PPU – Musim panen padi sawah di Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), tahun ini terbilang melimpah dengan hasil yang lebih bagus dibanding panen sebelumnya. Namun, kabar pahit datang karena Badan Urusan Logistik (Bulog) menghentikan pembelian gabah dari petani sejak 4 September 2025.
Kondisi ini membuat sebagian petani terpaksa menjual gabah mereka ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan, meski dengan harga lebih rendah, sekitar Rp6 ribu per kilogram, dibanding harga pembelian Bulog yang Rp6.500 per kilogram.
Puji, salah seorang petani di Desa Gunung Mulia, mengungkapkan kekecewaannya. “Semoga Bulog segera beli padi basah kami lagi, Mas,” ujarnya via WhatsApp, Rabu (17/9/2025). Menurutnya, penghentian pembelian gabah mengikuti Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2025, karena kuota penyerapan nasional Bulog sebesar 3 juta ton sudah terpenuhi.
Senada, Sugeng, petani lainnya, mengaku panen tahun ini cukup istimewa karena menggunakan benih lokal bernama Srimulia. “Semoga saja bibit asli lokal Gunung Mulia bisa berkembang lebih luas,” harapnya.
Sementara itu, Rudi, pemilik gilingan padi di Gunung Mulia, memperkirakan serapan padi musim ini mencapai 5 ribu karung. Namun, kendala muncul dalam proses pengeringan. “Menjemur secara manual ribuan karung padi terasa kurang efektif dengan kondisi cuaca saat ini,” keluhnya.
Ia menambahkan, sebenarnya ada mesin oven padi di wilayah tersebut, tetapi kapasitasnya belum mampu mengatasi jumlah panen yang besar. “Syukur-syukur kalau pemerintah bisa menambah bantuan mesin oven padi. Idealnya setiap gilingan ada mesinnya,” ujarnya.
Data Dinas Pertanian PPU mencatat, saat ini ada sekitar 689 hektare sawah di wilayah tersebut yang memasuki masa panen, dengan produktivitas rata-rata 3,5 ton per hektare dan total produksi gabah mencapai 2.400 ton. Namun hasil panen melimpah itu tak bisa diserap Bulog karena kuota nasional sudah penuh, sesuai Inpres Nomor 6 Tahun 2025.
“Kuota serap gabah Bulog sebesar 3 juta ton sudah penuh. Jadi sementara waktu Bulog belum bisa membeli gabah petani,” terang Andi, perwakilan Dinas Pertanian.
Penulis: Prastyo
Editor: Agus S




