Beranda blog Halaman 853

Soal Pembangunan Mabes AD di IKN, Indra Saputra: Belum Dapat Alokasi Anggaran

0

PENAJAM – Pembangunan Markas Besar Angkatan Darat (AD) di wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN) belum berprogres. Proyek itu bahkan hingga saat ini belum mendapat alokasi anggaran.

Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah (PPW) Kaltim di Ditjen Cipta Karya Rozali Indra Saputra mengatakan, Kementerian PUPR belum memberikan arahan terkait pembangunan Mabes AD di IKN. Padahal, rencana pembangunannya telah ada dalam masterplan IKN dan memiliki alokasi lahan sekira 1.000 hektare.

“Hanya alokasi dan jalan aksesnya untuk memfasilitasi berbagai utilitas dan infrastruktur di dalamnya. Pembangunan masih perlu menunggu,” ucapnya, Selasa (23/8/2022).

Meski begitu, ia mengungkapkan bahwa pembangunan bisa saja dilakukan dalam waktu dekat. Namun tetap masih perlu menunggu arahan Kementerian PUPR, khususnya soal pengalokasian anggaran. “Tapi mungkin ke depannya ada kesepakatan terkait pembiayaan dan arahan,” kata Indra.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BPPJN) Kaltim, Junaidi menjelaskan, besaran anggaran pembangunan memang belum ditentukan. Hal tersebut mengingat akses jalan menuju lokasi pembangunan Mabes AD masih dalam proses penggarapan.

“Ini nama jalannya, Jalan Lingkar Kerja IV. Sudah kontrak, kita akan membangun ke arah sana,” sebutnya.

Adapun progres pengerjaan hingga Oktober 2022 mendatang, jalan selebar 7 meter tersebut baru mencapai 5,7 kilometer. Sementara untuk sampai ke titik pembangunan mabes, masih perlu membangun jalan sekitar 6 kilometer lagi.

Akses jalan ini nantinya akan berfungsi sebagai jalur logistik dengan basis menggunakan agregat. Nantinya akses ini juga menjadi jalur logistik pembangunan Istana Negara.

“Kita baru membangun jalan akses untuk menuju ke Mabes itu. Supaya nanti saat membawa logistik pembangunan Mabes AD, jalannya sudah siap,” pungkas Junaidi. (sbk)

Minimnya Pemandu Wisata Profesional di PPU, Disbudpar Perlu Siapkan Pelatihan untuk Ciptakan Pramuwisata Ideal

0

PPU – Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menghadapi tantangan serius terkait kurangnya pemandu wisata profesional. Saat ini, belum ada pemandu wisata yang bersertifikat, terampil, dan terorganisir oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) PPU untuk memandu wisatawan secara ideal.

Meskipun daerah yang dikenal sebagai Benuo Taka ini memiliki banyak destinasi wisata, khususnya wisata alam, kebutuhan akan pemandu yang berkualitas masih sangat mendesak.

Menurut catatan, pada tahun 2019, sekitar 20.000 wisatawan lokal berkunjung ke PPU sebelum pandemi COVID-19 melanda. Di sisi lain, hanya terdapat sekitar 50 pengunjung dari luar negeri. Menanggapi situasi ini, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) PPU berupaya melahirkan pemandu wisata yang ideal melalui pelatihan.

“Kami memberikan pelatihan agar mereka dapat memandu dengan baik dan benar,” ungkap Kepala Bidang Pariwisata dan Pemasaran Disbudpar PPU, Ahmad Nor, pada Sabtu (10/10/2020).

Pelatihan ini melibatkan 40 peserta dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) PPU, Duta Wisata, Saka Pariwisata, dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Selama tiga hari, mereka akan mendapatkan pelajaran dasar tentang cara memandu, mulai dari memperkenalkan destinasi hingga memberikan informasi yang relevan kepada wisatawan. Selain itu, mereka juga melakukan orientasi lapangan (OL) di Kawasan Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) di Balikpapan.

“Biasanya, wisatawan tidak mengetahui kondisi di tempat wisata, seperti moda transportasi yang dapat digunakan dan akses jalan,” jelas Ahmad. Akibatnya, banyak wisatawan yang tersesat, bahkan tidak mencapai tujuan yang diinginkan.

Pelatihan ini difokuskan pada destinasi ekowisata, dengan materi dari akademisi kepariwisataan Politeknik Negeri Samarinda dan praktisi, Awang Jumri. Mereka mengajarkan konsep pariwisata berwawasan lingkungan yang mengutamakan aspek konservasi alam, pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal, serta pendidikan.

Destinasi yang dibahas meliputi ekowisata bahari, pantai, ekowisata alam seperti goa dan air terjun, serta ekowisata pendidikan, seperti agrowisata di perkebunan jagung di Babulu dan melon di Waru. Selain itu, ekowisata budaya juga menjadi sorotan, yang menampilkan seni dan budaya lokal.

“Gagasan utama dari pelatihan ini adalah membangkitkan perekonomian masyarakat setelah pandemi COVID-19 dan menjadikan pariwisata sebagai produk unggulan,” jelas Ahmad.

Awang Jumri, yang juga Ketua HPI Kaltim, menegaskan pentingnya peran pemandu wisata untuk memberikan kenyamanan kepada pengunjung. “Pemandu wisata berfungsi sebagai penyampai informasi selama perjalanan. Tanpa mereka, pengalaman berwisata akan kurang menyenangkan,” ujarnya.

Dengan bekal pengetahuan yang didapat, diharapkan kapasitas para pemandu akan meningkat, yang pada gilirannya akan memperkuat sektor pariwisata di PPU. Ini mencakup pengelolaan tempat wisata, pembangunan sarana dan prasarana, serta penumbuhan UMKM di sekitar lokasi wisata.

“Melalui pelatihan ini, kita dapat memperkenalkan PPU kepada para wisatawan dengan lebih komprehensif,” tutup salah satu peserta, Jamal. (SBK)