PENAJAM PASER UTARA – Perkembangan Ibu Kota Nusantara (IKN) mulai membawa perubahan besar hingga ke wilayah di luar kawasan inti pembangunan. Kelurahan Petung, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), menjadi salah satu wilayah yang merasakan langsung dampak pertumbuhan ekonomi sekaligus tekanan sosial akibat meningkatnya arus penduduk.
Wilayah yang berada di jalur utama konektivitas antarkawasan tersebut kini berkembang menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi baru bagi masyarakat yang ingin menangkap peluang dari pembangunan IKN.
Lurah Petung Achmad Fitriady mengungkapkan, peningkatan jumlah penduduk terjadi cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data administrasi kelurahan, jumlah penduduk Petung meningkat dari sekitar 9.000 jiwa pada 2023 menjadi 10.498 jiwa hingga Desember 2025.
Dari jumlah tersebut, sekitar 10 persen merupakan pendatang, termasuk pekerja sektor informal maupun warga dengan status kependudukan nonpermanen.
“Banyak yang mencari peruntungan di Petung sambil menunggu peluang di IKN. Ada juga dari mereka yang sempat ditipu lowongan kerja. Sekarang fenomena PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) ini sudah ditangani khusus, karena jika dibiarkan maka akan menjadi masalah sosial yang menahun,” ujar Ady, sapaannya (19/6/2026).
Pusat Ekonomi Baru di Jalur IKN
Secara geografis, Kelurahan Petung memiliki posisi strategis karena berada di jalur Trans-Kalimantan yang menjadi salah satu akses utama menuju berbagai wilayah di PPU.
Keberadaan pasar dan aktivitas perdagangan menjadikan Petung sebagai salah satu pusat ekonomi regional yang melayani kebutuhan masyarakat sekitar, termasuk wilayah Desa Sidorejo dan Desa Giripurwa.
Namun, pertumbuhan aktivitas ekonomi tersebut juga berdampak pada meningkatnya kebutuhan pelayanan publik. Saat ini Kelurahan Petung memiliki 27 RT, dengan muncul usulan pembentukan RT baru yakni RT 18 dan RT 19 untuk mengantisipasi kepadatan pelayanan masyarakat.
Menurut Ady, pemekaran RT diperlukan karena idealnya satu RT hanya menangani sekitar 50 kepala keluarga (KK), sementara beberapa wilayah mengalami peningkatan jumlah penduduk yang cukup cepat.
Selain itu, pemerintah juga melakukan penataan infrastruktur pendukung. Salah satunya pemasangan lampu lalu lintas baru di kawasan Simpang Pasar Petung untuk mengurai kepadatan arus kendaraan.
Migrasi Bawa Tantangan Keamanan
Di tengah pertumbuhan wilayah, peningkatan jumlah penduduk juga membawa tantangan baru dalam aspek keamanan dan ketertiban masyarakat.
Fitriady menyebut, bertambahnya aktivitas dan mobilitas warga turut memunculkan berbagai modus tindak kejahatan, mulai dari pencurian hingga penipuan berbasis digital.
“Bertambahnya manusia akan memberi dampak signifikan pada tindak kejahatan. Tingkat kriminalitas tumbuh di Petung dengan modus yang macam-macam. Ada yang menggunakan pembayaran QRIS hasil edit untuk menipu warung, hingga kasus penipuan emas yang terjadi beberapa kali. Berkaitan dengan keamanan dan ketertiban umum, ini perlu pengawasan berkala,” tegasnya.
Untuk mengantisipasi gangguan keamanan, pemerintah kelurahan bersama masyarakat kembali mengaktifkan sistem pengamanan lingkungan melalui pos ronda di sejumlah wilayah RT.
“Soal pencurian dan kehilangan, saat ini kami menjalankan program jaga lingkungan kembali melalui pos-pos ronda di beberapa RT,” tambahnya.
Volume Sampah Ikut Meningkat
Selain persoalan sosial dan keamanan, peningkatan aktivitas masyarakat juga berdampak terhadap pengelolaan sampah.
Menurut Ady, persoalan sampah di Petung tidak hanya berasal dari aktivitas warga setempat, tetapi juga dipengaruhi aktivitas kawasan perdagangan dan kiriman sampah dari wilayah sekitar.
“Selain soal pidana, perlu perhatian khusus soal sampah yang juga mengalami peningkatan. Terlebih sampah yang ada tidak berasal dari Petung saja, karena ada juga yang dibuang dari pasar dan kiriman tak langsung dari wilayah batas Desa Sidorejo serta Giripurwa. Di area pasar, juga masih banyak masyarakat yang membuang sampah di sembarang tempat,” pungkasnya.
Pemerintah Kelurahan Petung berharap penguatan pelayanan administrasi, pengawasan penduduk pendatang, serta penataan lingkungan dapat berjalan seiring dengan pertumbuhan kawasan sebagai wilayah penyangga IKN.
Pertumbuhan Petung menjadi gambaran bagaimana efek pembangunan IKN mulai menciptakan pusat-pusat aktivitas baru di luar kawasan inti. Namun, peningkatan ekonomi tersebut juga membutuhkan kesiapan tata kelola agar manfaat pembangunan dapat dirasakan tanpa menimbulkan persoalan sosial baru.
Pewarta: Robbi Lalat



