Penajam Paser Utara – Pihak sekolah mengklarifikasi insiden yang melibatkan dua siswa SMP di Penajam Paser Utara (PPU) yang sempat dikaitkan dengan dugaan perundungan (bullying). Berdasarkan hasil penelusuran internal, termasuk rekaman CCTV, kejadian tersebut disebut merupakan perkelahian yang melibatkan kedua belah pihak.
Kepala sekolah menjelaskan, peristiwa bermula dari interaksi sederhana terkait peminjaman bola yang kemudian memicu cekcok antar siswa.
“Awalnya pinjam bola, lalu terjadi cekcok. Setelah itu terjadi dorong-dorongan dan saling pukul,” ujarnya.
Insiden terjadi saat kegiatan ujian praktik berlangsung, ketika sebagian siswa berada di area lapangan. Situasi berkembang cepat hingga berujung pada kontak fisik yang menyebabkan salah satu siswa mengalami luka di bagian telinga.
Dari hasil rekaman CCTV yang telah dilaporkan kepada pemerintah daerah, terlihat adanya aksi saling pukul antara kedua siswa. Dalam salah satu momen, salah satu siswa tampak berada dalam posisi terpojok. Setelahnya, salah satu anak melakukan aksi gigit kuping.
“Dari CCTV terlihat ada momen saling pukul. Situasinya berkembang cepat di lokasi,” jelasnya.
Pihak sekolah tidak menutup kemungkinan adanya faktor pemicu lain sebelum kejadian, seperti saling ejek antar siswa. Namun, hal tersebut masih dalam tahap pendalaman.
“Memang ada informasi saling ejek sebelumnya, tapi yang terjadi di lapangan adalah perkelahian,” tegasnya.
Sekolah menilai penting untuk meluruskan informasi yang beredar agar tidak menimbulkan kesimpangsiuran di masyarakat, khususnya terkait perbedaan antara dugaan perundungan dan fakta perkelahian.
Dalam penanganan lanjutan, sekolah melibatkan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) PPU untuk memberikan pendampingan, termasuk dalam proses forensik guna memastikan penanganan berjalan objektif.
Selain itu, pihak sekolah menyebut telah rutin melaksanakan program pencegahan, seperti sosialisasi anti-perundungan, penguatan pendidikan karakter, serta kerja sama dengan instansi terkait, termasuk kepolisian.
“Kami sudah rutin melakukan sosialisasi dan penguatan karakter setiap hari. Ini sudah menjadi program sekolah,” terangnya.
Pihak sekolah juga menyayangkan beredarnya informasi awal di ruang publik yang dinilai belum sepenuhnya terverifikasi, sehingga berpotensi membentuk persepsi yang tidak utuh terhadap kejadian.
Kasus ini menjadi perhatian berbagai pihak, sekaligus pengingat pentingnya penanganan kekerasan antar pelajar secara cermat, berbasis fakta, dan melibatkan lintas instansi guna mencegah dampak yang lebih luas.
“Sebaiknya sebelum muncul diruang publik baiknya diverifikasi dulu, agar kiranya tidak menimbulkan persepsi yang tidak utuh,” tutupnya.
Pewarta: Deddy Pz
Penyunting: Robbi Lalat



