut diduga dipicu persoalan rekaman CCTV terkait dugaan pencurian mangga.
Berdasarkan informasi kepolisian, korban didatangi sejumlah orang yang meminta rekaman CCTV. Namun setelah korban menyampaikan rekaman telah terhapus, situasi memanas hingga berujung aksi pengeroyokan.
Peristiwa itu terjadi pada Jumat (8/5/2026) sekitar pukul 14.30 WITA.
Korban kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Polres Bontang pada Selasa (12/5/2026).
Sehari berselang, tim gabungan Polres Bontang, Polsek Bontang Utara, Polsek Bontang Selatan, dan Jatanras Polda Kaltim berhasil mengamankan enam terduga pelaku di Jalan Diponegoro, Kelurahan Berbas Pantai, Kecamatan Bontang Selatan.
“Benar kami sudah mengamankan enam orang pengeroyok pemilik CCTV, untuk residivis ada empat orang,” ujar Plt Kasat Reskrim Polres Bontang, AKP Mohamad Yazid, saat dikonfirmasi, Jumat (15/5/2026).
Selain mengamankan para pelaku, polisi turut menyita barang bukti berupa satu bilah parang.
Kini keenam terduga pelaku dijerat Pasal 262 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP terkait tindak pidana pengeroyokan.
“Maka dari keenam pelaku pengeroyokan ini, ada yang dari kerabat almarhum ada juga yang bukan. Saat ini pun kami masih dalami kasus tersebut,” tambahnya.
Sebelumnya, kasus tersebut bermula dari peristiwa pencurian mangga yang berujung maut.
Pelaku pencurian mangga dilaporkan meninggal dunia akibat terjatuh dari pohon pada Selasa (5/5/2026), setelah mengalami benturan keras di bagian kepala karena menghantam pagar beton.
Korban sempat mendapatkan perawatan medis di Rumah Sakit Amalia dalam kondisi tidak sadarkan diri sebelum akhirnya meninggal dunia. (MK)
SANGATTA – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Kutai Timur berhasil mengungkap praktik penyalahgunaan dan pengangkutan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite di wilayah Kutai Timur.
Dalam pengungkapan tersebut, polisi mengamankan empat tersangka beserta ribuan liter BBM yang diduga diperjualbelikan secara ilegal.
Kasus ini menjadi bagian dari upaya Polres Kutim memberantas praktik penyalahgunaan BBM subsidi yang dinilai merugikan masyarakat maupun negara.
Dalam operasi tersebut, petugas turut menyita sejumlah kendaraan roda empat, ratusan jerigen, alat komunikasi hingga dokumen kendaraan yang digunakan para pelaku.
Empat tersangka yang diamankan masing-masing berinisial EHN, HMP, KM dan M.
Keempatnya ditangkap di lokasi dan waktu berbeda berdasarkan laporan polisi yang diterbitkan sejak April hingga Mei 2026.
Dari hasil penyidikan, polisi mengamankan barang bukti berupa satu unit mobil Daihatsu Sigra, tiga unit mobil pick up jenis Grand Max serta total 6.725 liter BBM jenis Pertalite yang disimpan dalam ratusan jerigen berbagai ukuran.
Kasat Reskrim Polres Kutai Timur, AKP Rangga Asprilla Fauza, mengatakan pengungkapan tersebut menjadi bukti keseriusan jajaran Satreskrim dalam menindak segala bentuk penyalahgunaan distribusi BBM subsidi.
“BBM subsidi diperuntukkan bagi masyarakat yang membutuhkan, sehingga penyalahgunaannya tentu sangat merugikan masyarakat luas dan negara. Kami akan terus melakukan pengawasan serta penindakan terhadap praktik-praktik ilegal seperti ini,” tegas AKP Rangga Asprilla Fauza, Jumat (15/5/2026).
Ia menambahkan pihaknya masih terus melakukan pendalaman guna mengetahui kemungkinan adanya jaringan ataupun keterlibatan pihak lain dalam distribusi BBM ilegal tersebut.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan penimbunan maupun penyalahgunaan BBM bersubsidi. Jika menemukan aktivitas mencurigakan terkait distribusi BBM, segera laporkan kepada pihak kepolisian,” tambahnya.
Sementara itu, Kanit Tipidter Satreskrim Polres Kutim, Iptu Rizky Alief Dharmawan, menjelaskan modus yang digunakan para pelaku yakni membeli BBM bersubsidi dalam jumlah besar menggunakan kendaraan yang telah dimodifikasi, kemudian menampungnya ke dalam jerigen untuk diperjualbelikan kembali.
“Dari hasil pemeriksaan sementara, para pelaku membeli BBM subsidi secara berulang di sejumlah SPBU kemudian ditimbun menggunakan jerigen untuk memperoleh keuntungan pribadi. Saat ini kami masih mendalami kemungkinan adanya jaringan maupun pihak lain yang turut terlibat,” ungkap Iptu Rizky Alief Dharmawan.
Ia menegaskan penyidik akan menindak tegas segala bentuk penyalahgunaan BBM subsidi sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak terlibat dalam praktik penimbunan ataupun penyalahgunaan BBM bersubsidi. Selain melanggar hukum, tindakan tersebut juga berdampak terhadap distribusi BBM bagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan,” pungkasnya.
Saat ini seluruh tersangka beserta barang bukti telah diamankan di Mapolres Kutai Timur guna menjalani proses hukum lebih lanjut sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. (MK)
JAKARTA – Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Agung, Roy Riady, menegaskan tuntutan 18 tahun penjara terhadap mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim, disusun berdasarkan alat bukti dan fakta persidangan.
Pernyataan itu disampaikan Roy usai sidang tuntutan kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Menurut Roy, konstruksi tuntutan jaksa dibangun dari berbagai alat bukti mulai dari surat dakwaan, keterangan saksi dan ahli, dokumen elektronik, hasil audit hingga forensik telepon seluler.
“Orang bisa berbohong, tetapi bukti elektronik tidak bisa berbohong,” ujar Roy.
Ia mengatakan Kejaksaan Agung menggunakan standar pembuktian yang ketat dalam menyusun perkara tersebut.
Setiap fakta hukum yang diajukan di persidangan, kata dia, minimal harus didukung dua alat bukti.
Roy juga menyinggung dugaan keterlibatan langsung Nadiem dalam penggunaan sistem operasi Chrome OS pada proyek pengadaan laptop Chromebook di Kemendikbudristek.
Menurutnya, jaksa memiliki dokumen dan keterangan saksi terkait arahan penggunaan Chromebook dalam proyek tersebut.
“Tanggal 6 Mei Pak Nadiem itu mengatakan ‘Go ahead with Chromebook’,” katanya.
Roy menilai seorang menteri tidak bisa melepaskan tanggung jawab dalam proyek pengadaan nasional bernilai besar.
“Menteri itu punya kewenangan membuat kebijakan, kebijakan pengawasan, dan juga melakukan evaluasi. Nah, dalam skala pengadaan nasional, itu menteri yang bertanggung jawab,” tegasnya.
Selain itu, Roy turut menyoroti keberadaan pihak-pihak di luar struktur resmi kementerian yang disebut ikut membahas proyek pengadaan Chromebook.
“Ini berbahaya, ini pemerintahan bayangan namanya,” ucap Roy.
Jaksa juga mengaku menemukan bukti elektronik yang menunjukkan pembahasan proyek Chromebook sudah berlangsung sejak awal 2020, termasuk terkait harga dan dugaan keuntungan dari pengadaan tersebut.
Roy turut menyinggung adanya dugaan konflik kepentingan terkait hubungan bisnis perusahaan yang dikaitkan dengan Nadiem dan investasi dari Google.
Dalam sidang tuntutan tersebut, jaksa meminta majelis hakim menjatuhkan hukuman 18 tahun penjara terhadap Nadiem Makarim, dikurangi masa tahanan sementara.
Selain pidana penjara, Nadiem juga dituntut membayar denda Rp1 miliar subsider 190 hari kurungan.
Jaksa turut menuntut pembayaran uang pengganti sebesar Rp809,5 miliar dan Rp4,87 triliun yang disebut sebagai kekayaan tidak sebanding dengan penghasilan sah dan diduga berasal dari tindak pidana korupsi.
Apabila uang pengganti tersebut tidak dibayarkan, jaksa meminta agar diganti dengan pidana penjara selama sembilan tahun. (MK)