Kutai Kartanegara – Deru mesin Vespa dari berbagai penjuru Indonesia berpadu dengan riuh tawa dan sapaan akrab di Pantai Tanah Merah, Kecamatan Samboja, saat gelaran Wadah Badapat Scooter (WBS) Kaltim-Kaltara XXXVIII berlangsung pada 25–26 April 2026. Ribuan scooterist tumpah ruah dalam satu ruang kebersamaan, merayakan bukan hanya hobi, tetapi juga persaudaraan yang telah lama terjalin.
Kegiatan ini menjadi semakin istimewa karena dirangkai dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-14 Scooter Pesisir Club (SPC) sebagai tuan rumah. Bagi para peserta, WBS bukan sekadar agenda tahunan, melainkan momentum temu kangen, berbagi cerita perjalanan, hingga mempererat jaringan komunitas lintas daerah.
Sejak hari pertama, kawasan pantai dipenuhi deretan Vespa berbagai jenis, mulai dari klasik hingga modifikasi ekstrem. Beberapa tampil nyentrik, mencuri perhatian, sementara lainnya tetap mempertahankan orisinalitas yang justru menjadi daya tarik tersendiri. Di antara barisan itu, para pemiliknya tampak santai berbincang, saling bertukar pengalaman, bahkan menawarkan bantuan jika ada Vespa yang perlu “disentuh” di lokasi.
Suasana semakin hidup saat rolling city digelar. Ratusan Vespa bergerak beriringan menyusuri jalanan Samboja, menciptakan pemandangan konvoi panjang yang tak hanya menarik perhatian warga, tetapi juga menjadi simbol solidnya komunitas ini. Klakson berbunyi bersahutan, tangan saling melambai, menghadirkan energi yang sulit ditemukan di kegiatan lain.
Ketua panitia, Alfon Perwira Saputra, menyebut pelaksanaan WBS kali ini berjalan lancar dengan tingkat partisipasi yang tinggi, didukung momentum pasca-Lebaran dan akhir pekan.
“Alhamdulillah, antusiasme peserta sangat baik. Apalagi ini momen setelah Lebaran dan bertepatan dengan akhir pekan, jadi peserta yang hadir cukup banyak,” ujarnya.
Di tengah kemeriahan, sisi kemanusiaan juga menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Stan donor darah menjadi salah satu titik yang ramai dikunjungi, bahkan sebelum dibuka secara resmi.
“Kegiatan donor darah mendapat respons sangat baik. Bahkan sebelum dibuka resmi, sudah ada peserta yang datang untuk mendonor,” katanya.
Tak jauh dari lokasi utama, dapur umum menghadirkan suasana hangat yang sederhana. Para peserta berkumpul tanpa sekat, menikmati hidangan sambil berbagi cerita. Di tempat ini, perbedaan asal daerah seolah hilang, digantikan oleh rasa kebersamaan yang kuat.

Memasuki sore hingga malam hari, panggung hiburan menjadi pusat perhatian. Musik mengalun, peserta larut dalam suasana santai, sementara sebagian lainnya menikmati kegiatan seperti senam Zumba yang sebelumnya digelar dan disambut meriah.
Keseruan WBS juga hadir dari interaksi spontan—mulai dari tukar atribut komunitas, diskusi ringan soal Vespa, hingga cerita perjalanan panjang menuju Samboja. Semua menjadi bagian dari pengalaman yang membekas bagi para peserta.
Di balik kelancaran acara, panitia tetap melakukan evaluasi untuk penyelenggaraan ke depan.
“Kalau secara umum, setiap acara pasti ada evaluasi untuk perbaikan ke depan. Semua rangkaian kegiatan juga kami evaluasi agar pelaksanaan berikutnya bisa lebih baik,” ujar Alfon.
Ia mengakui, tantangan teknis dan koordinasi tetap ada, namun dapat diatasi berkat dukungan berbagai pihak.
“Tantangan pasti ada, tapi alhamdulillah kami didukung relasi dan vendor yang membantu sehingga semua bisa berjalan dengan baik,” tambahnya.
Foto: Ribuan pecinta Vespa memadati kawasan Samboja dalam gelaran WBSK Kaltim-Kaltara 2026. (WB...
Sebagai penutup, musyawarah besar komunitas menetapkan bahwa estafet penyelenggaraan WBS berikutnya akan dilanjutkan oleh komunitas Vespa dari Balikpapan.
“Sesuai hasil mubes, pelaksanaan WBS berikutnya akan diambil oleh VOG dari Kota Balikpapan,” jelasnya.
Lebih dari sekadar pertemuan komunitas, WBS Kaltim-Kaltara XXXVIII di Samboja menjadi ruang di mana solidaritas tumbuh secara alami. Sebuah perayaan sederhana namun bermakna, yang menegaskan bahwa Vespa bukan hanya kendaraan, tetapi juga pengikat jutaan cerita dan persaudaraan.
“Kami berharap seluruh pecinta Vespa tetap menjaga solidaritas. Salam budaya, satu juta saudara. Kami ingin terus memasyarakatkan Vespa dan memvespakan masyarakat,” pungkasnya.
Pewarta: Robbi Lalat