Penajam Paser Utara – Bayangkan sebuah koper yang dipaksa penuh, tiket pesawat sekali jalan, dan doa ibu yang masih terngiang saat pesawat lepas landas meninggalkan tanah Kalimantan Timur. Bagi sebagian orang, merantau bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi perjalanan panjang yang penuh ketidakpastian—bahkan tak jarang dimulai hanya dengan modal nekat dan harapan dari peluang kecil, termasuk dari platform media sosial.
Di tanah rantau, cerita tak selalu indah. Ada malam-malam panjang menatap langit kota orang, rindu kampung halaman, hingga perjuangan menahan lapar demi bertahan hidup. Semua itu dijalani demi satu tujuan: meraih pengakuan, selembar gelar, dan harapan untuk dianggap berhasil oleh keluarga.
Merantau bukan hanya soal alamat baru, melainkan tentang peran yang harus dijalani—berpura-pura kuat di tengah keterbatasan. Bahkan, obat lambung kerap menjadi “teman setia” di akhir bulan. Namun, menyerah bukan pilihan. Pulang tanpa hasil bukanlah jalan yang ingin ditempuh.
Di balik kerasnya perjuangan itu, selalu ada sisi lain yang bisa ditertawakan. Kisah-kisah getir di perantauan sering kali berubah menjadi humor—cara sederhana untuk bertahan. Dari situlah lahir ide pertunjukan bertajuk “Peran(G)tau”, sebuah panggung yang mengangkat realita hidup perantau dalam balutan komedi.
Dua putra daerah Kalimantan Timur, Adam Aliansyah (dengan nama panggung @damlieyy) dan Rama Indrawan (@tatakerama), mencoba meramu pengalaman tersebut menjadi materi stand up comedy yang dekat dengan kehidupan banyak orang. Mereka tidak datang untuk mengeluh, tetapi mengajak penonton menertawakan nasib yang sama.
Pertunjukan ini menyasar berbagai kalangan, mulai dari perantau lama, mereka yang baru akan berangkat, hingga yang masih menyimpan mimpi merantau. “Peran(G)tau” bukan sekadar hiburan, melainkan ruang berbagi cerita dan pengalaman yang terasa relevan bagi banyak orang.
“Pertunjukan ini adalah surat cinta sekaligus tamparan humor bagi para perantau. Kami ingin membedah realita yang sering kali tidak seindah yang terlihat di media sosial,” ujar perwakilan penyelenggara.
Rencananya, pertunjukan akan digelar di Kabupaten Penajam Paser Utara pada 11 Juli 2026 dan di Kabupaten Paser pada 18 Juli 2026. Penyelenggara menargetkan sekitar 100 hingga 150 penonton di setiap lokasi, dengan harga tiket sebesar Rp50 ribu.
“Kami ingin membawa perspektif perantau Kaltim ke panggung. Mulai dari adaptasi, culture shock, hingga cara bertahan hidup yang kadang di luar nalar. Ini juga jadi ajang reuni bagi mereka yang merasa senasib,” tambahnya.

Materi yang dibawakan dipastikan dekat dengan kehidupan sehari-hari, tidak hanya bagi mereka yang sudah merantau, tetapi juga bagi yang sedang mempertimbangkan langkah tersebut.
Saat ini, tiket telah mulai dijual dengan harga early bird. Dengan kuota terbatas, penonton diimbau segera mengamankan kursi sebelum harga normal diberlakukan.
Lebih dari sekadar pertunjukan, “Peran(G)tau” menjadi ruang untuk berkumpul, melepas penat, dan menertawakan kerasnya hidup di tanah rantau, karena pada akhirnya, setiap perjuangan selalu punya cerita yang layak untuk dirayakan. (*)



