Mundur dari Target, Progres Pembangunan Istana Wapres IKN Tembus 50 Persen

NUSANTARA – Istana Wakil Presiden RI di Ibu Kota Nusantara (IKN) didesain oleh warga diaspora. Mengusung sistem khusus hybrid cooling system (HCS), bangunan ini menjadi yang pertama di Indonesia. Lanskapnya ditangani oleh perancang Tebet Eco Park (TEP) Jakarta. Progresnya kini sudah lebih dari 50 persen, namun meleset dari target awal, yakni Agustus 2025.

Jumat (1/8/2025) siang, puluhan diaspora, termasuk sang desainer Daliana Suryawinata dan eks Kepala Otorita IKN Bambang Susantono, berkesempatan melihat langsung proyek tersebut. Mereka didampingi Manajer HSE PT KSO Adhi-Penta, Angga Hadimansyah.

Daliana menjelaskan, istana ini didesain dengan sistem sirkulasi udara bernama hybrid cooling system (HCS). “Ini konsep baru. Di Singapura, di Bangladesh sudah ada. Di Indonesia ini pertama kali,” terangnya.

HCS adalah perpaduan antara pendingin udara (air conditioner/AC) dan kipas angin untuk menghasilkan suhu ruangan 25–27 derajat Celsius dengan kelembapan relatif 70–80 persen. Sistem ini mampu menurunkan kadar karbon dioksida (CO₂) tanpa membuat ruangan terlalu dingin.

“AC itu kan menyumbang 30–40 persen konsumsi energy build. Desain ini bisa membuat penggunaan energi jauh lebih hemat,” jelasnya. Istana Wapres ini dibangun di atas bukit dengan gaya sederhana, memadukan arsitektur kontemporer Nusantara dan arsitektur tradisional.

Baca Juga:   Gebyar Pentas Seni dan UMKM di PPU, Momen Peran UMKM untuk Promosi Produk

“Konsepnya, bangunan ini dipotong seperti kue lapis—di dalamnya ada aliran udara. Semua dihitung dan didesain. Jadi, desainnya ini bukan hanya supaya ruangan tampak bagus dan nyaman, tapi agar udara dari AC dan kipas tidak dibuang begitu saja, melainkan dialirkan ke courtyard (area terbuka di tengah bangunan). Dengan begitu, kita bisa menghemat hingga 50 persen energy build,” paparnya.

Selain itu, kaca yang dipasang menggunakan sistem double glazing sehingga mampu menahan panas terik matahari, namun pencahayaan tetap masuk ke dalam ruangan. Bangunan istana dan kantor Wapres ini dikelilingi sekitar 80 persen lanskap, digarap oleh ahli lanskap dari diaspora Singapura bernama Siura, yang juga merancang Tebet Eco Park Jakarta.

Sementara itu, Manajer HSE PT KSO Adhi-Penta, Angga Hadimansyah, mengatakan progres pengerjaan sudah mencapai lebih dari 50 persen. Saat ini, pekerjaan difokuskan pada penyelesaian struktur bangunan, pekerjaan MEP (mekanikal, elektrikal, dan plumbing), serta pengerjaan arsitektur.

“Pekerjaan MEP menyumbang sekitar 15 persen kemajuan. Kami terus mengejar penyelesaian agar bisa rampung pada Desember. Struktur utama bangunan sudah selesai, tinggal finishing ringan,” jelasnya.

Baca Juga:   Terima LHP BPK 2025, Bupati PPU Siap Tindaklanjuti Rekomendasi Pengelolaan Dapodik

Pantauan di lapangan, pengerjaan ratusan anak tangga yang dinamai Tangga Demokrasi di bagian depan istana masih berlangsung. Di sisi dekat jalan rigid beton, juga tampak pengerjaan pengerukan tanah menggunakan ekskavator.

Istana yang nantinya akan ditempati Gibran Rakabuming ini mulai dibangun pada 2024 dengan nilai proyek Rp1,457 triliun. Lingkup pembangunannya mencakup Kantor Wapres, Kantor Sekretariat Wakil Presiden, Kediaman Wapres, bangunan pendukung lainnya, dan lanskap.

Sedianya proyek ini rampung Agustus 2025, namun mengalami keterlambatan dan diperpanjang hingga akhir tahun. Pihak Otorita melalui Kedeputian Sarana dan Prasarana menyebut keterlambatan disebabkan adanya penyesuaian desain dan tambahan pekerjaan. Tantangan lain adalah pengerjaan di lapangan dengan waktu ketat dan potensi hambatan cuaca.

Istana ini didesain oleh Daliana Suryawinata, arsitek diaspora yang telah 15 tahun tinggal di Belanda dan merupakan pendiri firma Suryawinata-Heinzelmann Architecture & Urbanism (SHAU). SHAU bekerja sama dengan Sukamta and Partners, SIURA, SIGMATECH Tatakarsa–Transsolar, Korra, NUSAE, dan Cilaki.

Daliana sempat kembali ke Indonesia bersama suaminya, Florian Heinzelmann, namun kini menetap di Singapura. Ia tergabung dalam komunitas Indonesian Diaspora Liveable Cities.

Baca Juga:   Banjir Meluas di PPU, Dua Kelurahan dan Satu Desa Terisolasi

Penulis: Riski/Media Kaltim
Editor: Agus S

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.