NUSANTARA – Perguruan tinggi di wilayah perbatasan negara mengemban misi strategis sebagai beranda depan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Salah satunya Universitas Borneo Tarakan (UBT) di Kalimantan Utara (Kaltara), yang kini berupaya memperkuat sektor pangan melalui produk unggulan daerah.
“Nah, Krayan kan memang itu yang selama ini kita kenal. Berasnya misalnya, lebih banyak diproduksi, bahkan dikonsumsi di Brunei,” tutur Rektor UBT, Yahya Ahmad Zain di Kemenko 1 Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN, baru-baru ini.
Beras Adan Krayan, hasil pertanian masyarakat di Kabupaten Nunukan, Kaltara, memang memiliki kualitas premium dengan tekstur pulen. Ironisnya, hingga kini lebih dari 80 persen produksinya dari 89 desa justru diekspor ke Malaysia dan Brunei Darussalam, sementara pasokan untuk pasar nasional masih minim.
Yahya Ahmad Zain menjelaskan, UBT mencoba bagaimana produk itu dapat menjadi bagian dari produksi pangan Kalimantan Utara dan Indonesia.
“Yang nanti memang brandingnya ada di kita termasuk misalnya soal garam. Garam Krayan kan juga garam yang sangat unik,” terang dia.
Dijelaskan, selain beras, juga ada garam Krayan yang sangat unik. Garam Gunung Dayak Lundayeh ini dibuat secara tradisional dengan metode penguapan air garam alami, dan potensial untuk dikembangkan.
Saat ini, Kalimantan Utara sendiri merupakan salah satu wilayah strategis nasional dengan sejumlah proyek besar, termasuk Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Tanah Kuning-Mangkupadi di Bulungan, serta keterkaitannya dengan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Kita punya KIPI yang itu juga tadi menjadi bagian penting bahwa Kalimantan Utara juga harus hadir dalam forum-forum internasional seperti ini,” tukasnya di sela-sela rapat High Level Meeting ke-16 Council of University Presidents of Thailand (CUPT) dan Council of Rector of Indonesia State University (CRISU) di IKN.
Kaltara yang daerahnya berbatasan dengan Malaysia khususnya Sabah, banyak potensi penting untuk hubungan luar negeri ke depan. Tapi secara geografis, ada kesulitan dalam hal akomodasi.
“Memang problem utamanya kan di transportasi, infrastruktur, sementara di UB sendiri kami juga punya keterbatasan untuk bisa terlibat secara langsung. Tapi sebagai perguruan tinggi negeri yang ada di Kalimantan Utara, yang berbatasan langsung dengan Malaysia, kita mendorong terus agar infrastruktur ini menjadi bagian penting nantinya agar produk-produk unggulan ini ingin dipasarkan lebih masif lagi,” terang Yahya.
UBT, lanjutnya, kini aktif membangun kolaborasi pentahelix dengan pemerintah daerah, provinsi, kabupaten, kota, dan mitra usaha. Perguruan tinggi, menurutnya, tidak hanya mendukung pembangunan IKN secara fisik, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan sebagai salah satu kebijakan utama pemerintah.
Salah satu upaya konkritnya, PT harus hadir dalam rangka pengembangan riset. Bagaimana riset-riset itu dilakukan sehingga dapat menjadi bagian untuk memperkuat program ketahanan pangan yang menjadi kebijakan utama pemerintahan saat ini. Sekaligus dapat menopang ketahanan pangan IKN yang ekosistemnya sedang dibangun.
“Kalau di Tarakan kan kita juga sudah punya fakultas pertanian, sehingga fakultas pertanian ini juga harus terus melakukan upaya pembangunan. Terutama mencari varietas-varietas baru produk pertanian,” jelas Rektor.
Pewarta : Riski Maulana
Editor : Nicha R



