BERAU – Meningkatnya laporan kemunculan buaya di kawasan permukiman warga menjadi perhatian serius kalangan legislatif.
Anggota Komisi II DPRD Berau, Gideon Andris, menilai persoalan ini tidak bisa dianggap insiden biasa, tetapi sudah masuk tahap yang mengkhawatirkan.
“Beberapa waktu ini banyak laporan terkait serangan maupun kemunculan buaya di sekitar sungai dan pemukiman warga,” ujarnya.
Kondisi tersebut, kata dia, menunjukkan perlunya perubahan pendekatan dalam penanganan konflik satwa liar dan manusia di Kabupaten Berau.

“Selama ini pola penanganannya cenderung reaktif, bergerak setelah ada kejadian. Padahal yang dibutuhkan adalah langkah preventif berbasis data dan pemetaan wilayah rawan,” ujarnya.
Ia menegaskan, pemerintah daerah bersama instansi terkait perlu melakukan kajian komprehensif mengenai populasi buaya, terutama di wilayah sungai dan pesisir yang berdekatan dengan aktivitas masyarakat.
“Kalau ada data yang akurat, kebijakan pengendalian dan mitigasi risiko bisa lebih tepat sasaran,” katanya.
Selain itu, Gideon juga mendorong adanya pemetaan titik-titik rawan kemunculan buaya agar warga memiliki informasi jelas mengenai zona berisiko tinggi.
Sebagai solusi jangka panjang, ia membuka opsi relokasi buaya yang dinilai membahayakan, bahkan mendorong wacana pembangunan penangkaran khusus di Berau jika memang diperlukan.
“Ini bukan hanya soal keselamatan warga, tapi juga bagaimana kita mengelola satwa liar secara bijak dan terencana,” tutupnya. (adv)
Penulis: (Srn)



