PPU – Pembangunan jembatan penghubung Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU)–Balikpapan menjadi salah satu fokus dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) PPU 2025–2029. Proyek ini dinilai vital untuk memperkuat konektivitas, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan mempercepat distribusi barang dan jasa, terlebih dengan percepatan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Sudah Diajukan dan Dibahas Bersama Bappenas
Bupati PPU Mudyat Noor menegaskan, rencana pembangunan jembatan tersebut telah diusulkan langsung kepada Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan kini dalam tahap pembahasan teknis.
“Kita sudah ketemu dengan Kepala Bappenas dan mengajukan usulan. Responnya insyaallah memungkinkan. Kita juga membentuk tim bersama untuk menyusun rencana pembangunannya,” kata Mudyat usai rapat paripurna pengesahan Raperda RPJMD 2025–2029, Senin (11/8/2025).
Menurutnya, jembatan PPU–Balikpapan, yang menghubungkan Kelurahan Nipah-Nipah dengan Jalan Melawai akan memberikan dampak strategis bagi wilayah, mulai dari mempercepat mobilitas masyarakat, menekan biaya logistik, hingga membuka jalur ekonomi baru.
“Intinya kita ingin Penajam ini jangan tertinggal dengan adanya IKN. Kita harus bergerak cepat, jangan sampai pembangunan daerah kalah dengan pembangunan nasional di sekitar kita,” tegasnya.
Selain jembatan tersebut, sejumlah proyek infrastruktur lain juga diprioritaskan, seperti pembangunan jalan dua jalur menuju IKN Silcar dan kelanjutan proyek Nipah-Nipah–Melawai.
“Beberapa fraksi di DPRD sejalan dengan hal ini, mendorong agar proyek strategis ini diselesaikan dalam lima tahun ke depan,” ujarnya.
Peningkatan Pendidikan dan Kesehatan
Mudyat menekankan bahwa pembangunan infrastruktur fisik harus beriringan dengan peningkatan layanan publik.
“Pendidikan, ya. Bagaimana masyarakat bisa menikmati pendidikan yang layak, mulai dari ruang belajar, perlengkapan sekolah, hingga beasiswa. Kesehatan juga, supaya fasilitasnya memadai dan pasien tidak lagi banyak dirujuk hanya karena alat kesehatan tidak tersedia,” jelasnya.
Kemudian juga ketiadaan CT scan di rumah sakit daerah yang membuat pasien sering dirujuk ke luar daerah.
“Istilah kasarnya, yang bisa diobati di sini hanya pasien pilek saja. Jadi kita akan melengkapi fasilitas dasar rumah sakit terlebih dahulu, termasuk peningkatan kelas layanan,” tegasnya.

Kondisi Fiskal dan Strategi Pendanaan
Meski kondisi keuangan daerah menantang, Mudyat optimistis program prioritas tetap berjalan.
“Alhamdulillah, Kabupaten PPU terakhir ini pemotongannya tidak sampai 10 persen, dari Rp 2,6 triliun menjadi sekitar Rp 2,4 triliun. Ada daerah lain yang dari Rp 14 triliun terpangkas menjadi Rp 8 triliun,” ujarnya.
Pemerintah daerah, lanjutnya, akan memaksimalkan sumber dana di luar APBD, baik dari APBN maupun kerja sama dengan pihak ketiga.
“Seperti jembatan Nipah-Nipah–Melawai, itu sudah kita ajukan ke Bappenas dan ada peluang untuk didanai pusat. Skema pembiayaan kreatif juga akan kita jajaki untuk mempercepat realisasi,” ujar Mudyat.
Selain itu, ia mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat terkait rencana pembangunan jembatan tersebut.
“Selain koordinasi dengan Bappenas, kita bikin tim bersama dalam rangka menyusun rencana pembangunannya Penajam. Jadi kita punya tim bersama. Yang paling prioritas,” ucapnya.
Mudyat optimistis rencana pembangunan jembatan dan infrastruktur lainnya dapat berjalan cepat seiring membaiknya kondisi fiskal daerah.
“Jadi, mudah-mudahan sajalah. Kondisi keuangan juga membaik, fisikal kita bagus. Kita bisa cepat lah proses pembangunan di Penajam ini kan karena bagaimanapun kita lagi kejar-kejaran lah. Kejar-kejaran yang pertama dengan pembangunan IKN.”
“Jadi, mudah-mudahan sajalah. Kondisi keuangan juga membaik, fisikal kita bagus. Kita bisa cepat lah proses pembangunan di Penajam ini kan karena bagaimanapun kita lagi kejar-kejaran lah. Kejar-kejaran yang pertama dengan pembangunan IKN. Yang kedua kita kejar-kejaran dengan program, dengan visi dan misi kita di masyarakat kan? Dalam rangka mewujudkan kemandirian masyarakat lah yang paling utama,” pungkasnya.
Pewarta: Robbi Lalat



