PENAJAM PASER UTARA – Pesatnya aktivitas ekonomi di kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) belum berbanding lurus dengan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Pemerintah daerah menilai masih banyak potensi pendapatan yang belum tergarap optimal, terutama dari sektor jasa.
Sektor restoran, rumah makan, hotel, dan penginapan menjadi perhatian karena dinilai memiliki potensi besar menyumbang PAD di tengah meningkatnya aktivitas masyarakat dan pembangunan di kawasan Sepaku.
Wakil Bupati PPU, Abdul Waris Muin, mengakui sistem pemungutan pajak yang masih dilakukan secara manual menjadi salah satu kendala utama dalam optimalisasi penerimaan daerah.
“Kalau masih manual, potensi kebocoran tetap ada. Kita dorong digitalisasi supaya lebih transparan dan maksimal,” ujarnya, beberapa waktu lalu.
Sorotan terbesar tertuju pada Kecamatan Sepaku yang kini menjadi kawasan strategis penyangga IKN. Aktivitas ekonomi di wilayah tersebut terus tumbuh, namun dampaknya terhadap peningkatan PAD dinilai belum signifikan.
Kondisi itu dinilai menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah. Di satu sisi, geliat ekonomi akibat pembangunan IKN terus meningkat. Namun di sisi lain, potensi tersebut belum sepenuhnya mampu dikonversi menjadi sumber pendapatan daerah yang kuat.
Pemkab PPU mulai mendorong transformasi sistem pembayaran pajak berbasis digital dengan menggandeng Bank Kaltimtara. Sistem non-tunai dinilai dapat memperkuat transparansi sekaligus meminimalisasi potensi kebocoran penerimaan daerah.
Selain pembenahan sistem pembayaran, pemerintah daerah juga menilai pengawasan dan kepatuhan wajib pajak masih perlu diperkuat agar penerimaan daerah dapat lebih optimal.
Di tengah tekanan fiskal dan beban utang daerah, optimalisasi PAD disebut menjadi langkah penting untuk memperkuat kemandirian keuangan daerah agar tidak terus bergantung pada transfer pemerintah pusat.
“Kalau tidak segera dibenahi, kita bisa kehilangan peluang besar dari efek ekonomi IKN,” pungkas Waris.
Pewarta: Deddy Pz
Penyunting: Nur Robbi Syai’an



