Beranda blog Halaman 26

Gubernur Kaltim dan Bupati PPU Tanam Perdana 200 Bibit Kelapa Genjah di Nenang

Pembaca Setia Radar Ibukota!

Ingin tahu kabar terkini Koran Digital Radar Ibukota?

Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

https://koran.radaribukota.com

https://digital.radaribukota.com/rik25juni2026/mobile/

Radar Ibukota – Aktual & Terpercaya!

Desa Digital dan Desa Cantik Jadi Strategi PPU Perkuat Pelayanan Publik

PENAJAM PASER UTARA – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) resmi mencanangkan Program Transformasi Desa Digital dan Desa Cinta Statistik (Desa Cantik) sebagai upaya memperkuat tata kelola pemerintahan berbasis teknologi serta data yang akurat.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai III Kantor Bupati PPU, Rabu (24/6/2026), tersebut dihadiri Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudy Mas’ud, Bupati PPU Mudyat Noor, serta sejumlah pejabat pemerintah pusat, provinsi, dan daerah.

Turut hadir Anggota Komisi VI DPR RI Syarifah Suraidah, Sekretaris Provinsi Kaltim Sri Wahyuni, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Masud Rifai, Sekretaris Badan Pengembangan dan Informasi Desa dan Daerah Tertinggal Fajar Tri Suprapto, Dandim 0913/PPU Letkol Inf Fandy Satria Dwi Wahyono, Kapolres PPU AKBP Andreas Alek Danantara, serta para kepala desa, lurah, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh adat se-Kabupaten PPU.

Mudyat mengatakan, transformasi digital desa bukan hanya berkaitan dengan penyediaan perangkat teknologi, tetapi juga menyangkut perubahan budaya kerja dan pola pikir aparatur pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

“Transformasi digital adalah upaya menghadirkan pelayanan publik yang cepat, mudah, transparan, dan terintegrasi,” ujarnya.

Menurut Mudyat, data menjadi salah satu aset penting dalam menentukan arah pembangunan daerah. Dengan data yang berkualitas, pemerintah dapat menyusun berbagai program secara tepat sasaran, mulai dari bantuan sosial, pembangunan infrastruktur, hingga pengembangan ekonomi masyarakat.

“Sementara Desa Cantik menjadi fondasi penting agar pembangunan desa benar-benar berbasis data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan,” tegasnya.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan penandatanganan Piagam Pencanangan Desa Cantik, penyerahan piagam pencanangan, penyerahan sertifikat Agen Statistik, serta foto bersama seluruh peserta.

Kegiatan tersebut menjadi langkah awal penguatan desa di PPU menuju tata kelola pemerintahan yang lebih modern, transparan, dan berbasis data.

Sementara itu, Kepala BPS Kaltim Masud Rifai mengapresiasi komitmen Pemkab PPU dalam mendukung penguatan statistik desa dan transformasi digital.

Ia menilai kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, dan BPS menjadi faktor penting dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.

“Data yang akurat dan mutakhir menjadi dasar utama dalam pengambilan kebijakan. Karena itu, Desa Cantik akan menjadi penguat bagi Desa Digital agar pembangunan semakin terarah dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.

Sekretaris Badan Pengembangan dan Informasi Desa dan Daerah Tertinggal Fajar Tri Suprapto mengatakan, digitalisasi desa merupakan bagian dari upaya membangun tata kelola pemerintahan yang lebih modern, meningkatkan kualitas pelayanan publik, serta memperkuat partisipasi masyarakat dalam pembangunan.

“Desa bukan hanya objek pembangunan, tetapi menjadi subjek utama kemajuan bangsa. Dengan transformasi digital, desa akan semakin maju, mandiri, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud menegaskan dukungan Pemerintah Provinsi Kaltim terhadap pembangunan desa berbasis teknologi dan data.

Menurutnya, PPU menjadi salah satu daerah yang melakukan terobosan dengan mengintegrasikan digitalisasi dan pengelolaan data statistik di tingkat desa.

Ia juga menyampaikan bahwa Pemprov Kaltim telah menyediakan akses internet gratis di seluruh desa di Kabupaten PPU sebagai bagian dari dukungan percepatan transformasi digital.

Rudy berharap Program Desa Cantik dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain di Kaltim agar mampu memanfaatkan teknologi dan data dalam mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Di era sekarang kita tidak bisa lagi membangun berdasarkan asumsi atau perkiraan. Semua harus berbasis data. Data yang baik akan melahirkan kebijakan yang tepat, pelayanan yang lebih baik, dan pembangunan yang tepat sasaran,” tegas Rudy.

Pewarta: Robbi Lalat

Gubernur Kaltim dan Bupati PPU Tanam Perdana 200 Bibit Kelapa Genjah di Nenang

PENAJAM PASER UTARA – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mulai mengembangkan komoditas kelapa genjah sebagai salah satu upaya memperkuat sektor perkebunan rakyat dan meningkatkan ekonomi masyarakat pesisir.

Bupati PPU Mudyat Noor mendampingi Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudy Mas’ud dalam kegiatan penanaman perdana kelapa genjah secara simbolis di Kelurahan Nenang, Kecamatan Penajam, Rabu (24/6/2026).

Program tersebut merupakan bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan yang dilaksanakan melalui kolaborasi Dinas Perkebunan Provinsi Kaltim, Dinas Pertanian Kabupaten PPU, PT Migas Mandiri Pratama (MPP), dan PT Kebun Mandiri Sejahtera.

Dalam kegiatan itu, sebanyak 200 bibit kelapa genjah diserahkan untuk dikembangkan oleh masyarakat. Mudyat mengapresiasi sinergi antara pemerintah dan dunia usaha dalam mendukung pengembangan sektor perkebunan rakyat.

Menurutnya, pengembangan kelapa genjah menjadi langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat, khususnya di kawasan pesisir.

“Program ini sangat positif karena tidak hanya mendukung ketahanan ekonomi masyarakat, tetapi juga membuka peluang pengembangan komoditas unggulan yang memiliki nilai jual tinggi. Pemerintah Kabupaten PPU siap mendukung keberlanjutan program ini,” kata Mudyat usai kegiatan.

Sementara itu, Rudy mengatakan kelapa genjah merupakan komoditas potensial untuk dikembangkan di wilayah pesisir Kaltim. Selain memiliki masa panen yang relatif cepat, tanaman kelapa juga memiliki nilai ekonomi karena hampir seluruh bagian pohonnya dapat dimanfaatkan.

“Atas nama Pemerintah Provinsi Kaltim, kami memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam program TJSL ini, khususnya PT Migas Mandiri Pratama dan PT Kebun Mandiri Sejahtera yang menunjukkan komitmen nyata dalam mendukung sektor perkebunan rakyat,” kata Rudy.

Ia menjelaskan, kondisi geografis kawasan pesisir Kaltim sangat mendukung untuk pengembangan tanaman kelapa. Karena itu, program serupa diharapkan dapat diperluas ke sejumlah wilayah pesisir lainnya.

Menurutnya, pengembangan kelapa juga menjadi bagian dari upaya diversifikasi ekonomi daerah agar tidak hanya bergantung pada sektor pertambangan, khususnya batu bara.

“Kita perlu memiliki komoditas andalan lain yang berkelanjutan. Kelapa memiliki nilai ekonomi tinggi dan permintaan pasar yang terus meningkat. Ini bisa menjadi sumber kesejahteraan baru bagi masyarakat,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Rudy turut mengingatkan masyarakat PPU agar bersiap menghadapi perkembangan Ibu Kota Nusantara (IKN). Menurutnya, posisi PPU sebagai wilayah penyangga IKN akan membuat daerah tersebut semakin terbuka terhadap masyarakat dari berbagai daerah maupun negara.

Ia berharap program TJSL yang mendukung sektor pertanian dan perkebunan dapat terus berlanjut serta mendorong lebih banyak perusahaan untuk berkontribusi dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Kegiatan tersebut ditutup dengan penanaman simbolis bibit kelapa genjah bersama jajaran pemerintah daerah, perusahaan, dan kelompok tani sebagai tanda dimulainya pengembangan komoditas tersebut di Kabupaten PPU.

Kegiatan itu turut dihadiri anggota DPR RI Komisi VI Syarifah Suraidah Mas’ud, Sekretaris Provinsi Kaltim Sri Wahyuni, jajaran Pemerintah Provinsi Kaltim, Forkopimda PPU, anggota DPRD PPU, perwakilan perusahaan, organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemkab PPU, serta pihak terkait lainnya.

“Masyarakat harus siap hidup berdampingan dalam keberagaman. Perbedaan suku, agama, dan budaya harus menjadi kekuatan untuk membangun Kaltim dan IKN yang maju dan inklusif,” pesan Rudy.

Pewarta: Robbi Lalat

Personel Polres PPU Uji Kemampuan Berkendara dalam Lomba R2 Hari Bhayangkara

0

PENAJAM PASER UTARA – Dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-80 Tahun 2026, Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Penajam Paser Utara (PPU) menggelar Lomba Uji Keterampilan Mengendarai Kendaraan Bermotor Roda Dua (R2) di Lapangan Uji SIM Polres PPU, Rabu (24/6/2026).

Kegiatan yang mengusung tema Hari Bhayangkara ke-80, “80 Tahun Mengabdi, Polri Untuk Masyarakat”, tersebut diikuti personel dari berbagai bagian, satuan, seksi, hingga jajaran kepolisian sektor (polsek) di lingkungan Polres PPU.

Lomba ini turut dihadiri Kapolres PPU AKBP Andreas Alek Danantara, Wakapolres PPU KOMPOL Roganda, S.H., Kasat Lantas Polres PPU AKP Dedik I. Prasetyo, para pejabat utama Polres PPU, serta seluruh peserta lomba.

Kasat Lantas Polres PPU AKP Dedik I. Prasetyo mengatakan, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi rangkaian peringatan Hari Bhayangkara, tetapi juga sebagai upaya meningkatkan kemampuan dan profesionalisme personel dalam mengendarai kendaraan bermotor roda dua.

“Melalui lomba ini, personel diuji kemampuan teknis berkendara, mulai dari pengendalian kendaraan di lintasan khusus, menjaga keseimbangan, ketepatan manuver, hingga penerapan teknik keselamatan berkendara. Harapannya, keterampilan tersebut dapat menunjang pelaksanaan tugas sehari-hari di lapangan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, selain mengasah kemampuan individu, kegiatan tersebut juga menjadi sarana mempererat kebersamaan serta membangun semangat sportivitas antarpersonel Polres PPU.

Dalam perlombaan tersebut, peserta diuji melalui berbagai tantangan lintasan yang telah disiapkan panitia. Para personel menunjukkan kemampuan terbaiknya dalam mengendalikan kendaraan dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan dan ketepatan teknik berkendara.

Berdasarkan hasil penilaian dewan juri, para pemenang lomba akan diumumkan pada 1 Juli 2026 bertepatan dengan kegiatan syukuran Hari Bhayangkara ke-80 di Polres PPU.

Selama kegiatan berlangsung, situasi berjalan aman, tertib, lancar, dan kondusif. Melalui kegiatan ini, Polres PPU berharap kesadaran personel terhadap pentingnya keselamatan berkendara semakin meningkat sekaligus memperkuat soliditas dan semangat pengabdian Polri kepada masyarakat.

“Penghargaan bagi para pemenang menjadi bentuk apresiasi atas kemampuan, kedisiplinan, serta profesionalisme personel dalam menerapkan keterampilan berkendara yang aman dan tertib,” jelasnya.

Penyunting: Robbi Lalat

Utang Belanja Tahun Sebelumnya Juga Jadi Sorotan DPRD Samarinda

0

SAMARINDA – Komisi II DPRD Kota Samarinda melontarkan kritik tajam terhadap struktur realisasi anggaran Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda pada Semester I Tahun Anggaran 2026.

Meski secara administratif tingkat serapan anggaran dinilai cukup baik, DPRD menemukan sebagian besar anggaran justru terserap untuk kebutuhan birokrasi dan operasional internal dibanding program yang langsung menyentuh pedagang maupun pasar rakyat.

Berdasarkan data per 18 Juni 2026 setelah pergeseran anggaran kedua, Disdag Samarinda mencatat realisasi anggaran sebesar Rp17,95 miliar atau 54,25 persen dari total pagu Rp33,77 miliar.

Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, mengatakan angka tersebut memang terlihat baik dari sisi administratif. Namun, pihaknya menilai perlu ditelusuri lebih jauh apakah tingginya serapan itu benar-benar berasal dari pelaksanaan program atau justru didominasi pembayaran kewajiban dan operasional rutin.

“Memang serapannya lumayan, sudah 54,25 persen di pertengahan tahun setelah pergeseran kedua. Secara administratif ini bagus. Tapi yang terpenting bagi saya, serapan tinggi ini karena program berjalan atau karena pembayaran utang tahun sebelumnya?” ujarnya, Selasa (23/6/2026).

Setelah menelaah laporan anggaran secara rinci, Iswandi mengaku menemukan fakta bahwa lebih dari 95 persen penggunaan anggaran masih berada pada program penunjang birokrasi.

“Dari data yang satu lembar ini, kesimpulan saya, 95 persen lebih anggaran Dinas Perdagangan masih terserap pada program penunjang dibanding program langsung yang menyentuh pedagang dan pasar rakyat,” tegasnya.

Menurut Iswandi, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas penggunaan anggaran pada organisasi perangkat daerah yang seharusnya fokus pada pelayanan publik dan pengembangan sektor perdagangan.

Ia juga menyoroti kemungkinan adanya kecenderungan sejumlah OPD memasukkan berbagai kegiatan ke dalam kategori program penunjang sehingga porsi belanja operasional terlihat lebih besar.

“Mungkin kita belum bisa melihat secara detail. Tetapi sering kali kegiatan-kegiatan tertentu disamarkan melalui program penunjang. Hampir semua OPD saya baca seperti itu, hanya saja kadang tidak kita kritisi,” katanya.

Berdasarkan kalkulasi sementara yang dilakukan Komisi II, sekitar 94,7 persen realisasi anggaran Disdag digunakan untuk kebutuhan birokrasi dan operasional internal.

Sementara program yang langsung berkaitan dengan fungsi utama dinas seperti pembinaan perdagangan, pasar rakyat, dan perlindungan konsumen hanya memperoleh porsi sekitar 3 hingga 4 persen.

“Dari serapan 54 persen tadi, sekitar 94,7 persen digunakan untuk birokrasi dan operasional. Sedangkan hanya 3 sampai 4 persen yang benar-benar digunakan untuk fungsi inti Dinas Perdagangan. Ini menjadi catatan penting,” ujarnya.

Selain itu, DPRD juga menyoroti lambatnya penyelesaian kewajiban utang belanja tahun sebelumnya. Dari total utang yang mencapai sekitar Rp536 juta, realisasi pembayaran pada semester pertama baru sekitar Rp17 juta.

Iswandi menegaskan ke depan DPRD akan meminta penjelasan lebih rinci terkait struktur penggunaan anggaran tersebut agar fungsi pelayanan kepada masyarakat tidak kalah besar dibanding kebutuhan birokrasi internal.

“Yang menjadi pertanyaan, apakah Dinas Perdagangan ini lebih banyak mengurus perdagangan, pasar rakyat, dan perlindungan konsumen, atau justru lebih banyak mengurus operasional birokrasi internalnya sendiri. Pertanyaan itu muncul karena saya menemukan angka 95 persen lebih tadi,” pungkasnya.

Pewarta: Abdi
Editor: Agus S.

BLT-DD Rp9,9 Juta Disalurkan kepada Penerima Manfaat di Kampung Tondoh

0

SENDAWAR – Pemerintah Kampung Tondoh, Kecamatan Mook Manaar Bulant, menyalurkan Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD) Triwulan II Tahap II Tahun 2026 di Kantor Satu Atap Kampung Tondoh, Senin (22/6/2026).

Penyaluran bantuan tersebut diberikan kepada 11 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) untuk periode April hingga Juni 2026.

Masing-masing KPM menerima bantuan sebesar Rp900 ribu yang disalurkan secara rapel untuk tiga bulan. Total anggaran yang disalurkan dalam kegiatan tersebut mencapai Rp9,9 juta.

Petinggi Kampung Tondoh, Rendy Saputra, mengatakan program BLT-DD merupakan bentuk perhatian pemerintah dalam membantu masyarakat yang membutuhkan, khususnya dalam memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

“Kami berharap kepada Keluarga Penerima Manfaat agar bantuan Rp900 ribu ini digunakan sebaik-baiknya untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga,” ujarnya.

Menurutnya, bantuan tersebut diharapkan dapat membantu meringankan beban ekonomi masyarakat di tengah berbagai kebutuhan rumah tangga yang terus meningkat.

Rendy juga menjelaskan bahwa mekanisme penyaluran BLT-DD dilakukan setiap tiga bulan sekali atau secara rapel sesuai ketentuan yang berlaku.

“Pencairannya dilakukan tunai setiap tiga bulan sekali atau dirapel, sehingga masyarakat dapat langsung memanfaatkannya sesuai kebutuhan,” jelasnya.

Pemerintah Kampung Tondoh memastikan proses penyaluran berjalan tertib dan tepat sasaran sesuai data penerima manfaat yang telah ditetapkan sebelumnya.

Melalui program tersebut, pemerintah kampung berharap bantuan yang diberikan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta membantu menjaga ketahanan ekonomi keluarga penerima manfaat.

Pewarta: Ichal
Editor: Agus S.

Normalisasi Tak Bisa Instan, PTMB Minta Pelanggan Bersabar

0

BALIKPAPAN – Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) terus mempercepat pemulihan layanan air bersih bagi pelanggan di kawasan Balikpapan Damai Sejahtera (BDS), Jalan Manunggal, Kampung Buton, dan wilayah sekitarnya yang terdampak gangguan distribusi dalam beberapa hari terakhir.

Gangguan tersebut terjadi akibat rangkaian persoalan yang berlangsung beruntun pada jaringan distribusi utama sehingga proses normalisasi membutuhkan waktu lebih lama dibanding penanganan gangguan biasa.

Direktur Utama PTMB, Yudhi Saharddin, menjelaskan gangguan awal terdeteksi pada 15 Juni 2026 ketika tekanan distribusi air ke kawasan Jalan Manunggal, BDS 2, dan sekitarnya mulai mengalami penurunan.

Kondisi itu semakin memburuk setelah terjadi kebocoran pada pipa air baku Instalasi Pengolahan Air (IPA) Kampung Damai pada 19 Juni 2026 yang berdampak pada menurunnya pasokan air ke pelanggan.

Foto: Tim PTMB berdialog dengan warga terdampak gangguan distribusi air bersih di kawasan BDS dan Jalan Manunggal. (Istimewa)

“Setelah perbaikan dilakukan dan proses normalisasi mulai berjalan, gangguan kembali terjadi pada 21 Juni 2026 akibat insiden eksternal berupa kecelakaan truk di Simpang Tiga BDS. Kendaraan tersebut menabrak jembatan pipa hingga merusak jaringan distribusi. Peristiwa ini membuat proses pemulihan layanan kembali tertunda,” ujar Yudhi, Selasa (23/6/2026).

Sebagai bentuk tanggung jawab kepada pelanggan, Yudhi bersama jajaran manajemen turun langsung ke lapangan pada 21 Juni 2026 untuk berdialog dengan warga terdampak. Dalam pertemuan tersebut, PTMB menjelaskan kondisi teknis yang terjadi sekaligus langkah-langkah yang sedang dilakukan untuk mempercepat pemulihan.

Di tengah proses penanganan, PTMB juga melakukan berbagai metode investigasi jaringan guna memastikan sumber gangguan ditemukan secara tepat. Salah satunya dengan pemasangan gate valve di kawasan Gerbang BDS 2 pada 22 Juni 2026 untuk mempersempit area pencarian gangguan.

Dari hasil evaluasi teknis dan pengukuran debit, tim akhirnya menemukan kebocoran pada pipa induk utama di jalur distribusi Jalan Manunggal yang selama ini menghambat proses normalisasi.

Pada Selasa (23/6/2026), sejumlah warga kembali menyampaikan aspirasi terkait belum normalnya distribusi air di beberapa kawasan. Menanggapi hal tersebut, PTMB kembali membuka ruang komunikasi melalui dialog langsung yang dipimpin Direktur Operasional Ali Rachman, didampingi Manajer Sekretaris Perusahaan Abdul Ramli dan Manajer Distribusi Indra Gunawan.

“Setiap keluhan pelanggan menjadi perhatian serius karena air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Selama proses penanganan berlangsung, tim teknis terus bekerja melakukan penelusuran, penggalian, perbaikan hingga pengujian jaringan distribusi,” katanya.

PTMB menyampaikan bahwa proses perbaikan pada jalur pipa distribusi di Jalan Manunggal telah selesai dilaksanakan pada Selasa (23/6/2026) pukul 16.15 Wita.

Meski demikian, aliran air belum dapat langsung normal karena masih harus melalui tahapan pengisian jaringan pipa, pengaturan tekanan, dan stabilisasi sistem distribusi secara bertahap.

“Masyarakat perlu memahami bahwa proses normalisasi tidak dapat terjadi secara instan setelah perbaikan selesai dilakukan. Air harus terlebih dahulu mengisi jaringan pipa yang kosong, membangun kembali tekanan distribusi, dan memastikan seluruh sistem beroperasi dalam kondisi aman dan stabil,” tegas Yudhi.

Karena itu, pemulihan aliran akan berlangsung secara bertahap menyesuaikan kondisi jaringan dan topografi wilayah pelayanan.

PTMB juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat atas kesabaran dan pengertian selama proses penanganan berlangsung.

“Hingga saat ini seluruh tim masih bekerja di lapangan untuk memastikan proses normalisasi berjalan dengan baik. Kami memahami kebutuhan masyarakat akan layanan air bersih dan akan terus berupaya semaksimal mungkin sampai distribusi kembali normal,” tutupnya.

Penulis: Aprianto
Editor: Agus S.

Pembangunan Gardu Butuh Waktu Berbulan-bulan, Pasar Pagi Terancam Tertunda

0

SAMARINDA – Persoalan instalasi kelistrikan di Pasar Pagi Samarinda hingga kini belum menemukan titik terang. Belum adanya jaringan listrik yang mengalir langsung ke lapak para pedagang membuat pengoperasian pasar masih menghadapi kendala serius.

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda, Nurrahmani, mengungkapkan bahwa salah satu hambatan utama berasal dari persyaratan yang diajukan pihak PLN. Pemerintah Kota Samarinda diminta membangun gardu listrik sendiri sebelum sambungan dapat diteruskan ke tenant atau lapak pedagang.

“Dari PLN itu mensyaratkan supaya kita harus punya gardu sendiri. Gardu itu sendiri biayanya sekitar Rp2,7 miliar. Baru akan disambungkan ke masing-masing tenant,” ujarnya, Selasa (23/6/2026).

Menurut Nurrahmani, kondisi tersebut menempatkan Pemkot Samarinda pada posisi yang cukup sulit. Di satu sisi, pemerintah berharap sistem penyambungan listrik dapat dilakukan seperti sambungan rumah tangga biasa, namun di sisi lain PLN memiliki standar teknis tersendiri yang harus dipenuhi.

“Diharapkan dari pemerintah kota meminta pembangunannya itu sama dengan listrik rumah biasa, yaitu menyambung dari rumah ke rumah. Makanya ini yang membuat kami berada di posisi sulit,” katanya.

Untuk mencari solusi, Disdag berharap DPRD Samarinda dapat memfasilitasi pertemuan antara pemerintah daerah dan PLN agar diperoleh kesepahaman mengenai standar dan mekanisme penyambungan listrik di Pasar Pagi.

“Bisakah kami mohon kepada dewan untuk memfasilitasi ini supaya SOP PLN dan standar yang diinginkan pemerintah kota bisa menemukan titik temu,” tambahnya.

Di tengah kebuntuan tersebut, Nurrahmani mengungkapkan bahwa para pedagang sebenarnya menunjukkan itikad baik untuk membantu pembiayaan. Hasil komunikasi yang dilakukan Disdag menunjukkan sebagian besar pedagang bersedia ikut menanggung biaya tambahan apabila diperlukan untuk percepatan penyediaan listrik.

“Kami sudah komunikasi dengan pedagang. Pada intinya mereka siap membantu pendanaan itu. Misalnya ada tambahan biaya untuk pembangunan trafo atau gardu, mereka bersedia ikut menanggung,” jelasnya.

Bahkan, menurutnya, para pedagang tidak keberatan jika nantinya terdapat penyesuaian biaya layanan yang dibebankan secara bertahap sebagai bagian dari pengembalian investasi pembangunan fasilitas kelistrikan.

Meski demikian, persoalan ini dinilai mendesak karena Pemkot Samarinda telah menargetkan pengisian lapak yang masih kosong pada Agustus mendatang. Saat ini masih terdapat sekitar 1.500 lapak yang belum ditempati pedagang.

“Agustus ini kami sudah menyampaikan surat kepada pedagang bahwa lapak harus ditempati. Kalau tidak ditempati akan kami tarik dan diberikan kepada pedagang lain yang siap berjualan,” tegas Nurrahmani.

Ia juga mengingatkan bahwa meskipun anggaran pembangunan gardu disetujui sekarang, prosesnya tidak bisa dilakukan secara instan. Mulai dari tahapan administrasi, pengadaan hingga pembangunan fisik diperkirakan memerlukan waktu lebih dari tiga bulan.

“Kalau pun Rp2,7 miliar itu disetujui sekarang, prosesnya tidak seketika. Ada tahapan lelang, administrasi, kemudian pembangunan. Itu bisa memakan waktu lebih dari tiga bulan,” ujarnya.

Karena itu, Disdag berharap persoalan tersebut dapat segera diselesaikan agar aktivitas perdagangan di Pasar Pagi Samarinda dapat berjalan optimal sesuai target yang telah ditetapkan pemerintah kota.

Pewarta: Abdi
Editor: Agus S.

DPRD Kaltim Dorong Penyesuaian Anggaran Dilakukan Secara Transparan

0

SAMARINDA – Ancaman defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kalimantan Timur tahun 2026 dipastikan semakin nyata. DPRD Kaltim memperkirakan defisit daerah dapat mencapai sekitar Rp2 triliun akibat target Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang tidak tercapai sesuai proyeksi.

Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua I DPRD Kaltim, Ekti Imanuel, usai mengikuti Rapat Paripurna ke-15 DPRD Kaltim di Gedung B DPRD Kaltim, Jalan Teuku Umar, Samarinda, Senin malam (22/6/2026).

Menurut Ekti, kondisi tersebut sudah sulit dihindari meski berbagai upaya penyesuaian anggaran tengah dilakukan pemerintah daerah.

“Defisit Rp2 triliun itu pasti. Sudah tidak tercapai seperti apa pun, pasti,” tegasnya.

Ia menjelaskan, salah satu penyebab utama membengkaknya defisit adalah realisasi PAD yang jauh dari target. Kondisi tersebut diperparah dengan menurunnya sejumlah sumber pendapatan daerah yang sebelumnya menjadi andalan.

Di tengah situasi tersebut, DPRD meminta agar setiap kebijakan pergeseran maupun penyesuaian anggaran dilakukan secara transparan dan melibatkan Badan Anggaran (Banggar).

Menurut Ekti, selama ini informasi terkait pergeseran anggaran justru kerap lebih dulu diketahui publik dibandingkan DPRD yang memiliki fungsi pengawasan terhadap penggunaan APBD.

“Kadang-kadang media yang tahu duluan, Banggar belakangan yang tahu. Jadi kami minta transparansi,” ujarnya.

Meski menghadapi tekanan fiskal, Ekti memastikan pembangunan infrastruktur tetap menjadi prioritas dan tidak akan terdampak signifikan oleh kebijakan efisiensi anggaran.

Ia menegaskan proyek pembangunan jalan yang telah direncanakan tetap berjalan karena masih banyak kebutuhan infrastruktur dasar yang harus diselesaikan, terutama di wilayah pedalaman dan perbatasan.

“Kalau pembangunan jalan tetap berjalan. Yang mungkin dikurangi itu perjalanan dinas, makan minum, dan kegiatan-kegiatan operasional lainnya,” katanya.

Menurutnya, efisiensi lebih tepat diarahkan pada belanja operasional yang tidak bersentuhan langsung dengan pelayanan masyarakat.

Selain itu, DPRD juga menolak wacana pemangkasan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP). Ekti menilai kebijakan tersebut justru akan berdampak besar terhadap tenaga pelayanan publik seperti guru, perawat, tenaga kesehatan, dan ASN pelaksana lainnya.

Ia menegaskan TPP bukan hanya dinikmati pejabat struktural, melainkan juga menjadi bagian penting dari penghasilan aparatur yang bertugas melayani masyarakat setiap hari.

“Kalau TPP dipangkas, yang kena bukan hanya eselon dua atau eselon satu. Yang paling terasa justru guru dan perawat. Itu yang harus dipikirkan,” tandasnya.

DPRD Kaltim berharap pemerintah daerah dapat segera menyusun langkah penyesuaian anggaran secara terbuka dan terukur agar tekanan defisit tidak mengganggu pelaksanaan program prioritas maupun pelayanan dasar kepada masyarakat.

Penulis: K. Irul Umam
Editor: Agus S.

Samarinda Bersiap Bangun Fasilitas Uji Kendaraan di Aset Milik Pemkot

0

SAMARINDA – Fasilitas pengujian kendaraan bermotor (Uji KIR) Kota Samarinda dipastikan akan segera berpindah tempat. Hal ini menyusul adanya permintaan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) yang ingin mengambil kembali aset lahan dan bangunan Gedung Metro yang selama ini dipinjam pakai oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda.

Kepala Dinas Perdagangan (Kadisdag) Kota Samarinda, Nurrahmani, membenarkan kabar penarikan aset tersebut. Menurutnya, langkah yang diambil Pemprov Kaltim tidak dilakukan secara mendadak, melainkan sudah dikoordinasikan sejak tahun lalu.

“Jadi memang Gedung Metro itu lahan dan gedungnya milik provinsi. Mereka tidak mendadak, karena sejak tahun kemarin sudah menyampaikan bahwa aset tersebut harus dikembalikan. Penggunaannya juga melibatkan beberapa pihak lain, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK),” ujarnya, Selasa (23/6/2026).

Selama ini, Gedung Metro menjadi fasilitas vital bagi Dinas Perdagangan dalam melakukan pengujian kelaikan kendaraan bermotor, khususnya kendaraan angkutan berat. Di dalam area tersebut terdapat berbagai infrastruktur teknis yang mendukung proses pengujian kendaraan.

“Ketika ada pengujian mobil, kendaraan masuk ke sana. Di bawahnya ada bak kontrol dan fasilitas lainnya. Truk-truk besar masuk ke situ untuk pengujian. Kami juga memiliki layanan pengujian keliling yang mendatangi SPBU maupun pasar,” jelas Nurrahmani.

Meski layanan pengujian masih berjalan aktif, ia mengungkapkan fasilitas tersebut sudah tidak lagi memberikan kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui retribusi sejak dua tahun terakhir akibat perubahan regulasi dari pemerintah pusat.

Menurutnya, saat ini pihak legislatif tengah mengkaji kemungkinan adanya celah regulasi agar fungsi retribusi dapat kembali diterapkan dalam bentuk lain yang sesuai aturan.

“Dulu memang ada retribusi. Namun setelah ada perubahan aturan dari pemerintah pusat, retribusi itu tidak lagi diperbolehkan. Nanti akan dikaji kembali bersama DPRD untuk melihat kemungkinan pengaturannya melalui perda,” katanya.

Nurrahmani menegaskan fasilitas pengujian kendaraan merupakan kebutuhan wajib yang harus dimiliki setiap daerah karena memiliki standar teknis tersendiri.

“Bangunan ini bukan sekadar gedung biasa. Ada bak kontrol, fasilitas pengujian, indikator teknis, dan berbagai sarana pendukung yang memang harus tersedia,” paparnya.

Untuk itu, Disdag Samarinda telah mengusulkan pembangunan fasilitas baru kepada Pemerintah Kota Samarinda. Berdasarkan hasil koordinasi dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), pembangunan fisik nantinya akan ditangani Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).

“Kami sudah mengusulkan ke pemerintah kota. Karena urusan pembangunan gedung tentu lebih tepat ditangani PUPR. Kami sudah berkoordinasi dengan Bappeda terkait hal tersebut,” ujarnya.

Terkait lokasi, Pemkot Samarinda telah menyiapkan lahan di kawasan Samarinda Seberang yang dinilai layak berdasarkan hasil kajian teknis dan kontur tanah.

“Kami sudah menyiapkan lokasi di wilayah Samarinda Seberang, tepatnya kawasan Mangkupalas atau Seko. Sudah dilakukan pembahasan bersama BPKAD dan pihak terkait. Lahan tersebut merupakan aset milik Pemkot Samarinda,” jelasnya.

Hingga kini, besaran anggaran pembangunan gedung baru masih menunggu penyusunan Detail Engineering Design (DED). Sementara itu, Pemprov Kaltim belum memberikan batas waktu khusus, namun meminta agar proses persiapan pengembalian aset dapat segera dilakukan.

Pewarta: Abdi
Editor: Agus S.