Meski Pembangunan IKN Melambat, Bisnis Kafe di Sepaku Tak Surut

NUSANTARA – Meski geliat pembangunan fisik di Ibu Kota Nusantara (IKN) mulai melambat sejak memasuki kuartal kedua 2025, geliat bisnis kafetaria di wilayah Sepaku justru tetap bergairah. Tidak sedikit pelaku usaha kuliner yang membuka tempat nongkrong dengan konsep kekinian, bahkan sambil menyuguhkan pemandangan alam, penginapan, hingga hiburan keluarga.

Salah satu yang paling anyar adalah Kopi Bend’s, yang menempati salah satu bangunan di area Bendungan Sepaku Semoi. Baru buka kurang dari satu bulan, kafe ini langsung ramai dikunjungi. Bukan hanya karena menunya terjangkau mulai dari Rp 20 ribuan, tapi juga karena view-nya yang langsung menghadap sisi pintu air bendungan serta adanya tiga ekor rusa yang ditangkarkan di area sekitar.

Kopi Bend’s menawarkan dua pilihan area, indoor dan outdoor. Area outdoor memiliki meja panjang seukuran dada orang dewasa, dengan kursi tinggi setara pinggang. Lokasinya memungkinkan pengunjung menikmati kopi sambil melihat panorama bendungan dan satwa.

Tak hanya Kopi Bend’s, sepanjang Jalan Nasional Sepaku dan desa-desa sekitarnya juga dipenuhi kafe-kafe unik. Misalnya di Desa Suka Raja, ada Delova yang memadukan konsep kafe, karaoke keluarga, dan kolam renang. Kemudian ada Raden Coffee yang sudah lebih dulu eksis, serta Kana’s Coffee di dekat Pasar Sepaku.

Baca Juga:   Bijak Ilhamdani Minta Pemkab PPU Realisasikan Kenaikan Gaji Guru Paud

Di Bukit Raya, berjejer nama-nama seperti Oris Coffee, Rexton, Nusantara Coffee, hingga Dejavu Billiard and Café dan Nusantara Cabin & Coffee yang juga menyediakan fasilitas menginap. Di dekat kawasan inti IKN, terdapat Café D & J, milik warga asal Palu yang menyajikan beragam menu lokal.

Salah satu sudut outdoor Nami Coffee & Eatery yang digemari pelanggan.

Harga juga terbilang masih terjangkau. Contohnya, segelas Jasmine Tea hanya Rp 18.000. Kemudian untuk menu ‘berat’ juga tersedia. Ada sate maranggi, nasi ikan cakalang telur yang jadi menu andalannya. Ada beef specify, ada pula sate tuna, serta nasi goreng.

Menurut salah satu pramusaji bernama Aji, situasi saat ini jauh berbeda dari dua tahun lalu saat proyek IKN sedang padat-padatnya.

Ketika proyek IKN masih ramai pekerja dan kontraktor, sehari bisa tembus omzet Rp 5 jutaan.

“Tapi sekarang sepi. Dulu, sehari 5 jutaan bisa dapat. Sekarang berat,” ungkapnya.

Karena tak seramai awal, jumlah pekerja di kafe pun berkurang jadi 6 orang. Semula, lebih dari itu.

Di lokasi terdekat lainnya, ada Nagari Cafe, Resto & Billiard IKN yang memiliki lebih dari empat meja billiard dan hiburan live band di akhir pekan. Lalu ada Naraya Nusantara Resort & Kafe serta Nami Kafe IKN Coffee & Eatery, yang buka setiap hari hingga pukul 02.00 Wita. Tempat ini rutin mengadakan nonton bareng pertandingan Timnas Indonesia.

Baca Juga:   Pasar Baru Sepaku Resmi Jadi Aset Negara, Pemdes Terima Lahan Pengganti

Soal harga juga tetap masih terjangkau. Menunya juga variatif. Ada Orenjee & Blue East, Thai Tea, coffee dengan beragam rasa yang strong, ada burger, nasi goreng Nusantara, dan lain-lain. Soal tempat, kafe ini tergolong nyaman dan menarik.

Soal pengaruh mulai sepinya pembangunan IKN, Owner Nami Kafe IKN Coffee & Eatery, Demi, turut mengakui. Cukup berpengaruh ke jumlah pengunjung dan pendapatan hari-hari. “Iya betul. Café, kost, kontrakan, penginapan, sepi. Rata semua,” terang dia.

Namun, di kawasan inti IKN (KIPP), kafe-kafe beroperasi dengan harga yang relatif lebih tinggi. Beberapa berada di lokasi “bergengsi”, dalam gedung Otorita IKN atau di lantai dasar Tower Kemenko 1, dengan pemandangan langsung ke Istana Negara.

Dalam dua tahun terakhir, Sepaku memang mengalami perubahan besar seiring dimulainya proyek pembangunan IKN. Ribuan pekerja datang dan membuka peluang usaha di sektor kuliner. Kini, meski pembangunan tak segencar sebelumnya, geliat kafe di Sepaku masih menjadi denyut alternatif ekonomi menyediakan ruang santai bagi warga, wisatawan, maupun pekerja yang tersisa.

Baca Juga:   Penetapan UMK 2023 Dijadwalkan Rampung Bulan ini

Bahkan, untuk biji kopinya harus diterbangkan dari luar Kalimantan. Sekarang pengusaha kafetaria cukup berhitung jumlah pendapatan dengan pengeluaran hari-hari, serta operasional gaji karyawan yang umumnya, Rp 3 jutaan, sampai Rp 5 juta sebulan. Belum lagi soal rasa sajian hidangan.

Biasanya penikmat jajanan suka membandingkan rasa di tempat satu, dengan tempat lainnya. Harga pokok penjualan (HPP) pun harus cermat dihitung. Sebab, saingan sudah lumayan banyak. Mahal dan beda rasa sedikit, pengunjung lari pindah cari kafe yang harganya lebih murah, meskipun sekarang daya beli masyarakat Sepaku lebih besar.

Pewarta : Riski Maulana
Editor : Nicha R

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.