Balikpapan – Panen yang dilakukan pada waktu yang tepat dan sesuai standar terbukti menjadi salah satu faktor penentu peningkatan pendapatan pekebun kelapa sawit. Bukan hanya kuantitas produksi yang menentukan keuntungan, tetapi juga kualitas tandan buah segar (TBS) yang dihasilkan sehingga mampu memberikan rendemen minyak lebih tinggi dan nilai jual yang lebih baik.
Pesan tersebut menjadi fokus dalam Pelatihan Panen dan Pascapanen Kelapa Sawit Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 yang diikuti 156 pekebun asal Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Pelatihan yang berlangsung pada 17–21 Juli 2026 di Balikpapan ini diselenggarakan oleh Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian.
Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, S.P., M.P., mengatakan bahwa pelatihan dirancang untuk membekali pekebun dengan teknik panen dan pascapanen yang mampu menjaga mutu TBS sejak di kebun hingga tiba di pabrik kelapa sawit.
“Panen tepat waktu, pemanenan harus sesuai standar, pengumpulan brondolan yang baik, termasuk pengiriman TBS yang cepat ke pabrik, akan sangat menentukan mutu buah, rendemen minyak, dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan petani,” ujarnya.
Menurut Idum, masih banyak pekebun yang berorientasi pada jumlah produksi semata. Padahal, buah yang dipanen terlalu muda maupun terlalu matang akan menurunkan kualitas minyak sawit dan mengurangi nilai ekonomi hasil panen.
Karena itu, pelatihan tidak hanya mengajarkan teknik memotong tandan, tetapi juga menekankan pentingnya menentukan tingkat kematangan buah, mengumpulkan brondolan secara optimal, serta mempercepat pengangkutan TBS ke pabrik agar kadar asam lemak bebas (ALB) tetap rendah.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan panen juga tidak dapat dipisahkan dari penerapan Good Agricultural Practices (GAP). Perawatan tanaman, pemupukan, pengelolaan tanah, hingga pengendalian hama dan penyakit akan sangat memengaruhi kualitas buah yang dipanen.
“Tentu saja untuk panen dan pascapanen itu tidak akan lepas dari pengetahuan mengenai teknik budidaya yang baik dan praktik budidaya yang benar,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Paser, Djoko Bawono, menilai pelatihan menjadi investasi penting untuk meningkatkan daya saing sawit rakyat. Menurutnya, materi yang diberikan harus mudah dipahami sehingga dapat langsung diterapkan oleh para pekebun di lapangan.
“Saya mohon kepada para narasumber dari AKPY agar dalam menyampaikan materi menggunakan bahasa yang sederhana. Kalau bahasa akademis mungkin mudah dipahami mahasiswa, tetapi bagi petani yang penting materinya mudah dicerna dan bisa langsung dipraktikkan,” ujarnya.
Djoko optimistis peningkatan keterampilan panen akan berdampak langsung terhadap mutu TBS yang diterima pabrik. Ketika buah dipanen pada tingkat kematangan yang tepat, brondolan dikumpulkan secara menyeluruh, dan penanganan pascapanen dilakukan sesuai standar, maka rendemen minyak meningkat sehingga pendapatan pekebun juga bertambah.
Ia juga mengapresiasi dukungan BPDP melalui Program SDMP yang terus memperluas akses pelatihan bagi petani sawit. Tahun 2026, Kabupaten Paser menjadi daerah dengan jumlah peserta pelatihan SDMP terbanyak di Kalimantan Timur, yakni mencapai 556 pekebun yang mengikuti berbagai pelatihan, mulai dari teknis budidaya, panen dan pascapanen, hingga peningkatan kapasitas lainnya.
“Target kami sebenarnya mencapai seribu peserta. Namun dengan alokasi yang ada, sebanyak 556 peserta sudah menjadi capaian yang sangat baik. Kami berharap pada tahun berikutnya jumlah peserta bisa terus bertambah sehingga semakin banyak petani yang memperoleh peningkatan kompetensi,” katanya.
Selain meningkatkan kompetensi teknis, Pemerintah Kabupaten Paser juga terus memperkuat daya saing sawit rakyat melalui percepatan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Hingga kini, sebanyak 13 kelembagaan pekebun di Kabupaten Paser telah mengantongi sertifikasi ISPO, dan sebagian anggotanya turut mengikuti pelatihan tersebut.
Idum menambahkan, pengembangan sumber daya manusia menjadi fondasi utama keberlanjutan industri sawit nasional. Di tengah tuntutan pasar global dan tantangan perubahan iklim, pekebun dituntut tidak hanya menghasilkan produksi tinggi, tetapi juga mampu menjaga kualitas hasil panen melalui penerapan standar yang benar.
“Ke depan, sawit Indonesia tidak hanya ditentukan oleh bibit unggul dan pupuk, tetapi juga SDM yang unggul,” tegasnya.
Melalui pelatihan ini, para pekebun diharapkan mampu menerapkan teknik panen dan pascapanen secara konsisten di kebun masing-masing. Dengan panen yang tepat dan mutu TBS yang semakin baik, pekebun berpeluang memperoleh harga jual yang lebih tinggi, meningkatkan produktivitas kebun, sekaligus memperkuat kesejahteraan keluarga dan daya saing sawit rakyat Indonesia secara berkelanjutan.



