Nusantara – Rumah Makan (RM) Tahu Sumedang di Kilometer 50 Jalan Soekarno-Hatta, Kecamatan Samboja Barat, yang sebelumnya tutup dan sempat ramai di media sosial, kini diketahui kembali beroperasi di lokasi baru.
Rumah makan tersebut berpindah ke Kilometer 38, tidak jauh dari Gerbang Tol Samboja, tepatnya di wilayah Kelurahan Sungai Merdeka. Berdasarkan informasi di lapangan, lokasi baru tersebut merupakan lahan sewaan. Selain itu, pengelola juga disebut berencana membuka usaha serupa di Kilometer 36.
Informasi tersebut disampaikan koordinator juru parkir RM Tahu Sumedang Km 50, Daeng Santo, Rabu (1/4/2026).
“Tiba-tiba saja ini ditutup. Kaget juga kami. Kabarnya dari owner setelah dipanggil ke Otorita dengan ketua RT kami. Kalau pagar seng ini, owner sendiri yang memasang. Orang Otorita cuma datang foto ke sini,” ungkapnya.
Ia menambahkan, meski usaha telah kembali beroperasi di lokasi baru, kondisi tersebut tidak sepenuhnya mengakomodasi para pekerja lama, khususnya juru parkir di Km 50.
“Memang ada sudah buka di Kilo 38 dekat pintu tol, rencananya juga buka di Kilo 36. Tapi yang di sini, kami jadi kehilangan pekerjaan. Karena yang di sana (Km 38) yang jaga ya warga wilayah sana. Hanya sebagian ibu-ibu saja yang masih dipekerjakan di sana,” lanjutnya.
Sebelumnya, penutupan RM Tahu Sumedang di Km 50 memicu aksi protes puluhan juru parkir pada Rabu (1/4/2026). Sedikitnya 24 jukir melakukan aksi dengan menuliskan protes di pagar seng yang menutup area rumah makan.
Tulisan tersebut berbunyi, “Kami atas nama karyawan, jukir, UMKM dan masyarakat tidak terima penutupan RM Tahu Sumedang oleh otorita secara sepihak”.
Para jukir menilai penutupan dilakukan secara mendadak tanpa kejelasan solusi bagi pekerja yang terdampak. Selain juru parkir, sejumlah pekerja perempuan di rumah makan tersebut juga kehilangan pekerjaan.
Penutupan RM Tahu Sumedang di Km 50 tidak hanya berdampak pada operasional usaha, tetapi juga memengaruhi mata pencaharian masyarakat sekitar yang selama ini bergantung pada aktivitas ekonomi di lokasi tersebut.
Hingga kini, para pekerja terdampak masih berharap adanya solusi dan kejelasan dari pihak terkait atas kondisi yang mereka alami.
Pewarta: Atmaja Riski
Penyunting: Robbi Lalat



