PPU – Para pengendara yang melintas di ruas jalan Semoi menuju Kilometer 38, Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), diimbau untuk lebih berhati-hati. Pasalnya, kawanan beruk (Macaca nemestrina) dan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) sering berkeliaran di tepi jalan, bahkan bergerombol di badan jalan.
Kondisi ini berisiko menimbulkan kecelakaan, terutama ketika pengendara berhenti untuk memberi makan satwa tersebut. Hewan-hewan itu biasanya langsung mendekat dan menyerbu makanan, yang bisa membahayakan baik satwa maupun manusia.
Pandri, salah seorang warga yang kebetulan ada di lokasi berkata, tidak sedikit pengendara berhenti dan memberi makan satwa liar itu.
“Kadang orang berhenti ngasih makan itu Mas, bisa menyebabkan interaksi berlebihan antara satwa dengan pengendara. Takutnya bisa membahayakan satwa maupun pengendara sendiri,” ungkapnya di lokasi, Jumat (19/9/2025).
Monyet-monyet itu biasanya berkoloni. Menyebar di ruas jalan dengan bergerombol. Ada yang berbadan bongsor (beruk), lebih dominan berkuasa ketimbang ekor panjang, yang bertubuh lebih kecil. Bahkan sering dijumpai yang masih kecil dan berada dalam gendongan induknya.
Tapi sejauh ini, untungnya, tidak pernah timbul kasus monyet tertabrak kendaraan saat melintas. BKSDA (Badan Konservasi Sumber Daya Alam) dalam suatu artikel menyebut, monyet-monyet yang berkeliaran di jalan kemungkinan pernah diberi makan oleh para pelintas jalan. Sehingga, ada pola dalam tabiat satwa ini untuk tidak sungkan bermain-main di lintasan manusia.
Habitat kawasan monyet itu sebenarnya di dalam kawasan hutan. Baik di kiri-kanan ruas jalan. Tetapi agaknya, habitat mereka sudah terganggu oleh aktivitas manusia. Oleh karenanya kawanan monyet akhirnya “turun ke jalan”.
Kondisi adanya monyet yang keluar dari habitat aslinya di dalam hutan, juga terlihat di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN, tepatnya di area proyek jalan 1B-1C. Tapi tak sebanyak yang ada di jalur menuju Km 38.
Beberapa waktu lalu, beruk yang banyak terlihat di kawasan jalur Semoi-Km 38 rencananya akan dipindahkan ke suatu pulau. Hal tersebut pernah disampaikan Direktur Pengembangan Pemanfaatan Kehutanan dan Sumber Daya Air Otorita Ibu kota Nusantara (OIKN), Pungky Widiaryanto.
“Dari evaluasi sementara, para beruk akan digeser ke pulau yang menjadi wilayah IKN. Tapi dilaksanakan secara bertahap,” tutur Pungky seperti diwartakan Tempo.
Langkah awalnya, pemimpin kawanan dulu yang akan dialihkan. “Kita alihkan ke tempat lain. Misalnya di Pulau Benawa, kita lepaskan di situ. Di situ ada makanan dari mangrove dan beberapa buah dari pulau tersebut,” ujar Pungky.
Rencana pemindahan satwa itu sudah dibahas dengan Badan Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur.
Pewarta: Prasetyo
Editor : Nicha R




