NUSANTARA – Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) menegaskan komitmennya untuk memastikan keterlibatan tenaga kerja lokal dalam proyek pembangunan kawasan IKN. Direktur Sarana Prasarana Sosial OIKN, Agus Ahyar, meminta para penyedia jasa yang baru menandatangani kontrak pembangunan kawasan dan manajemen konstruksi (MK) di Kemenko 4, Senin (10/11/2025), agar memberikan ruang sebesar-besarnya bagi warga lokal.
Agus menekankan bahwa masyarakat sekitar IKN tidak boleh hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri. Ia menyebut, serapan tenaga kerja lokal di sektor konstruksi saat ini masih tergolong rendah.
“Tolong ya, diupayakan Pak. Ditambah lagi. Tenaga kerja lokal. Diupayakan lah mereka, biar jangan jadi penonton. Tapi mereka bisa ikut kerja. Bagaimana caranya bapak-bapak lah,” tegasnya kepada kontraktor.
Menurutnya, Otorita menargetkan sedikitnya 30 persen dari total tenaga kerja proyek di IKN berasal dari warga lokal. Angka tersebut dinilai penting untuk memastikan masyarakat sekitar mendapat manfaat langsung dari geliat pembangunan ibu kota negara baru.
Pembangunan ke depan, jelas dia, memang membutuhkan ribuan tenaga kerja. Oleh karena itu, dalam Pre Construction Meeting (PCM) di multifunction hall Kemenko 4, Direktur Agus mewanti-wanti langsung para “eksekutor proyek” dalam rapat.
“Kadang-kadang alasannya kan macam-macam, nggak ahli lah, macan-macam itu ya. Ya harus diberdayakan juga supaya menjadi ahli itu seperti apa. Nantinya pada pembangunan berikut, mereka sudah siap untuk menjadi aktor utama dalam pembangunan,” terang Agus.
Ia juga menyinggung, semisal tenaga lokal belum punya keterampilan, bisa dimagangkan dulu.
“Jadi magangkan dulu, magang, ikutkan kerja kemudian dilatih. Kan setahun sudah jadi ahli lah itu. Jadi jangan dibiarkan. Kurang lebih seperti itu,” tegasnya.
Sebagai contoh, pada proyek peningkatan jalan kawasan pertahanan dan keamanan (Hankam) serta Jalan Lingkar Sepaku 4, saat ini melibatkan 695 pekerja, di mana 70 orang di antaranya merupakan warga lokal.
Agus mengakui angka tersebut masih jauh dari target. Ia menilai, salah satu kendala yang dihadapi adalah perbedaan upah antara proyek pembangunan IKN dan pekerjaan konstruksi rumahan.
Di kawasan Sepaku, tukang bangunan rumahan kini dibayar hingga Rp250 ribu per hari, sedangkan kenek menerima sekitar Rp180 ribu per hari. Sementara itu, upah kenek di proyek IKN masih ada yang berada di kisaran Rp135 ribu per hari.
Selain persoalan upah, minimnya akses informasi rekrutmen juga menjadi kendala bagi warga lokal yang ingin ikut serta dalam proyek pembangunan.
OIKN berharap para kontraktor dapat memperbaiki sistem perekrutan, membuka peluang magang bagi warga sekitar, dan meningkatkan keterampilan tenaga kerja lokal agar mereka dapat menjadi bagian aktif dari pembangunan Nusantara.
Pewarta: Atmaja Riski
Editor : Nicha R



