PPU – Kondisi akses jalan menuju SMP Negeri 23 Penajam Paser Utara (PPU) di Kelurahan Petung yang rusak parah, berlumpur, dan licin memicu keluhan luas dari warga hingga aksi protes simbolik di tengah jalan. Di balik kondisi tersebut, Lurah Petung Achmad Fitriady mengungkap bahwa kerusakan bukan semata akibat hujan, melainkan erat kaitannya dengan proyek pembangunan sekolah yang masih berjalan dan belum rampung.
Ady, sapaanya menjelaskan, jalan menuju SMPN 23 sejatinya masih berupa tanah tanpa lapisan agregat. Curah hujan tinggi dalam beberapa pekan terakhir mempercepat kerusakan, yang kemudian diperparah oleh aktivitas penimbunan tanah uruk dari proyek pembangunan di lingkungan sekolah.
“Masih ada sisa pekerjaan sekitar 80 rit tanah uruk, yang di dalamnya bercampur batu dan semen. Itu nota bene harus diselesaikan dulu karena pembangunan SMP 23 juga masih berproses,” ujarnya dikonfirmasi, Selasa (14/1/2026).
Menurutnya, pemerintah kelurahan telah berkoordinasi langsung dengan instansi terkait, termasuk UPTD PU, Dinas PUPR, serta RT yang wilayahnya bersinggungan langsung dengan akses jalan tersebut, yakni RT 11 dan RT 17.
Ia menegaskan, dalam kondisi saat ini, Dinas PUPR tidak memungkinkan melakukan perbaikan permanen karena aktivitas alat berat dan mobilisasi material masih berlangsung di lokasi proyek sekolah.
“Secara teknis, kalau PU melakukan perbaikan sekarang, jalannya pasti akan rusak lagi. Karena itu, pihak penyelenggara atau kontraktor pembangunan sekolah wajib memperbaiki akses jalan sambil pekerjaan berjalan,” jelasnya.
Sebagai informasi, dampak dari kondisi tersebut dirasakan langsung oleh pelajar dan warga. Kendaraan roda dua maupun roda empat tidak bisa melintasi jalur utama, memaksa siswa berjalan kaki hingga sekitar 500 meter untuk mencapai sekolah. Kondisi ini sempat memicu aksi protes warga dengan menanam pohon pisang dan memasang spanduk di tengah jalan berlumpur sebagai bentuk desakan perbaikan.

Soal itu, Ady menyebutkan bahwa sejumlah langkah darurat telah dilakukan. Salah satunya dengan membersihkan area sekitar jalan yang tertutup pepohonan sawit dan tanaman warga agar sinar matahari dapat masuk dan membantu proses pengeringan jalan.
“Ada beberapa pohon warga yang menutupi sinar matahari. Hari ini sudah kita coba tebang dahan dan daunnya karena itu sangat berpengaruh terhadap proses pengeringan jalan,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengakui belum dapat memastikan kapan perbaikan menyeluruh dapat diselesaikan. Prioritas utama saat ini adalah penyelesaian pembangunan SMPN 23 oleh pihak kontraktor.
“Kami tidak bisa memastikan selesai kapan. Yang pasti prioritasnya pembangunan SMP 23 dulu diselesaikan. Setelah itu, pemerintah daerah bersama kecamatan dan UPT D PU akan melaksanakan perbaikan jalan secara bersama-sama,” katanya.
Selama proses tersebut berlangsung, akses menuju sekolah tetap harus dilalui siswa, meski dengan kondisi terbatas. Ady menyebut, tidak ada jalur alternatif ideal yang bisa sepenuhnya menggantikan akses utama.
“Mau tidak mau, suka tidak suka, anak-anak tetap harus melewati jalur itu. Tapi kami terus mengingatkan dan memantau kontraktor, minimal satu kali sehari, agar mereka menyelesaikan tanggung jawabnya,” tegasnya.
Sebagai solusi sementara, pihak sekolah bersama warga membuka jalur alternatif di sekitar parit dekat sekolah, meski jalur tersebut hanya bersifat darurat dan memutar.
“Kalau dari pantauan saya kemarin sore, kondisi jalan sudah lumayan membaik. Tidak separah yang divisualkan di media sosial. Artinya ada upaya serius untuk menanganinya,” tutup Ady.
Pewarta: Robbi Lalat



