Oleh : Subur Priono, S.I. Kom
(Humas Setkab Penajam Paser Utara)
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, termasuk pada pola tumbuh kembang anak. Ponsel yang awalnya berfungsi sebagai alat komunikasi kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari.
Namun, di balik berbagai manfaat yang ditawarkan, penggunaan ponsel yang berlebihan pada anak-anak menimbulkan kekhawatiran yang semakin nyata.
Saat ini, tidak sedikit orang tua yang kesulitan mengawasi penggunaan ponsel oleh anak. Bahkan, dalam banyak kasus, anak-anak terlihat lebih nyaman berinteraksi dengan layar dibandingkan dengan lingkungan sekitar, teman sebaya, maupun anggota keluarga. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap ponsel telah menjadi fenomena yang perlu mendapat perhatian serius.
Salah satu gambaran yang sering dijumpai di masyarakat adalah saat proses khitan. Banyak anak diberikan ponsel untuk mengalihkan perhatian mereka selama tindakan berlangsung.
Menariknya, ketika fokus anak sepenuhnya tertuju pada permainan atau tontonan di layar, rasa takut dan sakit yang biasanya muncul seolah berkurang. Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh ponsel terhadap konsentrasi dan respons psikologis anak bahkan mampu mengalahkan rasa sakit di tubuhnya.
Di satu sisi, hal tersebut dapat dipandang sebagai manfaat karena membantu anak lebih tenang dalam menghadapi prosedur yang menegangkan. Namun di sisi lain, kondisi itu menjadi sinyal bahwa ketergantungan terhadap ponsel telah mencapai tingkat yang cukup tinggi. Anak menjadi sangat bergantung pada stimulus digital untuk mengendalikan emosi, mengatasi kebosanan, bahkan mengurangi rasa tidak nyaman yang dialami.
Para ahli pendidikan dan psikologi anak berulang kali mengingatkan bahwa penggunaan ponsel secara berlebihan dapat berdampak pada perkembangan sosial, emosional, dan kognitif anak. Anak yang terlalu sering bermain gawai berisiko mengalami penurunan kemampuan berkomunikasi secara langsung, kurang aktif bergerak, sulit berkonsentrasi dalam belajar, hingga mengalami gangguan tidur.
Selain itu, minimnya pengawasan orang tua juga membuka peluang bagi anak untuk mengakses konten yang tidak sesuai dengan usianya. Di era digital saat ini, berbagai informasi dapat diakses hanya dengan beberapa sentuhan jari. Tanpa pendampingan yang memadai, anak rentan terpapar konten negatif yang dapat memengaruhi perilaku dan pola pikir mereka.
Karena itu, peran orang tua menjadi sangat penting dalam mengatur penggunaan ponsel di rumah. Ponsel seharusnya digunakan sebagai sarana belajar dan hiburan yang terkontrol, bukan menjadi “pengasuh kedua” yang menggantikan peran keluarga. Orang tua perlu menetapkan batas waktu penggunaan gawai, mengajak anak melakukan aktivitas fisik, membaca buku, bermain bersama teman sebaya, serta membangun komunikasi yang hangat dalam keluarga.
Teknologi pada dasarnya bukanlah musuh. Namun, tanpa pengawasan dan pengendalian yang tepat, teknologi dapat membawa dampak yang kurang baik bagi tumbuh kembang anak. Fenomena anak yang mampu melupakan rasa sakit saat khitan karena asyik dengan ponsel menjadi gambaran nyata betapa kuatnya pengaruh perangkat digital dalam kehidupan mereka saat ini.
Oleh karena itu, diperlukan kesadaran bersama agar manfaat teknologi dapat dinikmati tanpa mengorbankan kesehatan dan perkembangan generasi masa depan.[*]



