Penajam Paser Utara – DPRD Penajam Paser Utara (PPU) mendorong perbaikan menyeluruh terhadap pelayanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Waru. Setelah hasil uji laboratorium memastikan adanya kontaminasi kuman pada sejumlah sampel makanan.
Ketua Komisi I DPRD PPU, Ishaq Rahman, menegaskan hasil laboratorium harus menjadi dasar evaluasi serius terhadap sistem pelayanan program MBG. Khususnya terkait standar keamanan pangan dan pengawasan.
Hasil uji laboratorium yang dilakukan Dinas Kesehatan PPU menunjukkan adanya kuman pada beberapa sampel makanan yang dibagikan kepada siswa. Bahkan, dari satu paket menu MBG, ditemukan dua sampel yang terkontaminasi, salah satunya pada menu puding.
“Informasi terakhir yang kami terima, masih dalam proses pemeriksaan laboratorium. Jadi apakah benar keracunan atau bukan, itu belum bisa dipastikan,” ujar Ishaq.
Meski demikian, dengan telah keluarnya hasil uji laboratorium tersebut, ia menilai perlu ada langkah konkret untuk membenahi sistem pelayanan agar kejadian serupa tidak terulang. Menurutnya, temuan kontaminasi kuman mengindikasikan adanya persoalan dalam proses pengolahan maupun distribusi makanan, termasuk kemungkinan paparan makanan di udara terbuka.
Kondisi ini berdampak langsung pada pelayanan program MBG di lapangan. Operasional dapur yang sebelumnya berjalan hingga kini masih terhenti.
“Karena belum ada kejelasan, dapur sementara tidak beroperasi. Ini tentu menghambat jalannya program MBG,” jelasnya.
Di sisi lain, Ishaq juga mengungkap adanya langkah tegas terhadap mitra pelaksana. Mitra UMKM yang bekerja sama dengan SPPG Waru disebut telah diputus kontraknya.
“Informasi yang kami dapat, mitra UMKM dengan SPPG Waru itu sudah diputus kontraknya. Artinya ada indikasi pelanggaran,” tegasnya.
Ia menilai, langkah tersebut harus diikuti dengan pembenahan sistem kemitraan serta penguatan standar operasional prosedur (SOP), terutama dalam pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan.
Selain itu, Komisi I juga menekankan pentingnya transparansi informasi kepada publik sebagai bagian dari perbaikan pelayanan dan pemulihan kepercayaan masyarakat.
Temuan kontaminasi kuman dalam menu MBG menjadi alarm serius terhadap kualitas pelayanan program yang menyasar kebutuhan dasar masyarakat. Evaluasi menyeluruh terhadap rantai produksi makanan, pengawasan lapangan, serta sistem kemitraan dinilai krusial agar program MBG dapat kembali berjalan aman, higienis, dan tepat sasaran.
“Kami berharap hasilnya bisa segera diumumkan secara transparan. Supaya masyarakat juga tidak bertanya-tanya,” pungkasnya.
Pewarta: Robbi Lalat



