JAKARTA – Strategi percepatan pertumbuhan ekonomi melalui pendekatan Big Push dinilai tidak cukup jika hanya mengandalkan program pengungkit produksi. Pemerintah perlu memastikan adanya stabilisator sosial yang kuat agar akselerasi ekonomi berjalan stabil dan berkelanjutan.
Hal itu terungkap dalam survei ahli yang dilakukan Adidaya Institute terhadap delapan program unggulan pemerintahan Prabowo-Gibran. Riset tersebut memetakan program ke dalam tiga kategori utama, yakni Jangkar (Anchor), Mesin (Engine), dan Stabilisator (Stabilizer).
Hasil survei menunjukkan program Dukung Palestina Merdeka memperoleh bobot global tertinggi sebesar 23,30 persen. Disusul Kampung Nelayan Merah Putih (16,75 persen), 3 Juta Rumah per Tahun (13,34 persen), Koperasi Desa Merah Putih (12,81 persen), Cek Kesehatan Gratis (9,12 persen), Lumbung Pangan Nasional (8,90 persen), Sekolah Rakyat (8,18 persen), dan Makan Bergizi Gratis (7,59 persen).
Program Palestina Merdeka dikategorikan sebagai jangkar karena dinilai merepresentasikan kesinambungan komitmen politik luar negeri Indonesia sejak era Presiden Soekarno hingga pemerintahan sebelumnya. Peneliti Ekonomi Adidaya Institute, Bramastyo B. Prastowo, menyebut posisi Indonesia dalam isu tersebut berpotensi membuka ruang diplomasi strategis di level global.
Sementara itu, Sekolah Rakyat, Cek Kesehatan Gratis, dan Lumbung Pangan ditempatkan sebagai stabilisator sosial. Program-program ini dianggap berfungsi menjaga daya tahan masyarakat ketika agenda pertumbuhan ekonomi besar dijalankan.
“Program seperti Sekolah Rakyat, Cek Kesehatan Gratis, dan Lumbung Pangan bukan sekadar bantuan, tetapi penyangga utama agar masyarakat tetap kuat saat ekonomi dipacu,” ujar Bram dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Rabu (25/2/2026).
Ia mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang terlalu cepat tanpa perlindungan sosial berpotensi memicu tekanan harga, ketimpangan, hingga keresahan sosial. Karena itu, program stabilisator membutuhkan pembiayaan berkelanjutan dan indikator keberhasilan yang terukur.
Bram juga menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikategorikan sebagai stabilisator, namun dinilai berpeluang menjadi mesin pertumbuhan apabila terintegrasi dengan produksi desa dan koperasi.
“Jika disambungkan dengan produksi desa dan koperasi, MBG semestinya dapat menjadi penguat ekosistem ekonomi rakyat,” katanya.
Adidaya Institute menegaskan bahwa strategi Big Bang dan Big Push hanya akan berhasil jika ditopang oleh kepemimpinan eksekutif yang mampu mengeksekusi program secara efektif.
“Big Bang dan Big Push hanya berhasil jika kabinet diisi delivery leaders dan bukan sekadar menteri komunikator,” tegasnya.
Survei dilakukan pada Desember 2025 hingga Februari 2026 menggunakan metode analytical network process (ANP), wawancara mendalam, serta focus group discussion (FGD), dengan melibatkan 72 responden dari kalangan akademisi, legislatif, birokrat, pelaku usaha, tenaga kesehatan, dan aktivis. (MK)
Editor: Agus S



