Ajang Back to 80’s 3 Semarakkan Festival Nondoi 2025 Lewat Permainan Tradisional

PPU – Suasana Festival Nondoi 2025 di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini, festival budaya tahunan itu diramaikan dengan ajang bertema “Back to 80’s Third Edition”, yang menggabungkan nuansa retro dengan semangat pelestarian budaya lokal.

Kegiatan berlangsung di Halaman Rumah Adat Paser Kuta Rekan Tatau, Kilometer 9 Nipah-Nipah, Rabu (5/11/2025). Tidak hanya menampilkan hiburan modern, festival ini juga menghadirkan berbagai permainan tradisional sebagai bentuk edukasi dan pelestarian nilai-nilai budaya di tengah derasnya arus digitalisasi.

Ketua Komite Ekonomi Kreatif (Ekraf) PPU, Sandry Ernamurti, mengatakan kegiatan ini menjadi wadah untuk mengenalkan kembali permainan tradisional kepada generasi muda agar tidak melupakan akar budaya daerah.

“Kami ingin mengajarkan kepada generasi penerus bahwa di tengah modernisasi dan masifnya penggunaan gadget, masih ada hal menarik yang perlu dilestarikan, yaitu permainan tradisional,” ujarnya.


Foto: Ketua Ekraf PPU, Sandry Ernamurti, saat ditemui disela-sela permainan tradisional di Festival Nondoi 2025. (Deddy/MKNN)

Sandry menjelaskan, lomba permainan tradisional ini sudah tiga kali digelar dengan tema yang sama, namun tahun ini dikembangkan dengan konsep yang lebih luas. Ada lima jenis permainan yang dilombakan, yakni Gobak Sodor, Lari Balok, Kasti, Cinaboy, serta satu permainan khas Suku Paser yang baru pertama kali dilibatkan.

Baca Juga:   DKP PPU Lakukan Antisipasi Kelangkaan Bapokting Selama Ramadan

Menurutnya, Festival Nondoi tahun ini juga menampilkan kolaborasi baru antara kegiatan budaya lokal dan permainan rakyat. Salah satunya adalah permainan Beturak, yang kini resmi dijadikan ajang perlombaan setelah sebelumnya hanya tampil sebagai hiburan.

“Tahun ini terasa berbeda karena ada kolaborasi nyata antara permainan tradisional dan Festival Nondoi. Kalau dulu Beturak hanya tampil sebagai hiburan, sekarang kami resmi pertandingkan,” jelas Sandry.

Antusiasme masyarakat pun tinggi. Sekitar 820 peserta dari kalangan pelajar SD dan SMP ikut berpartisipasi, belum termasuk aparatur sipil negara (ASN) dan pegawai dari sembilan perangkat daerah yang turut mendaftar.

“Tahun ini lebih meriah karena kami juga melibatkan ASN dan PNS. Sampai malam nanti pendaftaran masih dibuka,” tambahnya.

Festival Nondoi merupakan salah satu kegiatan budaya paling dinantikan masyarakat PPU. Selain menjadi sarana hiburan, kegiatan ini juga bertujuan memperkuat semangat kebersamaan serta menjaga kelestarian budaya lokal.

Baca Juga:   Ketua DPRD PPU Tekankan Peningkatan Kinerja Pegawai dalam Pelayanan Publik

Sandry berharap ajang permainan tradisional dapat menjadi agenda tahunan dengan skala yang lebih luas.

“Mudah-mudahan tahun depan bisa kita tingkatkan ke level antar kabupaten. Pak Bupati berharap tahun depan Festival Nondoi bisa diikuti seluruh 10 kabupaten dan kota di Kalimantan Timur,” ungkapnya.

Pewarta: Robbi Lalat

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.