PPU – Sekolah Alam Borneo Islamic School (SABIS) Penajam mencatat tonggak sejarah baru pada 2026. Untuk pertama kalinya sejak berdiri, sekolah ini meluluskan siswa kelas VI jenjang Sekolah Dasar (SD). Sebanyak empat siswa resmi menjadi alumni perdana SD Alam Borneo Islamic School.
Kepala Sekolah SD Alam Borneo Islamic School Penajam, Siti Indrayani, menjelaskan bahwa sekolah alam tersebut awalnya hanya menyelenggarakan pendidikan anak usia dini (PAUD) dan Taman Kanak-kanak (TK). Jenjang SD baru resmi berdiri pada 2019 dan mulai menerima siswa pada 2020.
“Alhamdulillah, di tahun 2026 ini jenjang pendidikan kami sudah lengkap sampai kelas VI. Tahun ini menjadi momen bersejarah karena untuk pertama kalinya kami meluluskan siswa kelas VI sebanyak empat orang,” ujarnya, Senin (9/2/2026).
Saat ini, jumlah siswa SD SABIS dari kelas I hingga kelas VI mencapai sekitar 50 orang. Meski mengusung konsep sekolah alam, SABIS tetap berada di bawah naungan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Penajam Paser Utara serta Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).
“Kami tetap mengikuti aturan dan standar pendidikan nasional karena kami berada di bawah Disdikpora PPU dan Kemendikbudristek,” jelasnya.
SABIS menerapkan tiga pilar utama dalam proses pembelajaran. Pilar pertama adalah kurikulum nasional, di mana mata pelajaran inti seperti Matematika, Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) tetap diajarkan sebagaimana sekolah formal pada umumnya.
Pilar kedua adalah kurikulum sekolah alam yang menitikberatkan pada pembelajaran berbasis pengalaman langsung. Salah satu program unggulannya adalah Greenlab, yakni kegiatan berkebun mulai dari pengolahan tanah, penanaman, perawatan, hingga panen.
Siswa juga dibekali keterampilan kewirausahaan melalui praktik memasak dan berjualan. Uniknya, sekolah ini tidak memiliki kantin.
“Setiap hari sudah ada jadwal per kelas untuk memasak dan berjualan kepada teman-temannya. Anak-anak belajar mulai dari proses pembuatan makanan sampai menghitung hasil penjualan,” ungkapnya.
Selain itu, metode pembelajaran di SABIS banyak dilakukan di luar ruang melalui kegiatan outbound dan praktik langsung agar siswa lebih mudah memahami materi.
Pilar ketiga adalah kurikulum keislaman yang mencakup pembelajaran tahsin dan tahfiz Al-Qur’an. Proses pembelajaran ini didukung oleh tenaga pengajar yang telah tersertifikasi khusus di bidang pendidikan Islam.
Tak hanya fokus pada akademik dan karakter, SABIS juga menerapkan konsep pendidikan inklusif. Sekolah ini menerima siswa reguler maupun siswa berkebutuhan khusus tanpa membedakan perlakuan.
“Alhamdulillah, kami sudah memiliki siswa istimewa yang mampu menghafal Juz 30. Di sekolah kami tidak ada kesenjangan, semua anak belajar dan berkembang bersama,” terangnya.
Siti Indrayani berharap, kelulusan angkatan pertama ini menjadi awal yang baik bagi perkembangan SABIS ke depan sekaligus membuktikan bahwa pendidikan berbasis alam dan nilai keislaman dapat berjalan selaras dengan kurikulum nasional.
“Kami ingin mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mandiri, berakhlak, dan peduli terhadap lingkungan,” pungkasnya.
Pewarta : Deddy Pz
Penyunting: Robbi Lalat



