Beranda blog Halaman 12

Pemkab Kukar Pastikan Bantuan Seragam Gratis bagi Murid Baru Berlanjut

TENGGARONG – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memastikan program bantuan seragam sekolah gratis bagi peserta didik baru tetap dilaksanakan pada tahun ajaran 2026/2027. Namun, peluncurannya baru akan dilakukan setelah seluruh rangkaian Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 selesai.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, Heriansyah, mengatakan pemerintah daerah tetap mengalokasikan anggaran untuk program tersebut sebagai bentuk dukungan kepada peserta didik baru. Peluncuran program akan dilakukan secara simbolis oleh Bupati Kukar setelah seluruh tahapan penerimaan murid selesai.

“Insya Allah seragam gratis tetap ada. Setelah penerimaan SPMB selesai, program ini akan diluncurkan secara simbolis oleh Bupati,” ujar Heriansyah.

Ia menjelaskan, penyaluran bantuan nantinya tidak dilakukan secara langsung oleh pemerintah, melainkan melalui koperasi sekolah dengan skema Boskab Seragam. Mekanisme tersebut disiapkan agar distribusi bantuan dapat menyesuaikan kebutuhan masing-masing sekolah.

Menurut Heriansyah, hingga saat ini jumlah penerima bantuan belum dapat dipastikan. Disdikbud masih menunggu hasil akhir pelaksanaan SPMB di seluruh sekolah sebagai dasar penentuan jumlah penerima sekaligus kebutuhan anggaran.

Data peserta didik baru yang diterima di setiap sekolah akan menjadi acuan dalam penyusunan distribusi bantuan. Karena itu, pemerintah belum dapat memastikan jumlah paket seragam yang akan disalurkan.

Selain menentukan jumlah penerima, hasil akhir SPMB juga akan menjadi dasar perhitungan kebutuhan anggaran. Semakin banyak peserta didik baru yang diterima, semakin besar pula anggaran yang harus disiapkan pemerintah daerah.

Saat ini proses SPMB telah memasuki tahap daftar ulang yang berlangsung hingga 8 Juli 2026. Setelah seluruh tahapan selesai, data peserta didik baru akan digunakan sebagai dasar pelaksanaan program seragam gratis.

“Proses penyalurannya dilakukan melalui koperasi sekolah. Bantuan didistribusikan sesuai kebutuhan melalui koperasi sekolah,” tutup Heriansyah.

Penulis: Ady Wahyudi
Editor: Agus S.

Beasiswa Kesehatan Kukar Masih Longgar, Peluang Lolos Lebih Besar

0

TENGGARONG – Di tengah tingginya antusiasme masyarakat mengikuti Beasiswa Kukar Idaman Terbaik 2026, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) justru menghadapi kondisi berbeda pada program Beasiswa Tematik Kesehatan. Hingga penutupan pendaftaran, jumlah peminat baru mencapai sekitar 70 orang dari kuota 155 penerima yang disediakan.

Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Kabupaten Kukar, Fathul Alamin, mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah karena hampir seluruh kategori beasiswa lainnya telah memenuhi bahkan melampaui kuota yang tersedia.

Program Beasiswa Kukar Idaman Terbaik resmi menutup pendaftaran pada 19 Juni 2026 setelah sebelumnya masa pendaftaran diperpanjang dari jadwal awal yang berakhir pada 6 Juni. Perpanjangan dilakukan atas arahan Bupati Kukar agar masyarakat memiliki kesempatan lebih luas untuk mendaftar sekaligus menyesuaikan dengan dibukanya Program Gratispol Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.

Saat ini seluruh berkas peserta tengah menjalani proses verifikasi administrasi yang berlangsung sejak 19 Juni hingga 7 Juli 2026. Tahapan tersebut menjadi proses awal sebelum dilakukan pemeringkatan sesuai kategori beasiswa.

Fathul menjelaskan sebanyak 5.467 proposal telah diterima dari berbagai kategori, mulai Beasiswa Jenjang SMA, Beasiswa Stimulan S1 hingga Beasiswa Prestasi Pondok Pesantren. Bahkan beberapa kategori telah mencatat jumlah pendaftar melebihi kuota yang disediakan.

Kuota Beasiswa Stimulan S1 tahun ini mencapai sekitar 2.900 penerima. Sementara Beasiswa Prestasi SMA dialokasikan bagi 200 penerima dan Beasiswa Prestasi Pondok Pesantren sebanyak 75 penerima.

Namun, kondisi berbeda terjadi pada Beasiswa Tematik Kesehatan. Dari 155 kuota yang tersedia, jumlah pendaftar belum mencapai separuhnya. Salah satu formasi yang masih minim peminat adalah dokter umum di RSUD Parikesit yang baru diikuti lima pendaftar dari sembilan kuota yang tersedia.

Setelah proses verifikasi administrasi selesai, peserta akan memasuki tahapan pemeringkatan berdasarkan ketentuan masing-masing kategori, baik melalui capaian akademik maupun prestasi nonakademik.

“Tahap pertama adalah memastikan seluruh persyaratan administrasi lengkap, kemudian dilanjutkan dengan pemeringkatan sesuai kategori beasiswa yang diikuti peserta,” ujar Fathul.

Menurutnya, rendahnya jumlah pendaftar pada beasiswa kesehatan bukan disebabkan minimnya sosialisasi. Pemerintah Kabupaten Kukar mengaku telah menyebarkan informasi hingga ke sekolah, kecamatan, dan tingkat RT.

Ia menilai tantangan utama justru berasal dari masih rendahnya kepercayaan diri sebagian pelajar, khususnya yang berasal dari luar Tenggarong, untuk bersaing masuk ke program studi kesehatan.

Padahal, peluang yang diberikan cukup besar. Pemerintah telah membuka akses melalui lima program studi di Universitas Mulawarman, yakni dokter umum, dokter gigi, farmasi, keperawatan, dan kebidanan.

“Saat ini tersedia lima program studi di Universitas Mulawarman, yaitu dokter umum, dokter gigi, farmasi, keperawatan, dan kebidanan. Kami ingin semakin banyak putra-putri Kukar memanfaatkan kesempatan ini,” tutup Fathul.

Penulis: Ady Wahyudi
Editor: Agus S.

Koalisi Papua Dorong Partisipasi Publik dalam Pembahasan RUU HAM

0

JAKARTA – Koalisi Penegak Hukum dan Hak Asasi Manusia Papua membela Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) setelah Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai mempertanyakan kapasitas lembaga tersebut dalam mengkritisi revisi Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM). Koalisi menilai pernyataan tersebut tidak mencerminkan rekam jejak panjang YLBHI dalam memperjuangkan HAM di Indonesia.

Direktur LBH Papua sekaligus anggota Koalisi Penegak Hukum dan HAM Papua, Festus Ngoranmele, mengatakan YLBHI bersama jaringan 18 kantor LBH telah berdiri sejak dekade 1970-an. Menurutnya, pengalaman organisasi tersebut bahkan lebih panjang dibanding usia Komnas HAM maupun Kementerian HAM.

“Apalagi institusi Kementerian Hak Asasi Manusia Republik Indonesia yang baru seumur jagung,” kata Festus dalam keterangan tertulisnya, dikutip Minggu (5/7/2026).

Ia menegaskan, selama puluhan tahun YLBHI tidak hanya memberikan bantuan hukum kepada masyarakat, tetapi juga aktif melakukan advokasi litigasi, nonlitigasi, hingga mendorong lahirnya berbagai kebijakan dan institusi yang berkaitan dengan perlindungan HAM.

“Caranya dengan pendekatan advokasi litigasi, advokasi non-litigasi, dan advokasi kebijakan yang sudah dilakukan di tingkat nasional maupun daerah dari Pulau Sumatera sampai dengan Pulau Papua,” ujarnya.

Koalisi menilai tidak tepat jika kredibilitas YLBHI dipersoalkan hanya karena menyampaikan kritik terhadap revisi Undang-Undang HAM. Menurut mereka, organisasi masyarakat sipil memiliki hak untuk memberikan masukan terhadap setiap kebijakan publik, termasuk pembahasan regulasi yang berkaitan dengan hak asasi manusia.

Karena itu, koalisi mendesak pemerintah dan DPR membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi masyarakat sipil dalam setiap tahapan pembahasan revisi UU HAM.

Selain itu, mereka meminta sepuluh poin tuntutan yang sebelumnya telah disampaikan berbagai organisasi masyarakat sipil menjadi perhatian pemerintah. Salah satunya terkait pelibatan kelompok perempuan, penyandang disabilitas, masyarakat adat, serta kelompok rentan lainnya dalam proses penyusunan revisi undang-undang tersebut.

Polemik ini bermula setelah Menteri HAM Natalius Pigai menyatakan tidak ada pasal dalam draf revisi Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM yang dipersoalkan selama hampir dua bulan pembahasannya dibuka kepada publik.

Pigai juga mempertanyakan kredibilitas YLBHI dalam mengkritisi RUU HAM dengan menyebut lembaga bantuan hukum lebih tepat berfokus pada isu hukum. Pernyataan tersebut kemudian memicu respons dari Koalisi Penegak Hukum dan HAM Papua yang menegaskan YLBHI memiliki rekam jejak panjang dalam advokasi HAM dan berhak memberikan masukan terhadap penyusunan revisi UU HAM.

Pewarta: Fajri
Editor: Agus S.

Warga Berupaya Cegah Api Meluas dengan Membabat Rumput

0

BONTANG – Kebakaran lahan terjadi di RT 17 Desa Suka Rahmat, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Kutai Timur, tepatnya di kawasan dekat Simpang Empat Bukit Kusnodo, Minggu (5/7/2026) sekitar pukul 18.30 Wita. Peristiwa tersebut diduga dipicu kondisi lahan yang mengering akibat musim kemarau.

Api menghanguskan sekitar satu hektare lahan milik warga sebelum akhirnya berhasil dicegah agar tidak meluas ke area lainnya.

Pemilik lahan, Guntur, mengatakan saat pertama kali mengetahui kejadian, kobaran api sudah dalam kondisi besar. Bersama warga, ia berupaya mencegah api meluas dengan membabat rumput dan semak di sekitar lokasi.

“Pas azan kami lihat api sudah besar. Sebagian lahan akhirnya bisa diamankan karena kami membabat rumput di sekitarnya sehingga api tidak menjalar,” ujarnya.

Ia mengaku lahan tersebut telah ditanami berbagai tanaman produktif, di antaranya pohon durian dan jagung yang beberapa bulan terakhir mulai dibudidayakan.

Petugas pemadam kebakaran dari Pos Loktuan turut mendatangi lokasi untuk melakukan pengecekan dan memastikan kobaran api tidak mengancam permukiman warga.

Petugas Damkar Pos Loktuan, Sulkifli, menjelaskan pihaknya melakukan asesmen awal karena penanganan kebakaran lahan merupakan kewenangan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

“Kami cek lokasi karena khawatir api merembet ke rumah warga. Saat ini kami membantu warga membabat rumput agar api tidak meluas,” jelasnya.

Setelah api berhasil dikendalikan, BPBD diharapkan segera melakukan proses pendinginan karena masih terdapat bara api di sejumlah titik.

“Kalau tidak segera disiram, kami khawatir saat ada angin bara api bisa menyala kembali karena kondisi lahan sangat kering,” pungkasnya.

Pewarta: Syakurah
Editor: Agus S.

Indonesia Perkuat Implementasi PP TUNAS Bersama Platform Digital

0

JAKARTA – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkap praktik pemalsuan usia masih menjadi tantangan utama dalam penerapan Peraturan Pemerintah (PP) TUNAS tentang perlindungan anak di ruang digital. Berdasarkan hasil survei yang menjadi acuan pemerintah, tiga dari lima anak mengaku memanipulasi usia agar tetap dapat membuat akun media sosial.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, mengatakan persoalan tersebut muncul karena sistem verifikasi usia sepenuhnya berada di tangan masing-masing platform digital.

“Ada satu survei yang menunjukkan kalau ada lima anak, tiga anak dipastikan memalsukan usianya untuk bisa masuk ke media sosial. Ini sudah umum terjadi,” ujar Nezar Patria dalam keterangan tertulisnya, dikutip Minggu (5/7/2026).

Menurutnya, pemerintah telah meminta seluruh platform digital memperkuat teknologi verifikasi usia tanpa mengabaikan perlindungan data pribadi para pengguna.

“Kita sudah sampaikan kepada platform karena yang bisa meregulasi ini adalah platform dengan solusi teknologi yang mereka miliki. Namun identifikasi usia juga harus tetap mematuhi prinsip pelindungan data pribadi,” katanya.

Nezar menjelaskan sejumlah platform kini mulai memanfaatkan teknologi berbasis algoritma untuk mendeteksi akun yang diduga dimiliki anak di bawah umur sehingga aksesnya dapat dibatasi secara otomatis.

“Beberapa platform sudah mulai melakukan pembatasan. Ada anak yang sebelumnya memiliki akun, tetapi kemudian tidak dapat lagi mengakses akunnya karena teridentifikasi sebagai pengguna di bawah umur,” ujarnya.

Selain memperkuat sistem teknologi, pemerintah juga terus mendorong keterlibatan orang tua melalui pendampingan penggunaan media digital. Menurut Nezar, perlindungan anak di ruang digital tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan platform, tetapi juga membutuhkan peran aktif keluarga.

Indonesia sendiri menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang menerapkan PP TUNAS. Pemerintah menegaskan implementasi regulasi tersebut akan terus diperkuat melalui kolaborasi bersama seluruh platform digital guna menciptakan ruang digital yang lebih aman bagi anak.

Pewarta: Fajri
Editor: Agus S.

Menag RI Hadiri Harlah Ponpes Assalam, Perkuat Sinergi Pendidikan Keagamaan

0

SENDAWAR – Ribuan jamaah memadati halaman Pondok Pesantren Assalam Arya Kemuning, Kelurahan Simpang Raya, Kecamatan Barong Tongkok, Sabtu (4/7/2026), untuk mengikuti Syukuran Hari Lahir (Harlah) ke-34 pondok pesantren yang dirangkai dengan Tabligh Akbar.

Tabligh Akbar menghadirkan penceramah nasional Ustadz Abdul Somad (UAS). Kegiatan tersebut juga dihadiri Menteri Agama RI Nasaruddin Umar, Pengasuh Ponpes Assalam KH Arif Heri Setiawan, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud, serta Bupati Kutai Barat Frederick Edwin.

Turut hadir Sekretaris Daerah Kutai Barat Erik Victory, Wakil Bupati Nanang Adriani, mantan Wali Kota Samarinda Syahrie Ja’ang, mantan Wakil Bupati Kutai Barat Didiek Effendi, Dandim 0912/Kutai Barat Letkol Inf Doni Fransisco, Kapolres Kutai Barat AKBP Boney Wahyu Wicaksono, Wakapolres Kompol Subari, Ketua KONI Kutai Barat Alsiyus, Ketua TP PKK Kalimantan Timur Sarifah Suraidah Mas’ud, Ketua TP PKK Kutai Barat Maria Christina Mozes Edwin, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta para santri.

Pengasuh Ponpes Assalam KH Arif Heri Setiawan menyampaikan rasa syukur atas perjalanan 34 tahun pondok pesantren tersebut. Ia mengajak seluruh jamaah menjadikan momentum Harlah sebagai sarana mempererat ukhuwah Islamiyah, persatuan, dan kerukunan.

“Semoga Harlah ini menjadi momentum memperkuat ukhuwah Islamiyah, menjaga persatuan, serta mempererat kerukunan antarumat beragama,” ujarnya.

Mewakili Bupati Kutai Barat, Wakil Bupati Nanang Adriani menyampaikan ucapan selamat atas Hari Lahir ke-34 Pondok Pesantren Assalam Arya Kemuning. Ia berharap pesantren terus berkembang menjadi lembaga pendidikan Islam yang melahirkan generasi berilmu, berakhlak mulia, dan mampu berkontribusi bagi kemajuan daerah.

“Selamat Hari Lahir ke-34 Pondok Pesantren Assalam Arya Kemuning. Semoga menjadi pusat pendidikan Islam yang melahirkan generasi unggul, beriman, dan berakhlak mulia,” ujarnya.

Menurut Nanang, pesantren memiliki peran strategis dalam membangun sumber daya manusia yang religius, berkarakter, dan berdaya saing. Ia juga mengapresiasi berbagai kegiatan sosial yang menjadi bagian dari peringatan Harlah, seperti khitan massal, nikah massal, bakti sosial, dan Tabligh Akbar yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

“Pemkab Kutai Barat berkomitmen mendukung kemajuan pendidikan pesantren. Sinergi pemerintah, ulama, dan masyarakat menjadi kunci mewujudkan Kutai Barat yang religius, harmonis, dan sejahtera,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Nanang juga mengajak masyarakat terus menjaga persatuan, memperkuat kerukunan, serta menghidupkan semangat gotong royong. Menurutnya, Harlah ke-34 Ponpes Assalam harus menjadi momentum memperkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah.

Sementara itu, dalam tausiahnya, Ustadz Abdul Somad menekankan pentingnya menuntut ilmu, memperkuat keimanan, menjaga akhlak, serta memelihara persatuan di tengah keberagaman masyarakat.

“Keberhasilan hidup tidak hanya diukur dari kedudukan dan harta, tetapi dari keimanan, amal saleh, serta manfaat yang diberikan kepada sesama,” tutur UAS.

Ia juga mengajak masyarakat menjadikan perbedaan sebagai kekuatan serta menanamkan pendidikan agama sejak usia dini sebagai bekal membangun generasi yang berakhlak.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa bersama untuk keberkahan Pondok Pesantren Assalam Arya Kemuning agar terus berkembang sebagai lembaga pendidikan Islam yang mencetak generasi beriman, berilmu, dan berakhlak mulia serta menjadi mitra pemerintah dalam membangun Kutai Barat yang maju, sejahtera, dan berkeadilan.

Pewarta: Ichal
Editor: Agus S.

Sinergi Pusat dan Daerah Dukung Pengembangan Pendidikan Pesantren di Kubar

0

SENDAWAR – Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, didampingi Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud dan Bupati Kutai Barat Frederick Edwin, melakukan peletakan batu pertama pembangunan Gedung Madrasah Pondok Pesantren Assalam Arya Kemuning di Kelurahan Simpang Raya, Kecamatan Barong Tongkok, Sabtu (4/7/2026).

Pembangunan gedung madrasah tersebut menjadi salah satu rangkaian peringatan Hari Lahir ke-34 Pondok Pesantren Assalam. Kehadiran Menteri Agama bersama jajaran pemerintah pusat dan daerah menandai dimulainya pembangunan fasilitas pendidikan yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus memperkuat peran pesantren sebagai pusat pendidikan Islam di Kutai Barat.

Prosesi diawali dengan doa bersama sebagai bentuk ikhtiar agar pembangunan berjalan lancar, selesai tepat waktu, dan memberikan manfaat bagi para santri serta masyarakat.

Pengasuh Pondok Pesantren Assalam, KH Arif Heri Setiawan, menyampaikan rasa syukur atas dimulainya pembangunan gedung madrasah yang selama ini menjadi harapan besar keluarga pesantren.

“Semoga dengan iringan doa seluruh masyarakat, pembangunan gedung madrasah ini dapat segera terwujud dan selesai sesuai harapan,” ujarnya.

Ia juga berharap pembangunan tersebut mendapat dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

“Kami memohon doa dan dukungan dari Kementerian Agama, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui Bapak Gubernur, serta Pemerintah Kabupaten Kutai Barat. Kami berharap pembangunan ini dapat terus berlanjut hingga selesai dan segera dimanfaatkan para santri,” katanya.

Menurutnya, kehadiran Menteri Agama menjadi bukti perhatian pemerintah pusat terhadap perkembangan pendidikan Islam di daerah. Sementara kehadiran Gubernur Kalimantan Timur, Bupati, Wakil Bupati, serta unsur Forkopimda mencerminkan sinergi yang kuat dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan keagamaan.

“Kehadiran Menag RI menjadi bukti perhatian pemerintah pusat terhadap perkembangan pendidikan Islam di daerah. Sementara kehadiran Gubernur Kaltim, Bupati, Wabup, dan Forkopimda menunjukkan sinergi kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan lembaga pendidikan keagamaan dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas,” ungkapnya.

Pembangunan gedung madrasah ini diharapkan menjadi tonggak baru bagi kemajuan Pondok Pesantren Assalam dalam mencetak generasi yang unggul secara akademik, berakhlak mulia, serta memiliki karakter kebangsaan.

“Dengan tambahan fasilitas, pesantren ditargetkan mampu memperluas akses pendidikan dan menjadi pusat pengembangan pendidikan Islam yang modern, berkualitas, serta berlandaskan nilai-nilai keislaman di Kutai Barat dan Kalimantan Timur,” tutupnya.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Bupati Kutai Barat Nanang Adriani, unsur Forkopimda, Ketua TP PKK Provinsi Kalimantan Timur Sarifah Suraidah Mas’ud, Ketua TP PKK Kutai Barat Maria Christina Mozes Edwin, tokoh agama, serta tokoh masyarakat. (Ichal)

Pewarta: Ichal
Editor: Agus S.

Kemen PPPA Tekankan Penghormatan terhadap Hak Perempuan dalam Komunikasi Publik

0

JAKARTA – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) mengajak seluruh elemen masyarakat menciptakan ruang publik yang lebih menghargai martabat perempuan serta mendorong terwujudnya kesetaraan gender. Ajakan tersebut disampaikan sebagai respons atas perbincangan publik mengenai narasi yang mengangkat pengalaman biologis perempuan.

Menteri PPPA Arifah Fauzi mengatakan karya seni, budaya, maupun berbagai bentuk komunikasi publik memiliki pengaruh besar dalam membentuk cara pandang masyarakat. Karena itu, setiap pesan yang disampaikan kepada publik diharapkan tidak memperkuat stigma maupun diskriminasi terhadap perempuan.

“Pengalaman biologis perempuan, seperti menstruasi, kehamilan, maupun keguguran merupakan bagian dari kehidupan yang harus dipahami dengan empati dan penghormatan. Narasi yang menjadikan pengalaman tersebut sebagai bahan candaan atau penggambaran yang merendahkan berpotensi memperkuat stereotip gender yang menghambat terwujudnya kesetaraan perempuan dan laki-laki,” ujar Arifah dalam keterangan tertulisnya, Minggu (5/7/2026).

Menurutnya, upaya mencegah kekerasan berbasis gender tidak hanya dilakukan melalui penegakan hukum, tetapi juga dengan membangun budaya yang menghormati setiap individu. Penggunaan bahasa yang inklusif serta penyampaian pesan yang tidak menormalisasi diskriminasi menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan setara.

Arifah menegaskan pemerintah tetap menghormati kebebasan berekspresi dan berkesenian sebagai bagian dari kehidupan demokrasi. Namun, kebebasan tersebut perlu diimbangi dengan tanggung jawab sosial, terutama terhadap kelompok yang masih rentan mengalami ketidaksetaraan.

“Kemen PPPA menghormati kebebasan berekspresi dan berkesenian sebagai bagian dari kehidupan demokrasi. Namun, kebebasan tersebut juga perlu disertai tanggung jawab sosial dengan mempertimbangkan dampak pesan yang disampaikan kepada masyarakat, khususnya terhadap kelompok yang masih menghadapi berbagai bentuk ketidaksetaraan dan diskriminasi,” katanya.

Ia juga mengajak pelaku industri kreatif, media, tokoh masyarakat, hingga para pemimpin di berbagai tingkatan untuk bersama-sama membangun ruang publik yang lebih inklusif dan menjunjung tinggi penghormatan terhadap hak asasi manusia.

“Kemen PPPA meyakini karya seni dan budaya memiliki kekuatan besar sebagai media edukasi, refleksi sosial, sekaligus penggerak perubahan menuju masyarakat yang lebih inklusif dan setara,” tutup Arifah.

Pernyataan Kemen PPPA tersebut disampaikan menyusul munculnya perhatian publik terhadap narasi mengenai pengalaman biologis perempuan yang beredar di ruang publik. Momentum itu dinilai menjadi pengingat bahwa karya seni, budaya, maupun komunikasi publik memiliki pengaruh besar dalam membentuk nilai dan norma sosial sehingga diharapkan dapat mendorong penghormatan terhadap martabat perempuan sekaligus memperkuat kesetaraan gender.

Pewarta: Fajri
Editor: Agus S.

JPPI Sebut Program MBG Berisiko Gagal Tanpa Pembenahan Sistem

0

JAKARTA – Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menilai pergantian pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) tidak cukup untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang membelit Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Organisasi tersebut meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap desain program agar berbagai permasalahan yang muncul tidak terus berulang.

Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, mengatakan pencopotan pimpinan BGN setelah muncul dugaan korupsi lebih bersifat meredam dampak politik daripada membenahi persoalan mendasar dalam tata kelola program.

“Langkah cepat Presiden Prabowo mencopot ketiganya adalah upaya damage control agar episentrum pusaran kasus korupsi ini tidak langsung mengarah dan mengotori citra Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang notabene merupakan program legacy utama Presiden. Namun, pergantian pimpinan tidak akan menyelesaikan masalah, justru berpotensi membuat program MBG ini makin karam sebelum berlayar penuh,” ujar Ubaid dalam keterangan tertulisnya, Kamis (3/7/2026).

Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada figur yang memimpin BGN, melainkan pada desain program yang sejak awal dinilai memiliki sejumlah kelemahan. Besarnya anggaran yang dikelola tanpa sistem pengawasan yang kuat, kata dia, membuka ruang terjadinya penyimpangan.

JPPI juga menilai kasus hukum yang menyeret jajaran BGN berpotensi memengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pelaksanaan Program MBG di lapangan.

“Bagaimana publik, sekolah, dan mitra lokal bisa percaya pada program pemberian makanan anak sekolah jika lembaga yang mengaturnya saja sudah digeledah penegak hukum karena dugaan rasuah? Krisis legitimasi ini akan membuat implementasi di lapangan semakin penuh kecurigaan,” katanya.

Karena itu, JPPI meminta pemerintah tidak berhenti pada pergantian pejabat semata. Organisasi tersebut mendesak dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap desain Program MBG, peningkatan transparansi tata kelola anggaran, serta penguatan sistem pencegahan korupsi agar program dapat berjalan lebih efektif dan akuntabel. (Fajri)

Pewarta: Fajri
Editor: Agus S.

JPPI Soroti Efektivitas Program Makan Bergizi Gratis

0

JAKARTA – Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mendesak pemerintah meninjau ulang sasaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Organisasi tersebut menilai program akan lebih efektif apabila difokuskan kepada kelompok yang benar-benar mengalami persoalan gizi dan keterbatasan akses pangan.

Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, mengatakan evaluasi tidak cukup dilakukan hanya pada level pergantian pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN). Menurutnya, pemerintah juga perlu membenahi desain program beserta arah kebijakan anggarannya agar lebih tepat sasaran.

JPPI menilai pendekatan universal yang diterapkan saat ini perlu dikaji ulang dan diganti dengan skema yang lebih terarah kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

“Evaluasi total desain program. Menghentikan pemaksaan program untuk semua kalangan dengan target yang salah. Sebaiknya jangan untuk semua, tapi targeted bagi mereka yang punya masalah gizi dan terkendala akses pangan,” ujar Ubaid dalam keterangan tertulisnya, Kamis (2/7/2026).

Selain perubahan sasaran penerima manfaat, JPPI juga meminta pemerintah membuka tata kelola pengadaan dan distribusi anggaran Program MBG kepada publik agar pengawasan dapat dilakukan secara transparan.

“Audit transparansi institusi. Membuka seluruh tata kelola pengadaan dan distribusi anggaran BGN kepada publik, serta harus membangun fondasi sistem pencegahan korupsi yang kokoh,” katanya.

JPPI juga mengingatkan agar besarnya anggaran Program MBG tidak mengurangi alokasi anggaran pada sektor pendidikan dan kesehatan yang sama-sama menjadi kebutuhan dasar masyarakat.

“Koreksi kebijakan anggaran. Mengembalikan marwah anggaran fungsi pendidikan 20 persen dan anggaran kesehatan agar tidak tergerus oleh program MBG,” tutup Ubaid.

Pewarta: Fajri
Editor: Agus S.