PPU – Persoalan keterbatasan ruang belajar di Penajam Paser Utara (PPU) kembali mencuat. SD Negeri 38 PPU dan SMP Negeri 21 PPU hingga kini masih berbagi lokasi dengan SMA Negeri 8 PPU dalam satu kawasan sekolah, kondisi yang dinilai sudah kelebihan kapasitas dan tidak lagi layak untuk proses belajar mengajar.
Wakil Bupati PPU, Abdul Waris Muin, menyampaikan keprihatinannya saat meninjau langsung kondisi sekolah tersebut, Jumat (6/2/2026). Ia menyebut situasi sekolah satu atap itu sudah berlangsung sejak 2017 tanpa solusi yang benar-benar tuntas.
“Ini sudah overload, sudah penuh, dan kasihan sekali kita lihat kondisinya. Dari 2017 sampai sekarang masih satu atap. Bagi kami, ini sangat memprihatinkan,” tegasnya.
Menurutnya, persoalan ini berlarut karena perbedaan kewenangan pengelolaan pendidikan. SD dan SMP menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten, sedangkan SMA berada di bawah kewenangan pemerintah provinsi.
“Kalau kita bicara kewenangan, SD dan SMP itu kabupaten, sedangkan SMA provinsi. Tapi kenyataannya mereka masih berada dalam satu lingkungan yang sama, dengan kapasitas yang jelas tidak mencukupi,” ujarnya.
Di lapangan, ia menemukan sejumlah ruang yang seharusnya difungsikan sebagai perpustakaan justru dialihfungsikan menjadi ruang kelas darurat, bahkan digunakan oleh siswa kelas 2 SD.
“Kita lihat tadi, ruang kelas itu hanya disekat. Kalau di sebelah sedang belajar, yang di sini ikut dengar. Suasananya panas, bising, dan tidak nyaman. Ini jelas tidak ideal untuk kegiatan belajar mengajar,” ungkapnya.
Ia menilai kondisi tersebut tidak hanya mengganggu konsentrasi belajar, tetapi juga dapat berdampak pada perkembangan akademik dan psikologis siswa, terutama anak usia dini.
Karena itu, ia menegaskan solusi paling realistis adalah pembangunan gedung baru SMA Negeri 8 PPU oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Jika SMA sudah memiliki gedung sendiri, maka SD dan SMP dapat kembali menggunakan ruang belajar secara optimal.
“Kami dari Pemerintah Daerah sangat berharap Pemerintah Provinsi Kaltim segera mengakomodir kepentingan SMA Negeri 8 PPU. Kalau SMA-nya sudah punya gedung sendiri, maka SD dan SMP bisa kembali belajar dengan ruang yang lebih layak,” terangnya.
Ia menambahkan, kebutuhan sekolah yang layak menjadi semakin mendesak mengingat PPU kini berperan sebagai daerah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), sehingga kualitas sumber daya manusia harus dipersiapkan sejak dini.
Selain ruang kelas, ia juga menyoroti minimnya fasilitas penunjang seperti mushola. Menurutnya, fasilitas tersebut penting sebagai bagian dari pembentukan karakter siswa.
“Mushola ini penting. Bukan sekadar tempat ibadah, tapi juga bagian dari pembentukan karakter anak-anak,” katanya.
Secara keseluruhan, ia menilai sarana dan prasarana di lingkungan sekolah tersebut sudah banyak yang tidak layak dan memerlukan renovasi besar, bahkan pembangunan ulang.
“Ruang belajar disekat-sekat dan dipakai bersama. Kondisinya sangat memprihatinkan, ini harus menjadi perhatian bersama, tidak bisa dibiarkan berlarut-larut,” pungkasnya.
Pewarta: Deddy Pz
Penyunting: Robbi Lalat



