NUSANTARA – Sejumlah tenant kantin di dalam Hunian Pekerja Konstruksi (HPK) 1 Ibu Kota Nusantara (IKN) mengeluhkan omzet dagangan mereka turun hingga 75 persen. Penyebabnya, pedagang kaki lima (PKL) semakin menjamur di depan jalan masuk HPK dan berjualan hampir sepanjang hari.
Para pengelola kantin merasa rezekinya “dicegat” karena banyak pekerja lebih memilih membeli makanan dan minuman di luar, sebelum masuk ke kawasan HPK. Salah seorang pengelola kantin, Anace, mengaku pendapatan sehari-hari yang biasanya mencapai Rp500 ribu kini merosot drastis.
“Kadang sampai 75 persen turunnya. Di depan (PKL) juga ada yang jual nasi,” tuturnya di lokasi.
Keluhan semakin menguat setelah adanya surat edaran Otorita IKN terkait rencana penarikan uang sewa bagi pengelola kantin. Menurut Anace, hal itu wajar, namun pemerintah perlu mendengar keresahan tenant dan menertibkan PKL terlebih dahulu.
“Ya itu, kami ndak masalah kalau ditarik uang sewa tempat. Tapi, tolonglah PKL yang di depan-depan HPK ini ditertibkan dulu. Terus terang ada pengaruhnya ke pendapatan kami-kami di sini,” jelasnya.
Hal senada disampaikan Arif, pemilik Kedai Julia. Ia menilai, tanpa penertiban PKL, kantin resmi di dalam HPK akan semakin sulit bertahan.
“Paling ndak ditertibkan,” tuturnya.

Pantauan di lapangan, para PKL berjualan dengan motor maupun mobil, menawarkan beragam jajanan murah seperti kopi, es sirup, bakso, salome, rujak buah, hingga pakaian dan aksesori. Harga yang ditawarkan pun relatif sama dengan kantin resmi di dalam HPK.
Minuman, harganya kisaran Rp 5 ribu. Sementara rujak buah, mulai Rp 10 ribu – Rp15 ribu per porsi. Jajanan dan nasi sekitar Rp 5 ribu – Rp 15 ribu. Gorengan di sana juga ada, Rp 5 ribu dapat 3 potong. Minuman X-Tra Joss susu Rp8 ribu segelas.
Harganya kurang lebih saja dengan kantin di HPK 1. Malah, cenderung lengkap di kantin HPK 1.
PKL ada juga berjualan pakai kendaraan roda 4. Barang yang dijual tak hanya makan dan minuman, tapi juga pakaian dan aksesoris seperti topi serta tas pinggang juga ada didagangkan.
Sementara keberadaan tenant kantin di dalam kawasan HPK 1 ini sudah ada sejak awal HPK beroperasi. Melayani para pekerja konstruksi yang jumlahnya ribuan kala itu.
Di lokasi, saat ini sedikitnya ada 8 kantin makan-minum, 2 stand laundry. Lengkap dengan brand kantinnya. Di antaranya Ayam Petok 52, Kedai Julia, Kedai Berkah Jaya, dan Kantin Global.
Di sisi lain, para PKL menyadari potensi ditertibkan oleh Otorita IKN. Purwanto, pedagang rujak asal Penajam Paser Utara, mengaku hanya mengikuti aturan.
“Ngikut aja. Temennya ditertibkan, disuruh bubar, ya ikut bubar. Namanya juga pada nyari rezeki,” terang pedagang asal Petung, Penajam Paser Utara (PPU) itu. Tapi kata dia, jika habis ditertibkan, rata-rata para PKL pasti akan kembali lagi.
Pewarta : Riski Maulana
Editor : Nicha R



