spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Myrna Asnawati Safitri, Cucu Pejuang Kemerdekaan yang Jabat Deputi Otorita IKN

Namanya Myrna Asnawati Safitri. Pada 13 Oktober 2022, perempuan kelahiran Samarinda itu dilantik bersama empat deputi Otorita Ibu Kota Nusantara. Terpilihnya Myrna ditetapkan melalui Keputusan Presiden RI Nomor 123/TPA Tahun 2022. Jabatannya adalah Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam, Otorita Ibu Kota Nusantara.

Myrna dinilai layak secara kapabilitas dan kompetensi untuk menempati unsur pimpinan tinggi madya di Otorita IKN. Dia seorang doktor ilmu hukum dari Universitas Leiden, Belanda. Dia juga alumnus Magister Antropologi, Universitas Indonesia, dan sarjana hukum dari Universitas Brawijaya.

Kepakaran Myrna bila diukur dari sitasi publikasi ilmiah relatif cukup kredibel. Sebagai dosen Hukum Lingkungan dan Tata Ruang di Fakultas Hukum, Universitas Pancasila, ia memiliki lebih dari lima ratus sitasi.

Portofolio Myrna di bidang hukum dan lingkungan juga mumpuni. Ia adalah Deputi Bidang Edukasi dan Sosialisasi, Partisipasi, dan Kemitraan, Badan Restorasi Gambut dan Mangrove Republik Indonesia sejak 2021. Dia pernah menjadi konsultan beberapa lembaga internasional dan memimpin organisasi masyarakat sipil di bidang lingkungan dan sumber daya alam.

Baca Juga:   Kadin PPU Diminta Berperan Dalam Perpindahan IKN

Selain memenuhi kualifikasi kompetensi, masuknya Myrna di Otorita IKN merupakan implementasi Peraturan Presiden 62/2022 tentang Otorita Ibu Kota Nusantara. Pasal 14 menyebutkan bahwa komposisi deputi Otorita IKN mengutamakan unsur masyarakat lokal Kalimantan Timur.

Penelusuran terhadap profil Myrna sebagai representasi masyarakat Kaltim menunjukkan bahwa dia lebih dari sekadar seorang yang berkelahiran di Samarinda. Dari aspek keluarga dan leluhur, Myrna adalah keturunan etnis Banjar Samarinda yang menghidupkan eksistensi Kampung HBS Pasar Pagi di tepian Mahakam. Kampung HBS juga tercatat berpartisipasi dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tempo dulu, pada masa Pergerakan Nasional dan Revolusi Kemerdekaan, Kampung HBS terkenal sebagai permukiman para pejuang.

Kakek Myrna bernama Badroen Arieph. Sejumlah memoar dan testimoni para veteran mengungkap peran Badroen Arieph pada masa Revolusi Kemerdekaan. Bersama Abdoel Moeis Hassan dan pemuda yang lain, Badroen ikut dalam Panitia Persiapan Penyambutan Kemerdekaan Republik Indonesia (P3KRI) di Samarinda pada 1945. Bersama keluarga Barack, Badroen menyediakan logistik dan makanan untuk laskar gerilyawan Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) Samarinda pimpinan Djunaid Sanusie.

Baca Juga:   Teken Nota Kesepahaman dengan BRI, Otorita IKN Dukung Digitalisasi Perbankan di Nusantara

Badroen juga menjadi penyandang dana sekaligus bendahara untuk gerakan politik Republiken di Kaltim Gerakan politik Republiken itu adalah sebuah partai lokal bernama Ikatan Nasional Indonesia (INI). Partai tersebut dipimpin Abdoel Moeis Hassan yang kelak menjadi Gubernur Kaltim periode 1962–1966.

Di samping itu, Badroen mendirikan surat kabar Masjarakat Baroe pada Agustus 1946. Badroen merekrut Oemar Dachlan sebagai pemimpin redaksinya.

Koran ini berperan sebagai media perjuangan kaum Republiken di Kaltim. Kiprah Badroen di bidang pers melanjutkan jejak kakak kandungnya, Anang Atjil Arieph. Pada masa pergerakan nasional sebelum Perang Dunia II, tepatnya pada 1935, Anang Atjil Arieph menerbitkan koran harian bernama Pantjaran Berita di Samarinda.

Pengalaman Badroen dan Anang Atjil dalam penerbitan media diikuti putra tunggal Badroen yang bernama Muhammad Fuad Arieph. Pada awal 1970, Fuad Arieph mendirikan koran Suara Kaltim. Ia menjabat Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Kaltim selama dua periode dari 1990 hingga 2000. Pernah pula menjadi Ketua DPRD Samarinda periode 1999–2004. Fuad Arieph tiada lain ayah dari Myrna.

Baca Juga:   Bakal Dipekerjakan di IKN, Kukar Kembali Dapat 2.000 Kuota Pelatihan Pekerja

Kembali ke Myrna, ia dilantik sebagai salah satu deputi Otorita Ibu Kota Nusantara. Sebelumnya, pada 26 Agustus 2019, Presiden Joko Widodo mengumumkan bahwa lokasi ibu kota baru negara adalah di Kalimantan Timur. Lalu pada 18 Januari 2022, DPR RI mengesahkan Undang-Undang Ibu Kota Negara. Presiden mengarahkan Kepala Otorita IKN agar rekrutmen deputi ada yang berasal dari masyarakat Kaltim. Hal ini mengakomodasi opini pihak organisasi kemasyarakatan yang meminta komposisi pimpinan Otorita IKN diisi putra daerah Kaltim.

Akhirnya, Kamis, 13 Oktober 2022, di Aula Serbaguna Gedung III Kementerian Sekretariat Negara, Kepala Otorita IKN Bambang Susantono melantik putri sulung Fuad Arieph tersebut. Dialah Myrna Asnawati Safitri binti Fuad Arieph bin Badroen Arieph, urang Banjar Samarinda. (kk)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

BERITA POPULER