PPU – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) semakin menegaskan pentingnya pelatihan dan pendampingan berkelanjutan dalam penguatan Koperasi Merah Putih sebagai pilar ekonomi di tingkat desa dan kelurahan. Langkah ini dianggap krusial agar koperasi tidak hanya terbentuk secara administratif, tetapi juga mampu menjalankan usaha yang produktif dan berkelanjutan.
Hingga kini, seluruh 54 desa dan kelurahan di PPU telah membentuk Koperasi Merah Putih. Dari jumlah tersebut, sebanyak 12 koperasi sedang berproses membangun gerai usaha, sedangkan 11 lainnya dalam tahap persiapan untuk mengikuti jejaknya. Keberhasilan pembentukan koperasi ini mendapat apresiasi dari Satuan Tugas Percepatan Pembangunan Gerai Koperasi Merah Putih wilayah Kalimantan–Sulawesi.
“Dari pusat ada dukungan, dari Kementerian Koperasi ada, dari provinsi juga ada programnya. Tahun lalu sudah berjalan pelatihan-pelatihan, termasuk menggandeng perguruan tinggi untuk membantu pendampingan,” ujar Kepala Dinas KUKM Perindag PPU, Margono Hadi Sutanto, Selasa (27/1/2026).
Menurutnya, pelatihan dan pendampingan merupakan bagian paling penting dalam memastikan koperasi berjalan lancar. Pendamping atau Business Assistant (BA) aktif membimbing koperasi sejak tahap awal pendirian hingga evaluasi operasional.
“Pendampingan ini sangat penting. Dari awal pembentukan sampai sekarang banyak hal yang dievaluasi, terutama penyesuaian rencana bisnis dengan kondisi riil di lapangan,” katanya.
Pada tahap awal pembentukan koperasi, beberapa kendala administratif seperti akta dan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha (KBLI) sempat ditemui karena proses pembentukan berlangsung cukup cepat. Pelatihan lanjutan kini lebih difokuskan pada pembenahan aspek tersebut serta penguatan manajerial dan pengelolaan usaha.
“Memang kemarin pembentukannya cukup cepat karena mengejar waktu, jadi ada yang perlu diperbaiki seperti akta dan penyesuaian KBLI dengan rencana bisnisnya. Itu sekarang dibenahi sambil didampingi,” jelas Margono.
Selain pelatihan administratif, Balai Latihan Kerja (BLK) juga dilibatkan untuk memperkuat keterampilan teknis pengurus sesuai dengan bidang usaha masing-masing koperasi. Pendekatan ini diyakini akan menghasilkan koperasi yang lebih siap bersaing dan berkontribusi terhadap perekonomian lokal.
“Bangunan bisa disiapkan dan modal bisa dicari, tapi kalau pengurusnya belum siap, koperasinya tidak akan jalan maksimal. Karena itu pendampingan ini jadi kunci,” tegasnya.
Tidak hanya itu, beberapa koperasi juga sudah mulai bersinergi dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat untuk menjalankan unit usaha bersama. Skema kerja sama ini dinilai menjadi solusi untuk memaksimalkan potensi usaha yang sebelumnya sulit dijalankan oleh BUMDes sendiri.
“Salah satu bentuk kolaborasi itu terjadi di desa-desa tertentu, di mana usaha BUMDes yang berjalan kemudian dikelola bersama dengan koperasi Merah Putih agar lebih efektif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Perihal permodalan, Koperasi Merah Putih dinilai memiliki fleksibilitas sumber modal lebih beragam. Selain berasal dari iuran anggota, koperasi juga dapat menerima penyertaan modal desa maupun pinjaman sesuai kebutuhan usaha, yang dibahas bersama dalam rapat anggota.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten PPU memastikan pendampingan koperasi akan terus dilakukan, baik oleh pemerintah daerah, perguruan tinggi mitra, maupun tenaga pendamping profesional. Hal ini bertujuan untuk menjadikan koperasi benar-benar sebagai kekuatan ekonomi rakyat yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan kelurahan.
“Kita ingin koperasi ini benar-benar hidup, usahanya jalan, dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat desa dan kelurahan,” pungkas Margono.
Pewarta: Robbi Lalat



