Beranda blog Halaman 53

Menembus Jalur Tenggarong Seberang–Simpang Muara Badak: Sunyi, Berliku, dan Masih Berisiko

Jumat (5/6/2026) kemarin, saya kembali melakukan perjalanan ke luar daerah. Kali ini ke Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar).

Seperti biasanya, setiap keluar daerah saya selalu berupaya menyempatkan singgah ke biro-biro Media Kaltim Network (MKN). Untuk berdiskusi langsung dengan tim di lapangan, melihat perkembangan daerah, sekaligus menjaga silaturahmi.

Dari Samarinda, perjalanan kami awali menuju Masjid Al Qamar di kawasan Teluk Dalam, Tenggarong Seberang. Setelah Salat Jumat, bersama istri dan anak, kami mulai mencari tempat makan khas Kutai.

Beberapa hari sebelumnya, istri sempat melihat review Rumah Makan Oemar di TikTok. Akhirnya saya meminta Direktur Radar Kukar, Muhammad Rafii, untuk sekalian memesankan tempat.

Dan ternyata memang layak dicoba.

Saat datang, pengunjung cukup ramai. Beberapa meja bahkan sudah terisi penuh. Menu yang tersaji di meja juga benar-benar khas Kutai.

Salah satu ruas jalan cor di jalur alternatif Tenggarong Seberang–Simpang Muara Badak yang kini mulai banyak dilalui warga. Peta perjalanan saya dari Tenggarong Seberang hingga masuk jalur Batu Besaung menuju Simpang Muara Badak. Foto: Istimewa

Ada nila bakar, dan gence nila dengan bumbu yang terasa sampai ke dalam daging ikan. Lais goreng yang renyah. Sambal jaong dengan rasa pedas khas Kutai yang kuat. Sambal cacapan mangga yang segar. Ditambah sayur labu kuah kuning dan terong bakar yang jadi pelengkap pas.

Model masakannya terasa seperti masakan rumahan. Tidak terlalu banyak bumbu modern atau rasa instan. Justru ini yang bikin enak.

Sambil makan, saya dan Rafii juga berdiskusi banyak hal. Mulai perkembangan radarkukar.com, kondisi media saat ini, sampai jalur alternatif melalui Batu Besaung Tenggarong Seberang yang belakangan mulai ramai diperbincangkan warga Kukar dan Samarinda.

Dari obrolan itu akhirnya muncul niat spontan untuk mencoba langsung jalur tersebut menuju Simpang Muara Badak dan lanjut ke Bontang.

Harapannya, siapa tahu bisa memangkas waktu dibanding harus memutar lagi lewat Samarinda.

Jalur alternatif Tenggarong Seberang–Simpang Muara Badak mulai ramai digunakan sebagai akses menuju Bontang tanpa masuk Kota Samarinda. Foto: Istimewa

Apalagi saya memang sengaja menyiapkan dashcam sepanjang perjalanan. Rencananya perjalanan ini ingin saya dokumentasikan penuh dari awal sampai akhir. Mulai kondisi jalan, tikungan, titik rawan, sampai suasana jalur yang selama ini ramai dibicarakan di media sosial.

Siapa tahu bisa menjadi video eksklusif perjalanan jalur Tenggarong Seberang–Simpang Muara Badak yang benar-benar utuh menit per menit.

Namun ternyata ada kendala. Penyimpanan di dashcam penuh dan sistem rekam otomatisnya menimpa video lama. Akibatnya, yang tersimpan justru hanya bagian akhir perjalanan. Sementara rekaman awal hingga pertengahan jalur sebagian besar hilang.

Padahal justru di bagian awal itulah banyak momen menarik dan cukup menegangkan.

Bahkan awalnya saya sempat kelewatan sampai L4. Baru sadar setelah bertanya di sebuah warung bakso di pinggir jalan. Saat itu sempat terpikir untuk putar balik lagi ke Samarinda.

Namun setelah melihat plang besar yang menunjukkan arah Samarinda dan Batu Besaung di L2, perjalanan akhirnya tetap saya lanjutkan.

Dan terus terang, jalur ini memang belum sepenuhnya nyaman.

Awalnya saya mengira jalur ini sudah benar-benar mulus. Sebab dari berbagai review TikTok yang saya lihat, banyak yang mulai menyebut jalur ini sudah layak menjadi alternatif utama menuju Simpang Muara Badak, jalur poros Samarinda-Bontang.

Dan memang sebagian besar jalan sudah jauh berubah.

Banyak ruas sudah dicor beton dan diperlebar. Beberapa bagian jalan provinsi bahkan cukup nyaman dilalui mobil keluarga seperti Veloz, Avanza, atau Innova. Tapi untuk jenis sedan, saya pribadi belum terlalu merekomendasikan.

Begitu masuk kawasan Batu Besaung, suasananya langsung berubah.

Jalan mulai menyempit. Tikungan demi tikungan muncul cukup panjang. Di kanan kiri didominasi hutan, kebun sawit, lembah, dan sesekali rumah warga yang berjauhan.

Ada satu simpang yang sempat membuat bingung. Antara arah Batu Cermin dan Batu Besaung. Untung masih sempat bertanya.

Memang sekitar 90 persen jalur sudah cukup baik. Tetapi masih ada beberapa titik yang menurut saya cukup rawan.

Ada tanjakan curam berbatu walaupun jaraknya mungkin hanya sekitar 100 meter. Ada juga badan jalan yang tinggal separuh akibat longsoran di sisi tebing.

Di satu titik bahkan sempat terlihat seperti jalan putus karena badan jalan menyempit cukup ekstrem.

Kalau malam hari atau saat hujan deras, saya pribadi benar-benar tidak merekomendasikan jalur ini untuk kendaraan atau motor yang belum familiar dengan medan.

Karena selain minim penerangan, suasananya juga sangat sepi. Di beberapa titik bahkan nyaris tidak ada rumah penduduk. Sinyal telepon juga kadang hilang muncul. Kalau kendaraan bermasalah di tengah jalan malam hari, situasinya tentu cukup berisiko.

Belum lagi potensi tindak kejahatan tentu tidak bisa diabaikan. Jalur yang panjang, sepi, dan jauh dari permukiman memang selalu menyimpan potensi kerawanan tersendiri, apalagi jika melintas sendirian pada malam hari.

Karena itu, kalau memang harus melintas, saya pribadi lebih menyarankan dilakukan siang atau sore hari. Pastikan kendaraan benar-benar prima dan BBM cukup sebelum masuk jalur ini.

Meski begitu, saya melihat jalur ini sangat penting untuk masa depan konektivitas Kukar, Samarinda hingga Bontang.

Karena sebenarnya titik rawannya tidak banyak. Hanya sekitar lima titik yang memang perlu benar-benar diselesaikan pemerintah. Sisanya sudah cukup layak.

Dari berbagai review yang saya lihat sebelumnya, beberapa bulan lalu jalur ini masih dipenuhi aktivitas alat berat dan pekerjaan jalan. Namun saat saya melintas kemarin, praktis sudah tidak terlihat lagi pekerjaan berarti di sepanjang jalur tersebut.

Artinya progresnya memang sudah jauh berkembang.

Hanya saja jalur ini masih membutuhkan sentuhan akhir. Terutama pengaman longsor, pelebaran beberapa titik sempit, penerangan, dan rambu penunjuk arah yang lebih jelas.

Soal waktu tempuh sendiri ternyata tidak terlalu berbeda jauh dibanding jalur biasa lewat Samarinda. Dari Tenggarong Seberang menuju Simpang Muara Badak berkisar sekitar 60–70 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam, tergantung kondisi jalan dan cuaca. Saat saya melintas, cuaca cukup cerah sehingga perjalanan relatif lancar.

Tetapi perjalanan ini tetap memberi pengalaman berbeda. Sunyi. Hijau. Berliku. Kadang membuat waswas, tapi sekaligus menarik.

Dan mungkin justru karena rekaman dashcam itu tidak tersimpan utuh, perjalanan ini akhirnya lebih banyak tersimpan di ingatan dibanding di video. (*)

Oleh: Agus Susanto, S.Hut., S.H., M.H.

Dari 417 Menjadi 5.147, UMKM di Kawasan IKN Tumbuh Pesat Dalam Tiga Tahun

Pembaca Setia Radar Ibukota!

Ingin tahu kabar terkini Koran Digital Radar Ibukota?

Kunjungi link di bawah ini untuk membaca e-paper lengkapnya:

https://koran.radaribukota.com

https://digital.radaribukota.com/rik5juni2026/mobile/

Radar Ibukota – Aktual & Terpercaya!

Satwa Liar Mulai Kembali ke IKN, Konsep Smart Forest City Dinilai Berhasil

0

NUSANTARA – Ekosistem alam mulai kembali tumbuh dan berkembang di tengah pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Kehadiran berbagai satwa liar seperti beruang madu, lutung merah, rusa sambar, hingga burung hutan menjadi penanda bahwa kawasan Nusantara mulai membentuk ekosistem yang sehat seiring konsep smart forest city yang terus dikembangkan.

Komitmen penghijauan kawasan IKN kembali ditegaskan melalui kegiatan penanaman pohon dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diselenggarakan Otorita Ibu Kota Nusantara bersama PT Pamapersada Nusantara dan Universitas Gadjah Mada di kawasan Wanagama IKN, Jumat (5/6/2026).

Kegiatan bertema “Rooting for Future” tersebut dihadiri Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, Rektor UGM Ova Emilia, serta Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan Kementerian Kehutanan, Muhammad Zainal Arifin.

Basuki Hadimuljono menegaskan pembangunan IKN tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga mengembalikan fungsi alami lingkungan agar manusia dan alam dapat hidup berdampingan.

“Hari Lingkungan Hidup tidak hanya kita peringati setahun sekali, tetapi kita jalankan setiap hari. Yang kita lakukan di IKN bukan sekadar menanam pohon, tetapi mengembalikan kehidupan alamnya. Karena itu, kita mulai melihat berbagai satwa seperti beruang madu dan lutung merah kembali terpantau di kawasan IKN. Ini menunjukkan bahwa ekosistem yang kita bangun mulai hidup dan memberikan ruang bagi keanekaragaman hayati untuk berkembang,” ujar Basuki.

Sementara itu, Ova Emilia menyebut kesehatan lingkungan merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan manusia.

“Kesehatan bumi pada akhirnya akan menentukan kesehatan manusia. Apa yang kita lakukan hari ini merupakan investasi untuk masa depan. Kami berharap pohon-pohon yang ditanam dapat tumbuh dan memberikan manfaat ekologis dalam jangka panjang. UGM siap mendukung pengembangan IKN sebagai smart forest city yang menjadi contoh pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.

Perwakilan PT Pamapersada Nusantara, Gunawan Setiadi, mengatakan keterlibatan perusahaan menjadi bagian dari komitmen mendukung konservasi lingkungan sekaligus pengembangan kawasan edukasi berbasis alam.

“Komitmen ini merupakan pengembangan dari konsep Eco Edu Forest yang mengintegrasikan konservasi, pendidikan, dan penelitian dalam satu kawasan. Kami berharap kawasan ini dapat menjadi laboratorium alam sekaligus pusat edukasi lingkungan yang memberikan manfaat bagi generasi masa depan,” katanya.

Melalui kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha, IKN terus memperkuat transformasi sebagai kota masa depan yang menempatkan keseimbangan pembangunan dan kelestarian alam sebagai prioritas utama.

Wanagama IKN sendiri merupakan kawasan hutan seluas 621 hektare yang berada di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Nusantara dan dikembangkan sebagai pusat pendidikan, penelitian, serta restorasi ekosistem hutan hujan tropis. (MK)

Penyunting: Atmaja Riski
Editor: Agus S

Keluarga Korban Tempuh Jalur Dialog Sebelum Ambil Langkah Hukum

SAMARINDA – Kasus dugaan kejanggalan medis yang berujung pada meninggalnya seorang pasien di RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda kini memasuki babak baru. Pihak keluarga korban mendesak manajemen rumah sakit terbesar di Kalimantan Timur tersebut untuk membuka fakta sebenarnya secara transparan dan akuntabel.

Suasana haru dan penuh ketegangan mewarnai pertemuan tertutup antara keluarga pasien dengan jajaran manajemen RSUD AWS pada Jumat (5/6/2026). Dalam pertemuan itu, keluarga menyampaikan berbagai keluhan sekaligus mempertanyakan prosedur medis yang dijalani korban sebelum meninggal dunia.

Kedatangan keluarga ke rumah sakit didasari belum adanya kepastian terkait penyebab pasti kematian korban. Hingga kini, pihak keluarga mengaku masih belum memperoleh diagnosis medis final lantaran hasil pemeriksaan laboratorium resmi belum juga keluar.

Perwakilan keluarga korban, Bambang Edy Dharma didampingi Hendrik Tandoh, menegaskan bahwa pihak keluarga membutuhkan penjelasan yang rasional dan dapat dipertanggungjawabkan secara medis.

“Hari ini kami sudah menyampaikan keluhan dan unek-unek keluarga besar terkait permasalahan kemarin. Kami mohon kawan-kawan media menahan diri sampai ada hasil dari komitmen pihak rumah sakit yang akan segera melakukan audit internal,” ujar Bambang usai pertemuan.

Keluarga memilih menempuh jalur dialogis terlebih dahulu dan memberi kesempatan kepada pihak rumah sakit untuk melakukan evaluasi internal sebelum menentukan langkah hukum ataupun tindakan lanjutan lainnya.

Bagi keluarga, kepastian penyebab kematian sangat penting untuk memastikan apakah pelayanan yang diberikan telah sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) atau justru terdapat indikasi kelalaian medis.

Menanggapi hal tersebut, Pelaksana Tugas Direktur RSUD AWS Samarinda, Mazniati, mengaku turut merasakan duka mendalam atas peristiwa tersebut.

“Kebetulan anak ini seumuran dengan anak saya yang kedua, jadi saya bisa merasakan bagaimana kehilangan seseorang yang menjadi kebanggaan keluarga. Dalam waktu dekat akan kami telusuri,” ungkap Mazniati.

Sebagai bentuk tanggung jawab, pihak rumah sakit langsung menginstruksikan komite medik untuk melakukan audit internal secara menyeluruh. Audit tersebut akan mencakup pemeriksaan rekam medis, prosedur penanganan awal, hasil pemeriksaan penunjang, hingga tindakan medis terakhir yang diterima pasien.

Kasus ini pun menyedot perhatian masyarakat Samarinda dan Kalimantan Timur. Spekulasi yang berkembang membuat manajemen RSUD AWS bergerak cepat demi menjaga kredibilitas rumah sakit.

Di akhir pertemuan, manajemen RSUD AWS berkomitmen menyelesaikan audit internal dan akan memaparkan hasil investigasi secara terbuka pada Selasa pekan depan.

Komitmen tersebut disambut baik oleh pihak keluarga yang kini menunggu hasil audit sebagai dasar menentukan langkah selanjutnya demi memperoleh kejelasan dan kepastian atas penyebab meninggalnya korban. (MK)

Pewarta: Dimas
Editor: Agus S

Mahulu Libatkan Perguruan Tinggi untuk Pembangunan Berbasis Riset

0

UJOH BILANG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mahakam Ulu (Mahulu) bersama Universitas Hasanuddin resmi memperpanjang Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) guna memperkuat pengembangan sumber daya manusia (SDM), peningkatan kapasitas kelembagaan, dan percepatan pembangunan daerah berbasis riset.

Penandatanganan kerja sama dilakukan oleh Angela Idang Belawan bersama Wakil Rektor IV Bidang Kemitraan, Inovasi, Kewirausahaan, dan Bisnis Unhas, Adi Maulana, di Ruang Rektorat Unhas, Sulawesi Selatan, Selasa (2/6/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Bupati Angela didampingi Sekretaris Daerah Stephanus Madang, Ketua TP-PKK Mega Petra Marten, Inspektur Margono, Kepala Bapelitbangda Yohanes Andi Abeh, Kepala Disdikbud Samson Batang, serta sejumlah kepala OPD terkait.

Angela mengapresiasi komitmen Unhas yang selama ini dinilai aktif memberikan pendampingan akademik kepada Pemkab Mahulu.

“Kerja sama yang terjalin memberi manfaat nyata bagi Mahulu. Kualitas SDM terus meningkat dan produk hukum daerah jadi lebih kuat secara akademis serta dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Sebagai kabupaten termuda di Kalimantan Timur, Mahulu masih menghadapi tantangan di bidang aksesibilitas, infrastruktur, hingga peningkatan kapasitas aparatur pemerintahan. Karena itu, kolaborasi dengan perguruan tinggi dinilai menjadi langkah strategis untuk mendukung pembangunan berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi.

Melalui perpanjangan MoU tersebut, Pemkab Mahulu berharap cakupan kerja sama dapat diperluas ke berbagai bidang strategis, mulai dari akses pendidikan tinggi bagi putra-putri daerah, penguatan kapasitas pemerintahan, tata ruang wilayah, pertanian, hingga sektor perikanan darat.

“Kami berharap semakin banyak putra-putri Mahulu mendapat akses pendidikan tinggi berkualitas. Sinergi pemerintah daerah dan perguruan tinggi menjadi langkah strategis menghadirkan kebijakan pembangunan yang terukur, berbasis riset, dan menjawab kebutuhan masyarakat,” katanya.

Angela meyakini kerja sama lanjutan antara Pemkab Mahulu dan Unhas akan semakin memperkuat hubungan kelembagaan kedua pihak serta melahirkan berbagai program kolaboratif yang berdampak nyata bagi kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat. (MK)

Pewarta: Ichal
Editor: Agus S

Infrastruktur Permukiman Jadi Fokus Pemkab Mahulu di Kawasan Pedalaman

0

UJOH BILANG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mahakam Ulu (Mahulu) melalui Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang Perumahan dan Kawasan Permukiman Mahakam Ulu membangun 25 unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) sepanjang tahun 2025.

Program tersebut dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Mahulu dan tersebar di dua kecamatan.

Kepala DPUPRPKP Mahulu, Didik Subagya, menjelaskan pembangunan RTLH tersebut berada di Kecamatan Long Hubung dan Kecamatan Long Bagun.

Sebanyak dua unit dibangun di Kampung Datah Bilang, dua unit di Kampung Batu Majang, dan 21 unit lainnya berada di Kampung Mamahak Besar.

“Di tahun 2026 ini Pemkab Mahulu kembali bangun sedikitnya tujuh unit RTLH di Kampung Batoq Kelo, Kecamatan Long Bagun. Ada empat unit RTLH tambahan yang lokasinya menyesuaikan kebutuhan,” kata Didik, Kamis (4/6/2026).

Didik menegaskan program RTLH yang dijalankan pemerintah daerah tidak dilakukan secara tertutup dan seluruh data pembangunan dapat diakses.

“Sebetulnya tidak ada data yang kita rahasiakan, semuanya terbuka. Koordinasi saja yang perlu ditingkatkan,” tegasnya.

Program pembangunan RTLH menjadi salah satu fokus Pemkab Mahulu dalam meningkatkan kualitas hunian masyarakat, terutama di wilayah pedalaman dan kawasan dengan akses infrastruktur yang masih terbatas.

Pemerintah daerah berharap program tersebut dapat membantu masyarakat memperoleh tempat tinggal yang lebih layak, sehat, dan aman untuk dihuni. (MK)

Pewarta: Ichal
Editor: Agus S

Informasi Masyarakat Kembali Bantu Ungkap Kasus Sabu di Kubar

SENDAWAR – Satuan Reserse Narkoba Polres Kutai Barat kembali mengungkap kasus peredaran narkotika jenis sabu di wilayah Kecamatan Barong Tongkok.

Seorang pria berinisial AFA (30) diamankan petugas bersama 16 paket sabu dengan berat kotor total 12,8 gram di sebuah rumah di Kampung Ngenyan Asa, Selasa dini hari (2/6/2026) sekitar pukul 02.30 Wita.

Kasat Resnarkoba Polres Kubar, Raymond Juliano William, mengatakan pengungkapan tersebut merupakan hasil pengembangan dari kasus narkotika sebelumnya yang telah diungkap Satresnarkoba Polres Kubar.

“Dari hasil pemeriksaan dan pengembangan kasus sebelumnya, anggota dapat informasi keberadaan tersangka dan barang bukti. Setelah penyelidikan, petugas bergerak dan berhasil mengamankan tersangka beserta barang bukti di lokasi,” ujarnya kepada pewarta, Kamis (4/6/2026).

Saat dilakukan penggeledahan, petugas menemukan sabu yang disimpan di beberapa tempat di dalam kamar tersangka.

Selain 16 paket sabu, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti lain berupa satu unit telepon genggam, satu unit timbangan digital, uang tunai Rp1,4 juta yang diduga hasil transaksi narkoba, plastik klip kosong, tas pinggang, serta satu unit mobil yang diduga digunakan tersangka dalam aktivitas peredaran narkotika.

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, AFA mengakui seluruh barang bukti sabu tersebut merupakan miliknya dan diperoleh dari seseorang yang kini masih masuk dalam pengembangan jaringan penyidikan.

“Atas perbuatannya, AFA dijerat Pasal 114 ayat (2) UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika juncto Pasal 609 ayat (2) huruf a UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP,” ungkap Raymond.

Ia menegaskan Polres Kutai Barat berkomitmen memberantas peredaran dan penyalahgunaan narkotika di wilayah hukumnya.

“Kami tidak memberi ruang bagi pelaku penyalahgunaan dan peredaran narkotika. Setiap informasi masyarakat akan ditindaklanjuti secara profesional demi menjaga masyarakat dari bahaya narkoba,” tegasnya.

Saat ini tersangka AFA beserta seluruh barang bukti telah diamankan di Polres Kutai Barat untuk menjalani proses penyidikan dan pengembangan jaringan lebih lanjut. (MK)

Pewarta: Ichal
Editor: Agus S

Peredaran Gelap Narkotika di Kubar Jadi Fokus Pengawasan Polisi

SENDAWAR – Satuan Reserse Narkoba Polres Kutai Barat kembali mengungkap kasus peredaran narkotika di wilayah Kutai Barat.

Seorang pria berinisial FS (29) diamankan petugas bersama barang bukti narkotika jenis sabu seberat 32,9 gram di sebuah rumah di Kecamatan Barong Tongkok, Selasa dini hari (2/6/2026) sekitar pukul 01.00 Wita.

Kasat Resnarkoba Polres Kubar, Raymond Juliano William, mengatakan pengungkapan kasus tersebut berawal dari informasi masyarakat yang kemudian ditindaklanjuti dengan penyelidikan oleh personel Satresnarkoba.

“Berbekal informasi dari masyarakat, anggota melakukan penyelidikan hingga berhasil mengamankan terduga pelaku beserta barang bukti narkotika jenis sabu. Ini komitmen kami memberantas peredaran gelap narkotika di Kubar,” ujarnya, Kamis (4/6/2026).

Dari lokasi penangkapan, petugas mengamankan empat paket sabu yang dibungkus plastik klip bening dengan berat kotor total 32,9 gram.

Selain sabu, polisi turut menyita dua unit telepon genggam, satu unit timbangan digital, alat hisap sabu, plastik klip, dan sejumlah perlengkapan lain yang diduga digunakan untuk aktivitas peredaran narkotika.

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, tersangka FS mengakui barang haram tersebut merupakan miliknya dan diperoleh dari seseorang yang kini masih dalam pengembangan penyidikan.

FS juga mengaku sempat menyerahkan sebagian narkotika kepada pihak lain sebelum akhirnya diamankan polisi.

“Atas perbuatannya, FS dijerat Pasal 114 ayat (2) UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika juncto Pasal 609 ayat (2) huruf a UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP,” ungkap Raymond.

Sementara itu, Kapolres Kutai Barat, Boney Wahyu Wicaksono, menegaskan jajarannya tidak akan memberikan ruang bagi pelaku peredaran narkoba di wilayah Kutai Barat.

“Narkoba ancaman serius bagi masyarakat dan generasi muda. Kami ajak masyarakat aktif melapor jika mengetahui aktivitas narkoba. Saat ini tersangka FS dan barang bukti diamankan di Polres Kubar untuk penyidikan lebih lanjut,” tegasnya. (MK)

Pewarta: Ichal
Editor: Agus S

Imigrasi Samarinda Siap Kolaborasi Tingkatkan Pelayanan di Kubar

0

SENDAWAR – Frederick Edwin menerima kunjungan silaturahmi Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Samarinda, Misnal Ariyanto, beserta jajaran di Ruang Kerja Bupati Kutai Barat, Kamis (4/6/2026).

Pertemuan tersebut membahas penguatan pelayanan keimigrasian sekaligus rencana menghadirkan layanan pembuatan paspor yang lebih dekat bagi masyarakat Kutai Barat.

Dalam pertemuan itu, Misnal Ariyanto menyampaikan pihaknya siap berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Kutai Barat untuk menjajaki skema layanan paspor jemput bola atau layanan keliling di wilayah Sendawar.

Menurutnya, layanan tersebut nantinya akan disesuaikan dengan jumlah pemohon dan kesiapan fasilitas pendukung agar proses pengurusan paspor dapat berjalan lebih efektif dan efisien.

“Rencananya layanan ini akan disesuaikan dengan jumlah pemohon dan kesiapan fasilitas, sehingga proses pengurusan paspor bisa lebih efisien tanpa membebani masyarakat dengan biaya transportasi ke Samarinda,” ujarnya.

Sementara itu, Frederick Edwin berharap masyarakat Kutai Barat ke depan tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh ke Samarinda hanya untuk mengurus dokumen paspor.

Ia menilai pelayanan keimigrasian yang lebih dekat dan mudah diakses sangat dibutuhkan masyarakat, terutama dengan meningkatnya kebutuhan perjalanan untuk ibadah umrah, haji, pendidikan, maupun perjalanan dinas.

Bupati juga mengapresiasi komitmen Kantor Imigrasi Samarinda yang dinilai terbuka membangun sinergi dengan pemerintah daerah demi meningkatkan kualitas pelayanan publik di Kutai Barat.

“Ia mengapresiasi komitmen Kantor Imigrasi Samarinda. Bupati berharap kerja sama ini segera terealisasi agar warga Kubar mendapat akses pelayanan keimigrasian yang lebih mudah, cepat, dan dekat,” ungkapnya. (MK)

Pewarta: Ichal
Editor: Agus S

Rekonstruksi Jalan 34 Km Disiapkan Lewat Skema Kolaborasi APBD

0

SENDAWAR – Frederick Edwin mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terhadap rencana rekonstruksi Jalan Bongan-Gerunggung di Kecamatan Bongan yang selama ini menjadi akses utama menuju sejumlah kampung tertinggal di Kutai Barat.

Hal tersebut disampaikan Frederick Edwin saat konferensi pers bersama awak media di Ruang Rapat Lantai III Kantor Bupati Kutai Barat, Kamis (4/6/2026).

Menurut Frederick, hingga 2025 masih terdapat tiga kampung berstatus tertinggal di Kecamatan Bongan, yakni Kampung Deraya, Tanjung Soke, dan Gerunggung. Sementara Kampung Lemper telah naik status menjadi kampung berkembang sejak tahun 2025.

“Empat kampung di ruas jalan ini, Lemper, Deraya, Tanjung Soke, Gerunggung, memiliki 759 jiwa berdasarkan data Disdukcapil 2025. Pemenuhan infrastruktur masyarakat jadi prioritas,” ujarnya.

Berdasarkan SK Jalan Kabupaten Tahun 2022, total panjang ruas jalan dari Jalan Nasional Trans Kaltim Bongan KM 88 menuju Bukit Harapan, Lemper, Deraya, Tanjung Soke hingga Gerunggung mencapai sekitar 45 kilometer.

Saat ini, kondisi jalan yang sudah beraspal maupun beton baru sepanjang 10,17 kilometer. Sedangkan sisanya sekitar 34,83 kilometer masih berupa jalan tanah.

Pemkab Kutai Barat sendiri telah melakukan penanganan jalan sepanjang 8,25 kilometer selama periode 2017 hingga 2025, termasuk pembangunan satu jembatan Belly dan jembatan darurat di 12 titik sungai dengan total anggaran mencapai Rp69,57 miliar.

Pada tahun 2025, Pemkab Kubar kembali mengalokasikan anggaran Rp10 miliar untuk pembangunan jalan beton sepanjang dua kilometer.

Mengacu pada PP Nomor 73 Tahun 2014, Pemkab Kubar kemudian mengusulkan dukungan penanganan jalan kepada Pemprov Kaltim.

Usulan tersebut mendapat respons positif setelah Pemprov Kaltim mengundang Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Kutai Barat pada 19 Mei 2026 untuk membahas penyesuaian belanja infrastruktur tahun 2026.

Hasil pembahasan menyepakati penanganan rekonstruksi Jalan Bongan-Gerunggung melalui APBD Provinsi Kaltim 2026 dengan skema pembangunan aspal sepanjang 19,2 kilometer dan agregat sepanjang 14,8 kilometer.

Pelaksanaan proyek akan dilakukan melalui pembagian ruas teknis antara Dinas PUPR Kaltim dan DPU-PR Kutai Barat. Setelah pembangunan selesai, aset jalan nantinya akan dihibahkan kepada Pemerintah Kabupaten Kutai Barat.

“Penanganan konektivitas ini berdampak signifikan. Membuka akses air bersih, listrik, pendidikan, kesehatan, dan menggerakkan ekonomi warga. Harapan kita, 190 kampung di Kubar naik status jadi berkembang, maju, dan mandiri,” pungkas Frederick Edwin. (MK)

Pewarta: Ichal
Editor: Agus S