Penajam Paser Utara – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) meresmikan operasional Klinik Pratama Santo Borromeus di kawasan Maridan, Kecamatan Sepaku, Sabtu (2/5/2026). Fasilitas ini diharapkan menambah akses layanan kesehatan bagi masyarakat, khususnya di wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).
Peresmian dilakukan oleh Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Setkab PPU, Margono Hadisutanto, yang hadir mewakili Bupati PPU. Ia menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam memperkuat layanan kesehatan di daerah.
Ia menyebut kehadiran klinik ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan layanan kesehatan dasar masyarakat sekaligus menjadi mitra pemerintah daerah.
“Hal ini menuntut tidak hanya penambahan fasilitas, tetapi juga jaminan ketersediaan tenaga medis, kelengkapan sarana, serta sistem rujukan yang efektif,” kata Margono.
Menurutnya, peningkatan kualitas layanan kesehatan juga harus diiringi dengan profesionalisme, baik dari sisi kecepatan, ketepatan, maupun pelayanan yang tidak diskriminatif.
Klinik Pratama Santo Borromeus dirintis sejak 2021 oleh Kongregasi Suster-Suster Cinta Kasih Santo Carolus Borromeus. Ketua pembangunan klinik, Frederik Jhon, menyebut kondisi awal wilayah Sepaku saat survei masih terbatas dari sisi infrastruktur.
Pembangunan fisik dimulai pada 2024 dan menghadapi sejumlah kendala, termasuk faktor cuaca dan kondisi lapangan. Klinik tersebut kini telah rampung dan mulai beroperasi di bawah tanggung jawab dr. Novita.
Selain layanan pengobatan, klinik ini juga akan menjalankan program edukasi kesehatan kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif.
Dengan beroperasinya fasilitas ini, jumlah layanan kesehatan di wilayah Sepaku bertambah seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat di kawasan tersebut.
Pemerintah daerah berharap kehadiran klinik ini dapat mendukung pemerataan layanan kesehatan, khususnya di wilayah yang berkembang pesat di sekitar IKN.
“Kami datang saat kondisi masih sangat terbatas, bahkan sebagian wilayah masih berupa hutan. Tapi justru di situ kami melihat kebutuhan yang besar,” pungkasnya.
Baru hari ini saya sempat menulis tentang momen ini. Bukan karena lupa, tapi memang satu bulan terakhir aktivitas cukup padat. Dari urusan pekerjaan, agenda luar kota, sampai rutinitas harian yang nyaris sambung terus dari pagi hingga malam.
Padahal, ada satu hari yang sebenarnya sangat membekas tahun ini. Sabtu, 18 April 2026. Hari ketika saya kembali masuk ke GOR 27 September Universitas Mulawarman (Unmul) setelah 24 tahun.
Kalau tahun 2002 saya datang sebagai wisudawan Fakultas Kehutanan Unmul, maka setelah 24 tahun, saya datang sebagai orang tua.
Putri pertama saya, Alfiani Hanifah Salsabila, resmi menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unmul, Jurusan Ilmu Komputer. Empat tahun menjalani perkuliahan, akhirnya hari wisuda itu tiba juga. Sebagai orang tua, tentu ada rasa bangga yang sulit dijelaskan.
Hari itu dimulai lebih pagi dari biasanya. Pukul 03.00 WITA saya sudah bangun. Subuh-subuh saya mengantar istri dan anak lebih dulu untuk make up di salah satu salon di Jalan DI Panjaitan Samarinda. Setelah itu lanjut sesi foto di Taman Cerdas Samarinda. Putri saya memang sudah mengatur janji dengan fotografer beberapa hari sebelumnya.
Saya tahu momen seperti ini tentu tidak terulang lagi dengan cara yang sama. Apalagi ini wisuda anak pertama, rasanya memang berbeda.
Pagi itu suasana di Taman Cerdas juga sudah ramai. Beberapa wisudawan lain datang lebih dulu untuk foto sebelum berangkat ke kampus. Ada yang masih merapikan toga, ada yang sibuk memegang buket bunga, ada yang tertawa sambil mengatur pose foto. Orang tua juga terlihat sibuk memastikan semuanya sempurna.
Sekitar satu jam foto-foto, kami bergerak menuju GOR 27 September. Jaraknya sebenarnya dekat, tidak sampai lima menit. Tapi arus kendaraan sudah mulai padat. Mobil perlahan merayap menuju area kampus.
Saya sempat berpikir pasti akan sulit parkir. Untungnya, kami masih dapat parkir di area seberang GOR.
Begitu turun dari mobil, suasana langsung terasa berbeda. Ribuan orang memadati kawasan sekitar gedung. Orang tua, keluarga, kerabat, mahasiswa, semua bercampur menjadi satu. Suasana wisuda sekarang terasa jauh lebih ramai dibanding masa saya dulu.
Di sepanjang jalan menuju gedung berdiri banyak lapak suvenir. Buket bunga warna-warni, boneka wisuda, karangan uang, sampai jasa cetak foto instan. Fotografer juga membuka lapak sendiri-sendiri. Ada yang membawa kamera besar lengkap dengan lampu, ada yang menawarkan paket foto keluarga langsung jadi.
Saya sempat memperhatikan suasana di luar gedung. Wisuda ternyata juga membawa berkah bagi banyak orang. Pedagang suvenir ramai, fotografer sibuk melayani antrean foto, sampai penjual makanan ikut dipadati pengunjung.
Begitu masuk ke dalam GOR, suasananya langsung berbeda. Lebih tenang dan formal. Tribun hampir penuh. Para wisudawan duduk rapi mengenakan toga hitam, sementara keluarga mereka sibuk mencari posisi terbaik untuk melihat prosesi wisuda.
Dari atas tribun, pemandangan itu cukup menarik. Ribuan mahasiswa duduk dalam satu arena besar. Sebagian terlihat serius, sebagian lagi masih sibuk selfie sebelum prosesi dimulai.
Tidak lama kemudian, Rektor Universitas Mulawarman, Prof. Dr. Ir. H. Abdunnur, M.Si., IPU., ASEAN Eng., bersama jajaran senat memasuki ruangan. Semua hadirin berdiri.
Saya dan istri mendampingi putri mereka, Alfiani Hanifah Salsabila, mengabadikan foto di Taman Cerdas Samarinda. Foto: Istimewa
Melihat prosesi itu, saya jadi teringat saat masih duduk sebagai wisudawan dulu.
Dulu saya berdiri di tempat yang sama sebagai wisudawan. Tapi kali ini, saya berdiri sebagai ayah yang menyaksikan putri saya dipanggil menuju panggung.
Unmul pada wisuda Gelombang I Tahun 2026 ini mengukuhkan sebanyak 1.617 lulusan. Terdiri dari 12 Diploma, 1.323 Sarjana, 139 Profesi, 136 Magister, dan 7 Doktor. Sebanyak 244 orang lulus dengan predikat cum laude dan 63 persen wisudawan didominasi perempuan.
Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan bahwa capaian para wisudawan bukan sekadar angka. “Angka-angka prestasi ini bukan sekadar statistik, tetapi cerminan dari kerja keras, ketekunan, dan semangat pantang menyerah yang telah mengiringi perjalanan para wisudawan,” ujar Prof. Abdunnur.
Ia juga memaparkan capaian Unmul beberapa tahun terakhir. Mulai dari ribuan publikasi ilmiah nasional dan internasional, penghargaan Gold Winner SINTA dari Diktisaintek selama dua tahun berturut-turut, hingga peningkatan prestasi mahasiswa di level nasional dan internasional.
Tahun 2025 saja, prestasi mahasiswa tingkat nasional mencapai 596 orang, naik jauh dibanding 2022 yang hanya 96 orang. Sementara prestasi internasional meningkat dari hanya satu orang menjadi 247 orang.
Sebagai alumni, tentu saya bangga mendengarnya.
Tapi di tengah suasana khidmat itu, ada satu hal yang menurut saya masih menjadi pekerjaan rumah lama: panasnya gedung ini.
Setelah 24 tahun, persoalan itu ternyata masih terasa sama. Memang ada kipas di beberapa titik. AC juga terlihat dipasang, terutama di area VIP bawah. Tapi untuk ukuran gedung sebesar ini dengan ribuan orang di dalamnya, udara tetap terasa panas dan pengap.
Beberapa orang tua mulai terlihat gelisah. Ada yang berdiri mencari angin, ada yang mengipas-ngipas menggunakan kertas undangan.
Saya dan istri sempat berencana keluar lebih awal karena ada agenda lain. Tapi ternyata tidak bisa. Seluruh pintu keluar terkunci. Petugas menyampaikan kuncinya dipegang panitia. Praktis tidak ada yang bisa keluar sementara waktu.
Di sebelah saya, seorang orang tua berkomentar pelan sambil tersenyum, “Kalau ruangannya dingin mungkin betah lama-lama.”
Saya tidak sedang membandingkan Unmul sekarang dengan masa lalu secara berlebihan. Justru banyak kemajuan yang terlihat. Prestasi naik, jumlah lulusan meningkat, reputasi kampus juga semakin baik.
Namun pengalaman para orang tua dan keluarga di dalam gedung juga penting diperhatikan.
Karena hari wisuda bukan hanya milik kampus atau mahasiswa. Di dalam gedung itu ada banyak orang tua yang ikut berjuang dari awal. Ada yang bertahun-tahun membiayai kuliah anaknya, ada juga keluarga yang datang dari jauh hanya untuk menyaksikan anak mereka dipanggil ke depan.
Momen Alfiani Hanifah Salsabila menerima ucapan selamat usai prosesi wisuda Universitas Mulawarman di GOR 27 September Samarinda, Sabtu (18/4/2026). Foto: Istimewa
Dan hari itu, saya merasakan semuanya.
Saya melihat wajah anak saya saat menerima map kelulusannya. Saya melihat senyum lega setelah empat tahun perjuangan. Dan di momen itu, rasa panas, lelah, dan padatnya suasana tiba-tiba terasa tidak terlalu penting lagi.
Karena sebagai orang tua, ada kebahagiaan tersendiri saat melihat anak menyelesaikan pendidikannya dengan baik.
Di GOR 27 September itu, saya tidak hanya melihat ribuan wisudawan. Saya melihat banyak perjuangan yang akhirnya terbayar di hari itu.
Dan setelah acara selesai, mereka akan kembali menjalani kehidupan masing-masing, dengan cerita dan tantangan yang tentu sudah berbeda.
SAMARINDA — Tingkat kepuasan pengguna jasa terhadap layanan PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo menembus angka di atas 90 persen. Capaian tersebut dinilai menjadi sinyal positif atas perbaikan layanan pelabuhan nasional, meski masih perlu dibuktikan melalui peningkatan efisiensi logistik dan daya saing operasional di lapangan.
Berdasarkan survei yang dilakukan Laboratorium Suara Indonesia, sebanyak 90,2 persen responden menyatakan puas terhadap layanan terminal peti kemas. Sementara itu, 85,8 persen responden mengaku puas terhadap layanan Pelindo secara umum.
Survei tersebut melibatkan 1.090 responden dari berbagai kelompok pengguna jasa di 80 pelabuhan yang dikelola Pelindo, dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error 2,97 persen.
Direktur Eksekutif Laboratorium Suara Indonesia, Ahmad Zaki, mengatakan survei ini dilakukan untuk mengukur persepsi sekaligus harapan pengguna jasa terhadap kualitas layanan pelabuhan.
“Kuesioner yang kami bagikan ini untuk mengukur sampai di mana kepuasan layanan yang diberikan Pelindo, sehingga dapat menjadi bahan perbaikan dan peningkatan kualitas layanan ke depan,” ujarnya.
Secara operasional, tingkat kepuasan juga tercermin dalam sejumlah indikator utama pelayanan. Waiting time kapal tercatat sebesar 87,3 persen, layanan pemanduan kapal mencapai 88,2 persen, sedangkan layanan terminal penumpang berada di angka 89,8 persen.
Angka-angka tersebut dinilai menunjukkan adanya peningkatan kualitas layanan yang berdampak terhadap kelancaran aktivitas di pelabuhan.
Namun demikian, pengamat ekonomi dari Universitas Andalas, Muhammad Makky, menilai capaian kepuasan di atas 90 persen belum cukup menjadi satu-satunya tolok ukur keberhasilan sektor logistik nasional.
“Ketika tingkat kepuasan tinggi, ada dua kemungkinan yang berjalan bersamaan: kinerja memang membaik, atau ekspektasi pengguna jasa belum terlalu tinggi,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa indikator kepuasan perlu diiringi ukuran yang lebih konkret, seperti penurunan biaya logistik, peningkatan kecepatan layanan, hingga integrasi sistem transportasi antar moda.
Menurutnya, pelabuhan merupakan simpul strategis distribusi nasional yang sangat berpengaruh terhadap daya saing produk Indonesia di pasar global.
Dalam konteks pembangunan nasional, meningkatnya kepuasan pengguna jasa dinilai menjadi sinyal awal bahwa transformasi layanan Pelindo mulai dirasakan di lapangan. Namun tantangan berikutnya adalah memastikan capaian tersebut mampu diterjemahkan menjadi efisiensi logistik yang berkelanjutan dan berdampak nyata terhadap perekonomian nasional. (MK)
TENGGARONG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) menegaskan tidak ingin hanya menjadi lokasi eksploitasi setelah ditemukannya cadangan gas raksasa di wilayah Blok Ganal.
Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, menegaskan sumber daya alam tersebut harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat daerah, baik dari sisi ekonomi maupun peningkatan kesejahteraan.
Pernyataan itu disampaikan menyusul penemuan cadangan gas oleh Eni di sumur eksplorasi Geliga-1, Blok Ganal.
Berdasarkan informasi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, potensi cadangan gas tersebut diperkirakan mencapai 5 triliun kaki kubik gas dan sekitar 300 juta barel kondensat.
Temuan ini disebut sebagai salah satu penemuan gas terbesar dalam beberapa dekade terakhir dan dinilai berpotensi memperkuat ketahanan energi nasional.
Namun bagi Pemkab Kukar, potensi besar itu juga harus mampu memberi dampak langsung terhadap pembangunan daerah.
“Harapan kita, apa yang dihasilkan di Kutai Kartanegara bisa memberi kontribusi sebesar-besarnya untuk masyarakat Kukar,” ujar Aulia, Minggu (3/5/2026).
Untuk memastikan daerah mendapatkan manfaat optimal, Pemkab Kukar mulai merumuskan langkah strategis agar bisa terlibat langsung dalam pengelolaan potensi gas tersebut.
Salah satu opsi yang tengah dibahas yakni melalui skema Participating Interest (PI) maupun kerja sama bisnis langsung dengan kontraktor kontrak kerja sama migas.
Menurut Aulia, pembahasan terkait keterlibatan daerah tersebut sudah berjalan dan mendapat pendampingan dari SKK Migas.
“Kita didampingi oleh SKK Migas untuk mencari formulasi terbaik, bagaimana pemerintah daerah bisa mendapatkan bagian, baik dalam bentuk PI maupun pengusahaan langsung gas tersebut,” jelasnya.
Ia menilai keterlibatan daerah dalam pengelolaan sektor energi tidak hanya berdampak pada peningkatan pendapatan asli daerah (PAD), tetapi juga dapat membuka peluang kerja baru dan menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.
Selain itu, keberadaan proyek energi berskala besar juga diharapkan mampu menciptakan efek berganda bagi sektor usaha lokal dan pembangunan jangka panjang di Kukar.
“Harapan kami, pengelolaan potensi gas ini benar-benar memberi nilai tambah bagi daerah. Tidak hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga membuka peluang kerja dan mendorong kesejahteraan masyarakat Kukar secara berkelanjutan,” tutupnya. (MK)
TENGGARONG — Kebakaran melanda gudang arsip Desa Sebulu Ulu, Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Minggu (3/5/2026) pagi.
Peristiwa tersebut menyebabkan bangunan gudang arsip hangus terbakar dan turut melalap sejumlah kendaraan yang berada di lokasi.
Selain gudang arsip, api juga menghanguskan satu unit mobil pemadam kebakaran, satu unit mobil Gran Max, serta kendaraan roda tiga dan roda dua yang terparkir di sekitar lokasi kejadian.
Besarnya kobaran api membuat proses pemadaman berlangsung cukup intens karena bangunan yang terbakar didominasi material kayu sehingga api cepat membesar.
Salah satu anggota Damkar dan Penyelamatan (Damkarmatan) Posko Sebulu, Teddy, mengatakan dugaan sementara penyebab kebakaran berasal dari korsleting listrik.
“Yang terbakar gudang arsip desa dan mobil Damkar, mobil Gran Max, motor roda tiga dan roda dua,” ujarnya.
Menurutnya, indikasi awal di lokasi menunjukkan sumber api diduga berasal dari instalasi listrik di dalam bangunan gudang.
Api kemudian dengan cepat merambat ke seluruh bangunan hingga sebagian besar arsip desa tidak sempat diselamatkan.
Kondisi diperparah dengan adanya kendaraan yang terparkir di sekitar gudang sehingga kobaran api turut menyambar unit-unit tersebut.
Meski demikian, petugas pemadam berhasil mencegah api meluas ke bangunan lain di sekitar lokasi.
Petugas berjibaku mengendalikan kobaran api agar tidak merembet ke area permukiman maupun fasilitas lainnya yang berada tidak jauh dari titik kebakaran.
Beruntung, dalam insiden tersebut tidak ada korban jiwa.
Namun kerugian material diperkirakan cukup besar akibat hangusnya bangunan gudang arsip dan sejumlah kendaraan yang ikut terbakar. (MK)
BALIKPAPAN — Pemerintah Kota Balikpapan melalui Dinas Pekerjaan Umum (DPU) mulai melakukan penanganan perbaikan infrastruktur di Jalan Ksatriaan KM 8, Balikpapan Utara.
Proyek tersebut diawali dengan pembenahan sistem drainase sebelum dilanjutkan ke tahap pengecoran jalan guna meningkatkan kualitas dan ketahanan badan jalan.
Kepala DPU Balikpapan, Rita, mengatakan kondisi drainase yang kurang optimal selama ini menjadi salah satu penyebab utama kerusakan jalan di kawasan tersebut.
“Penanganan dimulai dari perbaikan saluran drainase karena ini menjadi bagian penting sebelum pengecoran jalan dilakukan. Kami ingin memastikan aliran air berjalan baik sehingga konstruksi jalan nantinya lebih kuat dan tahan lama,” ujarnya, Minggu (3/5/2026).
Selama proses pengerjaan berlangsung, akses Jalan Ksatriaan ditutup sementara demi menjaga keselamatan pengguna jalan dan memperlancar aktivitas pekerjaan di lapangan.
Penutupan dilakukan karena adanya aktivitas alat berat serta pembongkaran pada sejumlah titik saluran drainase.
“Kami mengimbau masyarakat untuk sementara menggunakan jalur alternatif dan tetap berhati-hati saat melintas di sekitar area proyek,” jelas Rita.
Ia juga meminta dukungan masyarakat agar proses pekerjaan berjalan lancar dan selesai sesuai target.
Menurutnya, penutupan jalan memang menimbulkan ketidaknyamanan, namun hal tersebut dilakukan demi keselamatan bersama.
DPU Balikpapan memperkirakan proyek tersebut berlangsung sekitar satu bulan, tergantung kondisi cuaca dan situasi teknis di lapangan.
Setelah perbaikan drainase selesai, pekerjaan akan dilanjutkan dengan pengecoran pada titik-titik jalan yang mengalami kerusakan.
Selain memperbaiki kualitas jalan, proyek ini juga bertujuan mengurangi potensi genangan air saat hujan deras di kawasan KM 8.
“Kalau drainasenya baik, air tidak menggenang di badan jalan. Ini penting agar jalan tidak cepat rusak dan masyarakat bisa berkendara dengan aman,” tambahnya.
Perbaikan Jalan Ksatriaan KM 8 menjadi salah satu prioritas Pemerintah Kota Balikpapan karena jalur tersebut setiap hari dilalui kendaraan dengan intensitas cukup tinggi.
Pemerintah berharap pekerjaan dapat selesai tepat waktu sehingga akses masyarakat kembali normal dengan kondisi jalan yang lebih baik dan aman digunakan. (MK)
BALIKPAPAN — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada 2026 mulai berdampak terhadap harga jual hewan kurban di Balikpapan.
Pedagang ternak mengaku lonjakan biaya operasional, khususnya transportasi, menjadi faktor utama kenaikan harga hewan kurban tahun ini.
Salah satu pedagang sapi di Balikpapan, Muhammad Abduh Kuduh, mengatakan biaya distribusi hewan ternak dari luar daerah mengalami kenaikan akibat harga solar yang ikut naik.
“Biaya ekspedisi naik karena harga solar juga naik. Jadi semua serba ikut naik,” ujarnya saat ditemui di peternakannya, Minggu (3/5/2026).
Menurutnya, tahun ini pihaknya menyediakan berbagai jenis hewan kurban mulai dari sapi, kambing, hingga domba.
Ia juga mendatangkan domba untuk pertama kalinya karena tingginya minat masyarakat terhadap jenis ternak tersebut.
“Tahun-tahun sebelumnya kami belum pernah mendatangkan domba, tapi tahun ini kami datangkan karena animo masyarakat cukup tinggi,” jelasnya.
Untuk sapi, tersedia beberapa jenis seperti limosin, simental, brahman, hingga sapi Bali dengan bobot mulai 300 kilogram hingga mencapai 1 ton.
Bahkan, sapi dengan bobot terbesar disebut telah terjual dengan harga sekitar Rp100 juta.
Sementara itu, harga domba jenis texel dijual mulai Rp4 juta per ekor. Sedangkan domba dorper yang dikenal sebagai jenis pedaging memiliki harga lebih tinggi dan saat ini stoknya sudah habis terjual.
Muhammad Abduh Kuduh mengatakan sebagian besar kambing dan domba didatangkan dari Pulau Jawa, terutama Jawa Tengah yang menjadi salah satu sentra peternakan nasional.
Ia menyebut harga sapi lokal yang sebelumnya berada di kisaran Rp22 juta hingga Rp23 juta kini naik menjadi sekitar Rp25 juta per ekor.
Meski harga mengalami kenaikan, ia memastikan minat masyarakat untuk berkurban tetap tinggi.
Selain itu, pihaknya juga memastikan seluruh hewan ternak telah mendapatkan vaksinasi untuk mencegah penyakit mulut dan kuku (PMK).
“Hewan di sini sudah divaksin, bahkan ada yang sampai tiga kali. Jadi relatif aman,” tegasnya.
Untuk menarik minat pembeli, peternakannya juga menyediakan layanan “terima beres”, mulai dari penyembelihan hingga pengemasan daging kurban sesuai permintaan konsumen.
Ia optimistis penjualan hewan kurban tahun ini tetap berjalan baik hingga mendekati Hari Raya Iduladha. (MK)
BONTANG — Ketua DPRD Kota Bontang, Andi Faizal Sofyan Hasdam, menegaskan pentingnya penindakan tegas terhadap pelaku kejahatan, khususnya yang melibatkan anak di bawah umur.
Pernyataan tersebut disampaikannya menyusul kembali terjadinya kasus yang melibatkan pelaku berstatus residivis.
Menurutnya, kasus serupa sebelumnya juga pernah menjadi perhatian publik, terutama terkait pelaku yang kembali mengulangi tindak pelecehan.
“Hal seperti ini kan sudah pernah saya sampaikan, apalagi terkait residivis. Artinya ini belum ada efek jera. Kita tentunya berharap pengenaan pasal pada kasus ini berada pada tingkatan hukuman yang seberat-beratnya,” ujarnya, Minggu (3/5/2026).
Andi Faizal Sofyan Hasdam menilai hukuman maksimal penting tidak hanya sebagai bentuk keadilan bagi korban, tetapi juga sebagai langkah pencegahan agar kasus serupa tidak kembali terulang.
“Supaya pelaku bisa menjadi contoh dan memberikan efek jera bagi pelaku lainnya. Bahkan kita berharap tidak akan ada lagi kejadian serupa yang berulang,” katanya.
Ia juga menyoroti dampak besar yang dialami korban anak, terutama terhadap kondisi psikologis dan masa depan mereka.
Karena itu, DPRD mendorong agar korban mendapatkan pendampingan secara intensif selama proses penanganan berlangsung.
“Karena ini menyangkut masa depan anak dan kondisi psikologisnya, saya kira korban harus didampingi secara intens. Sementara untuk pelaku, harus dihukum seberat-beratnya sesuai dengan pasal yang berlaku,” tegasnya.
Meski demikian, ia menyadari penentuan hukuman merupakan kewenangan aparat penegak hukum dan lembaga peradilan.
Namun DPRD Bontang memastikan akan terus mendorong agar proses hukum berjalan tegas dan memberikan rasa keadilan bagi korban.
“Walaupun untuk hukuman bukan tugas dari kita, tapi pastinya kita menginginkan pelaku mendapatkan hukuman yang berat atas tindakannya,” pungkasnya. (MK)
BONTANG — Ketersediaan tenaga pengajar di Kota Bontang menjadi perhatian serius DPRD setempat menyusul kekurangan sekitar 127 guru di berbagai jenjang pendidikan.
Ketua DPRD Kota Bontang, Andi Faizal Sofyan Hasdam, mengatakan kondisi tersebut diperparah dengan kebijakan baru yang membatasi perekrutan tenaga non-ASN di sektor pendidikan.
“Iya, kita hari ini kekurangan sekitar 120-an tenaga pengajar. Apalagi di regulasi tidak boleh lagi selain ASN. Ini adalah kebijakan dari kementerian,” ujarnya, Minggu (3/5/2026).
Menurutnya, selama ini kebutuhan guru di Bontang turut ditopang tenaga non-ASN maupun skema outsourcing yang kini tidak lagi diperbolehkan sesuai regulasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
DPRD bersama Dinas Pendidikan Kota Bontang pun berencana melakukan audiensi guna mencari solusi atas persoalan tersebut.
Andi Faizal Sofyan Hasdam menyebut koordinasi akan dilakukan untuk menindaklanjuti kebijakan kementerian agar penerapannya di daerah tidak berdampak besar terhadap layanan pendidikan.
“Kepala Dinas Pendidikan bersama Komisi I DPRD akan mengadakan audiensi. Karena kalau kita terapkan langsung di Bontang, tentu akan semakin terasa kekurangan guru untuk mengajar anak-anak di sekolah,” katanya.
Ia menilai kondisi kekurangan tenaga pengajar sebenarnya sudah terjadi sebelum adanya pembatasan tenaga non-ASN.
Karena itu, jika aturan tersebut diterapkan tanpa solusi alternatif, maka dikhawatirkan proses belajar mengajar akan terganggu.
“Kalau kita melihat jumlah yang sekarang pun memang sudah kurang, apalagi sampai dibatasi. Tidak boleh lagi outsourcing, padahal sebelumnya itu menjadi solusi untuk menutup kekurangan guru,” jelasnya.
DPRD berharap pemerintah pusat dapat mempertimbangkan kondisi riil di daerah dan menghadirkan kebijakan yang lebih fleksibel agar kebutuhan guru di Bontang tetap terpenuhi.
“Pastinya kita akan sampaikan kondisi sebenarnya. Kalau memang tidak boleh lagi non-ASN, tentu kita akan kekurangan tenaga pengajar. Dampaknya pasti ke anak-anak di Bontang yang akan kekurangan guru,” pungkasnya. (MK)
BONTANG — Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, menegaskan imam dan marbot memiliki peran penting sebagai ujung tombak dalam memakmurkan rumah ibadah.
Menurutnya, dedikasi dan keikhlasan para pegiat agama menjadi fondasi utama dalam menjadikan masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan dan pembinaan karakter umat.
Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri kegiatan pembinaan dan pelatihan imam serta marbot masjid di Bontang, Sabtu (2/5/2026).
“Para imam dan marbot memiliki peran vital. Dedikasi dan keikhlasan mereka adalah fondasi dalam menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan dan pembinaan karakter umat,” ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan, Pemerintah Kota Bontang juga menaikkan nilai insentif bagi marbot dan pemuka agama lainnya.
Agus Haris menyebut kebijakan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan sekaligus mendukung optimalisasi pelayanan keagamaan di tengah masyarakat.
“Alhamdulillah, insentif yang sebelumnya Rp1,1 juta kini telah dinaikkan menjadi Rp2 juta per bulan bagi marbot dan pemuka agama lainnya. Kenaikan ini adalah amanah agar dapat menjalankan tugas dengan lebih tenang dan fokus,” katanya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa peningkatan kesejahteraan harus diiringi dengan peningkatan tanggung jawab serta kapasitas diri.
Ia berharap para imam tidak hanya memiliki kemampuan bacaan yang baik, tetapi juga mampu menjadi figur pemersatu jemaah di lingkungan masing-masing.
Sementara bagi marbot, pengelolaan rumah ibadah secara profesional dinilai penting agar masyarakat merasa nyaman saat beribadah.
“Dengan peningkatan kapasitas ini, kita berharap masjid dapat benar-benar menjadi pusat pembinaan umat yang membawa dampak positif bagi masyarakat luas,” pungkasnya. (MK)