PPU – Bupati Penajam Paser Utara (PPU) Mudyat Noor mendorong agar aktivitas industri migas yang masif di wilayahnya benar-benar memberi dampak nyata bagi masyarakat. Hal itu disampaikannya usai berdiskusi dengan jajaran Pertamina, menyusul masih minimnya kontribusi yang dirasakan langsung oleh daerah.
Menurut Mudyat, secara hitungan produksi dan penampungan, PPU memiliki peran besar dalam industri minyak nasional. Namun, manfaat langsung bagi masyarakat dinilai belum sebanding.
“Kalau dihitung-hitung, Penajam Paser Utara ini sebenarnya termasuk daerah dengan potensi minyak terbesar di Indonesia. Produksi RU V Balikpapan saja sudah sekitar 360 ribu barel per hari, sementara kapasitas penampungan di Lawe-Lawe mencapai sekitar 7,6 juta barel,” ujarnya.
Ia menilai, besarnya aktivitas tersebut semestinya berbanding lurus dengan dukungan terhadap pembangunan daerah, terutama pada sektor pelayanan dasar.
“Tapi kalau melihat dampaknya ke daerah, terus terang belum terlalu terasa. Padahal aktivitas industri migas di wilayah kita cukup besar dan tentu punya pengaruh terhadap lingkungan maupun kehidupan masyarakat sekitar,” katanya.
Dalam pertemuan terbaru, Pemkab PPU dan Pertamina sempat membahas sejumlah persoalan krusial yang dihadapi masyarakat. Khususnya di wilayah sekitar operasional migas.
“Kami sempat membahas beberapa isu penting seperti banjir di Lawe-Lawe, persoalan air bersih, dan layanan dasar masyarakat. Itu semua menjadi perhatian yang kami sampaikan kepada pihak Pertamina,” jelas Mudyat.
Salah satu fokus utama yang didorong adalah dukungan terhadap penyediaan bahan baku air bersih. Saat ini, Perumda Air Minum (PDAM) PPU masih menghadapi keterbatasan sumber air baku yang lokasinya berada di wilayah perbatasan.
“Kami bersurat ke Pertamina Balikpapan untuk meminta waktu melakukan diskusi dan presentasi lebih lanjut, termasuk membahas kemungkinan dukungan terhadap penyediaan bahan baku air bersih,” ungkapnya.
“PDAM kita saat ini sumber air bakunya berada di wilayah perbatasan, sehingga perlu dukungan dan kolaborasi banyak pihak agar pelayanan air bersih ke masyarakat bisa lebih optimal,” tambahnya.
Selain itu, Mudyat juga menyinggung kontribusi program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang dinilai masih perlu ditingkatkan agar lebih dirasakan masyarakat.
“Untuk kontribusi CSR sejauh ini memang belum terlalu terlihat besar. Karena itu kami ingin duduk bersama agar ke depan program CSR bisa lebih tepat sasaran dan dirasakan langsung oleh masyarakat,” tegasnya.
Ia juga berharap koordinasi dengan berbagai entitas usaha hulu dan hilir migas yang beroperasi di sekitar PPU dapat semakin solid, sehingga tidak terjadi tumpang tindih maupun kebingungan dalam penyaluran dukungan ke daerah.
“Selama ini ada banyak entitas, ada Kilang, RU V, PHKT, PHM, dan lainnya. Kadang koordinasinya jadi tidak sederhana. Mudah-mudahan dengan penyatuan dan komunikasi yang lebih intens, koordinasi bisa lebih mudah,” tuturnya.
Di akhir, Bupati menegaskan harapannya agar keberadaan industri migas benar-benar menjadi pengungkit kesejahteraan masyarakat PPU.
“Kita berharap hasil komunikasi ini bisa membuka jalan agar ke depan dampak positif dari kegiatan industri migas benar-benar dirasakan masyarakat Penajam Paser Utara,” pungkasnya.
Pewarta: Robbi lalat



