PENAJAM PASER UTARA – Upaya pelestarian budaya lokal terus dilakukan dengan berbagai cara. Di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), penggiat lingkungan dan pecinta tanaman, Masrani, memilih memperkenalkan kembali kearifan lokal Paser melalui pot tanaman bermotif Solong Tengkalang.
Bagi Masrani, Solong Tengkalang bukan sekadar kerajinan tradisional, melainkan simbol identitas masyarakat Paser yang perlu terus dijaga dan dikenalkan kepada generasi muda.
“Membuka mata kita semua tentang pentingnya pelestarian kerajinan lokal Paser. Bagaimanapun juga, kearifan lokal Paser ini adalah identitas yang perlu kita lestarikan dan kembangkan,” kata Masrani, Senin (8/6/2026).
Meski mengaku berasal dari suku Bugis, kecintaannya terhadap budaya Paser mendorong dirinya menciptakan pot tanaman dengan desain menyerupai Solong Tengkalang, wadah tradisional yang dahulu digunakan masyarakat untuk membawa hasil pertanian dan perkebunan.
“Saya sebenarnya orang Bugis, tetapi saya mencintai budaya Paser karena memiliki kerajinan lokal yang sangat khas,” ujarnya.
Ide tersebut mulai diwujudkan pada 1 Agustus 2025. Menurutnya, karya itu mendapat apresiasi dari Sultan Paser karena dinilai menjadi salah satu upaya melestarikan warisan budaya yang kini mulai jarang ditemui masyarakat.
“Tujuan saya bukan sekadar membuat pot, tetapi membuka mata masyarakat agar lebih mencintai budaya dan identitas lokal suku Paser,” katanya.
Masrani menilai pelestarian budaya tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat agar gerakan pelestarian budaya dapat berjalan berkelanjutan.
“Tanpa dukungan pemerintah, gerakan seperti ini tentu kurang maksimal. Kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat sangat penting untuk membangun Penajam Paser Utara, termasuk dalam pelestarian Solong Tengkalang,” ujarnya.
Sebagai bentuk komitmen, Masrani telah menghibahkan hampir 200 pot bermotif Solong Tengkalang secara gratis ke berbagai lokasi di PPU. Pot-pot tersebut ditempatkan di Masjid Agung Al-Ikhlas, Rumah Adat Kuta Rekan Tatau, sejumlah fasilitas umum, hingga diberikan kepada Sultan Paser.
“Alhamdulillah, Solong Tengkalang yang saya buat sudah saya wakafkan dan distribusikan secara gratis. Hampir 200 unit dari berbagai tipe,” ungkapnya.
Tak hanya itu, ia juga telah menyerahkan karya tersebut ke Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN). Bahkan, ia berharap suatu saat pot bermotif Solong Tengkalang dapat dipajang di kawasan Istana Negara sebagai simbol pengakuan terhadap budaya lokal yang hidup di sekitar IKN.
“Harapan saya sederhana, suatu saat pot bermotif Solong Tengkalang ini bisa berdiri di kawasan Istana Negara sebagai simbol pelestarian kearifan lokal. Bagaimanapun juga, IKN berdiri di tanah yang memiliki sejarah dan budaya Paser,” katanya.
Dalam kegiatan terbarunya, Masrani kembali membagikan puluhan pot Solong Tengkalang kepada masjid, mushala, sekolah, pesantren, area makam, hingga pelaku usaha di Kelurahan Tanjung Tengah. Seluruh pot diberikan secara cuma-cuma lengkap dengan media tanam dan tanaman di dalamnya.
“Semuanya diberikan secara gratis, termasuk tanah dan tanaman yang ada di dalam pot. Saya hibahkan dengan ikhlas sebagai bagian dari upaya bersama melestarikan budaya Paser,” tutupnya.
Pewarta: Robbi Lalat



