NUSANTARA – Di tengah dominasi wisata pantai terbuka yang cenderung ramai, kehadiran Jeros Resort di Teluk Pemedas, Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara (Kukar), menawarkan pendekatan berbeda. Destinasi ini mengusung konsep privat berbasis keluarga, pun pengelolaannya melibatkan masyarakat sekitar semenjak diresmikan pada 27 April lalu.
Konsep tersebut turut mendorong mahasiswa Magister Manajemen Universitas Mulawarman (Unmul) melakukan studi lapangan, dalam rangka penelitian manajemen operasional wisata Pantai. Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa melakukan sesi diskusi dan “tour area” bersama pihak Jeros Resort pada Minggu (3/5/2026).
Sri Wahyuni, didampingi Dwi Yudha Aisyah sebagai pengelola resort, menjelaskan bahwa kawasan tersebut sebelumnya merupakan lahan kosong yang sebagian dihuni warga pesisir. Pengembangan dilakukan secara bertahap selama kurang lebih tiga tahun, berawal dari kebutuhan pribadi hingga berkembang menjadi kawasan wisata. “Awalnya memang untuk pribadi, tapi melihat potensi yang ada, akhirnya dikembangkan. Prosesnya bertahap, sekitar tiga tahunan,” ujar Sri Wahyuni.
Saat ini, Jeros Resort masih berada pada tahap soft opening. Sejumlah fasilitas telah beroperasi, sementara pengembangan lanjutan. Termasuk unit villa privat, masih dalam proses penyelesaian. Secara keseluruhan, kawasan ini dirancang untuk menunjang aktivitas wisata keluarga hanya dengan membayar tiket masuk sebesar Rp25 ribu. Tercatat terdapat tiga unit villa (belum beroperasi), 18 cottage, 10 unit glamping dengan fasilitas kasur, AC portable, kursi lipat, hingga alat masak portable di dalamnya.
Pun delapan gazebo yang tersebar di area pantai yang disewakan dengan harga Rp100 ribu per unitnya. Fasilitas pendukung seperti musala, MCK terpusat, serta ruang terbuka juga disiapkan untuk mendukung aktivitas keluarga maupun rekreasi santai.

Untuk harga bervariasi mulai dari Rp800 ribu untuk glamping hingga Rp1 juta untuk penyewaan cottage per hari.
Nantinya, Jeros Resort juga akan menyediakan fasilitas ruang rapat berkapasitas hingga 50 orang yang dilengkapi layar LED, WiFi, serta pemandangan langsung ke pantai dari lantai tiga resort. Fasilitas ini disiapkan untuk menunjang kebutuhan penyewaan skala besar, seperti kegiatan family gathering maupun event lainnya.
Pengelola juga terbuka terhadap berbagai penawaran kerja sama, termasuk fleksibilitas harga dan tambahan layanan sesuai kebutuhan pengunjung.
Keunggulan lainnya yang ditawarkan adalah desain ruang yang lebih luas dan fleksibel. Konsep ini memungkinkan pengunjung, khususnya keluarga besar, tetap berada dalam satu ruang tanpa harus terpisah.
“Kami melihat kebutuhan keluarga yang datang bersama. Jadi ruangannya dibuat lebih luas supaya tetap bisa berkumpul,” jelas Sri Wahyuni.
Selain itu, pengunjung juga diberi keleluasaan untuk membawa bahan makanan sendiri dan memanfaatkan fasilitas memasak yang tersedia, sebagai bagian dari pengalaman wisata yang lebih personal.
Dari sisi konsep, Jeros Resort menitikberatkan pada suasana yang tenang dan privat, berbeda dengan sebagian besar destinasi pantai yang bersifat terbuka.
“Kami ingin tempat ini jadi pilihan bagi yang mencari suasana lebih tenang, terutama untuk keluarga,” tambah Sri Wahyuni dalam sesi podcast bersama mahasiswa.

Dari aspek lingkungan, Dwi mengatakan pengelola menempatkan petugas kebersihan di sejumlah titik serta menyediakan fasilitas tempat sampah di seluruh area. Pengelolaan sampah dilakukan secara berkala dengan melibatkan pihak luar dan masyarakat sekitar.
“Kami fokus pada penyediaan fasilitas dan petugas kebersihan. Harapannya pengunjung juga ikut menjaga,” katanya.
“Sampah dikumpulkan dan diangkut secara berkala, biasanya setiap dua sampai tiga hari sekali,” tambah Dwi sembari menunjuk area kebersihan.
Meski belum terdapat program edukasi formal bagi pengunjung, pengelola berencana menghadirkan himbauan sederhana sebagai bentuk penguatan kesadaran lingkungan.
“Ke depan mungkin akan ditambahkan himbauan sederhana agar pengunjung lebih sadar menjaga lingkungan,” ujarnya.
Salah satu mahasiswa, Fifit Safitri, menilai konsep yang diusung Jeros Resort memiliki diferensiasi dibanding destinasi lain di kawasan tersebut. “Konsepnya lebih ke privat dan family oriented. Ini jarang ditemukan di kawasan sekitar,” ujarnya.
“Yang menjadi khasnya di sini ketenangannya, tidak terlalu ramai. Suasananya cocok untuk wisata keluarga karena fasilitasnya semua sudah family friendly, terutama glampingnya sudah ada AC portable,” tambah Daus, mahasiswa yang turut terlibat dalam kunjungan tersebut.
Ia juga menilai aspek keamanan dan kenyamanan cukup mendukung aktivitas wisata keluarga, khususnya bagi pengunjung yang membawa anak-anak.
Dalam pengelolaannya, keterlibatan masyarakat lokal menjadi bagian penting. Tenaga kerja yang terlibat mayoritas berasal dari warga sekitar Samboja, baik dalam tahap pembangunan maupun operasional.
“Mayoritas pekerja dari warga sekitar. Dari awal pembangunan sampai operasional, kita memang melibatkan masyarakat lokal,” ungkap Dwi Yudha Aisyah.
Keterlibatan tersebut juga meluas ke sektor ekonomi lokal melalui pemanfaatan produk UMKM sebagai bagian dari kebutuhan operasional, seperti bahan pangan dari pedagang setempat. “Kami ambil kebutuhan dari supplier UMKM sekitar, seperti penjual ikan, sayur, dan kue,” jelas Dwi.
Di sisi lain, proses pengembangan kawasan tidak lepas dari tantangan, khususnya dalam penataan wilayah pesisir yang sebelumnya dihuni warga. “Ada warga yang tinggal di pesisir, jadi penataannya dilakukan satu per satu dengan pendekatan komunikasi,” timpal Sri Wahyuni.
Senada dengan itu, RT 3 Kelurahan Pemedas, Syahyudi, juga menilai kehadiran Jeros Resort mulai memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar, terutama dalam hal penyerapan tenaga kerja dan perputaran ekonomi lokal.
“Sekarang sudah ada sekitar tiga orang dari RT sini yang bekerja. Ke depan kalau sudah grand opening, tentu akan lebih banyak penyerapan tenaga kerja,” ujar Syahyudi saat ditemui langsung.
Ia juga berharap keberadaan Jeros Resort dapat menjadi pemicu berkembangnya kawasan Teluk Pemedas sebagai kampung wisata. Terutama dengan adanya Ibu Kota Nusantara (IKN) yang dinilai akan memberi dampak jangka panjang, bagi ekonomi masyarakat sekitar.
“Harapannya ini bisa menjadi kampung wisata. Apalagi dengan adanya IKN, ini harus jadi motivasi untuk meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar,” tambahnya.
Ke depan, pengelola menargetkan pengembangan fasilitas tambahan, termasuk wahana air serta penyelesaian unit villa. Jeros Resort diharapkan dapat berkembang sebagai destinasi ekowisata yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat sekitar. “Harapannya bisa berkembang bertahap dan tetap melibatkan masyarakat sekitar,” tutup Sri Wahyuni.
Penulis : Nuzul Saputra
Editor : Muhammad Rafi’i



