PPU – Akses jalan menuju SMP 23 Penajam Paser Utara (PPU) di Kelurahan Petung menjadi sorotan warga dalam beberapa hari terakhir. Kondisi jalan yang berlumpur dan licin akibat timbunan tanah liat membuat pelajar dan warga terpaksa berjalan kaki ratusan meter untuk menuju sekolah, terutama saat jam berangkat dan pulang.
Keluhan tersebut ramai disuarakan melalui media sosial karena dinilai mengganggu aktivitas harian serta membahayakan keselamatan pelajar, terlebih saat hujan dengan kondisi jalan yang semakin becek.
Menanggapi hal itu, Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten PPU, Ali Mustofa, menyatakan pihaknya telah meninjau langsung lokasi bersama tim pemeliharaan jalan. Penanganan darurat pun dipastikan segera dilakukan.
“Sudah kita cek di lokasi bersama tim dari Bidang Pemeliharaan Bina Marga dan UPT Penajam. Penanganan akan segera dilaksanakan,” ujar Ali Mustofa, Senin (12/1/2026).
Sebelumnya, warga sekitar menyebut kerusakan jalan turut dipengaruhi aktivitas penimbunan di lingkungan sekolah. Masih terdapat puluhan rit tanah uruk berupa clay yang digunakan dalam kegiatan pembangunan di area SMP 23 PPU, ditambah intensitas hujan yang tinggi serta jalur jalan yang berada di bawah naungan pohon sawit.
Informasi lain menyebutkan, kegiatan pembangunan di lingkungan sekolah tersebut bersumber dari anggaran Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) PPU. Pihak penyedia atau kontraktor disebut telah berupaya melakukan penimbunan jalan, namun karena curah hujan tinggi dan timbunan belum padat, kondisi jalan kembali becek dan sulit dilalui.
Kontraktor dilaporkan masih menyelesaikan sejumlah pekerjaan di area sekolah dan berkomitmen melakukan perbaikan akses jalan setelah seluruh pekerjaan utama rampung.
Untuk sementara, Dinas PUPR melalui UPT Penajam akan melakukan perbaikan darurat dengan membuang tanah becek, melakukan perapian badan jalan (grading), serta pemadatan. Pemerintah daerah berharap kondisi cuaca dalam beberapa hari ke depan mendukung agar perbaikan sementara dapat berjalan optimal dan akses ke sekolah kembali aman dilalui.
“Tanah liat atau clay yang ditimbun masyarakat secara teknis tidak memenuhi syarat, sehingga akan kita kupas dan buang terlebih dahulu,” lanjutnya.
Ia menjelaskan, Dinas PUPR akan mengirimkan material agregat serta sejumlah alat berat untuk memperbaiki badan jalan menuju sekolah tersebut. Alat yang disiapkan antara lain vibro, backhoe loader, dan dump truck guna mendukung proses perbaikan dan pemadatan.
Ali juga mengimbau warga agar tidak lagi melakukan penimbunan jalan menggunakan tanah liat, karena justru memperparah kondisi jalan saat hujan. Selain itu, pelepah sawit di sepanjang akses jalan akan dibersihkan agar sinar matahari dapat masuk dan mempercepat proses pengeringan serta pemadatan badan jalan.
“Harapannya semoga cuaca baik sehingga kegiatan berjalan lancar dan pekerjaan cepat selesai,” tutupnya.
Penyunting: Robbi Lalat



