Hadapi Tekanan Fiskal, Desa di PPU Diminta Kembangkan Potensi Lokal

PENAJAM PASER UTARA – Bupati Penajam Paser Utara (PPU) Mudyat Noor membuka Seminar Nasional Festival Inovasi Daerah yang berlangsung di Aula Lantai III Kantor Bupati PPU, Sabtu (30/5/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Asisten I Setkab PPU Nicko Herlambang, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) PPU Tita Deritayati, Kepala Cabang Bankaltimtara, dosen MBKIK SPS Universitas Gadjah Mada Agus Heruanto Hadna, pakar marketing dan branding Yuswohady, serta para kepala desa dan lurah se-Kabupaten PPU.

Mengusung tema “Kolaborasi Cerdas Mewujudkan Inovasi Nyata dan Village Branding Berdaya Saing”, seminar tersebut membahas penguatan inovasi desa di tengah tantangan pembangunan dan keterbatasan fiskal daerah.

Dalam sambutannya, Mudyat Noor mengatakan desa tidak hanya dituntut membangun infrastruktur, tetapi juga harus mampu menggali potensi lokal, membangun identitas wilayah, dan menciptakan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat.

“Pemerintah Kabupaten PPU mendorong seluruh pemerintah desa untuk mengoptimalkan potensi sumber daya lokal melalui inovasi dan kolaborasi antar-desa. Langkah ini dinilai krusial guna menghadapi keterbatasan fiskal dan dampak ekonomi global yang memicu pemotongan dana desa,” jelas Mudyat Noor.

Baca Juga:   Plafon Kredit Kukar Idaman Naik Jadi Rp500 Juta, Lawan Rentenir dan Dorong Ekonomi Rakyat

Menurutnya, ketergantungan terhadap Dana Desa (DD) dan Alokasi Dana Desa (ADD) dalam jangka panjang dapat menjadi tantangan bagi keberlanjutan pembangunan desa. Karena itu, pemerintah desa diminta menyusun program yang sesuai dengan karakteristik dan potensi masing-masing wilayah.

“Dibutuhkan satu kolaborasi atau konsorsium umum. Ketika ada keunggulan yang sama dimiliki oleh beberapa desa, dengan modal yang besar bisa saling bekerja sama untuk satu kegiatan usaha yang produknya bisa dijual ke luar,” ujarnya.

Ia mencontohkan kerja sama antardesa dapat dikembangkan di berbagai kecamatan, mulai dari Babulu, Waru, Penajam hingga Sepaku. Desa pesisir, menurutnya, dapat fokus mengembangkan sektor kelautan dan pariwisata bahari, sedangkan desa agraris didorong meningkatkan produktivitas pertanian dan pengolahan hasil pertanian.

“Pemerintah daerah mengingatkan bahwa pembangunan tingkat kabupaten tidak akan berhasil tanpa adanya kemandirian di tingkat desa. Melalui seminar ini, seluruh pemangku kepentingan dan kepala desa diharapkan fokus mengeksplorasi sumber daya yang ada demi mewujudkan pelayanan minimal masyarakat yang optimal,” tegas Mudyat.

Baca Juga:   Pemkab Kukar Ajukan Perubahan KUA-PPAS 2025, Fokus pada Layanan Dasar dan Konektivitas Wilayah

Ia menambahkan, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, masyarakat, dan pelaku usaha diperlukan untuk melahirkan gagasan dan solusi yang mampu mendorong desa menjadi lebih mandiri, kreatif, dan berdaya saing.

Menurutnya, potensi di bidang pariwisata, UMKM, budaya, pertanian, hingga ekonomi kreatif perlu dikembangkan dengan strategi yang tepat agar memiliki nilai tambah bagi masyarakat.

Selain pengembangan ekonomi, konsep village branding juga dinilai penting untuk membangun identitas dan citra positif desa. Desa yang memiliki karakter dan keunggulan yang jelas akan lebih mudah menarik wisatawan, investor, maupun peluang pengembangan ekonomi lainnya.

“Pemerintah daerah mengingatkan bahwa pembangunan di tingkat kabupaten tidak akan berhasil tanpa adanya kemandirian di tingkat desa. Seminar nasional ini diharapkan tidak menjadi ruang diskusi semata, melainkan menjadi langkah awal untuk memperkuat komitmen bersama dalam menciptakan inovasi daerah yang berkelanjutan di Kabupaten PPU,” tutupnya.

Penyunting: Robbi Lalat

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.