PPU – Memasuki musim tanam padi tahun ini, para petani di Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), dihadapkan pada persoalan serius: kelangkaan solar subsidi. Harga eceran di lapangan kini menembus Rp14 ribu per liter, atau dua kali lipat dari harga resmi Rp6.800 per liter.
Di sejumlah desa seperti Gunung Mulia, yang lebih dikenal warga sebagai Blok B, para petani mulai mengolah lahan dengan menggunakan mesin traktor. Namun, aktivitas membajak sawah itu kini menjadi beban berat akibat sulitnya memperoleh bahan bakar.
Roni, salah satu petani Desa Gunung Mulia mengatakan, solar eceran harganya tebilang mahal dan susah juga untuk mendapatkannya.
“Kemarin saya sebelum nraktor bingung cari solarnya Mas, eh pas ada dapat harga Rp14 ribu,” ucap Roni, Senin (20/10/2025).
Berdasarkan perhitungan petani, satu hektare sawah membutuhkan sekitar 10 liter solar untuk proses pembajakan. Sementara pengolahan lahan biasanya dilakukan dalam dua tahap, yakni menyingkal (membalik dan menggemburkan tanah) serta glebek (meratakan lahan sebelum ditanami padi). Kedua proses itu sama-sama membutuhkan bahan bakar dalam jumlah besar.
Tak hanya Roni, petani lainnya, Lamin juga mengeluhkan hal yang sama. “Kalau untuk petani kayak kita, harga Rp14 ribu tentu mahal. Soalnya bajak sawah ini enggak cukup sekali,” keluh Lamin.
Kondisi ini diperparah karena sebagian besar petani di Babulu memiliki lahan lebih dari satu hektare. Artinya, kebutuhan bahan bakar semakin besar dan pengeluaran meningkat tajam hanya untuk persiapan tanam.
Para petani di desa-desa sangat berharap pasokan solar subsidi kembali tersedia dan mudah didapatkan. Mereka juga menanti pemerintah memberi bantuan BBM ke petani memasuki musim tanam seperti saat ini.
Pewarta: Prasetyo
Editor : Nicha R





