spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Belum Ada Titik Terang, Dampak Buruk Tambang di Desa Sesulu Masih Dirasakan Warga Sekitar

PPU – Kurang lebih sebulan terakhir usai Lebaran Idulfitri 1445 H/2024 M, dampak tambang batubara yang berada di Desa Sesulu, Kelurahan Waru, masih belum menemui titik terang. Beberapa waktu lalu, Kantor Balai Gakkum Kalimantan telah turun langsung menangani masalah ini, namun hingga saat ini permasalahan tersebut belum menemui titik terang.

Warga setempat mengakui bahwa bau dari sulfur batubara yang ditumpuk telah berangsur berkurang, namun permasalahan lainnya kembali terkuak, terutama terkait nasib warga yang sampai sekarang tidak mengetahui lanjutan dari penyelidikan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (Pemkab PPU) dalam hal ini dibawahi oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

Permasalahan semakin melebar ketika musim penghujan tiba. Salah satu warga yang memiliki rumah dekat dengan jalan yang dilalui kendaraan hauling pengangkutan batubara CV Penajam Makmur Abadi (CV PMA) dengan inisial RI mengaku telah lama merasakan dampak dari beroperasinya perusahaan tambang ini.

RI menjelaskan sejak dirinya membeli lahan yang dijadikan tempat tinggal, ia merasakan dampak yang cukup signifikan. Saat lubang tambang tepat berada di belakang rumahnya, ia dan keluarganya selalu merasakan sesak akibat batubara yang menumpuk, debu di meja makan, dan bau yang menyengat.

Baca Juga:   Gelar Rakor Pemutakhiran Data Pemilih untuk Pilkada 2024, KPU PPU Harapkan Sinergitas Seluruh Stakeholder

“Gak lama kok, sekitar tahun 2023 kami merasakan dampaknya, sulit makan karena bau dan debunya, sampai anak saya sakit,” tambahnya (28/05/2024).

Belum lagi, RI sangat kesulitan di musim penghujan ini akibat hauling pengangkut batubara yang melewati samping rumahnya. Akibatnya, jalan yang merupakan akses dirinya dan warga yang mengangkut sawit dari kebun menjadi sulit karena jalanan becek dan berlumpur.

“Beberapa hari lalu, bahkan sempat banjir dan masuk ke rumah saya, karena memang ada sungai di belakang itu, tapi akibat tambang air dari atas jadi banyak tapi sungainya kecil, jadi naiklah air ke rumah saya, kurang lebih setinggi betis,” terangnya.

Ia menjelaskan jarak dari Jalan Provinsi ke galian yang sekarang kurang lebih 2 kilometer, namun sebelumnya pihak perusahaan memiliki galian yang jaraknya hanya sekitar 100 meter dan telah habis diambil batubaranya. Sayangnya, RI katakan lubang galian yang berada tepat di belakang rumahnya masih menganga dan tidak ditutup usai pengerjaan.

“Dulu tampungan batubaranya pas di belakang rumah, tidak ada izin sama sekali ke kami selama tinggal di situ. Saya bingung mau mengadu ke siapa, saya sudah sering berbagi ke grup warga, tapi tidak ada solusinya. Saya lihat perusahaan ini bandel,” tegasnya.

Baca Juga:   Transformasi Menuju Kota Cerdas, Otorita IKN Gelar Market Briefing I untuk Calon Pemrakarsa Investor

RI sebelumnya juga telah melakukan protes ke pihak perusahaan dan sempat melakukan pengerasan. Namun, batu yang digunakan sangat sedikit sehingga tidak cukup untuk menahan aktivitas hauling yang dilakukan setiap malam.

“Ini tanah pemilik lahan sebelum saya, jalan tersebut dihibahkan. Tapi, saya kurang tahu tepatnya bagaimana. Sekitar 3 tahun ini saya pindah ke tempat ini. Saya juga tahu info dari orang, ini jalannya berbatasan langsung dengan saya,” jelasnya.

Namun, RI sempat bertanya dengan pemilik tanah sebelumnya bahwa tanah yang dipakai jalan tersebut merupakan hibah dari pemilik lahan sebelum dirinya, kurang lebih lebarnya 5 meter. Dirinya tidak dapat memastikan apakah jalan tersebut dihibahkan kepada warga atau ke perusahaan.

“Tapi belakang itu jalan akses warga, bisa untuk pengangkutan sawitnya masyarakat. Panjang jalan yang rusak sampai belakang rumah 100 meter, tapi ke dalam ada lagi jalan masuk 50 meter dan beda lagi yang punya,” tambahnya.

RI mengatakan beberapa warga yang lahannya di belakang akses tambang sempat mengeluhkan terkait jalan. RI menjelaskan dirinya mengeluhkan bukan hanya jalan, tetapi rumahnya juga terkena dampak dari pengangkutan.

Baca Juga:   Anggaran Pilkades Serentak PPU Berpotensi Bertambah

“Rumah saya itu retak-retak, karena kendaraan mereka besar-besar. Bahkan kendaraan pengangkutan batubara sempat menyangkut saat melewati akses yang berada di dekat rumah saya, jadi perusahaan membawa kendaraan lain dan merapikannya lagi, jadi ditumbuk dan berakibat rumah saya retak,” katanya.

Ia menjelaskan dirinya juga sempat melaporkan hingga ke kepolisian, namun sangat disayangkan tidak ada tindakan tegas dari aparat penegak hukum tersebut. Dirinya mengaku sangat bingung karena permasalahan ini tidak kunjung selesai.

“Ini lagi hauling sampai pagi, kalau lewat pas dekat rumah saya pasti bergetar, jadi ya sulit tidur kalau malam,” ungkapnya.

RI berharap seluruh dampak akibat aktivitas pertambangan ini dapat segera ditangani, baik perbaikan jalan dan juga gorong-gorong yang harus diperlebar. Bahkan, pihaknya sempat diminta untuk mengamankan jalan dan pihak perusahaan ingin membayarnya, namun RI menolak upaya tersebut.

“Saya mau dibayar, orang tidak dikenal bawa uang banyak dan mengaku dari perusahaan, tapi saya tegaskan kalau saya tidak bisa dibeli. Baik saya kerja yang benar daripada egois untuk diri sendiri, baru setahun yang lalu,” tandasnya. (NAH)

Penulis: Nelly Agustina
Editor: Agus Susanto

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

BERITA POPULER