Komisi X DPR RI dan Badan Bahasa Perkuat Literasi Kebangsaan di PPU

PPU – Di tengah derasnya arus digitalisasi, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) bersama Komisi X DPR RI menggulirkan langkah strategis. Dalam memperkuat karakter kebangsaan lewat kegiatan Diseminasi Bahan Penguatan Program Literasi Kebahasaan dan Kesastraan.

Kegiatan yang berlangsung di Hall The Rich Hotel Penajam Paser Utara (PPU), Sabtu (25/10/2025) ini diikuti oleh guru penggerak literasi, pustakawan, mahasiswa, duta bahasa, tenaga kependidikan, serta para pegiat literasi.

Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menegaskan pentingnya menjaga kedaulatan bahasa di tengah gempuran budaya digital global. Ia menyoroti fenomena menurunnya etika komunikasi di ruang digital Indonesia.

“Platform digital memang memperluas komunikasi, tapi juga menjadi cermin perilaku. Sayangnya, survei Digital Civility Index menunjukkan bahwa Indonesia berada dalam kondisi darurat etika,” ujar Hetifah.

Menurutnya, persoalan kebahasaan saat ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berbahasa, tetapi juga mencerminkan penghargaan terhadap jati diri bangsa.

“Banyak anak muda menganggap bahasa Indonesia hanya bahasa sehari-hari, sehingga tak perlu dipelajari lagi. Padahal, tanpa bahasa, kita kehilangan identitas,” tambahnya.

Baca Juga:   Menteri Nusron Dorong Meritokrasi SDM di Lingkungan ATR/BPN

Hetifah juga mengungkapkan data UNESCO tahun 2022 yang mencatat 24 juta penduduk dunia masih buta huruf, dengan 11 juta di antaranya perempuan. Sementara minat baca masyarakat Indonesia hanya mencapai 0,001 persen, artinya dari 1.000 orang, hanya satu yang gemar membaca.

“Ini alarm bagi dunia pendidikan kita. Guru yang berkualitas, kurikulum yang relevan, dan peran orang tua sangat menentukan kualitas generasi penerus,” tegasnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023, sekitar dua juta masyarakat Indonesia masih buta huruf. Sementara Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) 2024 berada di angka 78,34 atau kategori cukup tinggi. Namun, Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) di Kalimantan Timur (Kaltim) masih di bawah rata-rata nasional.

Kota Balikpapan mencatat skor tertinggi dengan nilai 80,23, sementara Kutai Kartanegara dan Mahakam Ulu tertinggal dengan skor masing-masing 62 dan 67.

Selain literasi, Hetifah juga menyoroti pentingnya pelestarian bahasa daerah di Kaltim yang mulai terancam punah. Tiga bahasa daerah, yakni Kenyah, Paser, dan dialek Kutai Kota Bangun, dan masuk dalam daftar 38 bahasa daerah yang direvitalisasi pemerintah sejak 2022.

Baca Juga:   Media Kaltim Grup Sambangi Diskominfo PPU: Bahas Pengembangan Informasi Publik hingga Pemberitaan Berkualitas

“Kita boleh terbuka terhadap bahasa asing, tapi jangan kehilangan jati diri terhadap bahasa sendiri,” pungkasnya.

Pewarta: Deddy Pz
Penyunting: Robbi Lalat

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.