PPU – Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispusi) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menggagas perubahan besar melalui Sosialisasi Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) 2025. Kegiatan yang melibatkan 104 peserta dari SKPD, desa, dan kelurahan ini diharapkan menjadikan perpustakaan sebagai pusat inovasi dan pemberdayaan masyarakat yang inklusif.
Sosialisasi digelar di Aula Lantai III Kantor Bupati PPU, dan dibuka secara resmi oleh Sekretaris Daerah (Sekda) PPU, Tohar, dan diikuti oleh perwakilan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), pemerintah desa, serta kelurahan se-Kabupaten PPU.
Tohar menegaskan dua aspek penting yang menjadi fokus kegiatan ini, yakni transformasi dan inklusi sosial. Menurutnya, transformasi berarti perubahan ke arah yang lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, sedangkan inklusi sosial adalah memberikan kesempatan setara bagi seluruh lapisan masyarakat untuk berpartisipasi dan merasakan manfaat.
“Perpustakaan tidak hanya menjadi tempat menumpuk bahan bacaan atau membaca buku, tetapi juga dapat menjadi pusat pemberdayaan masyarakat, seperti pelatihan keterampilan dan akses informasi yang bermanfaat,” ujarnya.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya pengelolaan arsip yang baik, terutama di tingkat desa dan kelurahan, sebagai bagian dari tata kelola pemerintahan yang tertib dan transparan.
Sementara itu, Kepala Dispusip PPU, Muhammad Yusuf Basra, menjelaskan dalam laporannya bahwa sosialisasi ini bertujuan meningkatkan pemahaman stakeholder perpustakaan desa dan kelurahan mengenai konsep TPBIS.
Selain itu, kegiatan ini mendorong komitmen pemerintah desa dan kelurahan untuk mengembangkan perpustakaan sebagai pusat kegiatan masyarakat serta mempererat kolaborasi antara pemerintah desa, kelurahan, perpustakaan, dan masyarakat luas.
Ia juga menyampaikan bahwa narasumber dari Dinas Perpustakaan Kota Balikpapan hadir untuk berbagi pengalaman dalam implementasi transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial di wilayahnya.
Basra berharap sosialisasi ini dapat mendorong perpustakaan di PPU bertransformasi menjadi ruang yang inklusif, tidak hanya menyediakan bahan bacaan, tetapi juga menjadi pusat inovasi, pembelajaran, dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.
“Kegiatan ini diikuti 104 peserta, terdiri dari perwakilan SKPD, kepala desa, lurah, dan pengelola perpustakaan desa/kelurahan,” pungkas Basra.
Penyunting: Robbi Lalat



