Beranda blog Halaman 44

PPU Gerak Cepat, Bidik PAD Rp500 Miliar dari Pelabuhan hingga Pajak Digital

DERASNYA arus pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) justru menghadapi ironi fiskal. Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) belum mampu bergerak secepat geliat ekonomi yang terjadi di lapangan.

Kondisi tersebut menjadi alarm bagi Pemkab PPU. Ketika daerah lain mulai berlomba memanfaatkan efek ekonomi IKN, PPU masih bergulat dengan persoalan klasik tingginya ketergantungan terhadap dana transfer pusat.

Bupati PPU, Mudyat Noor, mengakui struktur fiskal daerah masih rapuh. Ketergantungan terhadap transfer pusat bahkan disebut masih mencapai sekitar 90 persen. Situasi itu dinilai berisiko bagi keberlanjutan pembangunan daerah, terutama di tengah ketidakpastian dana transfer dan tekanan efisiensi anggaran nasional.

Karena itu, pada APBD Tahun Anggaran 2026, Pemkab PPU menargetkan PAD sebesar Rp228,2 miliar. Target tersebut diposisikan bukan sekadar angka pendapatan, melainkan fondasi menuju kemandirian fiskal daerah.

Langkah itu diambil setelah pemerintah mencermati kondisi keuangan daerah dalam Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Tahun Anggaran 2025. Dari target pendapatan daerah sebesar Rp2,41 triliun, realisasinya hanya mencapai Rp2,07 triliun atau 85,94 persen. Sementara PAD terealisasi Rp182,2 miliar atau 79,84 persen dari target.

“Kebijakan anggaran kita arahkan pada sektor yang memiliki daya ungkit, seperti kesehatan, pendidikan, serta infrastruktur dan penguatan ekonomi daerah. Kita harus disiplin fiskal namun tetap responsif terhadap dinamika kebutuhan masyarakat,” ujar Mudyat.

Di tengah keterbatasan fiskal tersebut, Pemkab PPU kini mulai memetakan sektor-sektor yang dinilai mampu menjadi “mesin uang” baru daerah. Salah satu yang paling diandalkan adalah sektor kepelabuhanan.

Proyek percepatan pembangunan Pelabuhan Nenang yang digarap bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur diproyeksikan menjadi sumber PAD strategis. Mudyat memperkirakan kontribusi pelabuhan tersebut bisa mencapai Rp170 miliar apabila dikelola secara optimal dan profesional.

“Kita punya potensi besar di sektor pelabuhan. Jika Pelabuhan Nenang ini terealisasi dan dikelola dengan profesional, potensi kontribusi PAD-nya bisa mencapai Rp170 miliar sendiri,” katanya.

Selain pelabuhan, sektor pariwisata juga mulai diposisikan sebagai sumber pendapatan baru. Pemkab menilai posisi PPU sebagai “halaman depan” IKN akan membuat arus kunjungan wisata terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.

Pengembangan sport tourism, festival tahunan, hingga pembenahan destinasi wisata seperti Pantai Tanjung Jumlai dan kawasan ekowisata mangrove mulai disiapkan untuk menangkap peluang tersebut.

“Tujuan akhir orang berkunjung ke IKN pasti akan ke PPU. Karena itu, pariwisata bukan sekadar hiburan, tapi harus mampu menciptakan lapangan kerja dan berkontribusi langsung pada PAD kita,” tegas Mudyat.

Namun di balik optimisme itu, tantangan utama justru berada pada tata kelola pendapatan daerah yang dinilai belum sepenuhnya modern.

 

Wakil Bupati PPU, Abdul Waris Muin, menyoroti masih digunakannya sistem manual dalam pemungutan pajak daerah, terutama pada sektor restoran, hotel, rumah makan, dan penginapan yang kini tumbuh pesat di kawasan Sepaku.

Menurutnya, pola manual membuka ruang kebocoran penerimaan dan membuat potensi ekonomi yang besar tidak sepenuhnya masuk ke kas daerah.

“Kalau masih manual, potensi kebocoran tetap ada. Kita dorong digitalisasi supaya lebih transparan dan maksimal,” ujar Waris.

Sorotan terbesar memang tertuju ke Kecamatan Sepaku. Kawasan yang kini menjadi episentrum pembangunan IKN itu mengalami lonjakan aktivitas ekonomi signifikan. Hotel, penginapan, rumah makan, hingga usaha jasa tumbuh cepat mengikuti kebutuhan pekerja proyek dan mobilitas masyarakat.

Namun, lonjakan ekonomi tersebut belum sepenuhnya tercermin pada peningkatan PAD PPU.

Kondisi inilah yang kini menjadi pekerjaan rumah besar pemerintah daerah. Di satu sisi, efek ekonomi IKN membuka peluang fiskal yang sangat besar. Tetapi di sisi lain, lemahnya sistem pengawasan, rendahnya kepatuhan pajak, serta belum optimalnya digitalisasi membuat potensi tersebut belum tergarap maksimal.

Pemkab PPU mulai merespons dengan menggandeng Bank Kaltimtara untuk mendorong sistem pembayaran pajak berbasis digital dan non-tunai. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat transparansi sekaligus menutup celah kebocoran penerimaan.

Selain itu, Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) juga diminta melakukan intensifikasi pajak melalui pendataan ulang objek Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), optimalisasi pajak restoran dan hotel, hingga pembenahan retribusi parkir.

“Saya sudah instruksikan Bapenda agar tidak lagi bekerja dengan cara-cara lama. Gali semua potensi yang ada, optimalkan pajak dan retribusi daerah. Kita harus kreatif melihat peluang,” tegas Mudyat.

Bagi Pemkab PPU, pertarungan sesungguhnya bukan hanya mengejar target PAD 2026. Pemerintah daerah bahkan memasang visi jangka panjang agar PAD PPU mampu menembus Rp500 miliar.

Target ambisius itu menjadi simbol upaya PPU keluar dari bayang-bayang ketergantungan fiskal terhadap pusat. Sebab tanpa kemandirian pendapatan, daerah penyangga IKN ini berisiko hanya menjadi penonton di tengah ledakan ekonomi yang berlangsung di wilayahnya sendiri.

“Kalau tidak segera dibenahi, kita bisa kehilangan peluang besar dari efek ekonomi IKN,” pungkas Waris. (MK)

DPRD Jawa Tengah Studi Banding Pengembangan Wisata dan UMKM di IKN

NUSANTARA – Komisi B dan Komisi E DPRD Jawa Tengah melakukan kunjungan kerja ke Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN), Senin (11/5/2026), untuk mempelajari pengembangan sektor pariwisata, pemberdayaan masyarakat, hingga penguatan UMKM di kawasan IKN.

Kunjungan berlangsung di Kantor Otorita IKN dan diisi dengan diskusi mengenai konsep pembangunan kawasan wisata, pengelolaan lingkungan, serta pengembangan ekonomi masyarakat di sekitar IKN.

Sekretaris Otorita IKN, Bimo Adi Nursanthyasto, mengatakan pembangunan IKN tidak hanya difokuskan sebagai pusat pemerintahan, tetapi juga diarahkan menjadi penggerak ekonomi baru.

“Kita akan menjadi superhub ekonomi Indonesia dari barat ke timur. Prinsipnya IKN akan mendongkrak ekonomi Indonesia,” ujarnya.

Sesuai Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2022 tentang Rencana Induk IKN, Nusantara diarahkan menjadi destinasi wisata berkelas dunia dengan konsep ramah lingkungan dan berbasis kearifan lokal.

Sejumlah fasilitas wisata yang tengah dikembangkan di antaranya convention center, botanical garden, pusat budaya Nusantara, pusat kuliner, hingga fasilitas kesehatan dan pusat informasi wisatawan.

Selain itu, beberapa destinasi yang mulai dikenal masyarakat juga berada di kawasan sekitar IKN, seperti Gunung Parung, Sungai Hitam Bekantan, Mangrove Mentawir, Goa Tapak Raja, dan Bukit Bangkirai.

Otorita IKN juga telah menyediakan layanan informasi wisata melalui aplikasi IKNOW yang memuat peta destinasi, layanan transportasi umum, serta panduan perjalanan bagi pengunjung.

Kunjungan kerja ditutup dengan peninjauan lapangan ke sejumlah kawasan pembangunan di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN, termasuk Istana Negara dan area glamping.

Ketua Komisi B DPRD Jawa Tengah, Sri Hartini, mengatakan pihaknya tertarik mempelajari konsep pengembangan pariwisata dan pelestarian lingkungan di kawasan IKN, termasuk keterlibatan masyarakat lokal dalam pengembangan ekonomi.

“Kami sangat tertarik bagaimana konsep pembangunan pariwisata dan lingkungan di sekitar IKN, termasuk pemberdayaan masyarakat lokal, pelestarian budaya, dan penguatan UMKM. Kebetulan kami juga sedang menggarap raperda penanganan lahan kritis, sehingga mudah-mudahan kami bisa belajar dan bertukar pikiran bersama,” ujarnya.

Penulis: Humas Otorita Ibu Kota Nusantara
Penyunting: Robbi Lalat

Investor Swasta Masih Berminat, Nilai Investasi di IKN Tembus Rp74 Triliun hingga Semester I 2026

NUSANTARA – Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) mencatat akumulasi investasi swasta murni di Ibu Kota Nusantara (IKN) telah mencapai lebih dari Rp74 triliun hingga semester pertama 2026.

Nilai tersebut berasal dari puluhan perusahaan swasta yang telah menandatangani perjanjian kerja sama investasi di kawasan Nusantara, baik melalui penandatanganan di Kantor OIKN maupun kantor perwakilan di Jakarta.

Hingga awal 2026, komitmen investasi swasta tercatat mencapai sekitar Rp72 triliun dari 57 perusahaan. Nilai tersebut kemudian bertambah setelah adanya sejumlah kerja sama baru pada Maret dan April 2026.

Pada pertengahan Maret 2026, OIKN menandatangani tiga perjanjian kerja sama baru dan dua adendum dengan pelaku usaha pelopor.

Tiga investor yang masuk yakni PT Hauptstadt Indonesia Borneo, PT Starbright International Investment, dan PT Oceans Resto Nusantara dengan total investasi sekitar Rp1,275 triliun.

Kepala OIKN, Basuki Hadimuljono, mengatakan pemerintah akan terus mendorong percepatan investasi melalui kemudahan perizinan dan dukungan kebutuhan investor.

“Kami akan mendukung kebutuhan investor, termasuk percepatan perizinan. Ini adalah waktu terbaik untuk investor di Nusantara,” ujarnya.

Info grafis. (MKNN)

Memasuki kuartal kedua 2026, OIKN kembali menandatangani kerja sama dengan PT Kusuma Putra Alam untuk pengembangan kawasan komersial terpadu yang mencakup pusat perbelanjaan, apartemen, perkantoran, hingga supermarket dengan nilai investasi sekitar Rp50 miliar.

Selain itu, dua pelaku usaha pelopor, PT Dian Jaya Indonesia dan PT Biru Makmur Abadi, juga menandatangani kerja sama investasi senilai Rp1,2 triliun di Kantor Otorita IKN pada Kamis (30/4/2026).

Kerja sama tersebut difokuskan untuk mendukung pembangunan kawasan hunian dan aktivitas ekonomi di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Nusantara.

Direktur Utama PT Starbright International Investment, Lu Keming, menyatakan optimistis terhadap prospek investasi di IKN.

“Kami akan aktif mempromosikan proyek investasi di Ibu Kota Nusantara untuk menarik lebih banyak investor. Kami optimistis IKN akan menjadi kota terindah di dunia,” tutupnya.

Pewarta: Atmaja Riski
Penyunting: Nur Robbi Syai’an

Tambak, Perkebunan, dan Wisata Dinilai Bisa Dongkrak PAD PPU

PENAJAM PASER UTARA – DPRD Penajam Paser Utara (PPU) menilai masih banyak potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang belum tergarap maksimal di tengah tekanan fiskal yang dihadapi pemerintah daerah. Potensi tersebut mulai dari tambak produktif, lahan perkebunan, hingga kawasan wisata yang ramai pengunjung.

Wakil Ketua Komisi II DPRD PPU, Sujiati, mengatakan pemerintah daerah perlu lebih serius menggali potensi ekonomi berbasis desa yang selama ini belum dikelola optimal.

Salah satu yang disorot ialah lahan seluas lima hektare di Desa Babulu Laut, Kecamatan Babulu, yang sebelumnya dibebaskan pemerintah dan diketahui memiliki tambak produktif.

“Nah ini tinggal bagaimana nanti desa memanfaatkannya menjadi potensi PAD. Tapi sebelum itu, payung hukumnya harus jelas dulu,” ujarnya.

Menurutnya, pengelolaan aset daerah tanpa dasar hukum yang jelas berpotensi menimbulkan persoalan di kemudian hari, terutama ketika pemerintah mulai menarik kontribusi PAD dari masyarakat.

Ia menilai skema pengelolaan seperti sistem sewa atau bagi hasil perlu disiapkan secara matang agar tidak memicu konflik.

Selain tambak, Sujiati juga menyoroti banyaknya lahan kosong milik pemerintah yang dinilai berpotensi dikembangkan menjadi kawasan perkebunan produktif.

“Kenapa potensi seperti itu tidak digali serius? Padahal bisa membantu meningkatkan PAD,” katanya.

Di sisi lain, ia mengkritik pola penagihan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang dinilai masih menimbulkan keluhan masyarakat. Menurutnya, sejumlah warga mengaku menerima tagihan tunggakan beberapa tahun tanpa penjelasan memadai dari organisasi perangkat daerah terkait.

“Harusnya masyarakat dijelaskan dulu kenapa ada tunggakan, jangan langsung dikirim tagihan. Edukasi itu penting supaya masyarakat benar-benar paham,” terangnya.

Sujiati juga menilai sektor pariwisata belum memberikan kontribusi maksimal terhadap PAD. Ia mencontohkan kawasan Pantai Tanjung Jumlai yang ramai dikunjungi saat libur Lebaran, namun belum berdampak signifikan terhadap penerimaan daerah.

Menurutnya, lemahnya koordinasi antara pemerintah dan masyarakat sekitar kawasan wisata membuat peluang peningkatan PAD belum tergarap optimal.

“Pengunjung ramai setiap Lebaran, harusnya ini sudah bisa ditangkap menjadi potensi PAD. Tapi kadang lepas karena kurang koordinasi,” tutupnya.

Pewarta: DeddyPZ
Penyunting: Nur Robbi Syai’an

Realisasi PAD PPU Baru 25 Persen, Bapenda Kejar Pajak Hotel dan Bangunan di Kawasan IKN

PENAJAM PASER UTARA – Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) hingga pertengahan 2026 baru mencapai sekitar 25 persen dari target Rp210 miliar. Pemerintah daerah kini mulai membidik potensi pajak hotel, restoran, bangunan, hingga parkir di kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) PPU, Tur Wahyu Sutrisno, mengatakan capaian PAD masih menjadi tantangan di tengah tekanan fiskal daerah dan pesatnya perkembangan ekonomi di kawasan IKN.

“Memang masih berjalan, dan kita terus melakukan strategi untuk mengejar target PAD,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pada 2025 realisasi PAD PPU mencapai Rp182 miliar atau sekitar 79,88 persen dari target Rp228 miliar. Sementara pada 2026, target PAD ditetapkan sebesar Rp210 miliar.

Menurutnya, salah satu penyumbang terbesar PAD masih berasal dari Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) dengan kontribusi sekitar Rp17 miliar.

Di sisi lain, aktivitas ekonomi di wilayah Sepaku dan kawasan sekitar IKN mulai meningkat. Namun, pemerintah daerah menilai masih banyak potensi pajak dan retribusi yang belum tergarap optimal.

Bapenda saat ini tengah berkoordinasi dengan Otorita IKN terkait pendataan hotel, rumah makan, dan restoran yang berkembang di kawasan penyangga ibu kota baru.

“Kita sedang koordinasi terkait pendataan hotel dan rumah makan yang sudah ada di wilayah Sepaku dan sekitar kawasan IKN,” katanya.

Selain itu, Pemkab PPU bersama DPRD dan sejumlah organisasi perangkat daerah juga tengah membahas revisi Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2024 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

Revisi dilakukan menyusul evaluasi dari Kementerian Keuangan terkait regulasi pajak daerah. Dalam waktu dekat, Bapenda dijadwalkan melakukan koordinasi lanjutan dengan Kementerian Dalam Negeri.

Tur Wahyu mengungkapkan, masih banyak data objek retribusi yang belum tercatat lengkap, termasuk nilai retribusi yang seharusnya ditarik pemerintah daerah.

“Kita masih menemukan data-data yang belum mencantumkan nilai retribusinya,” terangnya.

Pemkab juga mulai membidik potensi PAD dari sektor parkir di pelabuhan, kawasan UMKM, hingga bangunan yang telah berdiri di wilayah PPU namun belum dikenakan pajak maupun retribusi daerah. “Harusnya sudah dilakukan penarikan retribusi,” tegasnya.

Menurutnya, tantangan peningkatan PAD tidak hanya berkaitan dengan regulasi dan pendataan, tetapi juga rendahnya kesadaran masyarakat dalam membayar pajak.

“Karena kesadaran wajib pajak masyarakat juga sangat berpengaruh terhadap PAD kita. Akan tetapi kami tidak diam sampai di situ saja, kami akan melakukan sosialisasi tentang sadar pajak yang lebih masif nantinya,” pungkasnya.

Pewarta: Deddy Pz
Penyunting: Nur Robbi Syai’an

Mandiri dari Pusat, Mudyat Noor Targetkan PAD PPU Tak Banyak Berubah pada 2026

PENAJAM PASER UTARA – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) tengah berupaya keras mengikis ketergantungan pada dana transfer pusat dengan memperkuat kemandirian fiskal. Bupati PPU, Mudyat Noor, menegaskan komitmennya untuk memaksimalkan potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) guna membiayai pembangunan daerah yang kian berkembang sebagai mitra strategis IKN.

Pada APBD Tahun Anggaran 2026, Pemkab PPU menargetkan PAD PPU mencapai Rp228.211.158.361. Angka ini diharapkan menjadi fondasi baru bagi struktur pendapatan daerah agar tidak lagi terlalu bergantung pada Dana Bagi Hasil (DBH) yang fluktuatif.

Langkah ini diambil Mudyat setelah mencermati kondisi riil keuangan daerah yang tertuang dalam Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Tahun Anggaran 2025. Berdasarkan laporan yang disampaikan dalam sidang paripurna baru-baru ini, realisasi pendapatan daerah PPU berada di angka Rp2,07 triliun (85,94%) dari target Rp2,41 triliun, dengan capaian PAD sebesar RpRp182.201.356.979 (79,84%).

Mudyat mengakui PPU masih menghadapi tekanan fiskal yang berat karena ketergantungan pada dana transfer pusat masih menyentuh angka 90 persen. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya disiplin anggaran di seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

“Kebijakan anggaran kita arahkan pada sektor yang memiliki daya ungkit, seperti kesehatan, pendidikan, serta infrastruktur dan penguatan ekonomi daerah. Kita harus disiplin fiskal namun tetap responsif terhadap dinamika kebutuhan masyarakat,” ujarnya, Kamis (7/5/2026).

Salah satu sektor yang menjadi sorotan utama Mudyat adalah sektor kepelabuhanan dan pemanfaatan aset daerah yang belum tersentuh maksimal. Proyek percepatan pembangunan Pelabuhan Nenang yang berkolaborasi dengan Pemprov Kaltim diproyeksikan menjadi “mesin uang” baru bagi daerah.

“Kita punya potensi besar di sektor pelabuhan. Jika Pelabuhan Nenang ini terealisasi dan dikelola dengan profesional, potensi kontribusi PAD-nya bisa mencapai Rp170 miliar sendiri. Ini angka yang signifikan untuk mendongkrak postur APBD kita,” ungkapnya.

Selain sektor industri dan pelabuhan, Mudyat memberikan perhatian serius pada sektor pariwisata sebagai pendongkrak PAD. Ia meyakini bahwa dengan posisi PPU sebagai “halaman depan” IKN, kunjungan wisatawan akan meningkat pesat. Mudyat mendorong pengembangan Sport Tourism dan festival tahunan seperti Penajam Festival sebagai magnet bagi para pelancong.

“Pariwisata adalah salah satu sektor andalan yang perlu kita kembangkan bersama. Tujuan akhir orang berkunjung ke IKN pasti akan ke PPU. Karena itu, pariwisata bukan sekadar hiburan, tapi harus mampu menciptakan lapangan kerja dan berkontribusi langsung pada PAD kita,” tegas Mudyat.

Mudyat juga menginstruksikan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk proaktif menggandeng sektor swasta melalui skema investasi, guna membenahi fasilitas di destinasi unggulan seperti Pantai Tanjung Jumlai dan Ekowisata Mangrove.

Instruksi Tegas Digitalisasi PajakMudyat juga telah memberikan instruksi khusus kepada Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) untuk melakukan intensifikasi pajak. Hal ini mencakup pendataan ulang objek Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), pajak hotel dan restoran, hingga menutup celah kebocoran pada retribusi parkir melalui digitalisasi.

“Saya sudah instruksikan Bapenda agar tidak lagi bekerja dengan cara-cara lama. Gali semua potensi yang ada, optimalkan pajak dan retribusi daerah. Kita harus kreatif melihat peluang, apalagi dengan posisi kita sebagai mitra strategis IKN,” tegasnya.

Visi Jangka Panjang Rp500 MiliarMeskipun target 2026 dipatok di angka Rp210,9 miliar, Mudyat memiliki visi jangka panjang agar PAD PPU mampu menyentuh angka Rp500 miliar di masa depan. Menurutnya, kemandirian fiskal adalah harga mati agar pembangunan di “Gerbang Nusantara” bisa berjalan berkelanjutan tanpa hambatan keterlambatan transfer dana pusat.

Di tengah upaya peningkatan pendapatan tersebut, Mudyat kembali mengingatkan pentingnya efisiensi penggunaan anggaran. “Di tengah keterbatasan yang ada, efisiensi anggaran tetap jadi prioritas. Setiap rupiah yang keluar harus berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat PPU,” tutupnya.

Pewarta: Nur Robbi Syai’an

Pajak Masih Manual, Pemkab PPU Khawatir Kehilangan Potensi PAD dari Kawasan IKN

PENAJAM PASER UTARA – Pesatnya aktivitas ekonomi di kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) belum berbanding lurus dengan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Pemerintah daerah menilai masih banyak potensi pendapatan yang belum tergarap optimal, terutama dari sektor jasa.

Sektor restoran, rumah makan, hotel, dan penginapan menjadi perhatian karena dinilai memiliki potensi besar menyumbang PAD di tengah meningkatnya aktivitas masyarakat dan pembangunan di kawasan Sepaku.

Wakil Bupati PPU, Abdul Waris Muin, mengakui sistem pemungutan pajak yang masih dilakukan secara manual menjadi salah satu kendala utama dalam optimalisasi penerimaan daerah.

“Kalau masih manual, potensi kebocoran tetap ada. Kita dorong digitalisasi supaya lebih transparan dan maksimal,” ujarnya, beberapa waktu lalu.

Sorotan terbesar tertuju pada Kecamatan Sepaku yang kini menjadi kawasan strategis penyangga IKN. Aktivitas ekonomi di wilayah tersebut terus tumbuh, namun dampaknya terhadap peningkatan PAD dinilai belum signifikan.

Kondisi itu dinilai menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah. Di satu sisi, geliat ekonomi akibat pembangunan IKN terus meningkat. Namun di sisi lain, potensi tersebut belum sepenuhnya mampu dikonversi menjadi sumber pendapatan daerah yang kuat.

Pemkab PPU mulai mendorong transformasi sistem pembayaran pajak berbasis digital dengan menggandeng Bank Kaltimtara. Sistem non-tunai dinilai dapat memperkuat transparansi sekaligus meminimalisasi potensi kebocoran penerimaan daerah.

Selain pembenahan sistem pembayaran, pemerintah daerah juga menilai pengawasan dan kepatuhan wajib pajak masih perlu diperkuat agar penerimaan daerah dapat lebih optimal.

Di tengah tekanan fiskal dan beban utang daerah, optimalisasi PAD disebut menjadi langkah penting untuk memperkuat kemandirian keuangan daerah agar tidak terus bergantung pada transfer pemerintah pusat.

“Kalau tidak segera dibenahi, kita bisa kehilangan peluang besar dari efek ekonomi IKN,” pungkas Waris.

Pewarta: Deddy Pz
Penyunting: Nur Robbi Syai’an

Dapat Janji Pembayaran dari Brantas Abipraya, Vendor Buka Blokade Jalan Bendungan Sepaku Semoi

NUSANTARA – Aksi blokade akses menuju Bendungan Sepaku Semoi di Desa Tengin Baru, Kecamatan Sepaku, akhirnya dibuka sementara setelah para vendor mendapat kepastian pembayaran dari PT Brantas Abipraya (Persero), Senin (11/5/2026) malam.

Sebelumnya, empat vendor lokal memblokade jalan keluar-masuk bendungan menggunakan dump truck roda 10 sebagai bentuk protes atas tagihan proyek yang belum dibayarkan. Nilai tunggakan disebut mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah.

Owner PT Borneo Rent Nusantara (BRN), Rinif Ade Saputra, mengatakan pihaknya menerima telepon dari manajemen PT Brantas Abipraya terkait rencana pembayaran sebagian tagihan pada Selasa (12/5/2026).

“Ini ada perkembangan Bang, kami sudah ditelepon Brantas. Besok ada pembayaran. Meski tidak semua lunas,” ujarnya kepada media ini sekitar pukul 19.34 Wita.

Menurut Rinif, pihak manajemen yang menghubungi vendor di antaranya Reza dari bagian keuangan dan Project Manager PT Brantas Abipraya, Gerson Simbolon.

Setelah komunikasi tersebut, para vendor sepakat memindahkan dump truck yang sebelumnya melintang di pintu masuk bendungan.

“Kami diminta menggeser truk. Oke kami iyakan. Tapi kalau sampai lewat tengah hari Brantas meleset, ya kami kembalikan lagi truk ke posisi semula,” tegasnya.

Rencana somasi terhadap PT Brantas Abipraya juga untuk sementara dibatalkan. Vendor memilih menunggu realisasi pembayaran yang dijanjikan pihak perusahaan.

“Sudah sepakat sama Bang Sony enggak usah pakai somasi dulu, karena takutnya nanti dijanjikan seperti dulu lagi dan molor terus,” katanya.

Sebelumnya, aksi blokade dilakukan vendor lokal yang mengaku pembayaran proyek mereka tertunggak selama dua hingga empat tahun. Dalam aksi tersebut, akses kendaraan roda empat menuju Bendungan Sepaku Semoi sempat lumpuh total.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari PT Brantas Abipraya terkait realisasi pembayaran yang dijanjikan kepada para vendor.

Lebih lanjut, Vendor material alam, Jufriansyah, membenarkan dump truck yang digunakan memblokade jalan telah dipindahkan dari akses utama bendungan.

“Kami pindahkan ke dalam lokasi parkir,” ujarnya.

Pewarta: Atmaja Riski
Penyunting: Robbi Lalat

Pengembangan Pelabuhan Baru PPU Bakal Dipadukan dengan Wisata dan UMKM Pesisir

PENAJAM PASER UTARA – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menyiapkan kawasan pesisir Nenang dan Nipah-Nipah sebagai lokasi pengembangan pelabuhan baru yang diproyeksikan terintegrasi dengan kawasan wisata dan pusat aktivitas ekonomi masyarakat.

Bupati PPU, Mudyat Noor, mengatakan pengembangan kawasan tersebut tidak hanya difokuskan pada aktivitas pelabuhan, tetapi juga diarahkan untuk menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru di wilayah pesisir.

“Kawasan itu nantinya bukan hanya menjadi pelabuhan, tetapi juga bisa berkembang menjadi kawasan wisata dan pusat aktivitas ekonomi baru,” ujarnya, baru-baru ini.

Menurutnya, keberadaan pelabuhan singgah bagi kapal tugboat dan tongkang akan memicu tumbuhnya berbagai usaha penunjang di sekitar kawasan pesisir.

“Bayangkan kalau kapal-kapal besar bersandar di situ untuk melakukan aktivitas ekonomi, tentu perputaran uangnya besar dan akan berdampak langsung terhadap PAD daerah,” katanya.

Foto: Bupati PPU, Mudyat Noor, menjelaskan rencana pengembangan kawasan pelabuhan Nenang–Nipah-Nipah yang diproyeksikan menjadi sumber pendapatan daerah baru. (Robbi/MKNN)

Mudyat menjelaskan, kapal-kapal yang singgah nantinya tidak hanya melakukan aktivitas logistik, tetapi juga membutuhkan layanan penunjang seperti penyediaan pangan, air bersih, hingga kebutuhan operasional lainnya.

Kondisi itu dinilai dapat membuka peluang usaha baru bagi masyarakat pesisir, mulai dari sektor kuliner, UMKM, jasa logistik, hingga pengembangan kawasan wisata tepi pantai.

“Sepanjang kawasan pesisir itu nantinya juga bisa berkembang menjadi pusat persinggahan dan kawasan usaha baru,” ujarnya.

Selain mendukung aktivitas pelabuhan, kawasan Nenang–Nipah-Nipah juga dinilai memiliki potensi wisata karena berada di jalur Teluk Balikpapan dan langsung menghadap Kota Balikpapan.

Pemerintah daerah menilai integrasi antara kawasan pelabuhan dan wisata pesisir dapat memperluas dampak ekonomi pembangunan terhadap masyarakat sekitar.

“Target kami tentu semakin cepat terealisasi semakin baik, karena ini berkaitan langsung dengan penguatan ekonomi daerah dan peningkatan PAD,” pungkas Mudyat.

Pewarta: Robbi Lalat

PPU Incar PAD dari Aktivitas Kapal Tugboat dan Tongkang di Teluk Balikpapan

Pembaca Setia Radar Ibukota!

Ingin tahu kabar terkini Koran Digital Radar Ibukota?

Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

https://koran.radaribukota.com

https://digital.radaribukota.com/rik11mei2026/mobile/

Radar Ibukota – Aktual & Terpercaya!