Komite Ekraf PPU: Festival Nondoi 2025 Jadi Ruang Ekspresi dan Promosi Ekonomi Kreatif

PPU – Ketua Ekonomi Kreatif (Ekraf) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Sandry Ernamurti, memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan Festival Budaya Nondoi 2025 yang kembali digelar dengan semangat pelestarian budaya lokal. Meski kegiatan tahun ini mengalami penyesuaian karena efisiensi anggaran, Sandry menilai festival tersebut tetap memberi dampak positif bagi pengembangan sektor ekonomi kreatif di daerah.

Festival Budaya Nondoi merupakan agenda tahunan yang menampilkan kekayaan adat, budaya, dan tradisi masyarakat Paser di PPU. Tahun 2025, kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang pelestarian budaya, tetapi juga wadah bagi pelaku ekonomi kreatif dan UMKM untuk menampilkan potensi lokal yang berdaya saing.

Kegiatan yang digelar mulai 3 hingga 8 November 2025 dengan mengangkat tema “Jakit Aso Erai Siret, Dalai Aso Erai Urai”, yang berarti Satu Ikatan Sebangsa dan Satu Tanah Air. Pembukaan kegiatan rutin garapan Lembaga Adat Paser (LAP) PPU ini dilakukan langsung oleh Bupati PPU Mudyat Noor, disaksikan jajaran pejabat daerah, tokoh adat, dan masyarakat dari berbagai suku.

Tahun ini, Komite Ekraf PPU juga turut menjadi salah satu kolaboratur dalam rangkaian acara yang melibatkan banyak pihak tersebut. Visinya selaras dengan pembangunan dan pengembangan masyarakat beserta dengan peningkata kesejahteraanya.

Baca Juga:   PPU Incar PAD dari Aktivitas Kapal Tugboat dan Tongkang di Teluk Balikpapan

“Ekonomi kreatif inilah yang kita bawa masuk, karena Ekraf itu salah satu subsektornya adalah budaya. Nah, di tahun ini kami tambahkan juga subsektor musik. Jadi dari 17 subsektor, ada dua yang kami tampilkan di Nondoi kali ini, yaitu permainan dan musik,” ujar Sandry saat ditemui di lokasi acara.

Menurutnya, kehadiran subsektor permainan dan musik menjadi pembeda dari pelaksanaan tahun sebelumnya. Jika pada 2024 belum ada unsur musik dalam penutupan, tahun ini Ekraf mencoba menambahkan nuansa hiburan yang tetap berakar pada budaya lokal.

Sandry juga mengatakan keterlibatan pelaku UMKM kuliner lokal, yang menjadi salah satu bagian penting dari 17 subsektor ekonomi kreatif. Ia menilai kehadiran mereka dalam Nondoi mampu memperkenalkan produk khas PPU kepada masyarakat yang datang dari berbagai daerah.

“Kalau saya melihat hanya dari sektor kuliner. Ekraf juga membawahi kuliner, dan Nondoi ini menghadirkan beberapa UMKM kuliner dari PPU. Kalau tidak salah, sekitar 14 kuliner ikut serta tahun ini. Mudah-mudahan ke depannya bisa lebih semarak lagi dengan hadirnya Ekraf,” ungkapnya.

Baca Juga:   Ketua Bawaslu PPU: Ubah Sistem Pilkada Berisiko Pangkas Peran Rakyat dan Pengawasan

Kolaborasi ini, lanjut Sandry, juga mendapat dukungan dari pengelola Taman Alun-Alun Penajam, yang memfasilitasi keterlibatan pelaku Ekraf di area kuliner. Yaitu Himpunan UMKM Taman Alun-alun (HUTA) PPU yang sejak tahun ini terbentuk menjadi paguyuban UMKM lokal.

“Kebetulan karena Ekraf masuk, maka dari himpunan Taman Alun-Alun mengontak kami untuk meminta tempat kolaborasi di sektor kulinernya. Jadi Nondoi-nya so far so good,” tuturnya.

Meski memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Nondoi, Sandry juga menyampaikan evaluasi agar pelaksanaan di tahun mendatang bisa lebih baik. Ia mengakui bahwa secara ritual budaya, festival ini tetap menampilkan kekayaan tradisi yang mengakar kuat, namun pada aspek konsep dan kemasan acara masih perlu pengembangan.

“Nondoi secara ritual sangat oke banget. Saya kebetulan semalam di sini sampai malam, oke banget. Tapi secara konsep saya rasa masih terlalu flat. Mudah-mudahan tahun depan bisa lebih meningkat,” ucap Sandry memberi catatan.

Menurutnya, efisiensi anggaran yang diberlakukan tahun ini menjadi salah satu faktor mengapa gaung Nondoi terasa lebih sederhana dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, ia tetap optimistis bahwa dengan dukungan semua pihak, festival budaya ini dapat terus berkembang menjadi wadah ekspresi kreatif masyarakat PPU.

Baca Juga:   Digelontor Rp 20 M dari Kemenkes, Rumah Sakit Pratama Sepaku Akan Layani Pekerja IKN

Gaung Nondoi Menjangkau IKN

Festival Budaya Nondoi tahun ini juga mengangkat tema yang menjangkau wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN), sebagai simbol keterhubungan budaya antara masyarakat PPU dan kawasan strategis nasional di sekitarnya. Sandry menilai langkah ini positif karena dapat memperluas jangkauan promosi potensi ekonomi kreatif daerah.

“Gemanya memang lebih kecil dibanding tahun lalu karena efisiensi, tapi arah temanya sudah sangat bagus karena sampai ke IKN. Ini bisa jadi pintu masuk untuk memperkenalkan Ekraf PPU ke wilayah yang lebih luas,” ujarnya.

Sandry berharap Festival Nondoi ke depan bisa digarap dengan konsep yang lebih kuat dan kreatif tanpa menghilangkan nilai tradisi yang menjadi identitasnya. Penguatan kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku seni, dan komunitas ekonomi kreatif juga diharapkan dapat terus ditingkatkan.

“Mudah-mudahan tahun depan bisa lebih meningkat. Tidak hanya menonjolkan sisi ritual, tapi juga kemasan dan daya tarik acara agar lebih hidup dan menarik bagi masyarakat,” pungkasnya.

Pewarta: Robbi Lalat

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.