Beranda blog Halaman 63

Kukar Gandeng Unmul Kembangkan Hilirisasi Keratom dan Teratai

TENGGARONG – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mulai mendorong penguatan ekonomi daerah melalui program hilirisasi komoditas unggulan lokal.

Salah satu fokus utama yang disiapkan yakni pengembangan industri pengolahan keratom dan tanaman khas seperti teratai agar memiliki nilai tambah lebih tinggi dibanding hanya dijual dalam bentuk bahan mentah.

Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, mengatakan saat ini komoditas keratom asal Kukar sebenarnya sudah menembus pasar ekspor, khususnya ke India. Namun, produk tersebut masih dipasarkan dalam bentuk bahan baku sehingga nilai ekonominya dinilai belum optimal.

“Keratom ini sebenarnya punya nilai yang jauh lebih tinggi ketika sudah diolah menjadi ekstrak, bukan lagi dalam bentuk bahan mentah,” ujarnya.

Selain keratom, Pemkab Kukar juga mulai melirik potensi tanaman lokal lain yang dinilai memiliki peluang besar di pasar global, salah satunya teratai.

Menurut Aulia, tanaman tersebut memiliki potensi ekonomi tinggi apabila dikembangkan melalui proses hilirisasi dan pengolahan berbasis industri.

“Tidak hanya keratom, ada juga tanaman khas seperti teratai yang punya nilai tinggi ketika sudah dalam bentuk ekstrak,” katanya.

Ia menegaskan, pengembangan komoditas daerah ke depan tidak bisa lagi hanya berhenti pada tahap produksi bahan baku. Pemerintah daerah ingin mendorong lahirnya industri pengolahan agar manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Untuk mendukung program tersebut, Pemkab Kukar menggandeng kalangan akademisi, khususnya dari Fakultas Farmasi dan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman.

Kolaborasi tersebut dilakukan guna memastikan proses pengembangan dan pengolahan berjalan berbasis riset ilmiah dan memiliki standar yang jelas.

“Ini bukan hanya melibatkan badan usaha, tetapi juga akademisi agar pengembangannya bisa berjalan dengan baik dan terarah,” sebutnya.

Sebagai langkah awal, Pemkab Kukar menargetkan penyelesaian studi kelayakan atau feasibility study pada tahun 2026.

Kajian tersebut nantinya menjadi dasar untuk memetakan potensi komoditas, kebutuhan teknologi, kesiapan pasar, hingga arah pengembangan industri hilirisasi di Kukar.

Aulia menegaskan tujuan utama program ini adalah meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal sekaligus mendorong kesejahteraan masyarakat.

“Harapan kita, bahan baku yang ada di Kukar ini bisa kita olah sehingga memberikan nilai ekonomis yang lebih tinggi,” terangnya.

Setelah studi kelayakan selesai, pemerintah daerah berencana melanjutkan program ke tahap pengadaan mesin dan pembangunan infrastruktur pendukung industri pengolahan.

“Tahun ini target kita feasibility study selesai, dan tahun depan kita sudah bisa masuk ke tahap pengadaan mesin,” pungkasnya. (MK)

Penulis : Ady Wahyudi
Editor : Agus S

Aliansi Advokasi Sebut Ada Tekanan dalam Kesaksian Sidang Gereja

SAMARINDA – Sidang gugatan terhadap Surat Rekomendasi Kementerian Agama (Kemenag) Kota Samarinda terkait rencana pembangunan Gereja Toraja kembali bergulir di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Samarinda, Rabu (6/5/2026).

Agenda persidangan kali ini menghadirkan Lurah Sungai Kledang, Rahmadi, sebagai saksi guna mendalami proses administrasi dukungan warga yang menjadi syarat pembangunan rumah ibadah.

Pemeriksaan tersebut menjadi bagian penting untuk menguji keabsahan proses verifikasi dukungan masyarakat sebagaimana diatur dalam SKB 2 Menteri terkait pendirian rumah ibadah.

Namun, tim kuasa hukum penggugat menilai terdapat sejumlah keterangan dalam persidangan yang dianggap tidak berdasar secara hukum.

Perwakilan Bidang Hukum Aliansi Advokasi Beragam dan Berkeyakinan Kalimantan Timur, I Kadek Indra KW, menyebut kesaksian lurah terkesan dipengaruhi tekanan dari pihak yang menolak pembangunan gereja.

“Menurut kami, ada keberpihakan. Beberapa keterangan terkesan dibuat karena tekanan dari pihak yang menolak pembangunan gereja,” ujarnya usai persidangan.

Kadek juga menyoroti dokumen berkode P44 yang memuat dugaan cacat prosedural terkait manipulasi data dukungan warga.

Menurutnya, tuduhan tersebut tidak memiliki dasar hukum karena tidak pernah disertai laporan kepolisian maupun putusan pengadilan yang menyatakan adanya pemalsuan data.

“Dalam persidangan, lurah mengakui surat itu dibuat hanya untuk menenangkan masyarakat. Tidak ada proses verifikasi atau rekonsiliasi yang memadai sebelumnya,” tambahnya.

Ketua Aliansi Advokasi Beragam dan Berkeyakinan Kaltim, Hendra Kusuma, turut menyampaikan bahwa sebagian keterangan lurah justru memperkuat posisi pihak gereja.

Ia menyebut, berdasarkan fakta persidangan, dukungan administrasi masyarakat sebenarnya telah memenuhi syarat yang ditentukan.

“Lurah menyatakan bahwa syarat administrasi sebenarnya sudah terpenuhi. Total ada 105 dukungan warga asli Sungai Kledang yang telah diverifikasi, jumlah ini sudah melebihi syarat minimal yang ditentukan,” jelas Hendra.

Sementara itu, Gembala Gereja Toraja, Asni, memastikan seluruh proses pengumpulan tanda tangan dilakukan secara terbuka dan langsung mendatangi warga.

“Tidak ada pemalsuan. Kalau ada data yang belum lengkap, itu tidak kami masukkan dalam hitungan. Jadi yang diajukan benar-benar valid dan bisa dipertanggungjawabkan,” tegasnya.

Sidang sengketa rekomendasi pembangunan rumah ibadah tersebut kini memasuki tahap akhir. Majelis Hakim PTUN Samarinda menjadwalkan agenda penyampaian kesimpulan dari para pihak dalam 10 hari ke depan sebelum putusan dibacakan terkait kelanjutan pembangunan Gereja Toraja di Sungai Kledang. (MK)

Pewarta: Dimas
Editor: Agus S

Pemkot Samarinda Siapkan Strategi Perluas Nasabah BPR

0

SAMARINDA – Pemerintah Kota Samarinda melalui Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah memastikan kinerja Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) pada Triwulan I tahun 2026 masih berjalan sesuai target dan dalam kondisi terkendali.

Meski terdapat peningkatan beban pengeluaran di awal tahun, kondisi keuangan perusahaan daerah dinilai tetap aman dan belum mengganggu performa operasional secara keseluruhan.

Kepala Bagian Perekonomian Setda Kota Samarinda, Nadya Turisna, mengatakan evaluasi terhadap seluruh BUMD dilakukan secara rutin setiap triwulan sebagai bagian dari pengawasan pemerintah daerah.

“Setiap triwulan kita memang mengadakan monitoring dan evaluasi untuk semua BUMD. Jadi, mulai dari kinerja, laporan keuangan, maupun laporan operasional mereka sampaikan di setiap triwulannya sesuai amanat Permendagri Nomor 118 Tahun 2018,” ujarnya saat diwawancarai awak media, Rabu (6/5/2026).

Berdasarkan hasil evaluasi hingga Maret 2026, Nadya mengungkapkan terdapat beberapa BUMD yang mencatat pengeluaran lebih besar dibandingkan pendapatan.

Namun, menurutnya kondisi tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya beban belanja pegawai, terutama akibat pembayaran gaji ke-13 pada awal tahun.

“Memang di bulan Maret kemarin ada sedikit belanja yang lebih tinggi daripada pendapatan karena ada pembayaran gaji ke-13, jadi beban di belanja pegawai itu agak meningkat di Triwulan I ini,” jelasnya.

Ia memastikan kondisi tersebut bukan merupakan indikasi kerugian permanen, melainkan bagian dari siklus pengeluaran rutin perusahaan daerah.

“Insyaallah nanti di Triwulan II sudah kembali normal lagi,” tambah Nadya.

Selain melakukan evaluasi kinerja, Pemkot Samarinda juga tengah menyiapkan strategi penguatan sektor perbankan daerah, khususnya untuk Badan Perkreditan Rakyat (BPR).

Menurut Nadya, saat ini sedang disusun pola kolaborasi antara BPR dengan sejumlah perangkat daerah guna memperluas jangkauan layanan dan meningkatkan jumlah nasabah.

“Kami juga sedang merancang strategi bagaimana BPR ini bisa menjaring nasabah lebih banyak lagi. Nanti akan ada kolaborasi, mungkin dengan dinas-dinas terkait, agar penyaluran kredit maupun penghimpunan dana pihak ketiga bisa lebih maksimal,” ungkapnya.

Hingga saat ini, Pemkot Samarinda menilai seluruh BUMD masih berada di jalur yang sesuai dengan target tahunan yang telah ditetapkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).

“Kalau secara umum, semua masih on progress. Target-target yang sudah ditetapkan di rencana kerja anggaran perusahaan masing-masing BUMD masih bisa terkejar hingga akhir tahun nanti,” tutupnya. (MK)

Penulis: Abdi
Editor: Agus S

Disdikbud Kaltim Pastikan Pengangkatan Kepala Sekolah Sesuai Aturan

0

SAMARINDA – Penunjukan Kepala SMK Negeri 8 Samarinda menjadi sorotan publik setelah muncul dugaan adanya kepentingan tertentu di balik keputusan tersebut.

Isu ini berkembang di media sosial seiring beredarnya informasi mengenai kedekatan personal antara Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Timur dengan pejabat yang ditunjuk sebagai kepala sekolah.

Spekulasi semakin menguat setelah keduanya disebut-sebut tinggal berdekatan, sehingga memunculkan pertanyaan publik terkait objektivitas dalam proses penunjukan.

Di tengah polemik tersebut, nama Kepala Bidang Pembinaan SMK Disdikbud Kaltim, Surasa, turut disebut dalam informasi yang beredar.

Menanggapi hal itu, Surasa memberikan klarifikasi dan membantah adanya keterlibatan dirinya dalam proses pengangkatan kepala sekolah.

“Dalam pengangkatan kepala sekolah, ada pihak lain yang memiliki kewenangan khusus untuk menangani hal tersebut,” ujarnya kepada awak media, Rabu (6/5/2026).

Ia menegaskan bahwa bidang yang dipimpinnya tidak memiliki kewenangan untuk melakukan intervensi terhadap penunjukan kepala sekolah di lingkungan SMK.

“Secara langsung, kami tidak memiliki keterkaitan maupun kewenangan untuk mengintervensi proses pengangkatan kepala sekolah di SMK mana pun,” tegasnya.

Surasa menjelaskan, fokus tugas Bidang Pembinaan SMK lebih diarahkan pada peningkatan mutu pendidikan kejuruan serta pemerataan akses pendidikan di Kalimantan Timur.

Ia juga memastikan seluruh mekanisme pengangkatan kepala sekolah telah mengacu pada regulasi resmi pemerintah.

“Semua mekanisme sudah diatur dalam Permendikdasmen Nomor 7 Tahun 2025. Kami di bidang Pembinaan SMK tetap berpegang pada profesionalisme aparatur,” pungkasnya. (MK)

Penulis: Hadi Winata
Editor: Agus S

Flyer Debat Rudy Mas’ud dan Ketua BEM Unmul Dipastikan Sepihak

0

SAMARINDA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur membantah informasi yang beredar di media sosial terkait kehadiran Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, dalam agenda debat publik yang disebut digelar oleh BEM KM Universitas Mulawarman.

Klarifikasi tersebut disampaikan langsung Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim, Muhammad Faisal. Ia menegaskan flyer yang beredar tidak pernah dikonfirmasi kepada pihak Pemprov maupun gubernur.

“Flyer itu tidak benar dan tidak pernah dikonfirmasi kepada kami,” tegas Faisal di Samarinda, Rabu (6/5/2026).

Menurutnya, hingga saat ini Gubernur Kaltim tidak pernah memberikan konfirmasi kehadiran dalam agenda debat sebagaimana tercantum di flyer tersebut. Bahkan saat ini Rudy Mas’ud diketahui sedang berada di Jakarta untuk menjalankan agenda lain.

Flyer yang ramai beredar diketahui merupakan materi publikasi dari BEM KM Universitas Mulawarman. Dalam flyer itu tertulis narasi “Gubernur Kaltim Menerima Tantangan Debat” dengan tema “Inkompetensi Pemerintah dalam Menentukan Skala Prioritas”.

Agenda tersebut direncanakan berlangsung di Teras Samarinda pada Rabu (6/5/2026) pukul 15.00 WITA sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Buruh dan Hari Pendidikan Nasional.

Selain Ketua BEM KM Unmul, kegiatan itu juga disebut menghadirkan Ketua BEM UGM 2025, Tiyo Ardianto.

Faisal menegaskan, informasi publik yang mencatut nama kepala daerah seharusnya terlebih dahulu dikonfirmasi kepada pihak terkait agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat.

Ia juga mengimbau masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan tidak langsung mempercayai informasi yang belum memiliki sumber resmi.

“Pandai-pandailah dalam bermedia sosial. Pastikan informasi berasal dari sumber resmi agar tidak menimbulkan kesalahpahaman,” pungkasnya. (MK)

Penulis: Hadi Winata
Editor: Agus S

Pengamat Sebut DPRD Tak Punya Alasan Tunda Hak Angket

0

SAMARINDA – Pengamat kebijakan publik Universitas Mulawarman, Saiful Bachtiar, menyoroti dinamika politik di DPRD Kalimantan Timur terkait rencana penggunaan hak angket yang belakangan mulai mengalami perubahan arah di internal fraksi.

Menurut Saiful, DPRD Kaltim sebelumnya telah menyepakati penggunaan hak angket sebagai respons atas tuntutan massa dalam aksi demonstrasi 21 April 2026 lalu. Kesepakatan tersebut bahkan telah dituangkan secara tertulis dan ditandatangani unsur pimpinan maupun ketua fraksi.

“Yang disepakati dan ditandatangani itu adalah hak angket. Jadi secara tekstual, DPRD sudah menyepakati untuk menggunakan hak angket,” ujarnya.

Ia menilai, berbagai isu yang menjadi sorotan publik sebenarnya telah melalui proses penjabaran dan klarifikasi, termasuk persoalan sewa maupun isu lain yang sebelumnya dipersoalkan massa aksi.

“Masalah yang ada itu sudah dijabarkan, termasuk klarifikasinya soal sewa dan segala macam. Artinya DPRD sudah tidak ada alasan lagi untuk menunda,” katanya.

Namun dalam perkembangannya, muncul dinamika baru di internal DPRD Kaltim. Sejumlah fraksi mulai mempertimbangkan penggunaan hak interpelasi sebagai opsi lain sebelum melangkah lebih jauh.

Fraksi Partai Golkar menjadi salah satu yang mendorong penggunaan hak interpelasi guna meminta penjelasan resmi dari pemerintah daerah terkait berbagai kebijakan yang dipersoalkan.

Saiful menilai, secara hukum DPRD memang memiliki beberapa instrumen pengawasan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

“Dalam undang-undang itu opsional. Mau interpelasi, mau angket, atau menyatakan pendapat, itu bisa dipilih salah satunya,” jelasnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa hak angket memiliki tingkat kewenangan lebih tinggi karena memungkinkan DPRD melakukan penyelidikan terhadap kebijakan pemerintah daerah yang dianggap bermasalah.

Sementara hak interpelasi lebih bersifat meminta penjelasan resmi kepada kepala daerah terkait kebijakan strategis yang diambil pemerintah.

Saiful juga mengingatkan pentingnya memperhatikan syarat formil dan materiil sebelum menentukan instrumen pengawasan yang akan digunakan DPRD.

“Harus dilihat dulu syarat formil dan materiilnya, kemudian objek kebijakan yang akan diuji. Dari situ baru ditentukan hak apa yang digunakan,” tegasnya.

Di tengah perbedaan pandangan antarfraksi tersebut, Saiful meminta DPRD tetap menjaga komitmen awal yang telah dibangun bersama agar tidak menimbulkan persepsi negatif di masyarakat.

“Mestinya sudah bisa ditindaklanjuti. Tinggal bagaimana DPRD menjaga komitmennya,” pungkasnya. (MK)

Penulis: Hadi Winata
Editor: Agus S

Program CSR PHI Raih Sejumlah Penghargaan di Ajang Global CSR & ESG Summit 2026

Bangkok – Enam program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) meraih penghargaan dalam ajang The 18th Annual Global CSR & ESG Summit & Awards 2026 yang digelar di Bangkok, Thailand, pada 23–24 April 2026.

Ajang tersebut merupakan forum apresiasi bagi perusahaan yang dinilai unggul dalam implementasi program berbasis lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). Penilaian dilakukan oleh panel ahli dengan mempertimbangkan aspek dampak, keberlanjutan, dan inovasi.

Manager Communication, Relations & CID (CRC) PHI, Dony Indrawan, mengatakan capaian tersebut mencerminkan konsistensi perusahaan dalam menjalankan program CSR.

“Pencapaian ini mencerminkan komitmen Perusahaan dalam menjadikan prinsip keberlanjutan sebagai fondasi utama dalam setiap lini operasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, program CSR dijalankan sebagai bagian dari penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG) dan ESG.

“Kami percaya keberlanjutan industri migas sangat ditentukan oleh keberhasilan penerapan prinsip ESG dalam seluruh aktivitas bisnis,” tambahnya.

Program-program tersebut dijalankan oleh anak perusahaan dan afiliasi PHI, yakni PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS), PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), serta PT Pertamina EP (PEP) Sangasanga Field, Sangatta Field, dan Tanjung Field.

Predikat Platinum diraih PEP Tanjung Field melalui program SEKARA JIRAK dalam kategori Best Empowerment Woman yang berfokus pada pemberdayaan perempuan berbasis potensi lokal.

PEP Sangasanga Field juga meraih Platinum melalui program Prokesmas Puja pada kategori Best Community Program yang berfokus pada peningkatan kesehatan masyarakat, khususnya penanganan tuberkulosis (TBC) dan stunting.

Pada kategori yang sama, PEP Sangatta Field memperoleh penghargaan Bronze melalui program ECO STEP Semberah yang mengusung pertanian organik berkelanjutan.

Sementara itu, PHSS meraih penghargaan dalam kategori Best Environmental Excellence melalui program BIO KOSMO (Silver) yang berfokus pada pengelolaan sampah, serta BALANIPA RECYCLE (Bronze), program pengolahan limbah tali kapal bekas menjadi produk bernilai ekonomi.

Head of CRC Zona 9 PHI, Dharma Saputra, mengatakan capaian tersebut didukung kolaborasi antara perusahaan dan berbagai pemangku kepentingan.

“Kolaborasi menjadi fondasi utama. Kami melibatkan masyarakat, pelaku UMKM, hingga BUMDes dalam merancang dan menjalankan program CSR,” jelasnya.

Menurutnya, pendekatan tersebut juga berkontribusi terhadap raihan PROPER Hijau Tahun 2025 dari Kementerian Lingkungan Hidup.

Selain itu, PHM meraih penghargaan Platinum dalam kategori Excellence in Provision of Literacy & Education Award melalui program Sekolah Negeri Terapung di kawasan Delta Mahakam.

Head of CRC Zona 8 PHI, Achmad Krisna Hadiyanto, mengatakan program tersebut berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan di wilayah pesisir.

“Kami meyakini pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun masyarakat yang mandiri dan berwawasan luas,” ujarnya.

Program tersebut mencakup penguatan sarana dan prasarana pendidikan, peningkatan kapasitas guru, penyediaan beasiswa, hingga akses pendidikan tinggi bagi masyarakat pesisir.

Pewarta: Deddy Pz
Penyunting: Robbi Lalat

Pembelajaran Bahasa Daerah Terkendala Minimnya Guru Kompeten

0

SAMARINDA – DPRD Kota Samarinda menyoroti kesiapan tenaga pendidik dalam menghadapi penerapan kurikulum baru yang mulai mengarah pada pembelajaran berbasis teknologi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie, menegaskan keberhasilan implementasi kurikulum tidak hanya bergantung pada konsep pembelajaran, tetapi juga kesiapan guru dan dukungan sarana prasarana pendidikan.

Menurutnya, ada tiga komponen utama yang harus berjalan seimbang, yakni kurikulum, kualitas tenaga pengajar, dan fasilitas pendukung. Jika salah satu tidak optimal, maka proses pembelajaran akan mengalami hambatan di lapangan.

“Keberhasilan kurikulum itu bergantung pada kesiapan guru dan dukungan fasilitas. Kalau salah satunya tidak siap, tentu implementasinya tidak akan maksimal,” ujarnya.

Novan juga menyoroti penerapan muatan lokal, khususnya Bahasa Kutai, yang dinilai belum dapat diterapkan secara merata di sekolah-sekolah Samarinda karena keterbatasan tenaga pengajar yang memiliki kompetensi di bidang tersebut.

“Masih banyak sekolah yang belum bisa mengajarkan bahasa daerah karena gurunya belum menguasai,” katanya.

Selain itu, perkembangan teknologi dalam dunia pendidikan menjadi tantangan baru bagi tenaga pengajar. Materi pembelajaran seperti coding dan AI disebut membutuhkan kemampuan khusus yang belum dimiliki seluruh guru.

Ia mengungkapkan, beberapa sekolah bahkan mulai menggandeng pihak luar untuk membantu proses pembelajaran berbasis teknologi sebagai solusi sementara.

“Ini menjadi pekerjaan rumah besar. Tidak semua tenaga pengajar siap dengan materi berbasis teknologi,” tegasnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Samarinda, Ibnu Araby, mengakui bahwa kesiapan sumber daya manusia dan sarana pendukung masih menjadi kendala utama dalam penerapan kurikulum berbasis digital.

Menurutnya, program pembelajaran digital sebenarnya sudah mulai dijalankan sejak tahun lalu, namun implementasinya belum sepenuhnya optimal.

“Kami sudah mulai sejak tahun sebelumnya, tetapi memang masih terkendala pada kesiapan guru dan sarana pendukung,” jelasnya.

Ia menambahkan, peningkatan kompetensi guru akan menjadi fokus utama pemerintah daerah agar transformasi pendidikan berbasis teknologi dapat berjalan efektif di seluruh sekolah.

“Kalau gurunya belum siap, tentu pembelajaran seperti coding dan AI tidak bisa berjalan optimal,” pungkasnya. (MK)

Penulis: Hadi Winata
Editor: Agus S

Tito Karnavian Dorong Kepala Daerah Bersaing Secara Sehat

BALIKPAPAN — Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menggelar Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 Regional Kalimantan di Ballroom Hotel Platinum Balikpapan, Selasa (5/5/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya, serta Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait.

Turut hadir para gubernur se-Kalimantan, termasuk Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud, serta seluruh bupati dan wali kota dari lima provinsi di Pulau Kalimantan.

Dalam ajang tersebut, Kemendagri memberikan penghargaan kepada pemerintah daerah dengan kinerja terbaik pada sejumlah kategori, di antaranya penanggulangan kemiskinan dan stunting, entrepreneur government atau creative financing, penurunan tingkat pengangguran, pengendalian inflasi, hingga tata kelola pemerintahan.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengatakan penghargaan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah pusat mendorong peningkatan kinerja kepala daerah melalui persaingan yang sehat.

“Sebagai kepala daerah yang dipilih rakyatnya, metode terbaik adalah menciptakan iklim kompetitif sehingga mereka bisa saling bersaing secara sehat,” ujarnya.

Menurut Tito, total terdapat 24 pemerintah daerah di Kalimantan yang menerima apresiasi pada tahun ini.

Ia berharap penghargaan tersebut dapat memacu daerah penerima untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dan kinerja pemerintahan.

“Daerah yang menerima penghargaan akan lebih terpacu, sementara yang belum akan berusaha untuk bisa menjadi pemenang dalam aspek lainnya,” jelasnya.

Adapun indikator penilaian meliputi pengendalian inflasi, penurunan tingkat pengangguran, pengentasan kemiskinan dan stunting, hingga inovasi dalam pengelolaan keuangan daerah.

Tito menyebut tingkat inflasi nasional saat ini berada di kisaran 2,4 persen yang dinilai cukup ideal dalam menjaga keseimbangan ekonomi nasional.

Meski Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur belum berhasil meraih penghargaan dalam ajang tersebut, dua kota di Kaltim berhasil membawa pulang penghargaan bergengsi.

Kota Samarinda meraih Terbaik Pertama kategori Entrepreneur Government/Creative Financing serta Terbaik Pertama Pengendalian Inflasi.

Sementara Kota Bontang berhasil meraih penghargaan Terbaik Pertama kategori Penurunan Tingkat Pengangguran.

Capaian tersebut dinilai menjadi bukti bahwa daerah di Kaltim mampu bersaing dalam aspek inovasi, pengelolaan ekonomi daerah, dan pelayanan publik di tingkat regional Kalimantan. (MK)

Penulis: Aprianto
Editor: Agus S

Bus Ramah Lingkungan Mulai Layani Pelajar di Sangatta Utara

0

SANGATTA — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) resmi meluncurkan program bus sekolah listrik gratis untuk pelajar sebagai bagian dari upaya meningkatkan akses pendidikan sekaligus mendukung transportasi ramah lingkungan.

Program tersebut menjadi salah satu dari 50 program unggulan kepala daerah yang mulai direalisasikan tahun ini.

Peluncuran bus listrik itu merupakan hasil kolaborasi antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim bersama Dinas Perhubungan (Dishub) Kutim.

Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, mengatakan tahap awal program masih berada dalam fase uji coba dengan satu unit armada.

“Pada tahap awal, kami operasikan satu unit sebagai uji coba untuk memastikan kesiapan teknis dan operasional di lapangan,” ujarnya kepada Media Kaltim, Rabu (6/5/2026).

Bus listrik tersebut sementara melayani pelajar di kawasan Sangatta Utara dengan rute prioritas menuju SMA Negeri 2 Sangatta Utara.

Menurut Mulyono, sekolah tersebut dipilih karena masih banyak siswa yang mengalami kendala transportasi untuk berangkat ke sekolah setiap hari.

“Masih banyak pelajar yang kesulitan menjangkau sekolah. Ini yang menjadi perhatian utama kami,” tambahnya.

Rute layanan sementara meliputi kawasan Hotel Pinang, Jalan APT Pranoto, hingga SMA Negeri 2 Sangatta Utara. Penentuan jalur dilakukan berdasarkan kebutuhan mobilitas pelajar di wilayah tersebut.

Uji coba operasional mulai dijalankan sehari setelah peluncuran. Sementara layanan penuh akan diberlakukan setelah evaluasi tahap awal selesai dilakukan.

Seluruh biaya operasional bus ditanggung oleh Dishub Kutim sehingga para pelajar dapat menggunakan layanan tersebut secara gratis.

Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, menegaskan program bus sekolah listrik ini ditujukan membantu pelajar, khususnya dari keluarga yang tidak memiliki kendaraan pribadi.

“Bus sekolah ini kami hadirkan agar anak-anak tidak lagi terkendala transportasi untuk berangkat ke sekolah,” tegasnya.

Ia berharap program tersebut dapat meningkatkan tingkat kehadiran siswa di sekolah sekaligus mengurangi keterlambatan akibat kendala kendaraan.

“Ke depan, kami ingin tidak ada lagi alasan siswa terlambat atau tidak masuk sekolah karena masalah kendaraan,” sambungnya.

Meski saat ini baru tersedia satu unit armada, Pemkab Kutim memastikan akan melakukan penambahan secara bertahap.

Sejumlah wilayah di luar Sangatta juga mulai mengusulkan program serupa agar layanan transportasi pelajar dapat menjangkau lebih banyak kawasan di Kutai Timur.

Selain itu, pemerintah daerah juga akan mengkaji penggunaan jenis armada lain yang dinilai lebih sesuai dengan kondisi geografis masing-masing wilayah di Kutim. (MK)

Penulis: Ramlah
Editor: Agus S