NUSANTARA – Di tengah gegap gempita pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), ada satu sudut yang tak hanya menyimpan fungsi vital, tapi juga pesona alam yang menenangkan. Itulah Daerah Aliran Sungai (DAS) Sanggai, salah satu “tabungan air” utama di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) yang kini menjadi bagian penting dari sistem pengendalian banjir dan suplai air baku Nusantara.
Sebelum IKN berdiri, kawasan ini hanyalah danau alami yang menampung air hujan. Kini, setelah ditata dengan konsep modern dan berkelanjutan, DAS Sanggai bertransformasi menjadi kolam retensi multifungsi, menyatu antara fungsi ekologi, rekreasi dan estetika.
Tak hanya menjadi penyuplai air baku ke kawasan Hunian Pekerja Konstruksi (HPK), DAS Sanggai juga menjadi pengendali banjir utama yang menampung aliran dari 14 anak sungai di sekitarnya.
Selain fungsi teknis, kawasan ini juga dikembangkan sebagai ruang publik hijau. Di sekeliling kolam, pengunjung dapat menikmati jalur joging sepanjang 2.500 meter dengan lebar 4 meter, gazebo, serta deretan pohon eukaliptus dan 1.040 pohon kopi liberika yang sempat mengantarkan kawasan ini meraih Rekor MURI.
Panorama “epic” sore hari di DAS Sanggai menjadi daya tarik tersendiri. Dari tepian jogging track, pengunjung bisa menyaksikan matahari terbenam di balik deretan tower rusun elegan IKN.
Keseluruhan areanya 14,6 kilometer. Memiliki luas genangan 156.000 m2. Luas genangan yang bisa ditampung 284 m3.
Team Leader Pengelolaan dan Pemeliharaan Kolam Retensi DAS Sanggai, Wijianto, mengatakan potensi DAS Sanggai ini utamanya adalah pengendali banjir.
“Aliran dari 14 anak sungai ditampung di kolam retensi ini. Dalam posisi muka air yang normal, kita bisa limpahkan ke arah hilir,” jelasnya di lokasi, baru-baru ini.
Ia menjelaskan, air yang ditampung di DAS Sanggai memiliki kualitas air baku yang layak konsumsi, dan sebagian telah digunakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih di kawasan ke Hunian Pekerja Kontruksi (HPK).
“Untuk sementara ini masuk HPK. Yang tersedia di sini, kemampuannya 30 kubik per detik,” ujarnya.
Meski sebagian area masih dalam tahap pemeliharaan, maka masyarakat belum terlalu bebas, dan harus izin petugas jaga untuk mengunjungi tempat ini.

“Ada yang sekadar jalan-jalan, joging. Ada yang ambil video untuk nge-vlognya mereka. Bisa masuk. Namun tetap melalui SOP kami, melalui sekuriti. Sebab kan juga masih masa peneliharaan,” ujarnya.
Ke depan, kawasan ini diproyeksikan tidak hanya menjadi bagian dari sistem pengendalian air dan pengelolaan banjir, tetapi juga destinasi wisata alam terdekat dari pusat pemerintahan Nusantara.
Pewarta: Atmaja Riski
Editor : Nicha R




