spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Semakin Rusak Parah, Pengelola Minta Jembatan Ekowisata Mangrove Penajam Segera Dibenahi

PPU – Kondisi objek wisata Ekowisata Mangrove Penajam semakin rusak parah. Atas kondisi ini, pengelola meminta Pemkab Penajam Paser Utara (PPU) memberikan perhatian.

Sarana ekowisata hutan mangrove yang terletak di Kelurahan Kampung Baru, Penajam ini dibangun sekitar 2016 lalu. Sejak dibuka pada 2017, tempat ini menjadi tempat wisata favorit warga lokal bahkan pengunjung dari luar PPU.

Alasannya, tempat tersebut menyajikan ekosistem asli pesisir PPU. Pun menjadi yang pertama di Benuo Taka.

Namun kondisinya saat ini pada sejumlah titik jembatan mengalami rusak parah. Mulai pagar jembatan yang sudah roboh, tiang pagar yang terbuat dari kayu nibung juga patah-patah.

Terparah ada di sisi jembatan sebelah kanan, kondisinya sudah tidak bisa dilalui. Bahkan pendopo nya pun hampir roboh.

Beberapa atap di pintu masuk jembatan juga mengalami kebocoran. Serta beberapa atap di pintu masuk jembatan juga mengalami kebocoran.

Kondisi terkini jembatan Ekowisata Mangrove. (Ist)

Ketua Pokdarwis Kelurahan Ekowisata Mangrove Penajam, Suparjo menjelaskan semenjak rusak pada 2019 lalu, pengunjung mulai berkurang. Namun sebenarnya, jembatan ini sampai saat ini tetap memiliki daya tarik.

Baca Juga:   DP3AP2KB PPU Dorong Terbentuknya Ruang Bermain Anak seperti Taman Rozeline

“Namun pada saat hari libur, masih ada saja pengunjung yang berdatangan sampai saat ini. Padahal kondisinya untuk sampai saat ini terbilang tak terawat,” ujarnya, Selasa (13/12/2022).

Untuk diketahui, dalam pembangunannya menggelontorkan anggaran sekira Rp 1,17 miliar bersumber dari Bantuan Keuangan (Bankeu) Pemprov Kaltim. Meksi belum sepenuhnya dikerjakan, tahap awal ini selesai dibangun jembatan sepanjang sekira 400 meter dengan beberapa pendopo di dalamnya.

Dalam perjalannya pula, pada 2020 lalu jembatan ini sempat berada dalam pusaran kasus korupsi pembangunannya. Diketahui, kasus ini telah diputuskan oleh PN Samarinda dengan satu terdakwa dan kerugian negara sekira Rp 900 juta yang telah dikembalikan.

Kondisi awal jembatan Ekowisata Mangrove usai rampung dibangun 2017 lalu. (Ist)

Atas kondisi ini, Suparjo mengungkapkan telah beberapa kali menyampaikan kondisi tersebut ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) PPU. Meminta agar jembatan tersebut dapat segera diperbaiki agar dapat dibuka kembali seperti semula. Lebih dari itu, ia juga telah menyarankan agar wilayah itu menjadi kelurahan wisata.

“Kemarin sudah kami sampaikan kepada Dinas Pariwisata bahwa jembatan itu seharusnya diperbaiki, kita berupaya agar satu daerah ini (Kampung Baru) bisa menjadi tempat wisata unggulan,” katanya.

Baca Juga:   Wujudkan Kota Dunia untuk Semua, Otorita IKN Gelar Rapat Koordinasi Nasional Perdana

Lebih lanjut, ia mendorong keseriusan Pemkab PPU untuk membangun sarana dan prasaran destinasi baru yang juga ada di wilayah tersebut. Satu objek yang juga tak kalah menariknya ialah Pulau Gusung yang juga bisa dituju dari tempat ini.

Makanya pihaknya mengusulkan adanya rumah singgah sana. Serta sarana dermaga dan kapal penyeberangannya.

“Meskipun Kampung Baru ini tidak memiliki Pantai tapi setidaknya kami memiliki Hutan Mangrove dan Gusung. Harapan kami seandainya memang Pemerintah mau menggiatkan Pariwisata, setidaknya ada bantuan untuk sarana dan prasarana baik di Mangrove maupun di Gusung sana,” tutupnya. (SI/SBK)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

BERITA POPULER