Beranda blog Halaman 52

IMM Kaltim Gelar Sarasehan, Bahas Ideologi hingga Regenerasi Organisasi

0

SAMARINDA – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah menyoroti pentingnya penguatan ideologi kader di tengah dinamika politik dan perubahan sosial yang terus berkembang.

Isu tersebut mengemuka dalam kegiatan Sarasehan dan Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) bertema “Gerak Bersama Membangun IMM Kaltim” yang digelar di Aula Gedung E Lantai 4 Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur, Sabtu (9/5/2026).

Kegiatan yang mempertemukan kader aktif dan para demisioner IMM itu menjadi ruang diskusi mengenai arah gerak organisasi serta tantangan regenerasi kader di Kalimantan Timur. Para peserta yang mengenakan jas merah maroon khas IMM tampak mengikuti forum dengan serius dalam suasana penuh kekeluargaan.

Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Andri Rifandi mengatakan penguatan hubungan antara kader muda dan alumni menjadi hal penting agar IMM tetap memiliki pijakan ideologis yang kuat dalam menghadapi perkembangan zaman.

“Forum ini menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara kader dan alumni. Kami ingin pengalaman para pendahulu dapat menjadi bekal bagi kader muda dalam memahami arah perjuangan IMM,” ujarnya.

Menurut Andri, sejumlah tokoh dan demisioner IMM yang hadir dalam sarasehan turut memberikan pandangan mengenai tantangan organisasi mahasiswa di tengah kondisi politik nasional saat ini. Ia menilai kader IMM perlu memahami sejarah perjuangan organisasi agar tidak kehilangan orientasi gerakan.

“Kami berharap peserta bisa mengenal sejarah IMM Kaltim lebih dekat sekaligus memperkuat semangat kolektif menghadapi agenda besar organisasi ke depan,” katanya.

Sarasehan tersebut menghadirkan sejumlah tokoh IMM, di antaranya mantan Ketua Umum DPP IMM periode 1995–1997 Syahril Syah, Ketua Fokal IMM Kaltim Masykur Sarmian, mantan Ketua Umum DPD IMM Kaltim periode 2008–2010 Fitroh Asriadi, serta mantan Ketua Umum DPD IMM Kaltim periode 2015–2017 Zainuddin.

Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, Siswanto Sunandar menilai kader IMM perlu memahami dasar perjuangan organisasi agar tidak mudah terpengaruh dinamika politik praktis.

Ia mengingatkan organisasi mahasiswa memiliki tanggung jawab menjaga nilai ideologis dan intelektualitas kader di tengah situasi politik yang dinilai semakin kompleks.

“Agar kita tidak kehilangan dasar dan landasan. Lebih-lebih di tahun politik dan situasi dunia politik saat ini, sering kali banyak yang tidak membaca dan memahami langkah serta tujuan perjuangan itu sendiri,” tegasnya.

Melalui sarasehan dan Rakorda tersebut, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah berharap konsolidasi organisasi semakin kuat sekaligus mempererat hubungan kader muda dan alumni dalam menjaga keberlangsungan gerakan IMM di Kalimantan Timur. (MK)

Penulis: Hanafi
Editor: Agus S

KNPI Kutim Bawa Semangat Seni Islami ke Tingkat Provinsi

0

SAMARINDA – Komite Nasional Pemuda Indonesia kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembinaan generasi muda melalui bidang seni religi. Hal itu terlihat lewat keikutsertaan tim Habsy binaan KNPI Kutai Timur pada lomba Habsy tingkat Provinsi Kalimantan Timur dalam ajang Kaltim Halal Festival 2026 di Islamic Center Samarinda, Jumat (8/5/2026).

Kaltim Halal Festival 2026 atau Kala Fest 2026 diselenggarakan oleh Bank Indonesia bersama Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah pada 8–10 Mei 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari penguatan ekonomi dan ekosistem halal di Kalimantan Timur, sekaligus menghadirkan ruang kreativitas bagi pelaku UMKM, komunitas, hingga generasi muda daerah.

Keikutsertaan tim Habsy KNPI Kutim tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga momentum memperkenalkan identitas daerah melalui seni islami di tingkat provinsi.

Dalam ajang tersebut, tim Habsy binaan Komite Nasional Pemuda Indonesia berhasil meraih prestasi dan membawa nama Kutai Timur bersaing dengan peserta dari berbagai daerah di Kalimantan Timur.

Tim Habsy turut didampingi langsung Bendahara Umum KNPI Kutai Timur, Syamsul Arief. Kehadiran pengurus KNPI disebut menjadi bentuk dukungan moral sekaligus komitmen organisasi dalam pengembangan potensi anak muda daerah.

Syamsul Arief mengatakan KNPI Kutai Timur akan terus hadir dalam berbagai kegiatan positif kepemudaan, termasuk di bidang seni dan keagamaan. Menurutnya, generasi muda membutuhkan ruang untuk menunjukkan kemampuan dan prestasi mereka.

“KNPI Kutai Timur berkomitmen untuk terus mendukung kegiatan positif kepemudaan,” ujarnya.

Ia menilai pembinaan pemuda tidak hanya terbatas pada kegiatan organisasi formal. Seni religi seperti Habsy juga dinilai mampu melatih kekompakan sekaligus menjaga minat generasi muda terhadap budaya dan syiar Islam.

“Kami ingin anak-anak muda Kutim berani tampil dan mampu membawa nama daerah ke tingkat yang lebih tinggi,” tambahnya.

Menurut Syamsul, keikutsertaan pemuda dalam ajang tingkat provinsi penting untuk membangun rasa percaya diri sekaligus memperluas pengalaman dan jejaring antardaerah.

Pada kesempatan itu, ia juga menyampaikan apresiasi kepada Wakil Bupati Kutai Timur, Mahyunadi, yang dinilai konsisten mendukung aktivitas kepemudaan di Kutai Timur.

“Terima kasih kepada Bapak H. Mahyunadi yang selama ini terus mensupport pemuda-pemudi Kutim dalam berbagai kegiatan kepemudaan. Alhamdulillah, kami juga bisa meraih prestasi dan membawa nama baik Kutai Timur,” katanya.

Komite Nasional Pemuda Indonesia berharap keterlibatan tim Habsy dalam ajang tingkat provinsi dapat menjadi motivasi bagi generasi muda untuk terus aktif dalam kegiatan positif, kreatif, serta mampu mengembangkan potensi diri di bidang seni, budaya, dan sosial kemasyarakatan. (MK)

Penulis: Nuzul Saputra
Editor: Agus S

Surat Edaran Guru Non-ASN Diprotes, JPPI Minta Solusi Nasional

0

JAKARTA – Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia mengkritik terbitnya Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 7 Tahun 2026 yang membatasi masa tugas guru non-ASN di sekolah negeri hanya sampai 31 Desember 2026.

Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia, Ubaid Matraji menilai kebijakan tersebut menunjukkan keberpihakan negara yang hanya terfokus pada guru ASN, sementara jutaan guru non-ASN masih hidup dalam ketidakpastian status dan kesejahteraan.

“Kebijakan ini menunjukkan negara semakin berpihak hanya kepada guru ASN, sementara jutaan guru non-ASN yang selama ini menopang layanan pendidikan justru dibiarkan hidup dalam ketidakpastian,” tegas Ubaid dalam keterangan tertulis, Kamis (8/5/2026).

Menurutnya, kebijakan tersebut berpotensi mendorong pengurangan guru honorer secara sistematis di sekolah negeri. Meski pemerintah menyebut tidak ada pemecatan mendadak, JPPI menilai penghentian bertahap terhadap guru non-ASN tengah disiapkan tanpa solusi yang jelas.

“Pemerintah boleh berdalih tidak ada pemecatan mendadak, tetapi faktanya negara sedang menyiapkan penghentian sistematis terhadap guru non-ASN tanpa solusi yang jelas dan adil bagi semuanya,” ujarnya.

JPPI menilai selama ini guru honorer justru menjadi penopang utama pendidikan nasional akibat kurangnya penyediaan tenaga pendidik oleh negara, terutama di berbagai daerah yang masih kekurangan guru.

Selain itu, organisasi tersebut juga menyoroti minimnya perhatian terhadap guru non-ASN di sekolah swasta dan madrasah swasta yang dinilai terus diabaikan meski menjalankan fungsi pendidikan nasional.

“Negara seperti sedang mengatakan bahwa hanya guru ASN yang pantas hidup sejahtera, sementara guru honorer cukup menjadi tenaga darurat yang dipakai lalu disingkirkan,” kata Ubaid.

Berdasarkan data JPPI yang diolah dari Emis GTK Kementerian Agama dan Dapodik Kemendikdasmen tahun ajaran 2025/2026, terdapat sekitar 2,3 juta guru berstatus non-ASN di sekolah dan madrasah negeri maupun swasta di Indonesia.

JPPI juga menilai persoalan tersebut berkaitan dengan tata kelola anggaran pendidikan yang dinilai belum menyentuh persoalan mendasar sektor pendidikan.

Organisasi itu menyoroti besarnya anggaran pendidikan yang diarahkan pada berbagai program populis, sementara masalah kesejahteraan dan kepastian status guru belum terselesaikan.

“Negara sibuk membiayai program makan-makan MBG, sementara jutaan guru masih hidup dengan upah tidak layak dan status kerja yang tidak pasti,” tegasnya.

Menurut Ubaid, persoalan utama pendidikan nasional saat ini bukan hanya soal pemenuhan konsumsi siswa, tetapi kegagalan negara dalam menyediakan guru yang cukup, berkualitas, dan sejahtera di seluruh wilayah Indonesia.

Karena itu, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia mendesak pemerintah menghentikan pendekatan diskriminatif dalam tata kelola guru nasional dan segera menyusun peta jalan pengangkatan serta perlindungan bagi seluruh guru non-ASN, baik di sekolah negeri maupun swasta.

“Jika negara terus membiarkan 2,3 juta guru non-ASN hidup dalam ketidakpastian, baik status maupun kesejahteraan, maka sesungguhnya negara sedang mengkhianati amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” pungkas Ubaid. (MK)

Penulis: Fajri
Editor: Agus S

Pertamina Dorong Pengawasan Bersama BBM Subsidi di Balikpapan

BALIKPAPAN – PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan terus memperkuat penyaluran BBM subsidi jenis Biosolar di wilayah Balikpapan guna memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi dan distribusi berjalan tepat sasaran.

Langkah tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut atas aspirasi yang disampaikan aliansi sopir truk dan mahasiswa pada Senin (4/5/2026) lalu. Audiensi bersama DPRD Kota Balikpapan, mahasiswa, perwakilan sopir truk, dan BPH Migas selaku regulator telah digelar pada Rabu (6/5/2026).

Dalam pertemuan tersebut, dibahas kondisi penyaluran Biosolar di Kota Balikpapan sekaligus langkah-langkah evaluasi agar distribusi BBM subsidi dapat berjalan lebih efektif dan tepat sasaran.

Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Kalimantan, Edi Mangun, mengatakan BPH Migas akan melakukan evaluasi terhadap kuota penyaluran Biosolar di SPBU 6476119 KM 13 dan SPBU 6476110 KM 15 yang saat ini beroperasi selama 24 jam.

Selain itu, usulan penambahan SPBU penyalur Biosolar dari Pemerintah Kota Balikpapan juga tengah dievaluasi dan diproses secara administratif.

“Pertamina pada prinsipnya mendukung langkah-langkah evaluasi yang dilakukan bersama para pemangku kepentingan agar penyaluran Biosolar di Kota Balikpapan dapat semakin optimal, kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi, dan penyaluran berjalan lebih tepat sasaran,” ujarnya, Sabtu (9/5/2026).

Sebagai upaya menjaga kelancaran distribusi, Pertamina sejak Senin (4/5/2026) telah meningkatkan penyaluran Biosolar di atas kuota harian yang ditetapkan pemerintah.

Untuk SPBU KM 13, penyaluran ditingkatkan menjadi 64 kiloliter per hari atau sekitar 160 persen dari kuota harian. Sedangkan di SPBU KM 15, distribusi meningkat menjadi 40 kiloliter per hari atau sekitar 162,5 persen dari kuota normal.

Meski demikian, Pertamina menegaskan penambahan distribusi tetap dilakukan secara terukur agar kuota BBM subsidi tetap mencukupi hingga akhir tahun dan tepat sasaran sesuai ketentuan pemerintah.

“Kami terus berupaya menjaga ketersediaan stok dan kelancaran penyaluran di lapangan agar aktivitas masyarakat, khususnya sektor transportasi dan logistik, tetap berjalan optimal,” jelasnya.

PT Pertamina Patra Niaga juga mengajak seluruh pihak mulai dari pemerintah daerah, aparat penegak hukum, sopir truk, mahasiswa, hingga masyarakat umum untuk bersama-sama mengawasi distribusi Biosolar subsidi agar tidak disalahgunakan.

Melalui penerapan QR Code Subsidi Tepat, penyaluran diharapkan dapat lebih terkontrol dan benar-benar dinikmati masyarakat yang berhak menerima subsidi BBM. (MK)

Penulis: Aprianto
Editor: Agus S

Lurah Tanjung Laut Indah Turun Langsung Cek Jembatan Bermasalah

0

BONTANG – Sebuah jembatan yang menjadi akses utama warga di RT 11 Kelurahan Tanjung Laut Indah dilaporkan mengalami kerusakan dan diduga kehilangan sejumlah balok penyangga. Kondisi tersebut membuat warga khawatir karena jembatan disebut mulai bergoyang saat dilintasi kendaraan.

Menindaklanjuti informasi yang beredar di masyarakat, Lurah Elis Biantoro langsung turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan. Dari hasil penelusuran awal, diketahui jembatan tersebut merupakan aset milik Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.

“Kemarin kami sudah ke lokasi jembatan yang isunya hilang beberapa bagian. Sebelum ke lapangan kami telusuri dulu, ternyata jembatan tersebut aset provinsi,” ujarnya, Sabtu (9/5/2026).

Saat melakukan pengecekan langsung, pihak kelurahan menemukan adanya bekas baut yang terlepas pada bagian balok penyangga jembatan. Di sisi lain, beberapa baut lainnya masih terlihat terpasang di sejumlah titik.

Menurut Elis, kondisi itu memunculkan dua kemungkinan, yakni komponen penyangga memang belum terpasang sepenuhnya atau benar-benar hilang.

“Setelah saya lihat langsung di balok penyangga ada bekas baut bolong dilepas. Kedua, beberapa meter juga ada baut yang masih terpasang. Jadi ada dua kemungkinan, apakah memang belum dipasang siku atau memang hilang,” katanya.

Ia menjelaskan, bagian yang diduga hilang memiliki panjang sekitar 36 meter sehingga membutuhkan cukup banyak balok penyangga. Namun, warga sekitar mengaku kecil kemungkinan terjadi pencurian karena lingkungan dinilai cukup aman dan terdapat pos siskamling yang aktif melakukan penjagaan.

“Saya sempat tanya warga, mereka merasa lingkungan aman dan ada pos siskamling. Jadi kemungkinan hilang juga masih tanda tanya,” lanjutnya.

Untuk sementara waktu, warga diimbau membatasi penggunaan jembatan, khususnya kendaraan roda empat. Saat ini akses masih diperbolehkan untuk kendaraan roda dua sambil menunggu hasil koordinasi dengan instansi terkait.

“Kami tindak lanjut awal hanya dilewati roda dua. Tetap saya imbau dibatasi untuk roda empat. Sebab jembatan ini seperti di Bontang Kuala, kalau ada urgent bisa masuk untuk roda empat,” ujarnya.

Pihak kelurahan berencana berkoordinasi dengan dinas terkait, termasuk Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kota Bontang guna memastikan kondisi konstruksi jembatan dan mencari penyebab pasti hilangnya bagian penyangga tersebut.

Selain itu, warga juga diminta meningkatkan penjagaan lingkungan, terutama pada malam hari. Dugaan sementara, apabila memang terjadi kehilangan material, pengambilan dilakukan saat kondisi air pasang.

Elis menambahkan, sejauh ini tidak ada laporan resmi yang masuk ke kelurahan. Informasi awal justru diketahui melalui pemberitaan media dan keluhan warga sekitar.

“Tidak ada warga yang melapor langsung, mereka lapor ke media. Karena itu lingkungan saya, maka saya harus lihat langsung,” tutupnya. (MK)

Penulis: Dwi S
Editor: Agus S

Warga Pertanyakan Besaran Retribusi Kawasan Bontang Kuala

0

BONTANG – Penerapan tarif masuk di kawasan wisata Bontang Kuala mulai menuai keluhan dari sejumlah warga. Distribusi penarikan retribusi yang mulai berjalan di kawasan tersebut menetapkan tarif Rp5 ribu untuk orang dewasa dan Rp2 ribu untuk anak-anak.

Sejumlah masyarakat menilai biaya tersebut cukup membebani, terutama bagi pengunjung yang datang bersama keluarga. Mereka mengaku harus menyiapkan pengeluaran tambahan sebelum menikmati fasilitas wisata di kawasan pesisir tersebut.

Salah seorang pengunjung, Selvi, mengaku biaya yang dikeluarkan cukup terasa apabila datang bersama beberapa anggota keluarga.

“Kalau datang bersama keluarga tentu lumayan juga. Belum lagi untuk beli makan atau minuman di sana. Tapi katanya bayar di sini sudah termasuk gratis parkir di dalam,” ujarnya, Sabtu (9/5/2026).

Keluhan lain muncul karena sebagian masyarakat menganggap kawasan BK selama ini merupakan ruang publik terbuka yang kerap dimanfaatkan warga lokal untuk bersantai, menikmati suasana laut, hingga berkumpul bersama keluarga.

Meski demikian, sebagian warga juga memahami penerapan retribusi dilakukan untuk mendukung pemeliharaan kawasan wisata serta menjaga kebersihan lingkungan.

Namun, masyarakat berharap pemerintah dapat memberikan kebijakan khusus bagi warga lokal atau melakukan evaluasi terhadap besaran tarif yang diterapkan.

Diketahui, Pemerintah Kota Bontang sebelumnya mulai menerapkan retribusi di sejumlah kawasan wisata sebagai upaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), sekaligus mendukung perawatan fasilitas umum dan kawasan wisata. (MK)

Penulis: Dwi S
Editor: Agus S

Paradise Indonesia Bangun Ekosistem Bisnis dan Lifestyle Baru di Balikpapan

BALIKPAPAN – Paradise Indonesia melalui entitas anak usahanya, PT Mitra Gemilang Mahacipta, resmi meluncurkan proyek kawasan komersial dan gaya hidup modern bertajuk 88 Plaza Balikpapan, Jumat (8/5/2026).

Peluncuran proyek yang digelar di salah satu hotel di pusat Kota Balikpapan tersebut diresmikan langsung oleh Rahmad Mas’ud dan dimeriahkan penampilan penyanyi nasional Delon Thamrin.

Antusiasme masyarakat dan investor terlihat tinggi dalam peluncuran perdana tersebut. Seluruh unit Business Loft ASHTON tahap pertama yang ditawarkan langsung habis terpesan.

Berlokasi di persimpangan Jalan Syarifuddin Yoes dan Jalan Ruhui Rahayu, kawasan 88 Plaza Balikpapan dibangun di atas lahan seluas 8 hektare. Lokasinya disebut strategis karena hanya berjarak sekitar 10 menit dari Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan serta berada di koridor utama akses Tol 1B IKN–Balikpapan–Samarinda.

CEO Paradise Indonesia, Anthony P. Susilo, mengatakan proyek tersebut tidak hanya difokuskan sebagai kawasan komersial, tetapi juga dirancang sebagai ekosistem bisnis dan gaya hidup terintegrasi.

“Melalui 88 Plaza Balikpapan kami tidak sekadar membangun kawasan komersial, tetapi merancang ekosistem terintegrasi yang menggabungkan bisnis, gaya hidup, dan komunitas. Kami optimistis 88 Plaza Balikpapan akan menjadi katalis pertumbuhan ekonomi dan ruang bagi para kreator serta investor untuk tumbuh bersama,” ujarnya.

Konsep yang diusung adalah low-density development dengan ruang usaha yang lebih eksklusif, nyaman, dan modern. Kawasan tersebut juga dirancang memiliki ruang terbuka lebih luas serta sirkulasi yang mendukung aktivitas bisnis dan gaya hidup masyarakat urban.

Nama “88” dipilih sebagai simbol kemakmuran, keseimbangan, dan keberlanjutan dalam pengembangan proyek. Nantinya, kawasan ini akan dibagi dalam tiga komponen utama yakni Business Hub, Lifestyle Hub, dan kawasan residensial.

Sebagai pusat bisnis modern, 88 Plaza Balikpapan akan dilengkapi business loft, hotel bintang empat internasional, fasilitas MICE, co-working space, virtual office, hingga jaringan internet berbasis serat optik berkecepatan tinggi.

Sementara pada sisi gaya hidup, kawasan ini menghadirkan 88 Yard sebagai pusat kuliner, 88 Park berupa taman terbuka ramah pejalan kaki dan area bermain anak, serta 88 Arena yang difokuskan sebagai pusat olahraga dan kebugaran.

Direktur PT Mitra Gemilang Mahacipta, Dr. Andri Hadi, menilai Balikpapan memiliki prospek ekonomi yang sangat kuat untuk pengembangan properti komersial, terutama dengan posisinya sebagai kota penyangga Ibu Kota Nusantara.

“Balikpapan memiliki fundamental ekonomi yang sangat kuat dengan PDRB per kapita di atas Rp233 juta pada tahun 2025 dan daya beli masyarakat yang tinggi. 88 Plaza Balikpapan dirancang dengan perencanaan matang untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang melalui strategi kurasi tenant yang selektif dan manajemen kawasan yang profesional,” jelasnya.

Pada tahap awal, proyek ini menawarkan 49 unit ruko eksklusif yang menyasar profesional muda, komunitas kreatif, keluarga, hingga wisatawan bisnis. Kehadiran 88 Plaza Balikpapan diharapkan menjadi salah satu magnet investasi baru di tengah pesatnya perkembangan kawasan Balikpapan dan IKN. (MK)

Penulis: Aprianto
Editor: Agus S

Vendor Lokal Ancam Datangi Kantor Pusat Abipraya di Jakarta

0

NUSANTARA – Persoalan tunggakan pembayaran proyek di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) kembali mencuat. Sejumlah vendor lokal yang mengaku belum menerima pembayaran jasa dan material dari proyek yang dikerjakan PT Brantas Abipraya (Persero) melakukan aksi pemortalan jalan masuk Bendungan Sepaku Semoi di Kecamatan Sepaku, Sabtu (9/5/2026).

Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes terhadap tunggakan tagihan yang nilainya disebut mendekati Rp10 miliar. Para vendor menutup akses jalan menggunakan dump truck 10 roda dan membentangkan spanduk bertuliskan tuntutan pembayaran.

Owner PT Borneo Rent Nusantara (BRN) Balikpapan, Rinif Ade Saputra, mengungkapkan pihaknya masih memiliki tagihan sebesar Rp1,4 miliar lebih kepada Brantas Abipraya Divisi 2 terkait penyewaan kendaraan operasional proyek Bendungan Sepaku Semoi.

“Tepatnya divisi dua. Ada senilai Rp1,4 miliar lebih yang masih menggantung,” ujarnya di lokasi aksi.

Menurut Rinif, aksi serupa sebenarnya pernah dilakukan pada Januari 2026 lalu. Saat itu, pihak vendor mengaku mendapat janji pembayaran dalam waktu sekitar dua bulan. Namun hingga Mei 2026, pembayaran disebut belum juga direalisasikan.

“Ternyata kita tunggu tidak ada pembayaran walaupun sudah dikasih surat keterangan pembayaran. Sampai sekarang belum dilakukan. Akhirnya hari ini kami aksi gelombang kedua,” tegasnya.

Ia mengaku sebelumnya telah mendatangi kantor Brantas Abipraya di Jakarta dengan membawa dokumen tagihan lengkap. Namun upaya tersebut belum membuahkan hasil.

Tak hanya PT BRN, vendor lain asal Balikpapan, PT Lio Pelindo Perkasa, juga mengklaim mengalami tunggakan pembayaran hingga Rp8 miliar lebih untuk jasa rental alat berat di proyek yang sama.

Direktur PT Lio Pelindo Perkasa, Sonny, mengatakan aksi pemortalan bukan kali pertama dilakukan pihaknya.

“Kami sudah melakukan pemortalan dua kali. Bahkan sempat melakukan cor jalan di pintu masuk bendungan pada Agustus tahun lalu,” ujarnya.

Para vendor menegaskan akan membawa persoalan tersebut ke kantor pusat Brantas Abipraya di Jakarta apabila tuntutan pembayaran kembali tidak direspons.

Selain vendor dari Balikpapan, sejumlah vendor lokal Sepaku juga ikut bergabung dalam aksi tersebut. Mereka mengaku mengalami nasib serupa akibat tagihan material proyek yang belum dibayarkan.

Vendor material alam asal Sepaku, Jufriansyah, menyebut masih memiliki tagihan sekitar Rp168 juta untuk suplai pasir proyek bendungan.

“Material alam. Pasir,” singkatnya.

Sementara vendor lainnya, Rollibis Tobir, mengaku tagihan untuk proyek Bendungan Sepaku Semoi dan Intake Sepaku mencapai lebih dari Rp300 juta.

“Di bendungan ini masih nyangkut Rp144 juta, di Intake Sepaku Rp219 juta. Tahun lalu sempat dibayar Rp100 juta,” katanya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT Brantas Abipraya (Persero) melalui Senior Vice President Divisi Operasi 2, Ince Suil Febryan Maulana, belum memberikan jawaban atas konfirmasi yang disampaikan melalui sambungan telepon maupun pesan WhatsApp. (MK)

Pewarta: Atmaja Riski
Editor: Agus S

Wali Kota Bontang Minta Kutim Siapkan Mitigasi untuk Warga Sidrap

0

BONTANG – Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menegaskan berbagai bantuan sosial bagi warga di wilayah Sidrap tidak lagi dapat dibiayai menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Bontang setelah adanya keputusan yang menetapkan wilayah tersebut masuk ke Kabupaten Kutai Timur (Kutim).

Hal itu disampaikan Neni saat diwawancarai terkait dampak administratif terhadap sejumlah penerima bantuan di wilayah perbatasan tersebut, mulai dari bantuan langsung tunai (BLT), layanan kesehatan, hingga pendidikan.

Menurutnya, pemerintah daerah wajib mengikuti aturan administrasi serta ketentuan hukum yang berlaku. Warga yang telah berstatus administrasi Kutim tidak lagi bisa menerima bantuan yang bersumber dari APBD Kota Bontang.

“Kalau itu sudah keputusan akhir dan mengikat, ya kita ikuti aturannya. Yang masuk Kutim tentu tidak bisa lagi dibiayai oleh APBD Bontang,” ujarnya.

Ia menjelaskan, bantuan sosial hingga pembiayaan layanan publik memiliki dasar administrasi yang ketat sehingga tidak memungkinkan diberikan kepada warga yang memiliki identitas kependudukan Kutim.

“Tidak mungkin APBD Bontang dipakai untuk warga Kutim. Misalnya bantuan tunai langsung buat warga Kutim, itu tidak boleh,” katanya.

Diketahui, terdapat sekitar 156 warga di wilayah Sidrap yang sebelumnya masuk dalam skema bantuan Pemerintah Kota Bontang dan kini harus menyesuaikan status administrasi mereka setelah perubahan kewilayahan tersebut.

Meski demikian, Neni memastikan kondisi tersebut seharusnya telah diantisipasi oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Timur. Menurutnya, pemerintah daerah yang kini menaungi wilayah tersebut memiliki tanggung jawab penuh menyiapkan langkah mitigasi bagi masyarakat terdampak.

“Yang harus siap siaga tentu Kutim. Mereka pasti sudah punya mitigasi untuk mensejahterakan warga di wilayah perbatasan,” tambahnya.

Perubahan status wilayah Sidrap sendiri mulai berdampak pada berbagai layanan publik yang sebelumnya terintegrasi dengan Pemerintah Kota Bontang. Penyesuaian data administrasi warga kini menjadi salah satu tahapan penting agar pelayanan pemerintahan dapat berjalan sesuai kewenangan masing-masing daerah. (MK)

Penulis: Syakurah
Editor: Agus S

Pemkab Kutim Cari Celah Aturan Agar Guru Honorer Tetap Mengajar

0

SANGATTA – Kebijakan pemerintah pusat terkait penataan guru non-ASN di sekolah negeri hingga Desember 2026 mulai memunculkan kekhawatiran di daerah. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur (Kutim) memastikan tidak akan tinggal diam dan mulai menyiapkan sejumlah opsi agar kebutuhan tenaga pengajar tetap terpenuhi.

Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, mengatakan pihaknya masih mendalami aturan tersebut sambil membuka komunikasi dengan pemerintah pusat agar ada kebijakan yang tidak merugikan sekolah maupun tenaga honorer.

“Ini yang akan kita coba dalami, apa maksudnya. Ataukah mungkin ada solusi lain dari kementerian. Mereka tidak mungkin kita keluarkan dari dunia sekolah karena mereka dibutuhkan oleh sekolah,” ujar Ardiansyah, Jumat (8/5/2026).

Menurutnya, keberadaan guru non-ASN hingga kini masih menjadi penopang utama di sejumlah sekolah, terutama untuk memenuhi kekurangan tenaga pengajar di berbagai mata pelajaran.

Karena itu, Pemkab Kutim berharap ada jalan tengah agar para guru honorer tetap dapat mengajar tanpa berbenturan dengan regulasi pemerintah pusat.

“Mudah-mudahan ada solusi lain dan mereka tetap bisa mengajar dengan lebih baik lagi. Ini yang akan kita coba komunikasikan nantinya,” katanya.

Ardiansyah menjelaskan, selama ini pembiayaan guru honorer tidak sepenuhnya bersumber dari APBD. Sebagian kebutuhan gaji ditopang sekolah masing-masing, termasuk melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Meski demikian, pemerintah daerah tetap memberikan insentif tambahan.

“Insentif tetap kita berikan kepada guru honorer. Ada juga dukungan melalui dana BOS, meskipun nilainya tidak terlalu besar,” jelasnya.

Pemkab Kutim kini mulai menyiapkan sejumlah langkah antisipasi. Salah satu opsi yang mulai dipertimbangkan adalah penerapan pola outsourcing atau kerja sama pihak ketiga, seperti yang diterapkan pada petugas Satuan Polisi Pamong Praja dan pemadam kebakaran.

“Ini mungkin solusi terakhir yang akan kita ambil. Karena tidak mungkin mereka akan kita keluarkan dari sekolah,” ujarnya.

Menurut Ardiansyah, persoalan utama bukan sekadar aturan administratif, melainkan kebutuhan riil sekolah terhadap tenaga pengajar. Ia menilai penghentian guru non-ASN justru berpotensi mengganggu proses belajar mengajar.

“Bukan masalah mereka tidak boleh mengajar, tetapi sekolah yang butuh. Kalau mereka keluar, siapa yang mengajar anak-anak?” tegasnya.

Ia memastikan pemerintah daerah akan terus mencari formulasi terbaik agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan optimal, terutama di tingkat SD dan SMP yang membutuhkan guru sesuai bidang mata pelajaran.

“Tidak mungkin orang yang tidak punya latar belakang pendidikan disuruh mengajar. Apalagi di SD dan SMP yang sudah mengarah ke mata pelajaran tertentu,” pungkasnya. (MK)

Penulis: Ramlah
Editor: Agus S