PENAJAM PASER UTARA – Himpunan UMKM Taman Alun-Alun (HUTA) kembali menggelar ajang pencarian bakat HUTA Voice Vol. 2 Tahun 2026 di Alun-Alun Penyembolum, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Sabtu (25/7/2026) malam. Selain menjadi wadah bagi talenta muda di bidang tarik suara, kegiatan tersebut juga ditujukan untuk meningkatkan kunjungan masyarakat dan menggerakkan roda perekonomian pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Kompetisi yang dipandu Adi Priyanto Asmara itu diikuti sembilan finalis dan disaksikan ratusan warga. Acara turut dihadiri pengurus HUTA, dewan juri, sponsor, media partner, serta pelaku UMKM yang berjualan di kawasan alun-alun.
Selain kompetisi menyanyi, panitia juga menggelar pembagian voucher belanja UMKM, kuis interaktif, dan hiburan bagi pengunjung. Dewan juri terdiri atas Achmad Fitriady, Anggie yang pernah masuk Top 8 Tim Titi DJ pada ajang The Voice Indonesia, serta music producer Febri Setiawan.
Berdasarkan hasil penilaian dewan juri, Amalia berhasil meraih Juara I setelah membawakan lagu wajib Dirimu yang Dulu dan lagu pilihan Sang Dewi. Juara II diraih Nila Purnama, disusul Isyhak sebagai Juara III, Dinda Ayu Framaisella sebagai Juara IV, dan Fitri Fatimah sebagai Juara V.
Acara juga dimeriahkan penampilan Alifia Azzahra Ramadhanthy, Juara I HUTA Voice 2025, serta penampilan HUTA Voice Girl 2026, HUTA Voice Boy 2026, dan All Star HUTA Voice Vol. 2 yang membawakan sejumlah lagu hiburan.

Ketua HUTA Penajam, Tata Pramanta, mengatakan kegiatan seni seperti HUTA Voice merupakan salah satu strategi untuk menjaga kawasan Alun-Alun Penyembolum tetap ramai sehingga berdampak langsung terhadap peningkatan aktivitas ekonomi pelaku UMKM.
“Event ini kami buat untuk mendongkrak pengunjung alun-alun. Ketika pengunjung ramai, UMKM juga ikut bergerak. Kami ingin teman-teman UMKM tetap berjualan dan tidak putus asa meskipun omzet sempat turun,” kata Tata.
Ia menjelaskan, jumlah pelaku UMKM yang berjualan di kawasan alun-alun sempat menurun dari sekitar 159 menjadi 102 hingga 104 pelaku usaha akibat turunnya omzet penjualan. Namun, seiring kembali aktifnya berbagai kegiatan, jumlah tersebut kini meningkat menjadi sekitar 124 pelaku usaha.
Menurut Tata, penyelenggaraan kegiatan seni menjadi pilihan yang efektif karena mampu menarik masyarakat dengan biaya yang relatif terjangkau.
“Anggaran kami tekan seminimal mungkin, sekitar Rp5-6 juta, tetapi bagaimana event tetap hidup dan meriah. Kami juga berkolaborasi dengan sanggar-sanggar seni sehingga pelaku seni punya wadah dan UMKM ikut mendapatkan dampaknya,” ujarnya.
Ia menambahkan, kolaborasi dengan komunitas seni memberikan manfaat ganda, yakni menyediakan ruang ekspresi bagi para seniman sekaligus meningkatkan jumlah pengunjung yang datang dan berbelanja di lapak-lapak UMKM.
Tata juga berharap Alun-Alun Penyembolum tetap dipertahankan sebagai pusat aktivitas masyarakat dan ruang usaha bagi pelaku UMKM. Menurutnya, wacana pemindahan aktivitas UMKM ke ruang terbuka hijau (RTH) perlu dikaji secara matang dengan mempertimbangkan kesiapan fasilitas dan potensi kunjungan masyarakat.
HUTA berkomitmen terus menghadirkan kegiatan seni dan hiburan secara berkala sebagai upaya menghidupkan ruang publik sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif dan keberlangsungan usaha para pelaku UMKM di Kabupaten PPU.
“Alun-alun ini harus tetap dipertahankan dan dibenahi bersama. Jangan sampai UMKM yang sekarang sudah bertahan justru kembali kehilangan tempat untuk berjualan,” tegasnya.
Penyunting: Robbi Lalat



