Festival Nondoi 2025 di PPU, jadi Ajang Silaturahmi dan Identitas Suku Paser

PPU – Lantunan doa adat dan tabuhan gong mengiringi pembukaan Festival Belian Adat Paser Nondoi 2025 di Rumah Adat Kuta Rekan Tatau, Senin (3/11/2025). Festival budaya tahunan ini menjadi wadah pelestarian tradisi suku Paser serta ajang mempererat silaturahmi berbagai paguyuban di Penajam Paser Utara (PPU).

Kegiatan yang digelar hingga 8 November 2025 ini mengangkat tema “Jakit Aso Erai Siret, Dalai Aso Erai Urai”, yang berarti Satu Ikatan Sebangsa dan Satu Tanah Air. Pembukaan dilakukan langsung oleh Bupati PPU Mudyat Noor, disaksikan jajaran pejabat daerah, tokoh adat, dan masyarakat dari berbagai suku.

Ketua Lembaga Adat Paser (LAP) PPU, Musa, mengatakan Festival Nondoi telah menjadi agenda tahunan pemerintah daerah bersama masyarakat adat. “Nondoi ini ajang silaturahmi semua suku dan paguyuban di Kalimantan Timur. Setiap kelompok bisa menampilkan budayanya masing-masing. Harapannya, ke depan lebih meriah dan lebih diperhatikan lagi,” ujarnya.

Menurut Musa, selain pertunjukan seni dan ritual adat, Festival Nondoi juga menjadi sarana untuk memperkuat keberadaan Rumah Adat Paser Kuta Rekan Tatau, yang hingga kini masih dalam proses pembangunan.

Baca Juga:   Serahkan Surat Tugas Konsolidasi ke Hamdam Pongrewa, DPC Demokrat PPU Harap Segera Temukan Pasangan untuk Pilkada 2024

“Rumah adat ini baru bagian terasnya saja, atau kaki limanya. Badan bangunannya belum jadi. Perlu sekitar Rp25 miliar lagi untuk menyelesaikannya,” ungkapnya.

Rumah adat yang berdiri di atas lahan seluas dua hektare dengan ukuran bangunan 40 x 90 meter itu, kata Musa, telah menjadi pusat latihan berbagai sanggar seni dan kegiatan pelajar di PPU.
“Anak-anak sekolah sering latihan di sini karena suasananya tenang dan aman. Tempat ini penting sebagai pusat kebudayaan Paser,” tuturnya.

Ia berharap pemerintah daerah dan pusat lebih serius memperhatikan penyelesaian pembangunan rumah adat tersebut. “Tamu dari luar sering bertanya kenapa rumah adat belum selesai. Ini simbol identitas kita, jadi harus diselesaikan,” tambahnya.

Makna dan Rangkaian Ritual Nondoi

Festival Nondoi sendiri merupakan ritual adat suku Paser sebagai bentuk ucapan syukur kepada Tuhan dan leluhur atas hasil bumi serta keselamatan masyarakat. Dalam ritual ini, terdapat pelaku upacara adat yang disebut belian, yakni pemimpin doa dan pembersihan diri secara spiritual.

“Biasanya Nondoi dilakukan setelah panen atau membuka hutan baru. Sebelum upacara, kami juga menggelar selamatan terlebih dahulu kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,” jelas Musa.

Baca Juga:   Sakka: Pemilihan Kepala Daerah Lewat DPRD Dinilai Kontrol Eksekutif–Legislatif Bisa Lebih Kuat

Rangkaian kegiatan berlangsung selama enam hari, diawali dengan pertunjukan sanggar seni, dilanjutkan dengan lomba dan pameran kuliner tradisional antar-paguyuban, serta ditutup dengan prosesi Larung Jaket di muara Sungai Sesumpu, sebuah ritual adat sebagai simbol rasa syukur dan penghormatan terhadap ciptaan Tuhan di laut dan sungai.

“Larung Jaket itu bentuk penghormatan kami kepada alam. Kita bersyukur atas rezeki dan keselamatan yang diberikan Tuhan,” pungkas Musa.

Pewarta: Robbi Lalat

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.